Decision You Make

Decision You Make
Chapter 11- Bukan Salahmu Jika Mereka Membencimu



Lagi-lagi kami di sini.


Vincent menatap kosong perban putih di tangannya. Aroma obat samar tercium oleh hidungnya.


Ruang kesehatan sekolah. Tempat ini mungkin adalah tempat paling berkesan untuk Vincent selama beberapa tahun terakhir. Dari tempatnya duduk, Vincent bisa melihat gadis itu dengan cekatan merapikan perban serta obat-obatan yang baru saja digunakan.


Raut wajah gadis itu datar. Seakan menyiratkan bahwa dirinya tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Tentu Vincent merasakan beberapa emosi tersembunyi pada gadis itu.


Merasa tidak enak, Vincent segera berkata pelan, "apa Chloe marah?"


Gadis itu tidak menjawab. Ia beranjak pergi membawa perban yang telah dirapikan tanpa melirik pihak lain. Vincent hanya diam, tidak mempermasalahkan sikap gadis itu.


Sementara itu, Blaze melihat Vincent dengan tatapan menghina, "heh, dia tetap saja bertanya hal yang pasti," ucap Blaze mencemooh perkataan Vincent.


Namun sekali lagi pria itu membuka mulutnya, "maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tahu harus melakukan apa, otakku kosong. Jika saja aku sedikit lebih berani mungkin ini tidak terjadi. Seharusnya aku memang tidak merepotkan mu, ini salahku-"


Tap!


Vincent menatap gelas air putih di sampingnya dengan kaget. Sementara Chloe, yang kembali dengan gelas air di tangannya menatap Vincent tajam.


Tidak dapat dipungkiri bahwa wajahnya cukup menyeramkan, Vincent sendiri menelan ludah dengan susah payah. Tetapi Vincent tidak menyerah, "dengar, aku tahu aku sudah merepotkan Chloe, karena itu aku minta ma-"


"Kau masih berpikir kaulah yang seharusnya meminta maaf?"


Ucapan gadis itu menusuk ujung hati Vincent, membuatnya diam seribu bahasa.


Melihatnya diam, Chloe melanjutkan perkataannya.


"Kau tidak salah, itu salah mereka. Bukan salahmu jika kau terluka, bukan salahmu jika mereka membencimu. Jadi mengapa kau terus menyalahkan dirimu sendiri?"


Chloe mengajukan pertanyaan yang tidak mampu Vincent jawab. Meski demikian, Vincent tahu gadis itu khawatir kepadanya.


Vincent menundukkan kepalanya dan menggertakkan giginya pelan, bersiap menceritakan sesuatu:


"Ibuku pergi begitu melahirkan ku. Itu membuat ayahku membenciku. Cinta mereka yang bersemi bertahun-tahun harus hancur karena ku, ayahku juga mulai sakit-sakitan saat ini. Aku tidak bisa memberitahukan semua ini padanya, bagaimana jika dia semakin membenciku, atau bahkan penyakitnya semakin parah karena mendengar ini? Aku tidak bisa membayangkannya," setelah berbicara Vincent mengepalkan tangannya.


Chloe melayangkan tatapan rumit saat mendengar cerita itu. Sebenarnya dia sudah mengetahuinya, dari saat sistem mengirimkan ingatan kepadanya.


Blaze juga mengerti perasaan Chloe. Mendekati Chloe dan bertanya, "apa Nona akan membantu permasalahan laki-laki itu? Aku rasa Nona sangat membenci situasi ini." Tanyanya dengan hati-hati.


"Kau benar, aku benci situasi ini. Aku benci saat mereka merundung orang lain hanya karena alasan sepele, mungkin terdengar menyedihkan. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya mengikuti kata hatiku," Chloe bisa membayangkan semua perlakuan 'mereka' pada Vincent. Semuanya semudah mengingat masa lalu.


Blaze bisa mengerti. Sejak Chloe menandatangani kontrak saat mereka pertamakali bertemu, Blaze sudah mendapatkan semua informasi riwayat kehidupan gadis itu. Lagipula Chloe juga bukan orang yang akan diam saja melihat perlakuan menyimpang di depan matanya.


"Bagaimana jika aku membantumu?" Perkataan itu diucapkan bersamaan dengan tangan lembut yang merenggangkan kepalan tangan Vincent.


Empat kata sederhana itu membuat Vincent membulatkan matanya tidak percaya. Dia menatap netra biru gadis itu, mencoba mencari kebenaran. Dan ya, dia menemukan kebenaran.


"Membantuku?"


"Ya. Hubunganmu dan ayahmu."


"Kau tidak bercanda ...?"


"Untuk apa aku bercanda?" Gadis itu tertawa kecil dengan senyum hangatnya.


Oh, mataku terasa agak buram.


Vincent menggosok pelupuk matanya pelan. Perban di tangannya menjadi agak basah.


Chloe mengangkat handphonenya, melihat sebuah pesan terkirim dari Reina. Memutuskan untuk mengabaikannya, Chloe kembali berbicara kepada Vincent, "untuk masalah dengan 'mereka', lebih baik jika kita mengumpulkan-"


Lagi-lagi sebuah pesan. Chloe mengabaikan pesan itu sekali lagi, "mengumpulkan bukti agar lebih-"


"lebih meyakinkan, apalagi-"


"..."


Chloe tersenyum canggung, membalas deretan pesan sebelum berbalik dan memutuskan untuk kembali.


"Maaf, aku akan pergi sekarang. Sampai ketemu besok. Jangan lupa, pukul 7 pagi, ya!" Ucap Chloe melambaikan tangannya sebelum benar-benar keluar dari pintu.


Vincent juga melambaikan tangannya, "tentu, aku akan mengatur transportasinya," saat Vincent berbicara, Chloe menghentikan langkahnya dan berbalik menatapnya. Gadis itu tampak berpikir sebentar sebelum mengalihkan wajahnya dengan emosi aneh dan buru-buru berkata, "baiklah, terserah, sampai jumpa," ucapnya sebelum berjalan dengan cepat meninggalkan pintu.


Vincent merasa sedikit kebingungan melihat tingkah Chloe. Menyentuh wajahnya dan berpikir, apa ada sesuatu di wajahku?


Tapi kebingungan Vincent tidak akan pernah terjawab—tidak, karena dia tidak akan bisa melihat sebuah jendela biru mengambang tenang di bawahnya.


...[Nama: Vincent Forden...


...Umur: 18 tahun...


...Status: Karakter...


...Perasaan khusus: 40% (kasih sayang teguh)]...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nona, sepertinya aku bisa melihat asap keluar dari kepala Nona."


"Oh, diamlah Blaze, berhenti menggodaku," Chloe menepuk-nepuk kecil dadanya.


Oh, sial. Wajahnya terasa panas, sepertinya dia terlalu menghayati menjadi remaja kecil dalam novel romansa sekolah.


Blaze menahan tawanya, tidak ingin membuat wajah Chloe meledak. "Hahaha, Nona tidak perlu malu. Bukankah dari dulu Nona selalu menerima perlakuan spesial dari banyak pria?"


"Itu berbeda, wajah seperti itu kan tidak ada di duniaku sebelumnya. Dan itu ... tipeku," Blaze tidak mendengar kata terakhir, Chloe mengatakannya dengan suara sekecil nyamuk.


"Eh, dan apa, Nona?"


"Ah, sudahlah, ayo kita menemui Reina, ponselku terus berdering sejak tadi."


Blaze mengambang, mengikuti langkah Chloe. Melewati koridor demi koridor.


Tak lama Blaze bertanya, "Nona akan pergi besok? Ke mana?"


Chloe mengingat-ingat nama restoran yang akan ia kunjungi besok lalu menjawab, "hmm, aku akan pergi ke restoran besok, Erine bilang dia telah memesan ruang pribadi. Uhh, aku lupa nama restoran itu, Mistra? Mistera? Miseran? Mis ..."


"Mistesran?"


Ctak!


Chloe menjentikkan jarinya, "ya, itu dia! Besok, aku akan pergi ke Restoran Mistesran," ucap Chloe menkonfirmasi perkataan Blaze.


Tiba-tiba, dari ujung matanya Chloe melihat siluet seseorang melewatinya. Chloe secara spontan menutup mulutnya dengan tangannya.


"Ups, aku tidak melihat ada orang di sana. Aku harap dia tidak mendengar pembicaraan kita ..."


"Um, sepertinya Nona lupa kalau orang-orang tidak akan bisa mendengar suaraku," tatapan heran dari Blaze cukup membuat Chloe malu.


"Tepat, itu masalahnya. Aku tidak ingin dianggap gila, oke?" Chloe mencoba mengelak.


"Terserah Nona saja," Blaze memutar matanya malas.


——


Dalam bayangan lorong yang sepi, seorang pria mengangkat teleponnya.


"Hentikan rencana sebelumnya. Siapkan rencana baru, besok, di Restoran Mistesran. Jangan lupa, lakukan dengan bersih."


Menutup telepon, pria itu terkekeh dengan senyum licik di wajahnya.


...----------------...


...To be continued...