Death ITS Not My End

Death ITS Not My End
tempat tinggal



Layar notifikasi besar itu menjadi sorotan utama di hadapan mereka. Kevin, Chizuru, Viktor, Esmeralda, dan Ryota berkerumun di bawahnya, penasaran dengan isi pesan yang akan diungkapkan. Layar itu mulai berkedip-kedip, menarik perhatian mereka.


Ketika isi pesan akhirnya terbuka, keheningan menyelimuti kerumunan. Fate pertama mereka akan dimulai, dan itu adalah "bertahan hidup." Fate ini akan berlangsung selama 1 minggu penuh. Kevin menatap layar tersebut dengan intensitas, pikirannya mulai memutar skenario dan strategi untuk menghadapi tantangan yang akan datang.


Setelah pesan ditampilkan, suasana seketika berubah. Mereka semua berpindah tempat ke kota Jakarta, ibu kota Indonesia. Namun, keanehan terjadi saat mereka tiba di sana. Kota yang seharusnya ramai dengan kehidupan, kini tampak sunyi tanpa seorang pun kecuali para inkarnasi mereka. Bangunan-bangunan megah dan jalan-jalan yang biasanya penuh sesak, kini terlihat sepi dan ditinggalkan.


Kevin merasa kaget dan sedikit terkejut. Dia merasa ada sesuatu yang familiar dengan kota ini, tetapi tak bisa memahami mengapa kota ini begitu sepi. Dia menaruh pertanyaan di dalam benaknya, tetapi memutuskan untuk menahannya saat Chizuru memanggilnya.


"Kevin," panggil Chizuru dengan suara lembut. "Ayo, mari kita berdiskusi dan merencanakan strategi untuk menghadapi fate ini. Ada banyak hal yang perlu kita siapkan agar bisa bertahan hidup."


Kevin mengalihkan perhatiannya pada Chizuru, berusaha mengalihkan pikirannya dari keanehan yang dialaminya sebentar tadi. Dia tersenyum padanya, merasakan kehangatan dalam tatapan mereka.


"Benar," kata Kevin dengan suara mantap. "Kita harus bekerja sama dan saling mendukung dalam perjalanan ini. Mari kita temukan jawaban dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kota ini."


Mereka bertiga duduk di atas puing-puing, membahas langkah-langkah yang harus diambil untuk bertahan hidup dalam fate ini. Viktor, Esmeralda, dan Ryota juga ikut bergabung, membawa ide dan saran mereka untuk strategi yang lebih kuat.


Kevin dan empat rekannya duduk bersama dalam lingkaran, berdiskusi tentang cara menghadapi tantangan yang dihadapinya. Chizuru, dengan penuh keyakinan, mengatakan bahwa Kevin adalah kuncinya karena dia adalah orang Indonesia itu sendiri. Kevin mengangguk, menerima tanggung jawab yang diberikan.


"Mari kita bekerja sama untuk menyelesaikan fate ini," ujar Kevin dengan tegas. "Saya akan menjadi penunjuk arah dan mencari petunjuk yang dapat membantu kita melalui minggu ini."


Sementara itu, Kevin menggunakan kekuatan puppeter-nya untuk menciptakan beberapa boneka. Boneka-boneka itu akan menjadi mata dan telinganya yang memantau sekitar daerah Jakarta. Chizuru, Ryota, dan Esmeralda berdiri di sekelilingnya, siap untuk melindungi tubuh Kevin saat ia menggunakan boneka-boneka tersebut. Viktor mengamati sekitarnya, memastikan tidak ada musuh yang mendekat.


"Kevin, pastikan untuk berkomunikasi dengan kami melalui komunikator kita saat menggunakan boneka-boneka itu," kata Chizuru dengan tegas. "Kami akan menjaga tubuhmu dan memastikan keselamatanmu."


Kevin mengangguk seraya mengaktifkan komunikator yang terpasang di telinganya. Dia merasa didukung dan dilindungi oleh rekannya. Mereka saling berpegangan pada keahlian dan kekuatan masing-masing untuk mencapai tujuan bersama.


Mereka mulai bergerak. Kevin mengendalikan boneka-bonekanya dengan cermat, menjelajahi sudut-sudut kota Jakarta yang sunyi. Setiap petunjuk yang ditemukan, Kevin segera berkomunikasi dengan timnya melalui komunikator. Chizuru, Ryota, dan Esmeralda tetap waspada, memeriksa sekeliling mereka untuk memastikan tidak ada bahaya yang mengancam.


Waktu berlalu, dan kegiatan mereka terus berlanjut. Kevin mengumpulkan informasi dan petunjuk yang penting. Boneka-boneka puppeter-nya membantunya menembus batasan ruang dan waktu, menjelajahi daerah yang sulit dijangkau secara fisik.


Tim itu berjaga-jaga dan tetap bersatu, saling memberikan dukungan dan menjaga keselamatan satu sama lain. Setiap hari, mereka berdiskusi, menganalisis, dan mengevaluasi kemajuan yang telah mereka capai. Semangat mereka untuk bertahan hidup semakin kuat, dan kepercayaan satu sama lain semakin erat.


Puppet Kevin melangkah maju dengan hati-hati, mengendalikan setiap gerakan boneka dengan kefasihan yang ia miliki. Puppet itu memasuki sebuah kantor yang tampak sunyi dan terlantar. Ruangan itu penuh dengan debu yang terbang saat ia melangkah. Kevin memandangi layar kecil yang menampilkan pandangan mata boneka itu, tetap berhati-hati terhadap setiap pergerakan di sekitarnya.


Namun, tanpa diduga, sesuatu yang aneh terjadi. Puppet Kevin tiba-tiba terbelah menjadi dua dari belakang, membuatnya kehilangan kendali dan terbangun dari meditasi puppeter-nya. Kevin terkejut dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Pandangannya beralih ke tubuhnya yang sekarang, duduk di tengah-tengah teman-temannya yang khawatir.


Chizuru dan Ryota segera bertanya pada Kevin apa yang terjadi. Kevin mencoba menjelaskan dengan terbata-bata, masih mencerna kejadian yang misterius tadi. Esmeralda mendekat dan menenangkan Kevin, meraih tangannya dengan lembut.


"Tenanglah, Kevin. Ceritakanlah dengan perlahan apa yang terjadi," ucap Esmeralda dengan penuh empati.


"Sepertinya ada yang lebih dari sekadar puppet yang sedang kita hadapi," kata Chizuru dengan bijaksana. "Kita harus tetap waspada dan mencari tahu lebih lanjut tentang kejadian ini."


Esmeralda menggenggam tangan Kevin erat-erat, memberikan dukungan dan kekuatan. "Kamu tidak sendirian, Kevin. Kita akan melalui ini bersama-sama."


Saat sedang membicarakan rencana selanjutnya, Viktor tiba-tiba berlari ke arah mereka dengan wajah yang penuh kecemasan. "Kalian harus cepat! Ada tiga pria yang mendekati kita!"


Namun, sebelum Viktor sempat menjelaskan lebih lanjut, petir menyambar dari langit mendekati mereka dengan cepat. Cahaya yang menyilaukan memenuhi sekeliling mereka, membuat semua orang terkejut dan terkejut.


"Awas!" teriak Chizuru, mencoba melindungi dirinya sendiri dan yang lainnya dengan mengayunkan pedangnya.


Kevin menggunakan keahlian Puppet Mastery-nya dengan cekatan. Dalam sekejap, ia melontarkan serangan Shadow Bind yang berhasil mengikat musuh-musuh yang mengejar mereka. Dengan tangan yang terjalin dalam bayangan kegelapan, Kevin segera memberi isyarat kepada teman-temannya untuk segera melarikan diri.


Mereka berlari secepat mungkin, mengikuti langkah-langkah Kevin yang mengarahkan mereka menuju ke arah hotel tempat Kevin tinggal. Ryota tidak bisa menahan keingintahuannya dan bertanya kepada Chizuru tentang alasan mereka berlari daripada melawan para pengejar.


Chizuru tersenyum pahit. "Ryota, di dunia ini ada jutaan inkarnasi lain yang siap menyerang kita kapan saja. Jika kita bertarung di sini, meskipun kita menang, kita pasti akan terluka. Lebih baik kita menjaga diri dan mencari kesempatan yang tepat untuk melawan."


Mereka terus berlari sampai akhirnya tiba di depan pintu masuk hotel tempat Kevin tinggal. Hotel itu terlihat megah dan mewah, menandakan kesuksesan Kevin sebagai seorang streamer nomor 8 di dunia. Mereka masuk ke dalam hotel, mencoba menghidupkan beberapa peralatan elektronik di sekitar, tetapi semuanya mati kecuali lift yang masih berfungsi.


Tanpa ragu, mereka naik ke lantai kamar Kevin. Begitu pintu kamar terbuka, mereka terkejut melihat keadaan kamar yang berantakan. Pakaian yang berserakan, barang-barang elektronik yang tergeletak di sana-sini, dan berbagai tumpukan barang lainnya.


Kevin dengan santainya berkomentar, "Aku memang tidak punya waktu untuk membersihkan kamar. Lagipula, apa gunanya membersihkannya jika hanya akan kembali berantakan?" Namun, kata-katanya terpotong ketika Chizuru dan Esmeralda menampar kedua telinganya secara bersamaan.


"Apa yang kau katakan, Kevin?! Ini kamar terlihat seperti kandang ayam!" protes Chizuru sambil menunjuk ke sekeliling.


Esmeralda mengangguk setuju. "Kita harus membersihkan ini, Kevin. Setidaknya kita bisa merasa nyaman dan tertata di sini."


Kevin menyadari kesalahannya dan menggaruk kepalanya, "Baiklah, baiklah. Ayo, kita bersihkan kamar ini bersama-sama."


Mereka bahu-membahu membersihkan kamar Kevin yang berantakan. Pakaian-pakaian dikumpulkan, barang-barang yang berserakan diletakkan di tempatnya, dan lantai di sapu bersih. Meskipun Kevin awalnya enggan, ia akhirnya merasa senang melihat kamar menjadi lebih teratur dan rapi.


"Akhirnya kamar ini bisa dihuni dengan layak," kata Chizuru dengan senyum puas.


Esmeralda menepuk pundak Kevin dengan lembut. "Ini lebih baik, Kevin. Sekarang kita bisa istirahat dengan nyaman."


Dengan kamar yang bersih dan rapi, mereka merasa lebih tenang dan siap menghadapi tantangan Fate yang akan datang. Sambil duduk bersama di sofa, mereka menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.