Death ITS Not My End

Death ITS Not My End
new puppet



Raven merasa semakin lemas seiring dengan berkurangnya darah yang mengalir dari lukanya. Meskipun ia bisa mencabut pedang yang menusuknya, itu hanya akan memperburuk pendarahan yang ia alami. Ia tetap tersenyum, menunjukkan sikapnya yang penuh dengan kenikmatan terhadap pertarungan ini. "Masih ada 10 menit sebelum aku kehabisan darah dan pingsan. Mari kita bersenang-senang," ucapnya dengan suara terengah-engah. Rambutnya yang kusut ia acak-acak dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tetap memegang sabit Reaper.


Tanpa menunggu lama, Raven tiba-tiba menerjang dengan cepat ke arah Ryota. Ryota yang terkejut segera mengangkat tombaknya dalam posisi bertahan. Namun, rasa kagetnya semakin memuncak ketika Raven melewati dirinya dan bergerak menuju Kevin. Kevin yang panik berusaha menarik mundur puppet-puppetnya, namun gerakannya terlambat. Raven sudah berada di depannya, dan saat sabitnya hendak menyerang leher Kevin, gerakan Raven tiba-tiba terhenti.


Kevin tersenyum dengan bangga, menunjukkan ketenangannya. "10 menit, ya? Kalau begitu, aku hanya perlu bertahan dalam pose ini selama 10 menit," ucapnya sambil merentangkan ke-10 jari tangannya secara silang di depan wajah Raven. Raven bingung dan bertanya, "Apakah ini semacam telekinesis?"


Kevin menggelengkan kepalanya sambil menjawab dengan bangga, "Bukan, ini adalah skill-ku, Mystic Thread. Benang yang digunakan untuk mengendalikan puppet-puppetku." Kedua mereka terjebak dalam pose itu, dengan Raven tidak bisa melanjutkan serangannya dan Kevin bertahan dengan keteguhan yang luar biasa. Walaupun mulai merasakan pegal dan kelelahan, Kevin tetap fokus agar Mystic Thread-nya tidak terputus atau menghilang.


Sementara waktu terus berjalan, Raven yang sudah mulai kelelahan mencoba mengalihkan perhatian Kevin dengan percakapan. "Hei, apa jari-jarimu tidak pegal setelah bertahan selama 6 menit?" ucapnya dengan suara terengah-engah. Namun, Kevin dengan tegar mengabaikan ucapan Raven dan tetap fokus pada pose dan skill-nya. Ia tidak ingin melepaskan kendali dalam pertarungan ini.


Kevin berhasil bertahan selama sepuluh menit dalam pose Mystic Thread-nya, dan akhirnya Raven tumbang kehabisan darah. Kevin merasa lega karena berhasil mengalahkan musuhnya. Tanpa buang waktu, ia segera menggunakan skill Corpse Puppet-nya untuk mengendalikan mayat Raven yang ada di depannya. Meski mayat itu hanya memiliki setengah kekuatan asli Raven, namun tetap merupakan puppet baru yang sangat kuat.


Namun, sesaat setelah mengendalikan puppet baru tersebut, Kevin merasa tubuhnya melemah dan akhirnya ia tumbang ke tanah. Ia mulai muntah darah, membuat teman-temannya menjadi panik. Ryota segera mendatangi Kevin dan bertanya dengan cemas, "Ada apa, Kevin? Apa kamu terluka?"


Kevin menggelengkan kepala dengan lemah dan berkata, "Tidak, ini racun udara. Kamu bantu dulu yang lain, sementara aku mencoba mengobati racun dalam tubuhku." Ryota awalnya ragu untuk meninggalkan Kevin, namun akhirnya ia mengangguk setuju dan pergi untuk membantu Esmeralda dan Viktor melawan Reyra.


Sementara itu, kondisi Kevin semakin memburuk. Ia merasa tubuhnya semakin lemah dan sulit untuk bernapas. "UHUK UHUK," ia terus batuk darah. Ia melihat layar notifikasi di hadapannya dan membaca penjelasan dengan panik. Skill racun Blood Frost Poison telah aktif dalam tubuhnya. Ia hanya memiliki waktu tujuh menit sebelum darahnya membeku.


Kevin menyadari bahwa ia harus segera mengatasi racun ini. Dengan usaha terakhir, ia mencoba mengingat kembali pengetahuan tentang obat-obatan dan ramuan yang pernah dia pelajari. Ia mengeluarkan beberapa botol dan ramuan dari dalam kantongnya, mencampurkan beberapa bahan, dan mencoba membuat obat untuk mengatasi racun tersebut.


Tangan Kevin gemetar saat ia mencampurkan bahan-bahan tersebut. Rasanya seperti waktu berjalan dengan sangat lambat bagi Kevin, sementara racun dalam tubuhnya semakin menyebar. Ia berusaha tetap fokus dan tidak menyerah, meskipun takdirnya tampak suram.


Tensi dalam pertarungan semakin meningkat. Esmeralda berusaha menahan serangan-serangan Reyra dengan sihirnya, sementara Ryota dan Viktor terus menyerang dengan gigih. Mereka saling membantu dan bekerja sebagai tim, mengandalkan kekuatan dan keahlian masing-masing.


Sementara itu, di tengah-tengah pertempuran yang berkecamuk, Kevin terus berjuang dengan waktu yang semakin menipis. Ia akhirnya berhasil membuat obat yang ia yakini dapat mengatasi racun tersebut. Dengan penuh keteguhan, ia mengonsumsi obat itu dan berharap bahwa obat itu akan berhasil menyelamatkan hidupnya.


Waktu terus berjalan, dan semakin mendekati akhir. Setiap detik terasa seperti abad bagi Kevin. Ia harus bertahan sampai obat itu bekerja, dan harapannya adalah hidup.


Tetapi pertempuran pun belum usai, dan mereka harus tetap fokus menghadapi musuh-musuh yang tak kenal ampun. Bagaimanakah kelanjutan pertempuran ini? Apakah Kevin akan berhasil menyelamatkan dirinya dari racun mematikan? Dan apakah mereka berhasil mengalahkan Reyra? Semua akan terjawab saat pertempuran ini mencapai puncaknya.


Pertarungan antara Chizuru dan Daega berlangsung dengan sengit. Mereka berdua saling meniru gerakan satu sama lain, mulai dari rambut hingga ujung kaki. Pedang mereka bertautan dalam sebuah tarian mematikan. Ketika Chizuru menggunakan skill Flower Dancing, Daega dengan cepat meniru dan membalas serangan tersebut. Mereka terus bertarung dengan keahlian yang hampir identik, bagaikan dua cermin yang saling memantulkan serangan.


Sementara itu, pertempuran antara Ryota, Esmeralda, dan Viktor melawan Reyra juga berlangsung sengit. Reyra dengan sombongnya menciptakan aliran listrik di antara kedua telapak tangannya, lalu ia mengeluarkan energi listrik yang kuat dengan melebarkan kedua tangannya ke arah yang berlawanan. Itulah skillnya yang disebut Lightning Shield. Ketika serangan itu menghampiri mereka, ketiganya terpaksa mundur untuk menghindarinya.


Setelah efek dari skill Lightning Shield selesai, Viktor langsung menembakkan serangan Lethal Bullet ke arah Reyra. Esmeralda juga menggunakan skill Double Buff yang memperkuat serangan Lethal Bullet dari Viktor. Namun, serangan mereka terhenti tepat di depan telapak tangan Reyra. Tersenyum dengan sombong, Reyra mengatakan, "Kalian takkan bisa mengalahkan seorang raja."


Tapi, Reyra lengah. Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya masih ada Ryota. Dengan cepat, Ryota menggunakan teknik Earth Prison yang mengurung tubuh Reyra. Ryota merasa lega karena akhirnya Reyra terjebak. Namun, belum genap lima detik berlalu sejak Earth Prison diterapkan, tubuh Reyra tiba-tiba meledak dengan kuat, diikuti oleh sambaran petir yang keluar dari dalam tubuhnya. Terlihat sosok Reyra yang tubuhnya dialiri petir biru, dengan rambutnya yang berdiri mengikuti aliran petir yang terus bergerak menjalar ke seluruh tubuhnya.


Kedua pertarungan ini memunculkan aura ketegangan yang semakin intens. Chizuru dan Daega terus saling menyerang, mencoba untuk mencari celah satu sama lain. Di sisi lain, Ryota, Esmeralda, dan Viktor tidak menyerah meskipun terhalang oleh skill Lightning Shield Reyra. Mereka berusaha mencari cara untuk mengalahkan musuh mereka yang kuat.


Tetapi pertanyaan masih melayang di udara. Apakah Chizuru bisa mengalahkan Daega dan menyelamatkan dirinya dari tiruan yang berbahaya? Bagaimana dengan Reyra yang terus mengalirkan listrik melalui tubuhnya? Dan apakah Ryota, Esmeralda, dan Viktor bisa menemukan kelemahan Reyra dan menghentikannya? Semua akan terungkap saat pertarungan ini mencapai klimaksnya.