
Chloe menggeliat merasa tak nyaman.
Matanya terasa berat. Rasanya malas juga membuka mata. Tapi suara teriakan berisik membuat Chloe penasaran dan ingin membuka matanya.
Semakin Chloe berusaha mengembalikan kesadarannya, semakin suara itu terdengar jelas.
"Nona Chloe! Nona, sudah sadar?"
Suara khawatir itu terdengar dengan jelas begitu Chloe membuka matanya sepenuhnya.
"Blaze ..." gumam Chloe pelan.
"Ya! Oh akhirnya Nona sadar! Aku sangat mengkhawatirkanmu, Nona!"
Meski pandangannya masih buram Chloe bisa melihat bola api biru itu mengambang tepat di depan wajahnya.
Bruuk...
Suara berisik membuat Chloe mengalihkan pandangannya yang mulai jelas. Di depan pintu, seorang gadis pirang menutup mulutnya tak percaya. Kantung plastik berisi makanan ringan yang ia jatuhkan tidak membuatnya mengalihkan pandangannya. Selain itu terdapat beberapa sosok lain di belakang gadis itu.
"Ch- Chloe ...?" Gadis itu tidak memercayai penglihatannya.
"Ya. Aku di sini, teman-teman."
——
"Chloe membutuhkan sesuatu lagi?"
"Tidak, terimakasih-"
"Sebaiknya Chloe makan ini. Meski tidak kelihatan menggoda tetapi ini bisa membantu memulihkan tenaga Chloe!"
"Ya, baiklah-"
"Setelahnya Chloe harus minum air putih lebih banyak, makanan itu cukup berat."
"..."
Bukan hanya Chloe, bahkan Damian merasa sedikit sesak dengan perlakuan ketiga orang di depannya. Sudut mulutnya berkedut kesal.
Dia berkata, "apa kalian tidak merasa perlakuan kalian itu menggelikan?"
"Tidak." Ketiga orang itu menjawab bersamaan dengan nada tegas.
Mereka tidak menghiraukan Damian yang keberadaannya mulai mengecil seukuran debu.
Chloe dengan sabar menanggapi ocehan ketiga orang itu. Perlahan menatap mereka satu persatu.
Reina, yang sibuk memijat kakinya. Erine, yang memegang piring berisi makanan, menyuapinya. Serta Vincent, yang duduk dengan tiang infus di sebelahnya sambil membawa segelas air putih.
Melihat kondisi Vincent yang sama saja dengannya, Chloe tentu saja mengkhawatirkannya.
"Vincent, kau tidak perlu membawa gelas itu sepanjang waktu. Lagipula kau juga harusnya beristirahat, kan?"
Vincent tidak menganggap serius perkataan Chloe, menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku sudah lebih baik. Nyatanya keadaanku membaik lebih cepat daripada Chloe. Jika dihitung, Chloe sudah terbaring selama seharian penuh."
Mendengar penjelasan Vincent, Chloe merasa terkejut. Seharian penuh? Banyak sekali hal yang telah dia lewatkan!
Seakan mengerti kekhawatiran Chloe, Reina tersenyum ringan. Gadis itu membuka mulutnya dan berkata, "terimakasih untuk hadiahnya, Chloe. Aku menyukainya."
Chloe tertegun. Melihat senyum gadis itu rasanya hati Chloe ikut menghangat, ikut menyunggingkan senyum. "Sama-sama. Aku senang kau menyukainya. Selamat ulangtahun, Reina."
Suasana terasa harmonis. Kelima remaja itu saling berbincang dan tertawa. Reina dan Vincent yang terkadang bertengkar. Erine yang kini berkutat dengan piring kosong di tangannya. Juga Damian yang mulai membuka hatinya sesekali menimbrung dalam pembicaraan. Meski ia lebih sering mengejek Erine, tapi justru itu memeriahkan suasana.
"Omong-omong, adakah yang bisa menjelaskan apa yang terjadi kemarin?" Chloe bertanya di tengah suasana. Akibatnya suasana berubah menjadi lebih mencekam. Menghilangkan rasa senang yang tadinya mereka rasakan.
Hening ...
Chloe bisa merasakan perubahan itu. Wajah orang-orang itu jelas-jelas berganti murung.
Tetapi Vincent, yang telah mengontrol ekspresinya, segera menjadi satu-satunya yang menjawab pertanyaan Chloe.
"Biarkan aku menjelaskan," pandangan Chloe tertuju pada Vincent. Tidak hanya dia, tapi juga Reina, Erine, dan Damian.
Vincent mulai menjelaskan:
"Saat aku berhasil membawa Chloe pergi menggunakan mobil milik ketiga penculik itu, tiba-tiba saja sekumpulan polisi menghentikan mobil sambil berteriak. Aku tak ambil pusing dan langsung meminta bantuan. Akhirnya, kita berhasil diselamatkan di rumah sakit."
Damian juga ikut menyahut, "itu mobil polisi yang memang berpatroli untuk mencari kalian. Setelah memanggil ambulan, mereka menuju ke tempat kejadian. Aku juga mengikuti mereka. Aku tercengang juga melihat lima orang itu terkapar tanpa daya. Sungguh kagum pada kalian," ucapnya diakhiri dengan pujian.
Chloe yang mendengar penjelasan kedua orang itu menganggukkan kepalanya mengerti. Melayangkan pertanyaan selanjutnya, "lalu, bagaimana dengan orang-orang itu sekarang?"
Kali ini Erine lah yang menjawab. "Ketiga orang yang berperan dalam penculikan dihukum penjara. Mereka mendapat hukuman berat, setelah terungkap kalau ini bukanlah satu-satunya perbuatan mereka."
"Untuk dua orang siswa itu, John dan Fred? Mereka juga di hukum penjara. Sejujurnya aku ingin sekali menginjak-injak mereka jika saja Damian tidak menghalangiku."
Lanjut Erine melirik Damian tajam. Damian tidak terlalu memikirkannya, ia sudah terbiasa.
Erine mengalihkan pandangannya lagi dan tersenyum cerah, "yah, tapi menyenangkan melihat kedua anak itu hanya bisa meringkuk di bawah pukulan bertubi-tubi dari orang tuanya. Dendamku sepertinya sudah terbalas seperempatnya!"
Chloe ikut tertawa bersama Erine. Dia sendiri masih merasakan rasa jengkel terhadap kedua orang itu.
Jika saja Chloe tidak kehabisan energi setelah membanting Fred, dia pasti akan membantingnya beberapa kali lagi sebelum menyumpal mulut pria itu dengan kotoran sapi!
Baru saja Chloe menghentikan tawanya, pintu terbuka dengan suara tenang.
Ceklek.
Para remaja itu secara bersamaan melihat sosok tinggi yang berdiri tegak tanpa emosi di wajahnya.
Mereka tidak mengenali orang asing itu. Tidak sebelum Vincent berkata dengan terkejut.
"Ayah?!"
Chloe, Reina, Erine, juga Damian juga ikut terkejut. Mereka bolak balik melihat antara Vincent dan pria itu. Ah, mereka memang mirip.
Pria yang disebut ayah oleh Vincent mengangkat suaranya, "permisi. Vincent, kita perlu bicara."
Rasa tegang merayapi tubuh Vincent. Lima kata sederhana itu membuat dia merasakan kecemasan.
"Ayah, bisakah kita berbicara di sini?"
Erine dan Damian langsung mengerti. Mereka langsung berdiri dari tempat duduknya. Reina yang masih tidak mengerti situasinya hanya berdiam diri dan memasang ekspresi bodoh.
Ayah Vincent memberi jalan untuk mereka dan mengangguk pelan. Erine balas mengangguk sambil tersenyum sopan.
Kini tinggallah Vincent, Chloe, dan seorang pria paruh baya yang kini telah duduk di samping ranjang milik Chloe. Chloe merasa tidak sopan untuk berbaring, tetapi mau bagaimana lagi? Tubuhnya masih terasa lemah.
Chloe berusaha tersenyum sopan. Pria paruh baya ini memiliki aura dingin dan tegas. Untungnya Chloe telah terbiasa menghadapi puluhan orang sepertinya selama bertahun-tahun berkerja.
Pria itu melihat Vincent dengan intens.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya tanpa emosi yang jelas.
"Baik ..." jawab Vincent singkat.
Hubungan ayah dan anak apa ini? Chloe tidak habis pikir. Untuk Chloe, yang memiliki hubungan harmonis dengan ayahnya, dia tidak bisa menerima kondisi ini.
Chloe yang fokus pada pembicara canggung kedua orang itu, tentu bertanya-tanya ketika pria paruh baya di sampingnya menoleh kepadanya dan berujar:
"Kau pasti Chloe Natalie. Aku, George Forden, sungguh minta maaf untuk keterlibatanmu."
Meski merasa bingung, Chloe tetap menjawab, "ah, anda tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang tahu mereka akan melakukan itu, Tuan George."
George menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku harus. Anak itu memang merepotkan. Apa yang dia lakukan hingga orang lain melakukan perbuatan nekat itu dan parahnya malah melibatkan orang yang tak bersalah. Setidaknya aku sudah berusaha agar kejadian ini tidak tersebar."
George menghela napas berat. Sementara Vincent menundukkan kepalanya. Ia mengepalkan tangannya, menahan emosinya.
Chloe akhirnya mengerti. George, orang itu mengira anaknya sendirilah yang membuat John melakukan penculikan, bahkan menyeret Chloe dalam bencana itu. Meski sebenarnya bukan itu yang terjadi.
Tidak tahan akan kesalahpahaman ini, Chloe menjawab, "tidak. Vincent tidak bersalah. Saya mengetahuinya. Mereka selama ini telah merundung Vincent tanpa alasan. Saya hanya mencoba menyelamatkannya, tetapi mereka tidak bisa menerimanya dan berakhir seperti ini."
"Meskipun begitu, kenapa anak itu tidak pernah memberitahuku? Jika bukan karena dia takut kesalahannya akan terungkap."
Vincent tidak bisa menahannya lagi. Ia berseru dengan penuh emosi.
"Bukan itu maksudku!!"
Akhirnya Vincent membuka suara. Dia juga tidak ingin diremehkan seperti itu. Dia bahkan dengan berani menatap netra ungu ayahnya. Hal yang tidak pernah dia lakukan.
"Oh, jadi apa maksudmu?"
Tetapi nyali Vincent menciut begitu ayahnya bertanya dengan tatapan tajamnya.
Dia hanya diam. Ah, akhirnya tetap sama. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan suaraku karena tatapan itu.
Vincent kembali menundukkan kepalanya. Merasa gagal.
"Apa anda tahu alasan Vincent merahasiakan semua itu dari anda?"
Suara jernih tanpa rasa takut memasuki pendengaran Vincent. Membuatnya menoleh mencari sumber suara itu.
Gadis itu dengan tatapan tenangnya berkata dengan berani.
"Itu semua karena anda."
Mata pria itu membulat karena terkejut.
"Apa maksudmu, Nona kecil?"
"Maksudku, Vincent melakukan itu demi anda. Anda yang sedang sakit-sakitan, mana mungkin Vincent berani memberitahu itu kepada anda?" Chloe berhenti sebentar lalu melanjutkan.
"Pikirannya tentu dipenuhi dengan berbagai dugaan. Bagaimana jika keadaan ayah bertambah parah? Bagaimana jika ayah semakin membenciku?" Gadis itu menatap George tanpa emosi.
Srakk!
Vincent melonjak kaget tatkala ayahnya meninggalkan tempat duduknya dengan kasar. Dan sekarang, pria itu memegang kedua pundaknya dengan ekspresi yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
"Apa- Apa maksudnya, aku tidak pernah membencimu! Apa yang kau pikirkan, anak bodoh!"
Vincent tak mengerti. Pikirannya kosong. Tapi bibirnya tetap berucap, "Ayah, tak pernah membenciku?"
George tidak langsung menjawab. Melainkan memeluk Vincent ringan, khawatir infus di tangannya akan terlepas.
"Tidak, tidak sekalipun. Bagaimana bisa aku membencimu? Mata itu selalu membuatku merasa lemah, aku tidak sanggup untuk membencimu bahkan satu detik pun." George berkata dengan nada bergetar lembut.
Nada itu, nada yang hanya pernah didengar oleh Vincent dalam khayalannya, menjadi kenyataan.
Kristal bening di ujung matanya meleleh, tetapi dia tersenyum pada Chloe.
Senyuman dan tatapan itu ... mirip seperti tatapan seseorang yang ia ingat, membuat Chloe merasakan getaran di hatinya.
Vincent membalas pelukan George, "aku lega, Ayah. Sangat lega."
George tersenyum tulus.
'Bahkan pelukan ini terasa sepertinya,' batinnya mengingat sosok perempuan yang ia cintai.
"Nona, aku kembali!!" Blaze berteriak keras begitu menembus jendela kamar.
"E-eh? Suasana apa ini?"
"Diamlah Blaze, kau merusak suasana."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
PRANG!!
"Apa maksudmu kau gagal??!!"
Gadis itu dengan gila melempar gelas kaca dalam genggamannya.
Laki-laki di depannya hanya diam meski darah mengucur dari keningnya.
"Dia tidak berada dalam tempat yang diinformasikan, Nona muda," ucapnya tak gentar.
"Kalau begitu cari dia, dasar bodoh!! Hilang ke mana otakmu?! Sudahlah, kalian tak berguna!"
Gadis itu semakin murka. Dia mulai melempar semua benda di dekatnya sebelum berteriak keras:
"AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU, CHLOE NATALIE!!"
...----------------...
...To be continued...
Catatan penulis: Untuk beberapa hari ke depan mungkin penulis akan sulit menerbitkan bab terbaru dikarenakan masalah koneksi internet.