
Pagi, Asrama Putri
"Wah, aku tidak tahu jika Chloe sangat berbakat dengan make up," Erine berseru kagum.
Hari ini, Chloe memakai baju casual dengan rompi dan celana kain. Rambutnya dikuncir kuda sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.
Erine sendiri mengepang rambutnya, mengenakan gaun musim panas, yang cukup bertentangan dengan gaya Chloe.
"Bukan apa-apa," Chloe menanggapi dengan senyuman.
"Apanya yang bukan apa-apa, ini ... aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata! Tolong, bisakah kau mengajariku, Chloe? Aku mohon," kalimat beruntun Erine ia akhiri dengan permohonan, sambil memegang erat tangan Chloe.
Chloe merasa tingkah perempuan di depannya cukup lucu. Hancur sudah image antagonis utama bermuka dua yang licik dan picik, yang di depannya ini jelas-jelas anak kucing!
"Baiklah, bukan masalah, kok," ini memang bukan masalah bagi Chloe. Baginya, seorang wanita yang berkutat dalam perusahaan besar, penampilan adalah yang kedua—setelah keterampilan. Chloe sendiri belajar dari teman sekantornya, Vivi.
'Bagaimana kabar anak itu, ya? Apa dia akan panik jika aku hilang seperti ini? Ah, tapi dunia itu, kan, cuma novel ...' Chloe sedikit murung, rasanya berat juga meninggalkan segalanya, beberapa ruang hatinya kosong.
"Ah, sudah waktunya. Ayo kita keluar sekarang, Chloe!" Erine langsung menarik tangan Chloe.
"Eh, eh, tunggu, aku harus memakai sepatu."
"Ehe, maaf."
Sementara Chloe memakai sepatunya, ia melirik Blaze yang dari tadi hanya mengambang tak tentu arah lalu mengucapkan, "kau tidak ikut, Blaze?"
"Tidak, Nona. Aku di sini saja. Jika ada apa-apa aku bisa segera datang," ucap Blaze dengan kilauan aneh.
Chloe agak khawatir, tetapi dia hanya berkata, "kalau begitu aku pergi," sebelum menutup dan mengunci pintu kamar.
——
"Hai, Vin! Kau sudah menunggu lama, ya?" Chloe menyapa begitu melihat laki-laki dengan surai putih yang menunggu dengan tenang di pinggir sebuah mobil.
"Oh, tidak, aku juga baru datang," Vincent menjawab dengan santai.
Bohong. Nyatanya, dia sudah menunggu sejak satu jam yang lalu. Bukan, bukan karena dia ingin terlihat baik, hanya saja sekarang jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Berjarak satu jam dari waktu yang dijanjikan.
Apa mereka sengaja terlambat? Ah, tidak mungkin, sepertinya para gadis membutuhkan waktu lebih lama untuk bersiap.
Kira-kira seperti itulah pikiran Vincent selama perjalanan. Mencoba menepis pikiran buruk tentang kedua gadis itu.
Yang tidak ia ketahui adalah, pikiran buruknya tidak sepenuhnya salah. Itu Erine, tersenyum simpul melihat pemandangan melalui jendela mobil.
Semalam, saat Chloe memberitahunya tentang Vincent, Erine merasa tebakannya benar. Memutuskan menguji laki-laki itu dengan mematikan alarm Chloe dan sengaja bangun terlambat, dan menurutnya Vincent telah lolos dari ujiannya.
Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam. Selama itu Chloe banyak berbicara mengenai rencana yang akan mereka lakukan, membagi tugas, hingga tak terasa mereka telah sampai di tujuan.
"Baiklah, ini hampir siang hari. Jadi langsung saja, seperti yang di rencanakan tadi," Chloe mengkomando sambil melihat catatan kecil di tangannya.
"Oke, oke, sampai jumpa di restoran, Chloe! Ingat, ruang 05," Erine langsung berbalik pergi melambaikan tangannya.
"Tentu," Chloe menjawab.
"Dan kita akan pergi ke sana, aku sudah memberitahu akan mengambil kue, jadi kau bisa langsung mengambilnya," Chloe menoleh pada Vincent dan menjelaskan sambil berjalan ke arah yang sama.
Vincent menganggukkan kepalanya mengerti.
"Chloe dan Erine menyiapkan ini dengan baik, ya," ucap Vincent memuji.
"Haha, tentu saja. Reina itu teman kami, tidak mungkin kami akan melewatkan ulang tahunnya, kan?" Jawab Chloe.
Mereka akhirnya sampai di persimpangan jalan dan berpisah. Vincent pergi ke toko kue sementara Chloe pergi ke toko buku.
Di depan toko buku ini cukup indah. Beberapa tanaman hijau terlihat berada di atas pot-pot kecil, ada juga yang menggantung. Memasuki toko buku, bau ratusan buku tercium, tercampur entah itu aroma buku baru maupun buku lama.
'Perutku agak sakit,' Chloe mengernyitkan dahinya sambil melihat rak-rak buku yang terbuat dari kayu. Tidak banyak orang di sini. Mungkin hanya lima sampai tujuh orang yang mengunjungi tempat ini.
Setelah melihat-lihat selama beberapa menit Chloe akhirnya menemukan buku yang dia cari.
Ini dia! Novel fantasi tebal dengan total 5 volume. Novel dengan cerita yang cukup berat, Chloe pernah melihat Reina membaca novel ini saat pertama kali bertemu dengannya. Bahkan Reina selalu membaca novel ini saat mempunyai waktu senggang. Suatu hari Reina pernah mengeluh bahwa novel yang ia baca telah selesai, tapi Reina tidak memiliki waktu untuk membeli kelanjutannya.
Tanpa pikir panjang Chloe segera membeli seluruh volume dari novel itu, serta membungkusnya menjadi sebuah kotak yang cukup besar.
Laki-laki itu menoleh, "Chloe, sudah selesai?"
Chloe berjalan mendekat, "ya. Kenapa kau di sini?"
"Hm, tidak apa-apa. Mengambil kue ternyata lebih cepat dari perkiraan jadi sekalian saja kita pergi bersama," jelas Vincent melirik kotak kue di tangannya. Kue yang dihiasi krim berwarna cerah dengan tema angkasa, lilin berbentuk angka 18, dan korek api yang dibungkus dengan kotak tersendiri di dalamnya.
Kedua orang itu berjalan dengan cukup pelan. Jalanan cukup sepi. Mungkin ini salah satu alasan toko buku itu menjadi agak sepi, Chloe menduga.
Chloe menoleh menatap profil tegas pria di sampingnya, hendak mengucapkan sesuatu. Tetapi matanya membulat begitu sebuah benda bergoyang hendak menghantam punggung pria itu.
"Vincent, awas!!" Chloe berteriak mencoba menyelamatkan pria itu dan membuang kado di tangannya.
Tapi terlambat.
DUAKH!
Tongkat bisbol memukul punggung pria itu dengan kuat, membuatnya tersungkur dan berteriak dengan keras.
Chloe hendak mendekati pria itu, sebelum tangan kekar menguncinya. Membekap mulutnya dengan sebuah kain.
Chloe meronta berusaha membebaskan dirinya sebelum kesadarannya perlahan menghilang.
Samar-samar Chloe bisa mendengar suara yang tidak asing berteriak kepadanya.
"Bertahanlah, Nona! Tidak apa, jangan khawatir, aku ada di sini bersama Nona, aku pasti menyelamatkan Nona!"
"Blaze ..." gumam Chloe sebelum kesadarannya telah hilang sepenuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Erine melihat jam dinding yang tergantung pada ruangan bernuansa coklat itu.
Kenapa mereka belum datang juga? Pikirnya cemas. Sudah hampir pukul 11.00 dan mereka belum sampai.
Memutuskan untuk keluar dari ruangan, Erine beranjak dari tempat duduknya.
Cuaca yang panas. Yah, sekarang memang sedang musim panas. Tiba-tiba saja Erine teringat pada laki-laki yang mengikutinya dengan Chloe tadi.
"Bisa-bisanya dia memakai jaket pada cuaca sepanas ini," gumam Erine.
"Orang mana yang memakai jaket di musim panas ini?"
Erine tersentak kaget mendengar suara seseorang tepat di sebelah telinganya.
"Damian?!"
Laki-laki itu tertawa melihat ekspresi Erine. Merasa kesal Erine mencubit pinggang Damian dengan kuat.
"Ah, aduh! Iya, iya, aku minta maaf!"
Hmph!
"Kenapa kau di sini?" Erine bertanya setelah melepas cubitannya.
"Hanya jalan-jalan, di asrama sangat membosankan," Damian mengangkat tangannya ke belakang kepalanya sambil berjalan.
Erine mengekor di belakangnya, "oh, lalu sekarang kau mau kemana?"
"Tidak tahu. Tunggu, makanan apa itu? Hei ayo kesana," tanpa permisi Damian langsung menggandeng Erine. Menyebabkan gadis itu tersipu dan mengomel kesal:
"Jangan sembarang menarikku!"
Suasana yang menyenangkan. Berbeda dengan dua orang yang kini sedang terkulai lemah dalam mobil berisi tiga orang pria kekar dengan penutup wajah.
Benar-benar dua situasi yang berbeda.
...----------------...
...To be continued...