
Chloe masih berbaring di ranjang ruang kesehatan sekolah. Meski tampak tertidur pulas, sebenarnya Chloe sedang menerima informasi kehidupan 'Chloe asli' dalam bentuk mimpi.
Tentu saja Blaze yang melakukannya. Blaze bahkan mengirim cerita asli dunia novel untuk mempermudah Chloe melakukan tugasnya.
Perlahan, kelopak mata Chloe terbuka.
"Uhh.. punggungku sakit, sialan. Aku terlalu kaget tadi," keluh Chloe begitu mencoba bangun untuk duduk.
Sraaak
"Oh, Chloe sudah bangun, ini untukmu. Baru saja aku akan menaruhnya di atas laci," begitu tirai dibuka, Reina langsung menawarkan segelas air putih untuk Chloe.
Chloe menerima gelas kaca itu dan meminum semuanya sampai habis dalam sekali tegukan.
"Ahh.. terimakasih, Reina," ucap Chloe yang sedikit terengah-engah setelah meneguk segelas air.
Reina sedikit terperangah melihat pemandangan itu.
"Apa Chloe mau dibawakan makanan? Chloe pingsan selama lima jam. Dan sekarang kelas sudah berakhir. Mungkin Chloe merasa lapar?" Tanya Reina dengan perhatian. Tingkat kesukaan Reina memang sampai pada tingkat teman, karena itu Reina begitu perhatian kepada Chloe.
"Maaf merepotkan, bolehkah aku mendapatkan roti coklat saja? Terimakasih."
"Tentu, ini tidak merepotkan. Lagipula kita teman, kan?" Jawab Reina diakhiri dengan senyum manis sebelum berangkat menuju kantin sekolah.
Chloe hanya melihat kepergian Reina. Tetapi tak lama Chloe mengaktifkan perspektif lagi.
Pandangan Chloe dapat menembus dinding. Tetapi sosok Reina yang memakai seragam sekolah kini terlihat seperti daging merah dengan banyak sendi dan otot yang terlihat menonjol.
Ya, inilah yang dilihat Chloe saat mengaktifkan perspektif pertamakali.
Saking terkejutnya, Chloe langsung pingsan begitu melihat sosok Reina yang berubah. Untuk ucapan Reina tentang Chloe yang pingsan selama lima jam, itu karena Chloe menerima informasi kehidupan 'Chloe asli' dan alur cerita asli. Chloe terus melihat sekitarnya menggunakan perspektif.
Tapi setelah beberapa saat mencoba mengutak-atik kemampuannya, Chloe menemukan bahwa kemampuan perspektif ini dapat diatur sesuka hati.
Misalnya Chloe bisa melihat menembus dinding tanpa mengubah kenampakan manusia dalam pandangannya seperti yang terjadi pada tubuh Reina.
Bahkan sebenarnya Chloe bisa melihat menembus pakaian. Tentu ada sensor seperti warna kulit yang disamakan, tetapi tetap saja Chloe bisa melihat secara pasti ukuran tubuh melalui perspektif.
Hebatnya lagi, Chloe bisa melihat menembus kelopak matanya sendiri. Jadi jika mengaktifkan perspektif saat menutup mata, maka Chloe dapat tetap melihat sekelilingnya. Itu berarti dalam beberapa keadaan Chloe bisa berpura-pura tidur atau pingsan namun tetap memperhatikan sekelilingnya.
Chloe terus mencoba kemampuannya sambil menunggu Reina datang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Chloe, sudah pukul enam, ayo kita kembali ke asrama," ajak Reina yang sekarang sudah berada di taman bersama Chloe.
Chloe mengecek handphonenya, benar saja, sudah pukul enam sore.
"Ayo," jawab Chloe keluar dari lingkungan sekolah menuju asrama putri.
"Dah, Chloe! Sampai bertemu besok!" Ucap Reina dengan senyum di wajahnya.
Chloe juga ikut tersenyum dan berkata, "ya, sampai jumpa!"
Mereka berdua berpisah pada pintu masuk asrama.
Reina pergi ke lorong kanan, sementara Chloe pergi ke lorong kiri.
Di perjalanan menuju kamarnya, tiba-tiba Blaze datang begitu saja di samping Chloe.
"Yuhuu, halo Nona Chloe, aku kembali!" Teriak Blaze menyapa Chloe.
"Hai, Blaze. Darimana saja kau? Aku tidak melihatmu sejak bangun dari pingsan tadi," Tanya Chloe kepada Blaze. Tidak ada orang di lorong, karena itu Chloe berani berbicara kepada Blaze meski agak pelan.
"Aku tadi mengurus beberapa hal. Ingatan 'Chloe' sudah Nona terima, kan?"
"Um." Jawab Chloe.
Akhirnya Chloe sampai di kamar nomor 29.
Chloe membuka pintu kamarnya pelan. Di dalam kamar memang ada dua tempat tidur di dalam, tetapi nyatanya Chloe tinggal di kamar ini sendiri. Setidaknya Chloe mempunyai Blaze yang akan menemaninya.
Setelah mandi dan berganti baju, Chloe melihat ke depan cermin.
Seorang gadis cantik berusia 18 tahun dengan rambut ungu panjang dan mata biru terlihat di pantulan cermin.
"Astaga, ini aku? Astaga, imut sekali! Chloe, apa yang kau makan sehingga bisa menjadi seimut ini?" Teriak Chloe heboh sambil sedikit melompat-lompat kecil.
Faktanya, daripada imut, tubuh Chloe lebih terlihat dewasa karena dia memang lebih tinggi daripada gadis seusianya. Tingginya sekitar 178 cm dengan kaki panjang.
Pipi Chloe tidak terlalu tembam melainkan tirus dengan mata kucing yang terlihat agak galak namun menggoda.
Chloe lalu mengaktifkan kemampuan indentifikasi.
...[Nama: Chloe Natalie...
...Umur: 18 tahun...
...Status: Karakter (Calon inang)...
...Kemampuan spesial: Identifikasi, Perspektif]...
Ada data tambahan saat Chloe menggunakan identifikasi pada dirinya sendiri, yaitu kemampuan spesial.
Chloe mengangguk-anggukkan kepalanya puas.
"Blaze, kapan alur novel dimulai? Maksudku kapan Damian pindah ke sekolah ini?" Tanya Chloe kepada Blaze.
"Menurut alur, itu akan dimulai besok."
"Oh, besok ya," ucap Chloe pelan.
"Tunggu, apa? Besok?! Sial!! Aku belum menyiapkan rencana untuk itu. Ahh!!!" Teriak Chloe panik.
"Tenang Nona, tenang," Blaze mencoba menenangkan Chloe.
"Nona bisa berbuat sesuai arus saja. Lagipula Nona tadi berteman dengan Reina, kan? Berarti Reina tidak kesepian lagi dan mungkin tidak akan terlalu akrab dengan Damian. Santai saja," jelas Blaze panjang lebar demi membuat Chloe lebih tenang.
Chloe berhenti panik dan berpikir sebentar.
"Masuk akal juga. Baiklah, mungkin aku akan menyeleksi beberapa pria di sekolah ini saja. Mungkin ada yang cocok dengan Reina."
Chloe bermonolog dan segera tenang kembali.
"Lagipula aku juga bisa membantu Nona jika nona kesulitan," ucap Blaze sambil bergerak memutari Chloe.
"Ya, ya, ya." Jawab Chloe sambil menuju ke tempat tidur dan berbaring.
"Sekolah ini cukup nyaman. Dan menurut ingatan Chloe asli kelas pertama dimulai pukul 08.00, dan istirahat makan siang dari pukul 12.00 sampai dengan pukul 13.00. Nantinya kelas selesai pukul 17.00. Siswa bisa bermain di lingkungan sekolah sampai pukul 19.00 sebelum harus kembali ke asrama masing-masing," Chloe mencoba mengingat-ingat jadwal sekolahnya.
"Biasanya beberapa siswa bekerja sambilan, atau sekadar jalan-jalan saat malam."
Chloe asli termasuk seorang siswa generasi kedua yang kaya. Uang terus mengalir masuk ke rekeningnya setiap bulan. Chloe sekarang tidak perlu mengkhawatirkan kehabisan uang.
Chloe membuka handphonenya dan melihat-lihat isi kontaknya. Tadi, dia sempat bertukar nomor dengan Reina.
Setelah menemukan kontak Reina, Chloe segera menghubunginya dan mereka berbicara bersama selama beberapa jam.
Chloe sudah memutuskan untuk lebih dekat dengan Reina. Saat mengobrol Chloe selalu mencoba bertanya setiap ada kesempatan. Gaya rambut laki-laki yang menurutmu menarik? Sifat laki-laki yang kau sukai? Dan banyak pertanyaan lain. Reina sendiri selalu menjawab dengan jujur karena menurutnya ini percakapan biasa antar sesama teman.
...----------------...
...To be continued...