Decision You Make

Decision You Make
Chapter 13- Tolong Buka Bajuku



"Nona, Nona!"


Suara teriakan samar terdengar oleh Chloe.


"Blaze?" Chloe bertanya dalam keadaan setengah sadar.


"Oh, akhirnya! Tolong jangan buka mata Nona sekarang, mereka ada di sekitar Nona."


Mengerti ucapan Blaze, Chloe tetap memejamkan matanya dan memakai perspektif. Pandangan Chloe langsung terbebas dari kegelapan begitu memakai perspektif. Chloe mengamati sekeliling.


Mobil yang mereka tempati hanyalah mobil biasa, di sebelah Chloe terdapat Vincent yang terkulai lemah, dijaga oleh pria kekar botak.


Mungkin pria itu yang sebelumnya membekap Chloe. Di kursi pengemudi Chloe bisa melihat punggung pria kurus yang memakai kalung rantai ketinggalan jaman, ditemani oleh pria lain dengan gigi maju. Saking majunya, gigi pria itu bahkan mencuat dari mulutnya.


Fokus Chloe kembali kepada Blaze.


"Blaze, bisa kau ceritakan apa yang terjadi tadi?"


"Tentu, Nona. Dua puluh menit yang lalu ..."


...****************...


"Ada saksi mata di sini. Kami melumpuhkannya, pria berambut putih itu tak sadarkan diri sekarang, apa yang harus kami lakukan?" Si kurus menelpon sebuah nomor begitu melihat Vincent yang tersungkur tanpa daya di sampingnya.


"Membawanya? Baiklah, tapi tentu akan ada kenaikan harga untuk ini," setelah bernegosiasi, pria kurus itu menutup telepon dan berkata kepada pria kekar, "bawa dia."


Si kekar mengangguk dan langsung mengangkat tubuh Vincent bak mengangkat karung beras. Sementara itu si gigi maju melihat kue galaksi yang terguling jatuh. Mengambilnya dan membawanya ke dalam mobil.


"Sangat disayangkan, untungnya ini tidak jatuh dari kotaknya. Masih bisa dimakan!" Ucapnya bersemangat begitu menaruh kue rusak itu ke pangkuannya.


Si kurus yang telah duduk di kursi pengemudi hanya memutar matanya malas.


"Hei, apa yang harus dilakukan dengan tas gadis itu?" Pria kekar yang masih berada di luar mengangkat tas selempang milik Chloe.


"Ambil saja, nanti isinya kita bagi rata. Dan buang ponselnya," pria kurus menjawab.


Si kekar mengangguk, membuang ponsel milik Chloe bersamaan dengan milik Vincent dan membawa tasnya masuk ke dalam mobil.


Begitu mobil berjalan, suara retak terdengar dari kedua ponsel yang remuk akibat lindasan ban mobil.


...****************...


"... Setelahnya aku mencoba berbagai cara untuk membangunkan Nona. Aku juga telah memberi berkah sistem utama kepada Nona untuk sementara. Setidaknya kekuatan Nona akan meningkat selama satu setengah jam," Blaze menjelaskan.


Chloe tidak menanggapi perkataan Blaze. Dirinya sibuk menghafal belokan dan beberapa petunjuk jalan. Tak lama mobil berhenti.


'Peternakan tua di pinggir kota,' pikir Chloe begitu melihat bangunan kayu khas peternakan, dengan bau menyengat dan lingkungan tidak terurus.


Ketiga pria itu keluar setelah memarkirkan mobil. Si kekar kembali menggendong Vincent dengan kasar, sementara si kurus menopang Chloe dengan tangannya. Si gigi maju tidak terlalu peduli pada kedua temannya dan sibuk membawa kue serta tas selempang milik Chloe.


Mereka memasuki kandang tua yang tidak terurus. Banyak tumpukan jerami serta beberapa kotoran sapi di ujung ruangan. Di tengah ruangan sudah tersedia sebuah kursi.


Si kurus segera mendudukkan Chloe ke kursi tanpa melakukan apapun. Di sisi lain si kekar mengambil tali dan langsung mengikat Vincent yang masih tak sadarkan diri.


"Selesai." Ucap si kekar setelah mengikat Vincent cukup erat.


"Kalian sudah selesai? Yah, ayo bersantai di depan sana. Kue ini kelihatannya mahal, pasti enak," si gigi maju menetaskan air liur melihat kue yang tak jelas bentuknya. Ia mengambil kue dengan alasnya dan menjatuhkan barang lainnya, tak peduli.


"Dasar rakus, tapi, aku juga cukup penasaran dengan rasa kue mahal," si kurus mencemooh, namun tetap ingin merasakan rasa 'kue mahal'.


Pria kekar juga ikut penasaran, tetapi fokusnya tetaplah pada tas selempang yang dibawa oleh si gigi maju. Merebut tas itu dan berkata, "biar aku saja yang membagi hasil," ucapnya mengambil dompet tebal dalam tas dan membuang sisanya.


Dua pria lain sebenarnya tidak setuju, tetapi apa mereka berani menentang si kekar? Satu tinju darinya saja bisa membuat seseorang pingsan secara langsung.


Pintu kandang segera ditutup. Chloe yang tadinya berpura-pura pingsan segera membuka matanya.


Beranjak dari kursi, dan berkata kepada Blaze, "awasi mereka, Blaze. Aku akan memikirkan cara."


"Baik, Nona."


Chloe tidak lagi memperhatikan Blaze yang melaju menuju pintu kandang. Perhatiannya ia alihkan kepada Vincent.


"Vincent, Vincent? Apa kau bisa mendengarku?" Chloe menepuk-nepuk pundak Vincent. Merasa pria itu tidak akan terbangun, Chloe tidak kehabisan cara. Gadis itu berjalan menuju pojok kandang, mengambil kotoran yang sudah mengeras.


Tidak ada rasa jijik di matanya. Fokus Chloe sekarang adalah bertahan hidup.


Kembali kepada Vincent, Chloe menyodorkan tangan penuh kotorannya mendekati hidung Vincent. Hidung pria itu mengendus-endus selama beberapa saat sebelum kedua matanya terbuka lebar.


Hueek!


Vincent hampir muntah, tetapi Chloe segera menutup mulutnya dengan tangan yang masih bersih.


"Kita diculik. Aku tidak tahu apa motif mereka tapi sepertinya mereka sedang menunggu otak dibalik penculikan ini," Chloe langsung menjelaskan situasi kepada Vincent.


Vincent yang baru saja sadar membutuhkan banyak waktu untuk mencerna informasi. Saat ia mengerti, wajahnya berubah cemas.


"Akhirnya mereka melakukan ini ..." gumam Vincent dengan tatapan kosong.


"Apa? Kau tahu siapa yang menculik kita?" Chloe menarik tangannya dari wajah Vincent, memberi ruang kepada pria itu untuk menjelaskan.


Vincent sedikit ragu-ragu, menarik napas dalam-dalam. Tapi dia agak menyesali perbuatannya. Pasalnya, bau kotoran semakin tercium olehnya. Vincent mengendalikan dirinya dan berkata, "itu John dan Fred. Mereka kesal kepadamu, jadi mereka melakukan ini. Aku baru mengetahui ini kemarin, maaf karena tidak memberitahumu."


Chloe mendengarkan penjelasan Vincent dengan cermat. Melihat Chloe diam saja, Vincent berpikir bahwa dia marah.


"Aku tidak tahu akan begini jadinya, aku minta maaf-"


"Setidaknya kau berani menanggung akibatnya. Vincent pasti kemarin dengan susah payah berlari mencari ku, mengabaikan tangan yang terluka untuk berbicara denganku, kan? Jadi Vincent tak perlu merasa bersalah."


Kalimat penghiburan dari Chloe cukup efektif. Terbukti, kilauan tekad mulai terlihat dari netra ungu pria itu.


Vincent mendapatkan semangatnya, dan berkata pada Chloe, "Nona Chloe, tolong buka bajuku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini ... Apa, apa yang terjadi?!" Erine berteriak panik melihat kotak kado yang tergeletak begitu saja di tanah. Dilihatnya juga dua ponsel yang telah hancur.


"Penculikan," ucap Damian dengan yakin saat mengambil sebuah kain kotor yang penuh dengan jejak sepatu.


Damian berkeliling melihat lingkungan sekitarnya. Tidak ada kamera pengawas atau apapun yang bisa menjelaskan secara pasti apa yang terjadi.


"Ponsel ini milik Chloe, yang satu ini pasti milik Vincent," Erine berjongkok melihat kedua ponsel tak berbentuk sambil menahan air matanya.


Damian menepuk pundak Erine, mencoba menenangkannya.


"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja, percayakan padaku," ucap Damian ikut berjongkok di dekat Erine.


Ucapan Damian memang sedikit menenangkan Erine, tetapi butiran air mata tetap mengalir tanpa kendali.


Erine terisak-isak sambil melemparkan tubuhnya ke pelukan Damian. Menyebabkan Damian kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk. Pria itu cukup panik, ini pertamakalinya dia melihat Erine menangis.


Tidak tahu harus berbuat apa, Damian berakhir menepuk pelan kepala Erine. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semuanya.


...----------------...


...To be continued...