Death ITS Not My End

Death ITS Not My End
dua nyawa



Ryota melemparkan shuriken dengan cepat dan presisi ke arah pria bertudung, namun dengan keahliannya yang luar biasa, pria itu dengan mudah menangkis serangan itu menggunakan sabitnya. Tidak berhenti di situ, Ryota segera meluncurkan serangan berikutnya. Dengan kelincahannya yang hebat, ia berlari mengelilingi pria itu dengan menggunakan skill Shadow Step-nya sambil terus melemparkan shuriken. Namun, pria itu dengan lincahnya memutar-mutar sabitnya, menghempaskan setiap shuriken yang datang.


Tanpa ragu, Ryota mengeluarkan pedangnya dan meluncur maju, memanfaatkan celah ketika pria itu masih terfokus pada sabitnya yang sedang berputar. Dengan gerakan yang cepat dan tajam, Ryota menyerang dengan tebasan horizontal yang memotong jubah pria itu. Namun, terlihat bahwa serangan itu tidak menghasilkan luka apa pun, karena tidak ada tetesan darah yang keluar. Pria itu langsung mundur, sambil memegang perutnya yang terluka oleh serangan pedang.


"Sungguh menarik. Kamu cukup hebat, mampu menggores jubahku. Siapa namamu?" ucap pria tersebut dengan nada yang penuh kekaguman. Namun, Ryota masih tetap dalam posisi siap menyerang. "Kenapa kamu perlu tahu?" tanya Ryota dengan tajam.


Pria itu tertawa dengan gembira. "Hahahaha, baiklah, biar aku yang memperkenalkan diri. Namaku Raven, inkarnasi sang Grimm Reaper," ucap pria itu sambil menepuk-nepuk lehernya sendiri dengan bangga. Ryota menjawab tanpa rasa takut, "Siapa peduli?"


Pria itu sedikit kebingungan karena baru menyadari bahwa Ryota telah menghilang dari pandangannya. Baru setelah itu, ia merasakan pedang Ryota menembus perutnya. "Bocah laknat!" seru pria itu dengan rasa sakit. Dengan cepat, ia berbalik sambil menebas menggunakan sabitnya, tetapi Ryota dengan tangkasnya mundur menjauh. Sayangnya, pedangnya masih terjebak di perut Raven.


"Hahahaha, kau tak bisa apa-apa tanpa pedangmu, bocah!" ejek Raven dengan sombong. Namun, Ryota tersenyum dengan percaya diri. "Kamu sepertinya belum tahu bahwa Hattori Hanzo tidak hanya mengandalkan pedang, tapi juga tombak," kata Ryota dengan tawa yang menggema. Raven terkejut mendengarnya. "Hahahaha, apa itu akan membuat perubahan?"


"Hm, apakah kamu tahu tentang teknik bayangan para ninja?" ucap Ryota sambil meluncur ke arah Raven. Raven, dengan gerakan yang lincah, membalas serangan dengan menebas leher Ryota. Namun, dengan kejutan, tubuh Ryota tiba-tiba menghilang di tempat. Pedang yang masih terjebak di perut Raven didorong lebih kuat oleh Ryota, membuat Raven terkejut. "Bagaimana mungkin?" desis Raven dengan kaget.


Tanpa menyia-nyiakan waktu, Raven segera mengaitkan sabitnya ke leher belakang Ryota yang berada di belakangnya. Ketika ia memotong leher Ryota, tubuh Ryota kembali menghilang dengan cara yang benar-benar misterius. Pada saat itu, Raven baru sadar bahwa Ryota yang asli sedang melayang di udara dan melakukan tendangan drop kick ke arah kepalanya. Sebelum serangannya mengenai Raven, Raven berhasil menahan tendangan drop kick tersebut dan menghempaskan Ryota ke tanah.


"Boleh juga, bocah," ucap Raven sambil tersenyum puas dengan tindakannya. Tanpa ragu, Raven menggunakan sekuat tenaganya untuk menancapkan sabitnya ke tanah, mengaktifkan skill "Bone from Death". Tiba-tiba, tulang-belulang berbentuk tangan mulai muncul dan memegangi tubuh Ryota, membuatnya sulit untuk bergerak. Raven, tanpa ragu lagi, berlari menuju Ryota dan mencoba menusukkan ujung sabitnya ke leher Ryota.


Namun, untungnya puppet Kevin dengan cepat menahan ujung sabit Raven, menghalangi serangannya.


Dua puppet Kevin lainnya tetap menahan kedua tangan Raven yang mencoba melepaskan diri. "Apa-apaan ini?" teriak Raven dengan kebingungan. "Jangan lupa, bahwa kami berdua," ucap Kevin sambil tersenyum. Ryota bergabung dalam perbincangan, "Dan yang terakhir, seorang ninja harus pandai berstrategi." Ryota membuka mulutnya dan mengaktifkan skill "Lizard Breath". Api membakar tubuh Raven dengan ganas, menyelimuti seluruh tubuhnya. Akhirnya, Raven berhasil dikalahkan.


Kevin merasa bingung, bagaimana mungkin seseorang yang sudah mati bisa hidup kembali. Namun, layar notifikasi muncul di depan Kevin dengan tulisan "*Pasif Double Soul musuh telah aktif. Batas cooldown 2 bulan*". Kevin akhirnya menyadari bahwa Raven memiliki kemampuan pasif yang membuatnya memiliki dua nyawa. Kevin segera memberitahukan ini pada Ryota, yang merespons dengan menggerutu, "Hanya perlu kita habisi lagi, kan?"


Raven dan Kevin saling menatap dengan pandangan penuh keberanian dan tekad. Pertarungan yang sengit akan segera dimulai. Raven, dengan jubahnya yang terbakar, mengayunkan sabitnya dengan penuh kemarahan. Kevin dan Ryota siap menghadapi serangan itu.


Kevin menggerakkan tangannya dengan cepat, mengendalikan tiga puppetnya yang tersisa. Dalam hitungan detik, mereka bergerak serentak, menjaga jarak dengan Raven yang semakin mendekat. Puppet-puppet itu berlarian dengan lincah, menyerang Raven dengan berbagai gerakan yang berani. Kevin memanfaatkan skill Corpse Puppets-nya, mengambil beberapa mayat terdekat dan menjadikannya alat untuk menyerang Raven. Setiap serangan yang dilancarkan oleh puppet-puppet Kevin dipenuhi dengan kekuatan yang berasal dari mayat-mayat itu.


Ryota, dengan keahliannya sebagai ninja, memanfaatkan kecepatan dan kelincahannya. Ia meluncur di antara serangan Raven dengan gerakan yang sangat presisi. Menggunakan skill Shadow Step-nya, Ryota mampu menghilang dan muncul kembali dengan cepat, membuatnya sulit ditangkap oleh mata Raven. Dengan keahliannya yang tak tertandingi dalam pertarungan jarak dekat, Ryota menggunakan pedangnya dengan kecepatan dan ketepatan yang mengesankan. Ia bergerak dengan keanggunan seolah menjadi bayangan yang tak terlihat.


Raven, sebagai seorang Reaper, memiliki kekuatan yang mengerikan. Ia mengayunkan sabitnya dengan gerakan yang akurat dan mematikan. Sabitnya mampu memotong angin dengan gesekan yang tajam, menghasilkan suara seram yang menusuk telinga. Setiap gerakannya penuh dengan kekuatan yang mematikan, dan serangannya terarah dengan tepat. Ia menggunakan skill dari konstelasinya, mengeluarkan kekuatan gelap yang mampu melumpuhkan lawan-lawannya.


Pertarungan berlangsung dengan kecepatan dan intensitas yang tinggi. Setiap gerakan, serangan, dan pertahanan mereka dilakukan dengan ketepatan dan kekuatan yang luar biasa. Setiap serangan Raven dihadang oleh puppet-puppet Kevin yang mengorbankan diri mereka dengan gagah berani. Ryota terus menghindari serangan Raven dengan keahliannya yang lihai, dan dengan setiap kesempatan yang ada, ia melancarkan serangan balik yang mematikan.


Kevin tidak tinggal diam. Ia menggunakan skill Puppet Creator-nya untuk menciptakan lebih banyak puppet dalam waktu singkat. Puppet-puppet tersebut bergabung dalam pertarungan, menyerang Raven dari segala arah. Kekuatan yang diberikan oleh puppet-puppet Kevin cukup besar, dan serangannya tak terduga.


Pertarungan semakin memanas, kekuatan dan skill mereka saling bentrok di udara. Suara desingan senjata dan benturan kekuatan terus mengisi ruang. Raven tetap bertekad dan tak kenal lelah, sedangkan Kevin dan Ryota terus menghadapi serangan dengan keberanian dan kecanggihan teknik bertarung mereka.


Walaupun Raven memiliki pasif Double Soul yang memberinya keuntungan, Kevin dan Ryota tetap tak gentar. Mereka terus bertarung dengan tekad kuat untuk mengalahkan Raven dan melindungi teman-teman mereka. Setiap gerakan dan serangan mereka memancarkan aura keberanian dan tekad yang tak tergoyahkan.


Pertarungan ini menjadi pertarungan yang membara, dengan setiap pukulan dan serangan yang diberikan, mereka berusaha melampaui batas diri mereka sendiri. Semangat mereka membara dan tekad mereka tak tergoyahkan. Hanya satu yang mereka inginkan: kemenangan dan melindungi orang-orang yang mereka cintai.