
Sore hari, ruang kesehatan sekolah
Canggung.
Hanya itu yang bisa menggambarkan keadaan Chloe saat ini.
Saat Chloe datang, laki-laki itu sudah terbangun.
Mereka bercakap-cakap sebentar, dan Chloe memberikan makanan yang ia beli.
Dan suasana canggung ini berasal dari laki-laki itu yang hanya memakan makanannya sambil duduk di ranjang, sementara Chloe duduk di kursi yang disediakan.
Chloe segera memutar otak untuk mencairkan suasana. Ia merasa laki-laki di depannya hanya akan terus menunduk memakan makanannya tanpa berbicara sepatah katapun.
"Anu, setelah dipikir-pikir lagi, kita belum berkenalan, ya. Aku Chloe Natalie, dan kau?" Tanya Chloe ramah.
Laki-laki itu mengangkat kepalanya dan menjawab Chloe, "aku Vincent Forden."
Setelah mengatakan itu, dia mengalihkan pandangannya. Chloe bisa melihat ujung telinga Vincent memiliki semburat merah.
Ya, dia sedang malu. Tetapi berbeda dengan Vincent yang merasa malu, Chloe justru tercengang.
'Tunggu, Vincent Forden? Apakah..'
Untuk memastikan dugaannya, Chloe segera menyalakan identifikasi, dan apa yang dilihat olehnya membuat Chloe merasa ingin berteriak.
...[Nama: Vincent Forden...
...Umur: 18 tahun...
...Status: Karakter (potensi pasangan pria)...
...Tingkat kesukaan: 25% (ramah)]...
Sesuai dugaan Chloe, dia adalah Vincent Forden. Salah satu pasangan pria dalam cerita asli.
'Celaka, aduh, bagaimana ini?! Padahal kurasa Vincent orang yang tepat untuk Reina, padahal niatku adalah menyuruh Reina menolong Vincent agar Vincent jatuh cinta kepada Reina, sial!' Batin Chloe yang langsung merasa stres.
Chloe dari awal memang sudah merencanakan tentang pertemuan Reina dengan Vincent.
Dalam cerita asli, Reina menolong Vincent dari perundungan yang diterimanya saat ia sedang berjalan-jalan bersama Damian. Reina yang baik hati, tentu saja tidak akan diam melihat perundungan terjadi di depan matanya. Sayangnya dia hanyalah gadis lemah. Karena itu Reina meminta Damian agar ia mengusir para perundung.
Setelah menyelamatkan Vincent dan membawanya ke ruang kesehatan sekolah, Vincent lalu jatuh cinta kepada Reina, bahkan selalu menempel pada Reina.
Chloe terus melamun, sampai akhirnya ia tersadar karena tepukan di pundaknya.
"Eh, ada apa, Vincent?" Tanya Chloe kepada Vincent, pelaku yang menepuk pundaknya.
"Kau tidak apa-apa? Daritadi kau hanya diam dengan tatapan kosong," ucap Vincent dengan nada khawatir yang tidak disembunyikan.
"Aku hanya melamun sebentar, dan kau belum menjawab pertanyaanku."
Vincent terlihat berpikir sebentar dan menjawab, "terimakasih atas bantuanmu, hanya saja mungkin lebih baik kau menjauhiku. Atau mereka juga akan melakukan hal itu kepadamu," Vincent dengan nada serius memperingatkan.
Chloe sedikit geli mendengarnya.
"Haha, tidak usah khawatir. Mereka hanya murid biasa. Lagipula, kita bisa melaporkan mereka kepada guru." Ucap Chloe santai.
"Tapi mereka masih punya sedikit kekuasaan, buktinya mereka masih bisa mengganggu murid-murid lainnya," ucap Vincent tetap berusaha meyakinkan Chloe.
Rasanya Chloe ingin sekali memukul kepala laki-laki itu. Terlalu polos!
Lagipula Chloe heran, dalam cerita, Vincent sebenarnya juga anak dari pengusaha yang kaya. Memang karena beberapa hal dia menjadi kurang percaya diri dan tertutup, sehingga menarik para perundung busuk yang memanfaatkan kekuasaan. Tetapi ini terlalu parah, kan?
'Apa karena aku bukan Reina, ya? Ya, mungkin begitu. Mungkin saat itu Vincent merasa Damian bisa melindungi Reina... Tunggu, itu berarti dia meremehkan ku?'
Chloe merasa agak kesal juga diremehkan. Rasanya memalukan, diremehkan oleh remaja sementara dia sebenarnya adalah wanita dewasa.
"Vincent, apa kau meremehkan ku?" Tanya Chloe dengan senyum yang tidak tampak tulus.
Vincent yang melihatnya merasa panik sendiri Dan buru-buru berkata, "tentu saja tidak, kau kan cukup kuat untuk menendang mereka. Aku hanya khawa-"
"Aku lebih kuat dari untuk sekedar menendang mereka. Aku lebih berkemampuan dan mempunyai kekuasaan lebih daripada mereka. Kau pikir aku ini murid biasa, ya?"
Vincent terdiam mendengar ucapan Chloe.
Selama ini tidak ada yang ingin membantuku, karena mereka memang tidak peduli. Jika ada yang ingin membantu, mereka juga pasti hanyalah sesama korban perundungan yang tidak punya keberanian.
Vincent mengingat saat Chloe tanpa rasa takut melakukan kekerasan fisik pada John, dan bahkan mengancamnya.
'Iya, tidak mungkin dia murid biasa,' Vincent merenung memikirkan perkataan Chloe.
Tiba-tiba....
...[Ding!...
...Status baru dari karakter Vincent telah dibuka.]...
Sebuah jendela biru mengambang tepat di depan Chloe. Chloe merasa bingung, merasa dirinya tidak melakukan apa-apa. Tetapi ia langsung membuka identifikasi.
Begitu identifikasi diaktifkan, informasi dari Vincent langsung terlihat.
...[Nama: Vincent Forden...
...Umur: 18 tahun...
...Status: Karakter...
...Perasaan khusus: 25% (cinta di hatiku)]...
Chloe tercengang, lagi.
Status Vincent telah berubah menjadi karakter, dan apalagi itu? Perasaan khusus? Cinta di hatiku?
'Tunggu, jadi Vincent bukan calon pasangan pria lagi? Dan lebih parahnya dia menyukaiku? Apa-apaan,' rasanya Chloe ingin menangis.
Hancur sudah harapannya kepada Vincent, sepertinya dia sudah tidak bisa menjadi pasangan pria untuk Reina, pikirnya.
'Yah, ini juga salahku. Lagipula Vincent jatuh cinta kepada Reina juga karena diselamatkan, jika aku tidak menyelamatkannya dia juga tidak akan menyukai ku.'
Chloe merasa agak mual memikirkan hal-hal yang terjadi hari ini. Terlalu banyak.
"Aku harus pergi sekarang, semoga cepat sembuh. Temui aku besok untuk melaporkan mereka," ucap Chloe segera beranjak, dia sudah merasa tidak nyaman.
"Oh, biar aku mengantarmu ke gerbang sekolah," Vincent juga ikut beranjak.
"Tidak usah, aku tinggal di asrama," ucap Chloe singkat.
"Baiklah," jawab Vincent menyerah. Dia tidak mungkin mengikuti Chloe sampai ke asrama para gadis, kan.
Chloe berjalan agak cepat meninggalkan ruang kesehatan sekolah, sementara Vincent hanya melihat punggung Chloe yang semakin lama menjauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Eh?"
"Eh?"
Kedua gadis itu terkejut melihat satu sama lain.
"Loh, jadi ini kamar Chloe juga, ya?" Tanya Erine dengan wajah bahagia.
"Ya, jadi kita sekamar, keren!" Jawab Chloe.
Sebelumnya, Chloe mencoba membuka kamarnya dengan kunci, tetapi gagal. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa kunci kamar ini sudah dibuka dan bertemu Erine yang sudah memakai baju bebas dengan rambut terurai.
Setelah bertanya, Chloe mengetahui bahwa Erine memang berniat untuk tinggal di asrama, dan secara kebetulan tinggal di kamar yang sama dengan Chloe.
Chloe merasa ini tidak terlalu buruk, setidaknya dia bisa mengawasi Erine agar tidak menggangu Reina.
Meski Erine tidak menumbuhkan kebencian terhadap Reina.
Lagipula tidak ada salahnya untuk terus waspada, kan?
...----------------...
...To be continued...