Decision You Make

Decision You Make
Chapter 7- Rencana Bajingan!



Bukkh!


Laki-laki dengan rambut putih itu sedikit meringis begitu tubuhnya menghantam tembok di belakangnya.


Sementara itu dua laki-laki kurus menatapnya dengan garang.


"Aku benar-benar tidak mengerti, bukankah pelayan harus menuruti majikannya? Lalu atas dasar apa kau berani menentang ku?" Teriak laki-laki itu kurus dengan marah.


"Sudahlah, John. Dia tidak mungkin kapok jika hanya diberi kata-kata. Orang sepertinya hanya akan menurut setelah beberapa pukulan." Teman dari laki-laki bernama John, menepuk punggung John dan melihat laki-laki berambut putih itu dengan tatapan tajam.


"Aku tahu itu, Fred. Karena itu kita membawanya ke tempat ini, kan?" Ucap John sambil tersenyum sinis.


Fred dengan cepat mengerti lalu segera berbalik.


"Aku akan jaga di luar."


Tap.. tap..


"Lihatlah, hanya kita berdua di sini sekarang. Jadi apa yang akan-"


"Diamlah, sialan, dan cepat pukul saja aku," sela laki-laki berambut putih tanpa emosi.


"Apa-apaan kau, dasar bajingan!"


Plakk!


Sebuah tamparan segera mendarat pada pipi si rambut putih.


Pfft


"Itu saja? Yah, aku tidak berharap banyak pada laki-laki lemah sepertimu," bukannya takut, laki-laki itu malah mengejek, tanpa melihat mata lawan bicaranya.


Buaghh!


John, sudah terlalu marah. Kali ini bukan hanya tamparan, melainkan sebuah pukulan yang mengarah pada perut laki-laki itu.


Beberapa pukulan segera menyusul, mengenai setiap bagian tubuh laki-laki itu.


John tentu saja belum puas. Meski laki-laki itu sudah meringkuk kesakitan di lantai, John berkali-kali menendangnya sambil berteriak kesal.


"Darimana keberanian itu berasal, ha! Tikus sialan, kau meman-"


Buakh!


Belum juga menyelesaikan ucapannya, John tersungkur ke lantai.


"Arghh! Siapa orang sialan yang menendangku?" John meraung marah sambil memegangi pinggangnya.


Sebelum tatapannya terjatuh pada seorang gadis tinggi yang menatapnya dengan dingin.


"Siapa kau?! Beraninya kau menendangku! Kau tidak tahu siapa aku?" Ucap John dengan masih memegangi pinggangnya dan berusaha berdiri.


"Aku? Aku Chloe Natalie, dan aku tidak tahu siapa kau," ucap Chloe dengan santai berjalan menuju laki-laki berambut putih yang masih meringkuk di lantai.


"Sebelum kau menyemprotkan beberapa kata sampah lagi, sebaiknya kau pergi, sekarang," ancam Chloe menatap tajam John.


John merasa buku kuduknya berdiri. Ia ingin melawan, tetapi apa ia sanggup menahan konsekuensinya?


Sebenarnya John hanya merundung laki-laki itu. Karena laki-laki itu tidak pernah bersuara, John semakin memperparah perilakunya. Jika tidak, mungkin John akan langsung dikeluarkan dari sekolah. Di sekolah berisi murid-murid super kaya, murid biasa seperti dia bisa apa.


John menggertakkan giginya. Menghembuskan napas kesal dan segera berbalik pergi.


Chloe tidak memedulikan John lagi, menolehkan kepalanya melihat laki-laki berambut putih yang mencoba duduk.


"Kau tidak apa-apa? Lebih baik jika kita pergi ke ruang kesehatan sekarang," ucap Chloe khawatir sembari mengulurkan tangannya.


Laki-laki itu tidak banyak berbicara dan menyambut uluran tangan dari Chloe.


——


"Chloe, kemana saja kau? Aku khawatir karena kau pergi ke kamar mandi terlalu lama! Apakah sakit perutmu begitu parah? Apa kau membutuhkan obat?" Tanya Reina beruntun begitu melihat Chloe kembali.


Chloe tersenyum melihat tingkah Reina dan menjelaskan, "bukan apa-apa. Hanya saja tadi aku tidak sengaja melihat orang jatuh dari tangga. Kelihatannya sakit, jadi aku menolongnya. Aku tidak mungkin meninggalkannya, kan?" Jelas Chloe setengah jujur. Ia tentu saja tidak ingin temannya khawatir.


Kringg...


Tepat setelah itu, bel masuk berbunyi.


"Teman-teman, kupikir kita harus masuk kelas sekarang," ucap Erine mengingatkan.


"Hei, tunggu aku!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hei, Fred, kemana saja kau? Apakah matamu sudah buta sehingga tidak melihat seorang gadis mengganggu urusanku?" Bisik John kepada Fred. Dia tentu saja tidak ingin terlalu berisik karena guru sedang menjelaskan di depan kelas.


"Diamlah, John. Kau tidak tahu gadis itu langsung menendang ku dan aku hanya bisa meringkuk kesakitan. Sial, apa yang dimakan gadis itu sehingga menjadi begitu kuat," jelas Fred dengan nada kesal. Tidak percaya dia telah dikalahkan oleh seorang gadis.


"Cih, bukan gadis itu yang kuat, hanya saja kau yang lemah," ejek John meremehkan.


Tentu Fred tersulut emosi dan berkata setengah berteriak, "hei! Kau sendiri juga, kan? Kau sendiri yang bilang kalau kau diten-"


Ptak


...


Hening.


Ucapan Fred dipotong oleh sebuah penghapus papan yang terbang meluncur dari tangan guru.


'Oh, sial..' Semua murid yakin begitulah pikir Fred dan temannya, John.


Dan murid-murid itu benar. Pada akhir kelas, mereka berdua harus membersihkan toilet di ujung koridor.


Juga, setiap murid tahu, toilet di ujung koridor lah toilet yang paling kotor. Bukan, bukan kotor karena terlalu sering dipakai, malahan karena tidak pernah dipakai.


Yah, meski begitu bukan berarti ini tidak pantas disebut sebagai hukuman.


"Aku benci kau, John."


"Aku lebih membencimu, Fred."


"Tidak, aku lebih membencimu."


"Diamlah, sialan! Ayo buat rencana," ajak John karena muak.


"Rencana apa, hah?" Tanya Fred bingung.


"Rencana balas dendam, pada gadis dan laki-laki itu," jelas John dengan sorot mata kejam.


"Sebuah rencana bajingan?"


"Ya, sebuah rencana bajingan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Eh, Chloe tidak ikut ke taman?" Tanya Reina bingung melihat Chloe yang membeli begitu banyak makanan, dan bertambah bingung karena Chloe tidak pergi ke taman tempat mereka biasanya berkumpul.


"Mungkin dia ada urusan, tidak apa, kita pergi bersama saja," bujuk Erine kepada Reina.


"Terimakasih telah mengerti, dan maaf, ya, Reina. Aku hanya akan menjenguk laki-laki yang terjatuh dari tangga tadi," jelas Chloe.


"Eh, jadi dia laki-laki? Apa-apaan laki-laki itu?! Kenapa lemah sekali, jika saja dia tidak terlalu lemah pasti.. mmph..!"


Karena tidak tahan dengan ocehan Reina, Erine langsung membungkam mulut Reina yang sepertinya masih akan mengeluarkan ribuan ocehan jika tidak dibungkam.


"Tidak usah didengarkan, lagipula masih ada aku. Dia tidak akan sendirian," ucap Erine sebelum menyeret Reina ke taman dengan masih membungkam mulutnya.


"Dah! Ketemu besok!" Teriak Chloe melambaikan tangannya.


"Baiklah, sekarang ayo lihat kabar laki-laki itu," ucap Chloe sambil berjalan menuju ruang kesehatan sekolah.


"Tapi aku bertanya-tanya, kemana saja Blaze hari ini? Aku hanya mendengar dia memiliki urusan tadi pagi, dan itu juga terakhir kalinya aku melihatnya hari ini," tanya Chloe kepada dirinya sendiri.


Tentu kalian tidak perlu terlalu memikirkan jawaban dari pertanyaan Chloe. Beberapa pertanyaan hanya bisa dijawab oleh waktu, kan?


...----------------...


...To be continued...


Halo, ini penulis, atau bisa kalian panggil penulis Lin!


Entah ada yang membaca ini atau tidak, tapi aku benar-benar sibuk belakangan ini.


Sibuk tentang apa? Tentang tugas-tugas. Bahkan aku bingung, ini tugas atau kasih ibu? Kok tidak terhingga sepanjang masa. (Hehe)


Karena sekarang masa liburan, mungkin aku bisa update chapter seperti biasa. Pokoknya aku minta maaf, kepada para pembaca yang entah ada atau tidak ada. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!