Decision You Make

Decision You Make
Chapter 10- Apa Nona Mau Pergi Bersamaku?



"Aku tidak setuju!"


Chloe sedikit tersentak, melirik ke sumber suara. Dari ujung matanya dia bisa melihat gadis berambut pirang itu memiliki wajah masam yang ditujukan kepada laki-laki di depannya.


"Hoo, apa yang terjadi di sini? Dan mengapa laki-laki itu ingin berbicara dengan Nona?" Blaze merasa sedikit penasaran.


"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya aku harus mengatakan sesuatu kepada gadis protagonis ini." Hanya saja, belum sempat Chloe mengatakan sesuatu, Reina, langsung berjalan ke depannya berharap bisa menutupi jarak pandang antara kedua manusia berbeda jenis kelamin itu.


Berhadapan langsung dengan Vincent yang cukup tinggi sehingga memperlihatkan secara jelas perbedaan tinggi mereka. Vincent sendiri merasa cukup canggung dengan situasi ini.


'Kelihatannya dia tidak menyukaiku,' pikirnya mengerti tentang situasi yang terjadi. Akan tetapi, yang bisa dia lakukan hanyalah melirik gadis itu dengan ramah.


Karena perbedaan tinggi mereka Vincent tentu harus sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap wajah gadis itu. Berbeda dengan Vincent yang tersenyum ramah, Reina tetap memasang wajah galaknya, dan berkata:


"Hei, kau laki-laki, apa urusanmu dengan Chloe, hah?" Reina berkacak pinggang, dengan nada ketus mengajukan pertanyaan.


"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu dengannya," dengan canggung Vincent menjawab. Sedikit ragu apakah gadis di depannya hanya sekedar tidak menyukainya atau bahkan membencinya.


"Kalau begitu bicarakan saja di sini, Chloe memiliki urusan yang lebih penting denganku dibanding denganmu," desak Reina berharap laki-laki yang dia tidak tahu namanya itu cepat pergi. Laki-laki itu benar-benar merusak waktunya bersama Chloe.


"Maaf, ini hal pribadi ..." Jawab Vincent pelan.


Semakin Reina mendengar laki-laki itu berbicara, semakin kesal dia. Chloe-ku memiliki urusan pribadi apa dengan laki-laki mencurigakan ini? Tidak bisa dibiarkan.


"Apanya yang hal pribadi, lagipula kau bukan dari kelas kami, kan? Katakan saja kalau kau- mmphh!" Reina tidak melanjutkan kata-katanya. Tidak, lebih tepatnya tidak bisa melanjutkan.


"Sudahlah, cukup sampai di sini," Erine, yang berbicara sambil membekap mulut gadis Chihuahua di depannya, menghela napas pelan. Melirik laki-laki di depannya, yang sekarang melihat Chloe dengan tatapan rumit.


Hahh..


Erine menghela napas sekali lagi, berkata kepada Chloe, "aku bisa mengurus anak ini."


Chloe menganggukkan kepalanya, "terimakasih, ayo bertemu di kelas lagi nanti."


"Baiklah, cepat kembali, ya. Aku tidak bisa menjamin anak ini akan tetap tenang jika kau pergi lebih dari dua puluh menit," ucap Erine terkekeh kecil sebelum menyeret Reina pergi.


"Tapi Chloe, Chloe, hmmmp!"


Erine kembali membekap gadis pirang itu sambil berjalan pergi. Rasanya seperti memiliki anak kecil untuk diurus, sedikit merepotkan.


Setelah agak jauh dari Chloe, baru Erine melepaskan bekapannya.


"Hei, kenapa kau membiarkan laki-laki itu berduaan dengan Chloe, apa kau tidak takut dia melakukan sesuatu terhadap Chloe?!" Belum juga satu detik sejak bekapannya dilepas, Reina langsung mengoceh. Erine hanya dapat memasang wajah datarnya menghadapi ocehan Reina.


"Ya, ya, ya, terserah. Tapi bisakah kau agak dewasa? Chloe juga seorang murid biasa dengan kebebasan. Kita tentu tidak boleh mengekangnya," Erine melipat kedua tangannya di depan dada.


"Bagaimana jika laki-laki itu melakukan sesuatu terhadap Chloe?" Reina tetap keras kepala.


"Ini lingkungan sekolah, dia tidak akan berani macam-macam. Lagipula Chloe gadis yang tangguh, kan. Kau juga tahu itu," jelas Erine memasang wajah serius. Reina memang harus sedikit belajar untuk tidak mengekang orang lain.


Mendengar ucapan Erine, Reina sedikit tersentak.


Apa yang barusan terjadi? Ucapan Erine memang ada benarnya, untuk apa aku khawatir? Chloe yang kukenal memang gadis yang tangguh, dan aku sudah melihat sendiri buktinya. Mungkin sikapku tidak benar ...


Erine melihat raut wajah Reina yang rumit. Mungkin dia sudah menyadari kesalahannya.


Erine melunakkan raut wajahnya dan berkata dengan lebih santai, "kau mungkin tidak melihatnya, tetapi sepertinya laki-laki itu memiliki suatu perasaan yang lebih rumit untuk Chloe."


Reina melihat langsung netra merah gadis di depannya, mencoba mengkonfirmasi kebenaran dari ucapannya. Mengerti akan arti dari tatapan Reina, Erine menganggukkan kepalanya.


Deg!


Dengan ekspresi tegang, setitik keringat menetes begitu Reina mengajukan pertanyaan dengan nada tidak percaya.


"Heh, Erine, yang kau maksud bukan perasaan semacam itu, kan? Perasaan antara pria dan wanita?"


Erine sedikit terbawa emosi, ikut merasa tegang dan menjawab, "sayangnya itu yang aku lihat, bahkan mungkin dia berbicara dengan Chloe untuk mengungkapkan pera-"


"Huaaa!! Tidak, Chloe! Tidak boleh!! Laki-laki itu, tidak boleh!!"


"Hei, jangan pergi ke sana lagi, Reina! Tunggu, jangan berlari! Astaga anak ini benar-benar!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi?"


"Eh?"


Vincent, yang ditatap sedemikian tajam nyatanya merasa gugup. Matanya terus menatap ke samping, tidak berani melirik langsung gadis itu. Menatap matanya saja tidak berani, bagaimana bisa dia berbicara dengannya?


Ayo, kuatkan hatimu!


Kalimat itu terus terulang di kepalanya, berharap setidaknya beberapa remah keberanian dapat berkumpul. Mendorong dirinya mengucapkan kata-kata yang ingin ia sampaikan.


Oh, udara mulai menghilang dari tubuhnya. Vincent menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan hatinya menjawab pertanyaan gadis itu.


"Wow, Nona benar-benar sabar. Menunggu pria itu berbicara selama delapan detik," Blaze 'memuji' Chloe dengan senyum.


"Tolonglah, Blaze. Aku masih memikirkan tujuannya," dengan serius Chloe menjawab. Suasana di samping lapangan cukup sepi, untungnya Blaze berada di sini menemani Chloe.


"Haha, terkadang Nona terlalu waspada, bagaimana jika laki-laki itu, Vincent? Bagaimana jika dia hanya ingin berbicara dengan Nona? Lihat saja, dia gugup," Blaze terkekeh geli sembari mengambang kesana-kemari mengitari tubuh Vincent.


"I-itu, Nona Chloe ...? Aku hanya, hanya ingin bertanya kepadamu, apa kau mau, eh, itu ... anu,"


Pfft..


'Ups, aku tidak bisa menahannya,' pikir Chloe tersadar, ketika ia tidak dapat mengendalikan tawanya.


Vincent menghentikan perkataannya, terpesona. Ia terpana melihat gadis itu, terkikik kecil dengan semburat merah di wajahnya.


Chloe ingin berhenti tertawa, tetapi tawa Blaze begitu menggema di samping telinganya:


"Wahahahaha!! Lucu sekali, lihat saja wajahnya!! Nona, setuju juga, kan. Ayolah, tertawa saja bersamaku, Nona Chloe!" Blaze tertawa terbahak-bahak dan membujuk Chloe untuk ikut tertawa. Chloe meliriknya kesal. Dilihatnya Blaze yang sekarang tertawa diikuti dengan beberapa kobaran api tipis yang melepaskan diri di udara bebas.


Sementara itu, Vincent merasa malu, terlalu malu sehingga ia berdehem beberapa kali, mencoba menghilangkan rasa malunya.


"Ekhem, jadi aku hanya ingin bertanya, apakah Nona Chloe akan pergi keluar pada akhir pekan ini?"


Ya! Akhirnya, Vincent mengatakannya!


Chloe melirik Vincent yang mulai berani menatap matanya langsung. Mereka bertatapan selama beberapa detik, diam dalam kecanggungan.


Tak lama Chloe menyunggingkan senyum, menjawab pertanyaan Vincent, "yah, sebenarnya aku akan pergi akhir pekan ini. Apakah ada masalah?"


Rona wajah Vincent berubah pucat, jantungnya kembali berdebar-debar. Tapi kali ini bukan karena rasa suka, melainkan rasa takut. Mengingat rencana John, Vincent rasa ini adalah hal buruk membiarkan Chloe pergi berkeliaran di luar sana. Chloe bukannya tidak melihat perubahan ini.


"Hmm? Apakah kau mau mengajakku pergi?" Chloe bertanya dengan santai mencoba mencairkan suasana.


Mendengar perkataan Chloe, sebuah lampu pijar menyala terang di atas kepala Vincent. Gotcha!


Dengan antusias Vincent menganggukkan kepalanya, "ya, itu maksudku! Apa Nona mau pergi bersamaku akhir pekan ini?" Tanya Vincent dengan raut wajah berseri-seri.


Chloe diam-diam tersedak ludahnya sendiri, dia benar-benar tidak mengharapkan jawaban itu dari Vincent.


Bahkan Blaze sedikit tercengang, "anak ini menyukai Nona, kan? Kalau begitu kenapa tidak Nona terima saja, dia juga tampan," saran Blaze kepada Chloe.


"Uhh, dia memang tampan, termasuk tipeku. Tapi tetap saja dia hanyalah anak-anak," balas Chloe.


"Haha, Nona, apakah Nona lupa? Nona telah menjadi gadis 18 tahun sekarang? Usia kalian cocok. Lagipula aku masih ingat alasan Nona menandatangani kontrak kita," Blaze tersenyum, mendekati Chloe sambil menggodanya.


"Baiklah, tolong diam," Chloe merasa sedikit malu juga. Mengibaskan tangannya di udara berusaha mengusir Blaze.


Kembali pada pertanyaan Vincent, Chloe menjawab, "sayangnya, aku memiliki sesuatu acara penting yang perlu disiapkan besok, jika kau tidak keberatan kita bisa pergi bersama dan membantuku mempersiapkan acara. Aku tidak boleh melewatkan acara itu, jadi jika kau tidak mau, maaf, kita tidak bisa bertemu."


"Aku tidak keberatan!" Jawab Vincent satu detik setelah perkataan diselesaikan.


Chloe diam-diam tersenyum. Mereka sepakat akan bertemu di dekat asrama perempuan pada pukul 7 pagi.


"Tunggu, Nona Chloe, sebelum itu bisakah kita bertukar nomor?" Hanya Vincent yang tahu seberapa besar keberanian yang perlu dia kumpulkan untuk menanyakan kalimat sederhana ini.


"Ah, tentu. Untuk kedepannya tidak usah terlalu formal, panggil saja aku Chloe," Chloe menyodorkan handphonenya kepada Vincent, yang sejak tadi sudah mengeluarkan handphonenya.


Vincent sempat mencuri pandang pada layar handphone gadis itu. Vincent, nama itu tertera di atas barisan nomor telepon yang baru saja ditambahkan.


Tapi sebelum Vincent bisa memperhatikan hal lain, ia merasakan sentuhan lembut pada tangannya. Beralih pada wajah Chloe yang suram melihat luka sobekan dan darah yang telah mengering pada tangannya.


Dan dengan suara dingin, Chloe mengangkat suaranya.


"Vincent, apakah mereka lagi yang menyebabkan luka ini?"


...----------------...


...To be continued...