Decision You Make

Decision You Make
Chapter 2- Blaze



Sore hari.


Terdengar nyanyian merdu dari salah satu ruangan apartemen.


"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday..."


"Happy birthday to.. you."


Perempuan itu terus bernyanyi, di dalam ruangan gelap yang hanya diterangi oleh sebuah lilin kecil.


Selesai bernyanyi perempuan itu membuka matanya dan tersenyum.


"Sebelum meniup lilin, tentu saja harus membuat permohonan," ucap Chloe sambil menggenggam kedua tangannya dan mengangkatnya setinggi dada.


"Mereka bilang saat membuat permohonan, tidak boleh mengatakannya. Jadi aku akan membuat permohonan ini dalam diam."


Chloe kembali menutup matanya, sangat serius dalam membuat permohonan.


'Aku berharap kau selalu bahagia. Kau akan menjadi yang pertama dan yang terakhir untukku. Tidak ada yang dapat menggantikan mu, ayah!' Batin Chloe.


Usai membuat permohonan, ia pun meniup lilin yang ditancapkan di atas kue. Satu-satunya penerangan pada ruangan dapur itu kini telah hilang.


Chloe membuka matanya lagi. Mengambil lilin yang telah mati, juga sebuah pisau di sebelah kue red velvet yang telah dihiasi dengan buttercream putih.


Kemudian Chloe memotong kue menjadi enam bagian dan mengambil satu bagian untuk dibawa ke atas sofa ruang tamu, dan menyimpan sisanya untuk lain hari.


"Selamat makan!"


Rasa manis kue kian memenuhi mulutnya.


"Hmm! Enak! Makanan manis memang yang terbaik!" Seru Chloe senang dengan kue yang dibeli.


Setelah memakan potongan kue beberapa suapan, Chloe meletakkan piringnya dan mengambil handphonenya membuka game yang sudah ia download sejak dua hari lalu. Selama beberapa saat layar menampilkan loading, sebelum terbuka ke halaman utama game.


"Hehe, siapa yang tahu perjuanganku untuk menamatkan game ini? Lihatlah, hanya tersisa satu chapter lagi dan game ini akan tamat. Dan inilah waktunya!" Ucap Chloe dengan semangat membara.


"Mari kita mulai!"


Pik..


Please wait...


Entering scene


...****************...


"Alice, maukah kau hidup bersamaku? Menemani suka dan duka, kebahagiaan dan kesengsaraan dalam hidup kita?"


...[Maukah anda menerima lamaran Damian?...


...>Ya...


...>Tidak]...


"Peh, siapa juga yang akan menjawab tidak? Kau pikir perjuanganku selama ini untuk apa, hah? Tentu saja iya!" Chloe menggerutu antara sebal dan senang, segera menekan tombol ya.


...[Maukah anda menerima lamaran Damian?...


...>Ya...


...Jawaban terkonfirmasi!]...


...Dengan penuh kegembiraan, Alice menyetujui lamaran Damian. Mereka berciuman di bawah sinar bulan yang memesona. Pernikahan mereka diadakan tiga hari kemudian dengan mewah. Pada akhirnya Alice dan Damian hidup bahagia selamanya....


.........


Terimakasih telah memainkan game Our Destiny hingga saat ini, sampai jumpa pada kesempatan berikutnya!


...****************...


Sroot..


Sroot..


"Sial, ingusku. Akhir yang mengharukan."


"Iya, sungguh mengharukan, ya."


"Kau tahu itu."


...


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


"Huaaaah!! Siapa di sana?! Cepat keluar kau sialan, jangan kau kira aku perempuan lemah, ya! Begini-begini aku pernah belajar menggunakan pedang!" Teriak Chloe heboh untuk mencari suara misterius yang entah datang darimana.


Sebenarnya tentu saja Chloe takut, tetapi ketakutan itu sedikit hilang begitu Chloe ingat bahwa dirinya pernah belajar menggunakan pedang.


Chloe bukannya belajar pedang dari les atau pelatihan profesional, melainkan dari kakeknya sendiri.


Meski tidak ada pedang, Chloe bisa menggunakan benda lain sebagai senjata untuk menyerang titik vital.


Chloe juga memahami beberapa gerakan pertahanan diri. Ini tentu saja penting bagi setiap perempuan.


Kembali pada saat ini, sementara Chloe mengawasi sekitar, tak lupa ia juga perlahan mengambil balok kayu yang digunakan untuk penyangga meja. Bukan, bukan penyangga meja, melainkan memang senjata yang dikamuflase kan menjadi penyangga meja.


Pfft...


"Hei, sialan! Kau menertawakan ku, ya?!"


Blarr...


Tiba-tiba kobaran api muncul dari kekosongan. Chloe melihat sebuah bola api biru bersinar terang bahkan saat semua lampu telah dinyalakan.


Anehnya, bola api itu memiliki dua mata dan satu mulut.


Terlihat mulut bola api tersebut menyeringai lebar.


"Halo, Nona Chloe. Perkenalkan namaku Blaze! Mohon maaf, karena waktu kita terbatas, aku akan langsung mengirimkan inti dari tujuanku datang kemari. Ini akan memakan waktu beberapa menit," ucap Blaze, bola api biru itu, sebelum mengirimkan seutas benang cahaya menuju kepala Chloe.


Gedebuk..


Sementara Chloe yang menerima benang cahaya tersebut langsung tergeletak pingsan.


...----------------...


...To be continued...


Ilustrasi Chloe



(Sumber: Pinterest


Aeshley Kim)


Nama: Chloe Natalie


Umur: 28 tahun


Hobi: Memasak, menggambar