
Pada akhirnya, saat pertarungan semakin panas, Viktor tiba-tiba tumbang karena terkena tusukan petir dari Reyra. Dia merintih kesakitan saat listrik merasuki tubuhnya. Sementara itu, Esmeralda yang sudah sangat kelelahan mengeluh dengan suara lemah, "Ugh, manusia ini sebenarnya terbuat dari apa sih? Dari tadi, satu lawan tiga, tapi dia masih bisa berdiri dengan santainya." Tubuhnya terasa lemas karena kehabisan mana, dan kakinya tertusuk oleh aliran petir yang terus mengalir, menyebabkan rasa sakit yang perlahan-lahan merayap. Namun, cederanya yang paling parah adalah Viktor. Sebagian perutnya berlubang dan organ-organ dalam hampir terburai, tetapi berkat beberapa potion yang dimilikinya, dia masih bisa bertahan.
Ryota, yang penuh dengan keputusasaan, akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan pedangnya. Reyra yang melihatnya, merasa aneh dan memiringkan kepalanya sambil bertanya, "Apakah kamu sudah menyerah?" Dalam situasi yang kritis ini, Ryota justru tersenyum dengan penuh semangat. Dia menggigit kedua jempolnya dan mengacungkannya ke atas, membuat darahnya bercipratan. Lalu dengan suara berani, ia berkata, "Ninja memang sering disebut pengecut, tapi kami tak kenal yang namanya menyerah."
Reyra, yang masih melayang di tanah, mulai mengumpulkan energi petir di tangan kanannya. Ia menembakkan serangan petir itu ke arah Ryota. Namun, Ryota tidak gentar. Dia berteriak sambil tertawa, "HAHAHAHA, TERLAMBAT!" Serangan petir Reyra tiba-tiba terhenti, terhalang oleh aliran darah Ryota yang melayang di udara. Ryota dengan cepat membuka telapak tangannya, di mana muncul sebuah topeng iblis. Dengan suara tegas, ia berkata, "Bersiaplah untuk menghadapi kekuatanku yang paling dahsyat." Dia memasangkan topeng itu ke wajahnya, dan tiba-tiba tubuhnya terbungkus oleh darah yang sebelumnya melayang mengitarinya. Darah-darah itu terserap, mengubah sosok Ryota menjadi sebuah iblis dengan wajah yang sama seperti topeng yang ia kenakan.
Semua mata tertuju pada adegan ini. Esmeralda yang masih berjuang dengan luka-lukanya, Viktor yang berusaha bertahan dari cedera seriusnya, dan Ryota yang berubah menjadi entitas iblis yang misterius. Pertarungan semakin mendekati klimaksnya, penuh dengan kejutan dan ketegangan.
"Haha... ha... ha... ha..." tawa melengking Ryota mengisi ruangan dan dimensi, menciptakan gelombang rasa takut pada semua yang mendengarnya. Mata semua orang terpaku pada pemandangan ini, sementara suasana terasa semakin mencekam. Ryota melihat ke arah mata Reyra, dan sedikit terkejut dengan reaksi Reyra. Namun, Reyra dengan tiba-tiba mengumpulkan energi petir di sekitarnya, membiarkan beberapa sambaran petir menyambar tubuhnya. Mata biru petir itu terfokus pada ujung jari telunjuk tangan kanannya. Dengan gerakan mantap, ia mengarahkan telunjuknya ke arah Ryota, dan seluruh energi listrik tampak mengalir di dalam tubuh Reyra.
Tiba-tiba, energi petir itu melepaskan diri dan menyambar tubuh Ryota dengan kekuatan dahsyat. Ryota merintih kesakitan, namun dengan tekad yang kuat, ia berhasil memfokuskan pikirannya. Ia mengendalikan tubuhnya yang bergetar akibat serangan petir, dan dengan susah payah, ia menyatukan kedua lengannya di depan tubuhnya, berusaha menahan serangan petir yang menyala-nyala. Wajahnya memerah dan berkeringat karena usaha kerasnya.
Setelah beberapa saat, Reyra menurunkan telunjuknya dan menatap Ryota dengan pandangan mengejek. Ryota hampir kehabisan tenaga, tubuhnya merasa lemas, namun ia tidak menyerah meski tangannya meledak karena energi listrik yang besar. Reyra yang masih melayang meluncur ke arah ryota dengan niat menusuk jantungnya Lalu, sesuatu yang mengejutkan terjadi kedua tangan ryota yang sebelumnya meledak dengan energi kini terlihat pulih. Reyra tidak menyangka akan hal ini, dan terkejut saat tangannya ditahan oleh tangan Ryota yang baru saja pulih.
Ryota tersenyum dengan angkuh, "Kamu kira kekuatan ultimate ku hanya mengubah penampilanku? Maaf, aku bukan power renjer." Tanpa ragu, tangan kiri Ryota ditembakkan dalam sebuah pukulan keras ke arah wajah Reyra. Pukulan itu mendarat, membuat Reyra terpental hebat dan terhantam keras ke gedung di sekitarnya. Gedung itu gemetar akibat benturan hebat tersebut. Ryota berhasil membalas serangan Reyra dengan kekuatannya yang tak terduga, memberikan momen kritis dalam pertarungan ini.
Energi listrik mengalir di seluruh tubuh Reyra, menghidupkan setiap serabut saraf dan memberinya kecepatan yang hampir sulit dipercaya. Tubuhnya melayang seperti bayangan, menyulitkan mata siapapun yang mencoba mengikutinya. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Ryota, menendang pelipisnya dengan kecepatan kilat. Namun, Ryota memiliki refleks yang luar biasa. Dengan tangkas, ia mampu menghindari serangan tersebut, tubuhnya seperti angin yang bertiup cepat.
Tiba-tiba, Reyra mengeluarkan serangan baru. Dengan cepat, ia mengaktifkan skill "Lightning Push." Tangannya yang menyala dengan energi petir menghantam dada Ryota dengan keras. Tubuh Ryota terhempas mundur oleh kekuatan serangan tersebut, dan ia terjatuh ke tanah dengan keras. Jantungnya berdetak tak teratur akibat serangan petir yang melumpuhkannya sejenak.
Saat itu, kelihatannya Reyra memiliki keunggulan. Tubuh Ryota tergeletak di tanah, dan pandangan matanya menjadi kabur akibat dampak serangan petir tersebut. Namun, semangat perjuangan Ryota tidak pernah luntur. Ia memusatkan pikirannya, berusaha mengatasi dampak serangan dan mencari cara untuk melawan kembali.
Reyra, dengan penuh keyakinan, bersiap untuk memberikan pukulan telak pada tubuh lemah Ryota. Energi listrik berkumpul di kepalan tangannya, menciptakan kilatan cahaya yang memancar dari jari-jarinya. Suara gemuruh energi listrik mengisi udara saat tinjunya bergerak menuju sasaran.
Tiba-tiba, area sekitar mereka terhampar dalam kepulan debu dan tanah, seolah-olah dunia di sekitar mereka sedang mengguncang. Pukulan dahsyat Reyra membuat bumi tergetar. Namun, ketika debu dan tanah perlahan-lahan mengendap, reyra melihat bahwa Ryota tidak ada di tempatnya. Dia terkejut dan tak percaya, mencari-cari keberadaan Ryota yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
"Sialan, bajingan kecil itu kemana?" gumam Reyra dengan rasa frustrasi dan kebingungan. Namun, sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara tajam menghunjam di udara dan sebuah sabit muncul di dada Reyra. Matanya melebar dalam kejutan, dan saat ia melihat ke belakang, ada Raven dengan wujud mayat hidup, menjadi puppet dari Kevin.
Sementara itu, Kevin telah menghampiri Ryota yang lemah dan memapahnya dengan hati-hati. "Jangan khawatir, kita masih memiliki beberapa trik di saku dan jangan lupa reyra kami berlima" ucap Kevin, menunjukkan bahwa pertempuran belum usai.
Reyra yang tak ingin kalah begitu saja, merasa kesal dengan situasi ini. Ia memukul Raven dengan penuh amarah, mengirimnya terhempas ke belakang. Dengan sedikit usaha, ia mencabut sabit yang masih menancap di dadanya. Tatapan matanya tajam saat ia memandang Kevin dan Raven. "Kalian benar-benar merepotkan," ucapnya dengan suara rendah, menyiratkan bahwa ia masih jauh dari menyerah.