
Erine masih menangis tersedu-sedu. Damian sesekali menepuk pundaknya, namun sekarang fokusnya terpacu pada layar monitor di depannya.
Bersama dengan petugas polisi di sampingnya, netra Damian menangkap sebuah mobil hitam memasuki jalan yang dituju oleh seorang gadis dengan rambut ungunya.
Setelahnya, seorang pria dengan rambut putihnya ikut menyusul. Melihat itu Erine berseru, "itu Vincent! Dia, dia salah satu orang yang pergi bersamaku!"
Petugas polisi mengangguk pelan. Tak lama, monitor menampilkan adegan saat mobil hitam melaju kencang meninggalkan jalanan. Meski video dipercepat hingga dua puluh menit setelah mobil hitam pergi, kedua orang itu tidak kunjung terlihat.
"Ketua, ini benar-benar kain dengan obat bius. Sepertinya ini digunakan untuk menangkap target mereka," salah satu petugas polisi lain memasuki ruangan dan melaporkan hasil penelusurannya.
Sang Ketua, yang daritadi berada di dalam ruangan dan mengamati monitor berujar, "amankan itu. Ada lagi yang kau temukan?"
Petugas polisi yang diberi pertanyaan mengangguk tegas. "Ya, Ketua. Dalam rekaman salah satu tempat, kami menemukan mobil hitam yang sama. Jika dilihat dari arahnya melaju, sepertinya itu mengarah ke pinggir kota, atau jalan yang biasa dilewati jika ingin pergi ke desa terdekat," jelasnya memaparkan semua yang ia temukan.
Mendengar laporan si petugas polisi, Sang Ketua langsung menurunkan perintah:
"Lakukan pencarian di sekitar daerah itu!"
Damian terus menatap monitor dengan tatapan rumit, Erine yang sudah sedikit tenang juga melihat Damian.
Melihat tatapan Damian, Erine bertanya, "apa semuanya akan baik-baik saja?"
Mendapat pertanyaan yang telah diulang puluhan kali oleh Erine, Damian tetap sabar dan menjawab, "ya, semuanya akan ..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"... baik-baik saja!"
Chloe menatap Vincent tak yakin.
"Apa kau yakin?" Tanya Chloe ragu.
"Ya, sangat-sangat yakin. Percayalah, ini penting," jawab Vincent memasang wajah serius.
"Baiklah ..."
Meski ragu Chloe mengulurkan tangannya, membuka jaket Vincent.
Chloe menghentikan tindakannya dan menarik tangannya begitu menyelesaikan tindakannya meski dia merasa bingung.
Melihat Chloe yang kebingungan, Vincent merasa kebingungan juga. Kedua orang itu bertatapan dengan canggung. Chloe yang kebingungan karena tidak ada sesuatu yang spesial dalam pakaian Vincent, dan Vincent yang bingung melihat Chloe berhenti.
"Um, maksudku adalah tolong buka kaus ini juga," penjelasan Vincent membuat Chloe kaget.
"Ah?? Vin, kau mengerti situasi sekarang, kan? Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk-" Chloe tidak menyelesaikan kalimatnya dan menolehkan kepalanya ke arah lain, merasa ini tidak pantas dikatakan.
"Untuk apa?" Vincent semakin kebingungan.
"Tidak, bukan, maksudku kenapa kau ingin aku membuka pakaianmu?"
"Oh, bilang saja daritadi. Ekhm, Chloe tentu tahu jika aku ingin melindungi Chloe, kan. Jadi saat berangkat aku sudah menyiapkan sesuatu dalam bajuku. Meski ternyata aku keburu pingsan bahkan sebelum menolong Chloe."
Puff!
Rasanya wajah Chloe langsung mendidih. Apa yang kupikirkan?
Dengan malu Chloe ber-oh ria dan mengangkat kaus Vincent.
Apa, apa-apaan ini?!
Dua buah pisau lengkap dengan tutupnya diselipkan pada kain khusus berwarna hitam yang dilingkarkan pada perut Vincent. Tapi bukan itu yang membuat Chloe terkejut. Melainkan badan yang penuh dengan luka lebam yang telah membiru.
Seberapa parah perlakuan orang-orang itu? Belum lagi, mereka masih berani melakukan perbuatan tercela ini?
Vincent merasa pergerakan Chloe terhenti. Bertanya kepadanya, "Chloe? Ada apa?"
Chloe tersadar kembali ke realita.
"Tidak apa-apa," jawabnya singkat sebelum meraih salah satu pisau dan membukanya. Berjalan ke belakang Vincent dan menggunakan pisau untuk memutus tali yang mengikat erat tangan pria itu.
Sial! Ini sulit!
Chloe mengumpat pelan, tali ini sulit sekali dipotong! Tangan Chloe memerah karena terlalu kuat mencengkram pisau dan tali itu.
Sedikit lagi, hanya sedikit lagi! Dan ...
Tuk..
Pisau dijatuhkan.
'Berhasil,' pikir Chloe lega.
Vincent yang merasakan pergelangan tangannya telah terbebas langsung menariknya. Ia menggerakkan tangannya yang hampir mati rasa. Terdapat bekas merah akibat ikatan tali itu.
Berdiri dari tempatnya, Chloe berjalan menuju tas selempang miliknya.
Tidak ada apa-apa di dalamnya. Para orang itu telah mengambil semua isinya.
Tiba-tiba Vincent berkata, "Chloe, lihat apa ini akan berguna."
"Di mana?" Chloe menoleh kepada Vincent. Pria itu menjulurkan tangannya, menunjukkan sebuah korek api yang ia dapat dari tumpukan wadah dengan krim berwarna biru.
Melihat korek api itu, sebuah ide muncul dalam kepala gadis itu.
"Aku terpikirkan sebuah rencana. Tetapi ini akan berbahaya, apa kau siap?"
——
"Kyaa!! Tolong, ada api di sini!!"
Teriakan melengking membuat burung-burung beterbangan dari tempatnya. Bahkan kelima pria yang bercakap-cakap melompat saking terkejutnya.
"Hei, kenapa dia berteriak?" Seorang pria dengan wajah tak asing bertanya.
Si kekar mengabaikannya, langsung berdiri lalu berjalan menuju kandang dan membuka pintu kandang sambil berteriak, "ada apa di sini-"
Tetapi dia menghentikan perkataannya begitu melihat kobaran api yang menjilati angkasa. Awalnya kobaran itu hanya melahap sebuah tumpukan jerami, tetapi di detik berikutnya langsung menyambar tumpukan lain yang telah disejajarkan dengan sengaja.
Begitu tersadar, si kekar merasa panik. Orang lain yang berada di luar kandang juga merasa panik. Tapi si kekar menguasai dirinya dan berteriak memerintah.
"Tunggu apa lagi, cepat ambil air, dasar bodoh!"
Suasana yang kalang kabut begitu api mulai membesar, sementara orang-orang itu membawa ember berisi air, mencoba memadamkan api.
Selama mereka sibuk memadamkan api, mereka tidak menyadari dua sosok yang mengendap-endap, mencari momen yang tepat.
Api sudah tak mampu menjalari jerami lain yang telah basah, dan api hampir dipadamkan, tetapi semua orang kelelahan setelah berlari bolak-balik mengambil air lalu menyiramkannya sebelum kembali mengambil air dan mengulangi tindakannya. Energi mereka hampir habis.
"Sekarang waktunya, Nona!"
Si kurus yang terengah-engah setelah berlari-lari, tidak menyadari keberadaan seseorang yang menyelinap di belakangnya.
Tetapi sebelum dia bahkan menyadarinya, sebuah tangan menarik kalung rantai yang menggantung bebas di lehernya.
KHEUK-
Dia ingin berteriak, namun tangan lain menutupi mulut dan hidungnya. Tercium bau busuk kotoran dari tangan itu, membuatnya tanpa sadar menahan napas. Sayangnya pemilik tangan itu memutar kalung rantainya dan memperkuat tarikannya. Membuatnya kehilangan kesadaran dan ambruk.
Brukk..
Sementara itu, si gigi maju tanpa sengaja melihat sosok perempuan yang mencengkram erat salah satu temannya, hendak berteriak:
"Bagaimana bisa-"
DUAKH!
BAM!
Sebuah tas selempang melayang, menabrak kepala si gigi maju dan mengakibatkan dia pingsan seketika. Di belakangnya, pria berambut putih itu berdiri dengan tegak sembari menjunjung tas selempang yang cukup berat.
Meski pria itu sendiri yang melayangkan tas selempang, tetapi wajahnya menunjukkan ekspresi tercengang.
Ternyata ini efektif!
Vincent melirik tas selempang di tangannya, itu berisi beberapa batu. Bau busuk agak tercium, memang karena tidak banyak batu di sini ia terpaksa memasukkan beberapa kotoran yang telah mengeras.
"Vincent, awas!!"
Teriakan Chloe membuat Vincent menoleh. Dari ujung matanya ia bisa melihat seseorang melesat mendekatinya.
Terlambat.
BUGH!
Si kekar yang menyadari keberadaan Vincent segera melayangkan tinjunya. Tak dapat dipungkiri, pria kekar itu memang kuat. Meski Vincent sempat menghindarinya, pukulan itu terasa menyakitkan. Untungnya Vincent masih bisa berdiri.
Pria kekar tidak berhenti di sana, bersiap melayangkan serangan lain.
HUK- KHOKKH-
Gerakan si kekar terhenti.
Leher si kekar tercekik. Itu Chloe, yang berusaha menahan si kekar dengan kalung rantai yang ia dapat dari si kurus. Setidaknya karena dia sendiri tinggi, Chloe bisa dengan mudah menjangkau leher si kekar.
Tanpa bertanya Chloe segera melepaskan cekikannya dan menghindar ke samping.
Vincent merasa jaraknya cukup aman sehingga dia berlari ke depan sambil melayangkan tas selempang, tepat menuju kepala si kekar.
DUAKK!
Duk..
Duk..
Beberapa batu terjatuh dari tas begitu menghantam kepala si kekar. Menggelinding dengan bebas di tanah.
Si kekar tidak dapat menjaga keseimbangannya. Kepalanya berputar, sebelum akhirnya dia ambruk di atas tumpukan jerami. Memadamkan api kecil yang tak sempat terkena air.
Napas Vincent terengah-engah. Tangannya melepaskan pegangan pada tas selempang.
"Hah!! Kita berhasil, Nona!" Blaze berteriak kegirangan, berputar-putar di udara.
Chloe mengabaikannya, mendekati Vincent dan bertanya dengan khawatir, "hei, lenganmu tidak apa-apa? Apa ada luka terbuka?"
Vincent memegang lengan kirinya yang masih terbungkus oleh jaketnya dan menggeleng pelan, "tidak ada luka terbuka, hanya sedikit sakit," jelasnya.
Chloe berganti menatap ketiga orang yang pingsan.
"Bagaimana sekarang? Kita pergi?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya.
Vincent berpikir sebentar. Mungkin lebih baik jika mereka bersantai beberapa saat lagi.
Suasana terasa sepi, terlalu sepi sampai Vincent bisa mendengar suara langkah kaki di dekatnya.
Dengan cepat Vincent membalikkan badannya, saat itulah sebuah batu melesat melewatinya. Meluncur dari tangan seseorang yang tak asing.
DUAK!
Akhh!
"Chloe!" Vincent berteriak panik, rasa penyesalan menyelimutinya. Andai saja tadi dia tidak menghindar, mungkin dia bisa menghalau batu itu.
Chloe merasakan rasa sakit pada punggungnya.
'Sial, apa ini yang dinamakan kena batunya?' Keluh Chloe.
"Nona!! Apa Nona tidak apa-apa?" Blaze mendekati Chloe dengan cemas.
Vincent sendiri baru saja akan berlari menuju gadis yang tersimpuh di tanah, ketika seseorang tiba-tiba saja menahan tubuhnya.
"John! Lepaskan aku!" Vincent berteriak keras melihat pelaku yang menahan tubuhnya. Tetapi Laki-laki di belakangnya hanya tersenyum sinis dan memperkuat pegangannya.
Sementara itu, Fred berjalan mendekati Chloe yang berusaha bangun. Menarik rambutnya dan berkata, "aku beruntung. Setidaknya lemparan ku bisa mengenaimu meski awalnya meleset."
"Kau- Lepaskan dia, jauhkan tangan kotormu darinya, sialan!"
Mendengar umpatan Vincent, Fred menoleh dengan kaget.
"Oh, dari mana kau mendapatkan keberanian itu? Mengejutkan sekali," tentu Fred tidak menuruti perintah Vincent. Malahan ia semakin menarik rambut gadis itu dengan senyum main-main.
"Brengsek! Apa kau tuli?!" Vincent mengeraskan suaranya, bertambah marah.
Fred lagi-lagi tersenyum sinis dan dengan ringan mengangkat tubuh Chloe. Tangannya menyodorkan sebuah pisau ke depan leher gadis itu.
"Diamlah, jika kau tidak ingin sesuatu terjadi secara tidak sengaja," ancam Fred semakin mendekatkan pisau.
Melihat Vincent yang langsung diam, Fred melanjutkan perkataannya.
"Nasibmu malang sekali. Padahal target kami hanya gadis ini, tetapi kau malah kena juga. Yah, aku tidak masalah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, kan?" Celoteh Fred mengejek.
Chloe sendiri merasa tubuhnya melemah dan lemas. Bertanya kepada Blaze, "Blaze, apa yang terjadi? Kekuatanku seakan menghilang ..."
"Ahh, Nona!! Berkah sistem akan menghilang sepuluh menit lagi! Tolong, bertahanlah, Nona!" Blaze berkata dengan panik begitu menyadari batas waktu yang tersisa.
Chloe semakin merasakan rasa sakit di punggungnya. Jika saja dia tidak ditahan oleh Fred, mungkin tubuhnya akan langsung merosot.
'Tenanglah, Chloe. Pikirkan rencana, waktumu sudah tidak banyak lagi,' batin Chloe mencoba tenang.
Sementara di belakangnya Fred terus mengoceh.
"Apa kau tidak lelah, hanya menjadi tikus got yang menjijikkan? Oh, Vincent yang malang. Tapi aku juga senang jika kau tetap diam seperti itu."
Vincent tetap diam. Dia tidak ingin Fred melakukan hal ekstrem hanya karena dia membuka mulutnya.
"Hmm? Ah, kurang menyenangkan juga jika kau hanya diam. Coba, katakanlah sesuatu," ujar Fred memerintah.
Vincent bersiap mengatakan sesuatu, menuruti perintah Fred.
"Apa yang membuat kalian melakukan ini?"
Fred terdiam. Tapi tak lama gelak tawa terdengar memenuhi ruangan itu.
"Hahahaha, kau bertanya hal sepele seperti itu? Heh, seperti tidak ada hal lain yang bisa kau katakan."
"Tapi biarkan aku memberitahumu, alasan aku melakukan semua ini. Apa alasanku? Aku kesal denganmu, BODOH! Mentang-mentang tampangmu seperti itu, kau kira bisa merebut milik orang lain, BEGITU? Gara-gara kau, aku selalu saja dibandingkan. Direndahkan karena kekuranganmu itu menyakitkan. Kenapa mereka semua sejahat itu-"
"Hentikan omong kosongmu."
Fred menghentikan omongannya. Melihat gadis di depannya menyela ucapannya, membuat ia murka.
"Nona, jangan berbicara! Dia bisa saja menggerakkan pisau itu!" Blaze berujar panik.
Tapi Chloe tidak berniat untuk berhenti. "Hal itu kau jadikan alasan? Menyedihkan! Hanya orang tolol yang memiliki kemampuan berpikir sepertimu. Konyol sekali kau mengatakan alasan yang bahkan tidak ada hubungannya dengan perlakuanmu, SAMA SEKALI."
Ketiga orang itu tercengang mendengar perkataan Chloe. Ketiga orang itu tentu memiliki reaksi yang berbeda. John yang terkejut, Vincent yang terharu, dan Fred yang murka.
Chloe tidak berniat untuk memperhatikan hal sepele seperti itu. Ia menatap netra Vincent dengan tegas, membawa tekad dalam tatapannya. Waktu yang tersisa untuk penggunaan kekuatannya hanya lima menit lagi. Jika terlewatkan mungkin Chloe tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya karena lelah.
Ini berbahaya. Tidak ada waktu untuk diam saja seperti ini.
"Karena itu, Vin. Jangan pedulikan aku dan lawan dia!!" Chloe berteriak dengan tegas, membangkitkan kembali semangat Vincent.
Tanpa penundaan lagi Vincent segera menginjak kaki John dengan keras.
ARGHH!
John berteriak keras. Memanfaatkan kesempatan, Vincent segera melepaskan diri dan berbalik sebelum menendang John tepat di antara kedua kakinya.
Krack..
Vincent bisa membayang suara imajiner di kepalanya. Merasa agak ngeri dengan tindakannya sendiri. Tapi John tidak sepenuhnya tumbang, dia masih bisa melawan.
Melihat situasi tidak menguntungkan, Fred berteriak cemas:
"Berhenti bergerak!! Atau pisau ini akan menyentuh leher gadis in-"
Chloe tidak membiarkan Fred berbicara lebih jauh dan mengganggu konsentrasi Vincent. Tanpa rasa takut Chloe memegang pisau di depan lehernya dan menarik tangannya ke samping.
Begitu tangan Fred berada dalam jangkauannya, dia segera menggigit tangan kurus itu dengan gigi taringnya.
Fred merasakan gigi tajam itu menembus kulitnya. Segera menarik tangannya dengan ekspresi kesakitan.
Melihat Fred menjatuhkan pisaunya Chloe tak lagi menahan diri.
Chloe membuka kakinya selebar bahu. Menggunakan tangan kirinya untuk mencengkram kerah lawannya, sementara tangan kanannya mencengkram dengan kuat tangan kiri Fred.
Fred merasakan kakinya mulai meninggalkan tanah. Bahkan sebelum ia sempat bereaksi, Chloe sudah membanting tubuhnya dengan keras.
Gedebuk..
Tidak ada teriakan kesakitan. Fred langsung kehilangan kesadaran begitu tubuhnya menghantam permukaan bumi.
Chloe mengatur napasnya. Sisa dua menit sebelum dia kehilangan semua kekuatannya.
Di sisi lain, Vincent berhasil merobohkan John. Pertahanan John cukup kuat, sulit jika Vincent ingin membuatnya pingsan hanya dengan satu pukulan. Tendangan yang ia lakukan sebelumnya sangat membantu pertarungan.
Vincent tidak lagi peduli pada John. Ia langsung berlari begitu melihat Chloe yang lunglai.
"Chloe! Chloe tidak apa-apa?"
Chloe menggeleng pelan. Mengumpulkan energi yang tersisa untuk mengeluarkan beberapa kalimat, "Vin, ayo ... pergi, bawa mere..ka. Aku, baik-baik ..."
Kalimat itu terhenti begitu Chloe kehilangan kesadarannya. Vincent mengguncang tubuh Chloe dengan panik.
"Chloe? Chloe! Sadarlah, tolong, apa kau bisa mendengarku?!"
Wajah gadis itu pucat, darah terus mengalir dari luka sayatan pisau pada tangan kanannya.
Bahkan Blaze tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
...----------------...
...To be continued...