
Kevin berdiri tegak di tengah arena, memperhatikan dengan seksama gerak-gerik lawan yang akan datang. Dia melihat seorang ahli pencak silat yang terlihat sangat berpengalaman dan memancarkan aura kekuatan yang menakutkan. Kevin mengingat masa lalunya ketika dia pernah belajar pencak silat, dan itu memberikan sedikit keyakinan pada dirinya.
Namun, ketika pertarungan dimulai, Kevin segera menyadari bahwa dia telah meremehkan lawannya. Ahli pencak silat itu melancarkan serangan dengan kecepatan yang mengagumkan, menghindari setiap upaya Kevin untuk mempertahankan diri. Setiap pukulan dan tendangan yang dilancarkan oleh lawannya memiliki kekuatan yang mengerikan, membuat Kevin terhuyung-huyung mundur.
Kevin mencoba menerapkan teknik-teknik yang pernah dia pelajari, tetapi lawannya dengan mudah mengantisipasi setiap gerakan dan menghindarinya dengan lincah. Serangan balasan yang ia terima semakin membuatnya kewalahan. Ketangkasan, kecepatan, dan kekuatan lawannya melebihi apa pun yang pernah dia alami sebelumnya.
Dalam sekejap, Kevin terjatuh ke tanah, terhempas oleh serangan mematikan dari ahli pencak silat itu. Dia merasakan rasa sakit melanda seluruh tubuhnya, dan napasnya tersengal-sengal. Ketidaksiapan dan meremehkan lawannya telah membuatnya membayar harga yang mahal.
Namun, di balik kekalahan itu, Kevin tidak putus asa. Dia menyadari bahwa ada banyak lagi yang perlu ia pelajari dan tingkatkan dalam pertarungan ini. Kegagalan ini hanya akan menjadi motivasi baginya untuk menjadi lebih baik. Dengan semangat yang tidak tergoyahkan, Kevin berdiri kembali, siap untuk menghadapi tantangan berikutnya dengan lebih besar determinasi dan keinginan untuk berkembang.
Kevin bangkit dengan tekad yang kuat, meskipun tubuhnya terasa lemah setelah serangan sebelumnya. Dia mengunci pandangannya pada lawannya yang menyerang dengan kejam. Musuhnya meluncurkan serangan-serangan mematikan, memenuhi udara dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan.
Kevin berusaha menghindari serangan dengan gerakan yang cepat dan lincah. Dia melompat, berguling, dan berputar dengan gesit, mencoba untuk mengelak dari setiap pukulan dan tendangan musuhnya. Tetapi serangan musuh terus datang dengan keganasan, memenuhi ruang di sekitarnya dengan kekuatan yang menghancurkan.
Setiap serangan yang Kevin terima membuatnya terhuyung, dan dia hanya bisa menahan diri agar tidak terjatuh. Debu dan pecahan kayu terbang di sekitar mereka, mengisi arena dengan kekacauan dan kehancuran. Setiap benturan menyebabkan gemuruh yang menggetarkan tanah, mengisyaratkan kekuatan yang luar biasa dalam pertarungan ini.
Kevin merasakan hembusan angin yang menusuk kulitnya ketika tinju musuhnya melintas di dekatnya, menghasilkan kekuatan mengerikan yang dapat menghancurkan apapun yang terkena. Dia bergerak dengan kecepatan yang tinggi, menghindari serangan demi serangan dengan ketepatan yang mengagumkan. Dia merasakan setiap hembusan udara saat pukulan itu melesat melewati tubuhnya, mengirimkan getaran yang mengguncang tulangnya.
Walaupun Kevin berjuang dengan gigih, kekuatan dan kecepatan musuhnya terlalu tinggi untuk diatasi. Meskipun dia berhasil menghindari beberapa serangan, beberapa lainnya berhasil mencapai sasaran. Tubuh Kevin terhempas dan terpental melalui udara, menghantam lantai arena dengan kekuatan yang dahsyat.
Namun, meskipun terhantam dengan keras, Kevin tidak menyerah. Dia bangkit kembali dengan dorongan terakhir dari tekadnya yang membara. Darah mengalir di wajahnya, luka-lukanya menyala dalam nyala api semangatnya yang tak tergoyahkan. Dalam kesulitan yang menyiksa ini, dia mengumpulkan kekuatan terakhirnya, siap untuk bertempur dan melawan musuhnya hingga titik terakhir.
Ketika musuhnya bersiap untuk serangan berikutnya, Kevin menghadapinya dengan mata yang berkilat penuh keteguhan. Meskipun badannya lelah dan terluka, dia tidak akan menyerah. Kehendaknya yang kuat, tekadnya yang tak tergoyahkan, dan semangatnya yang meluap-luap menjadi senjata terbesarnya. Kevin siap menghadapi apapun yang musuhnya dapat lontarkan kepadanya.
Serangan musuh yang tak terkira kuat menghantam tepat di lever Kevin, menyebabkan rasa sakit yang menusuk dan membuatnya terhuyung mundur. Dia merasakan tubuhnya yang mulai lemas, kekuatannya memudar dengan cepat.
Serangan itu adalah kombinasi gerakan yang cepat dan tepat sasaran. Pukulan yang terarah dengan presisi menghantam lever Kevin dengan kekuatan yang luar biasa. Dia merasakan seolah-olah setiap serangan itu menusuk langsung ke dalam tubuhnya, memuntahkan napas dan menghancurkan keberanian yang tersisa.
Kevin terjatuh ke tanah dengan tubuh yang terkulai lemah. Rasa sakit yang tak tertahankan melanda setiap serat sarafnya. Dia mencoba untuk bangkit, tetapi tubuhnya menolak patuh. Setiap gerakan membawa rasa sakit yang membingungkan, memperkuat perasaan lemahnya.
Wajahnya yang keringat dan pucat mencerminkan penderitaannya yang tak terbendung. Napasnya tersengal-sengal, mengingatkan akan ketidakmampuannya untuk mengatasi serangan itu. Kevin merasakan hatinya dipenuhi dengan kekecewaan dan frustasi. Namun, dalam kedalaman keputusasaannya, tetesan ketabahan masih menyala dalam matanya.
Dengan usaha terakhir yang tersisa, Kevin mencoba bangkit dari lantai yang dingin. Tubuhnya gemetar, tetapi tekadnya tetap kuat. Dia berdiri dengan setiap pikiran yang berjuang melawan rasa sakit yang menghantamnya.
Dalam kelemahan yang menyelimuti dirinya, Kevin berusaha untuk kembali mengumpulkan energinya. Dia menyadari bahwa meskipun terluka dan hampir tak berdaya, dia tidak akan menyerah. Ada api yang masih menyala di dalam dirinya, membara dan menguatkan keinginannya untuk melawan.
Kevin melihat musuhnya dengan pandangan yang menantang, tidak menghiraukan luka-lukanya yang menyiksa. Dia bersiap untuk melanjutkan pertempurannya, walaupun dengan segala kelemahannya yang terbuka. Meskipun terjatuh, dia akan terus berjuang, tidak peduli seberapa sulitnya.
Layar sistem muncul secara tiba tiba
Layar sistem: Kevin sebaiknya kamu manfaatkan Gelar villain mu untuk menyelesaikan lantai ini karena lihatlah dirimu baru lawan satu orang saja sudah mau mati.
Kevin berdiri di tengah arena yang hancur, terengah-engah dan penuh pertimbangan. Tatapan penuh keraguan menghiasi wajahnya saat ia mendengar kata-kata sistem. Gelar villain yang ia miliki menawarkan kekuatan dan keuntungan, tetapi juga menuntut pengorbanan dan langkah-langkah yang melanggar aturan.
Dia merasakan tekanan berat dalam pikirannya. Di satu sisi, ia ingin menyelesaikan lantai ini dengan cepat dan melindungi dirinya sendiri. Penggunaan gelar villain dapat memberikan keuntungan yang signifikan dan mempercepat perjalanan menuju kemenangan. Namun, di sisi lain, Kevin takut akan konsekuensi moral yang datang dengan menjadi seorang villain.
Dalam kebimbangan itu, waktu terasa melambat. Detik-detik terus berjalan, tapi Kevin merasakan bahwa keputusannya akan berdampak besar pada dirinya sendiri dan masa depannya. Keringat dingin mengalir di dahinya saat dia memikirkan pilihan yang harus diambil.
Pandangannya terfokus pada gelar villain yang tertera di layar sistem. Itu adalah bagian dari identitasnya yang tidak bisa diabaikan. Namun, Kevin juga memiliki prinsip dan nilai-nilai yang ingin dia pertahankan. Dia ingin menjadi seseorang yang jujur dan kuat tanpa harus mengorbankan integritasnya.
Pertarungan di dalam dirinya terus berkecamuk. Pilihan sulit harus diambil, dan waktu terus berlalu. Kevin menyadari bahwa ini adalah momen yang menentukan dalam perjalanan dan karakternya. Dia harus memilih, tetapi tidak ada jawaban yang mudah.
Saat Kevin berdiri di ambang keputusan, adegan terhenti secara mendadak. Layar sistem menjadi gelap, meninggalkannya dalam keheningan yang tegang. Semua bergantung pada Kevin untuk menentukan jalannya sendiri. Akankah dia mengambil jalan yang mudah dan menggunakan gelar villain, atau akan memilih tetap setia pada nilai-nilai yang diyakininya?
Dalam ketegangan yang menyelimuti dirinya, Kevin terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia tahu bahwa dia harus mencari keberanian dan kebijaksanaan dalam dirinya sendiri untuk menentukan langkah selanjutnya. Waktu berhenti, menunggu jawaban dari batinnya yang terdalam.
Adegan berakhir dengan ketidakpastian yang menggantung di udara. Kevin masih berdiri di tengah arena yang hancur, pikirannya bergejolak dalam pertarungan batin. Apakah dia akan memilih jalur yang mudah atau tetap berpegang pada integritasnya? Hanya waktu yang akan memberikan jawaban yang akhirnya akan menentukan nasibnya.