
Chizuru membangunkan Kevin dengan ekspresi panik di wajahnya. Kevin, yang masih setengah sadar, mencoba bangun dan bingung bertanya, "Ada apa, Chizuru?"
Chizuru dengan cepat menjelaskan, "Kevin, ada masalah dengan Viktor! Kita harus segera pergi ke ruang tengah!"
Dengan kebingungan, Kevin mengikuti Chizuru yang menarik tangannya menuju ruang tengah. Di sana, mereka melihat Esmeralda dan Ryota yang juga terlihat bingung.
Saat mereka tiba di ruang tengah, kebingungan semakin memuncak ketika mereka melihat dua sosok Viktor yang saling bersaing di hadapan mereka. Kedua Viktor tersebut saling mengklaim sebagai Viktor yang asli.
"Akulah Viktor yang sebenarnya!" ujar salah satu dari mereka dengan tegas.
Kevin, Chizuru, Esmeralda, dan Ryota saling pandang dengan ekspresi campur aduk. Mereka berempat sama-sama bingung dengan situasi yang tak terduga ini. Pertanyaan pun bergelayut di pikiran mereka, siapa Viktor yang sebenarnya dan apa yang terjadi?
Di tengah kekacauan tersebut, Kevin merasa perlu memecahkan teka-teki ini. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan dengan penuh tekad berkata, "Baiklah, kita perlu mencari tahu siapa Viktor yang asli. Aku yakin ada cara untuk membedakan mereka."
Chizuru, Esmeralda, dan Ryota setuju dengan keputusan Kevin. Mereka merasa lega bahwa Kevin memiliki kepercayaan diri dan kebijaksanaan untuk menangani situasi yang rumit ini.
Dengan langkah hati-hati, mereka mendekati kedua Viktor yang terlihat saling beradu argumen. Pertempuran pikiran ini menjadi tantangan baru yang harus mereka hadapi dalam nasib yang menguji mereka.
Nah, di saat itu Kevin langsung mengajukan pertanyaan yang akan menentukan siapa Viktor yang asli. Dengan tegas, ia bertanya, "Baiklah, ini adalah pertanyaan penting. Apa warna celana dalammu?"
Kedua Viktor terlihat kebingungan dan terkejut, begitu pula dengan Esmeralda, Chizuru, dan Ryota. Namun, sebelum Kevin memutuskan siapa yang asli dan siapa yang palsu, Ryota menghampiri Kevin dengan suara berbisik, "Hei, bagaimana kamu bisa tahu warna ****** ***** yang dipakai Viktor?"
Kevin menjawab dengan percaya diri, "Tidak, tapi..." Tanpa menunggu kata-kata Ryota selesai, tiba-tiba puppet Kevin muncul di dekat salah satu Viktor. Dengan kejutan yang mendadak, terungkaplah yang mana yang palsu.
Kevin melanjutkan penjelasannya, "Pertanyaan itu sebenarnya mengukur waktuku untuk mengetahui siapa yang asli dan siapa yang palsu." Ternyata Kevin menggunakan kemampuan Eye of Information-nya dan terungkaplah bahwa Viktor palsu bernama Daega, inkarnasi dari Leopoldo Fregoli.
Layar sistem muncul di depan Kevin dengan tulisan yang berkedip, "Kemampuan perubahan penampilan musuh telah terganggu." Tidak hanya itu, wajah asli Daega juga terungkap di hadapan mereka. Tindakan Kevin telah membantu mereka membedakan siapa yang sebenarnya dan siapa yang palsu.
Dengan situasi yang telah teratasi, Kevin dan teman-temannya merasa lega karena berhasil mengungkap rahasia di balik kedua Viktor tersebut. Namun, mereka juga menyadari bahwa tantangan baru mungkin akan terus muncul di hadapan mereka.
Saat daega yang sudah tak bisa bergerak karena tertahan puppet Kevin,Viktor menodongkan senjata ke kepala Daega, semua teman Kevin juga siap dengan senjata dan kekuatan mereka. Chizuru dan Ryota memegang pedang mereka, siap untuk melumpuhkan Daega jika diperlukan. Esmeralda juga siap dengan sihirnya, siap melontarkan serangan jika Daega mencoba menghindar atau menyerang.
Saat Kevin merasakan perubahan dalam aura-nya, ia tidak bisa menahan keingintahuannya dan bertanya, "Apa tujuanmu menyusup ke sini?" Daega tersenyum sinis dan menjawab, "Kamu akan segera tahu."
Namun, kepala Daega hanya tertembak dan berdarah sejenak sebelum ia terhuyung dan seakan-akan akan jatuh. Namun, dengan tiba-tiba, ia berlari lagi seolah-olah tidak ada apa-apa. Ternyata luka di kepalanya hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kemampuan Daega untuk mengubah penampilannya.
Saat Viktor berencana untuk menembak lagi, Kevin menghentikannya dengan tegas. Ia memberitahu Viktor bahwa itu percuma karena di sekitar Daega ada semacam aliran listrik yang melingkupinya. Aliran listrik itu akan mengganggu lintasan peluru dan membuatnya meleset.
Ketegangan pun masih terasa di udara, tetapi Kevin dan teman-temannya menyadari bahwa mereka harus menghadapi tantangan ini dengan strategi yang lebih cerdas. Mereka membahas langkah selanjutnya untuk menangkap Daega dan mengungkap tujuannya yang sebenarnya.
Setelah Kevin membaca catatan dari Viktor mengenai pria yang menyerap petir, ia menyadari bahwa Daega memiliki hubungan dengan pria yang dilihat oleh Viktor sebelumnya. Kevin segera berbagi informasi ini kepada teman-temannya, memberitahu mereka bahwa Daega kemungkinan terlibat dalam konspirasi yang lebih besar.
Dalam situasi yang tidak aman ini, Kevin memutuskan bahwa mereka harus segera meninggalkan apartemen. Meskipun Ryota telah memasang jebakan, Kevin merasa bahwa inkarnasi lain masih bisa menyusup dengan mudah. Mereka setuju untuk mengemasi barang-barang penting dan stok makanan yang mereka butuhkan.
Teman-teman Kevin dengan sigap mulai mengemas barang-barang mereka, memastikan bahwa semua perlengkapan dan persediaan yang penting sudah siap untuk dibawa. Kevin juga berhati-hati mengemas puppet-puppetnya yang baru dengan cermat.
Sementara mereka sibuk mengemas, Kevin menyadari betapa pentingnya kolaborasi dan kekuatan tim dalam menghadapi ancaman ini. Ia berterima kasih kepada teman-temannya yang telah selalu mendukung dan bekerja sama dengannya. Mereka adalah kelompok yang solid dan saling melengkapi.
Setelah semuanya siap, Kevin dan teman-temannya bersiap untuk meninggalkan apartemen. Mereka meninggalkan ruangan itu dengan hati-hati, siap menghadapi tantangan baru di luar sana. Petualangan mereka yang menegangkan dan penuh misteri belum berakhir, dan mereka bertekad untuk melanjutkan perjalanan ini bersama, saling mendukung dan menjaga satu sama lain.
Setelah Kevin dan teman-temannya tiba di museum yang terbengkalai, mereka merasa sedikit janggal dengan suasana di dalamnya. Ryota telah memeriksa isi museum dan menemukan bahwa tidak ada orang di dalamnya, semuanya kosong. Mereka memutuskan untuk istirahat dan tidur di dalam museum, dengan rencana Ryota dan Kevin bergantian berjaga.
Kevin mengambil langkah pencegahan dengan menyebar beberapa puppetnya ke seluruh area museum. Puppet-puppet itu menjadi mata dan telinga tambahan yang akan membantu mereka mendeteksi keberadaan inkarnasi atau ancaman lainnya.
Namun, saat mereka berjalan di sekitar museum, Kevin merasa ada yang tidak beres. Museum ini terasa terlalu kosong dan tidak ada barang apapun yang dipajang di dalamnya. Semua ruangan terlihat sepi dan sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Kevin membagikan rasa curiga ini kepada Ryota, yang juga merasakan ketidaknormalan yang sama. Mereka merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres di museum ini, seperti kehidupan yang telah sirna atau sembunyi.
Mereka berdua berusaha mencari petunjuk atau tanda-tanda apa pun yang bisa menjelaskan situasi ini. Setiap langkah mereka dalam setiap galeri dan koridor, mereka terus waspada dan mencoba memahami apa yang terjadi.
Keheningan dan ketidakhadiran kehidupan di museum ini semakin mengganggu mereka. Mereka merasa seperti berada di tengah-tengah misteri yang semakin dalam dan berbahaya.
Kevin dan Ryota bertukar pandangan, menyadari bahwa mereka harus tetap waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terungkap di museum ini. Dalam gelapnya malam, mereka berharap bisa menemukan jawaban yang mereka cari dan menyelesaikan misteri di balik kekosongan dan keheningan yang meliputi museum tersebut.