DEAR

DEAR
8



pagi ini Widia berjalan jalan disekitar rumahnya sambil olahraga mumpung hari Minggu jadi ia tidak sekolah


saat sudah selesai dengan aktivitas olahraga nya widia pulang ke rumah untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi ke minimarket membeli kebutuhan nya dirumah ya karena orang tua Widia sekarang lagi ada tugas di luar kota sebenarnya hanya ayah Widia yang berangkat tapi ayahnya mengajak ibu Widia untuk ikut bersamanya sambil jalan-jalan katanya πŸ˜†


dan sekarang Widia sudah berada di minimarket dan mulai untuk berbelanja saat Widia ingin mengambil makanan ringan kesukaannya tangannya tidak sampai menjangkau snak itu lalu tiba-tiba ada sebuah tangan yang membantunya mengambil snak itu Widia menoleh dan ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tersebut


tapi saat ia melihat orang tersebut wajahnya langsung terlihat masam dan kesal


"ngapain lo kesini,ngintilin gue ya"


"eh gue kesini juga mau berbelanja emangnya gue setiap saat ngintilin Lo ya ngak lah ya geer banget Lo"


ketus orang tersebut yaa siapa lagi kalau bukan Gio


(kebetulan banget ketemu Lo disini bisa deh sambil gangguin Lo)


gumam gio dalam hati sambil senyum-senyum sendiri


"dih Napa Lo senyam senyum sendiri awas kesambet setan Lo"


sinis Widia


"hiss"


decak gio


"lo mau beli apa,gue temenin ya sekalian"


"udah deh jangan ganggu gue pergi aja Lo hiss"


ucap Widia


namun gio tidak mau pergi dia malah ngikutin kemana Widia pergi yaa mereka saling mengejek satu sama lain saat berbelanja sampai sampai pembeli yang lainnya geleng geleng kepala melihat gio dan Widia


saat sudah selesai membeli semua kebutuhan nya dirumah perut Widia tiba-tiba berbunyi spontan gio melihat ke arah Widia


"itu perut Lo yang bunyi"


tanya gio sambil menahan tawa.


"heee gue laper"


ucap Widia sambil menunjukkan deretan giginya yang putih itu


"yaudah yuk cari makan gue juga laper"


"ehh tunggu tunggu gue kan lagi kesel sama Lo"


ujar Widia


"udah deh Lo ngak pusing apa setiap kita ketemu selalu aja berantem sekali sekali kek kita akrab"


"dihh akrab sama Lo najis"


ujar Widia


"udah deh Lo jangan mulai lagi deh yaudah cari makan"


ujar gio sambil menarik tangan Widia


dan Widia hanya bisa pasrah lagipun perutnya juga laper


mereka bingung mau cari makan di mana


karena tidak ada restoran atau kafe di sekitar minimarket itu


saat Widia melihat lihat jalan matanya melihat tukang bakso lagi mangkal di pinggiran jalan


"tuh ada tukang bakso kita makan disitu aja"


ujar Widia


dan gio langsung melihat ke arah tukang bakso tersebut


"ngak ah makan dipinggir jalan gitu makanan nya pasti ngak bersih"


ujar gio sambil melihat ke arah tukang bakso itu dengan gaya sombong nya


"sok tau Lo makanya jangan cuma tau makan di restoran mahal aja,makan dipinggir jalan itu lebih nikmat ayoo"


Widia menarik tangan gio ke arah tukang bakso tersebut


"mang bakso nya dua mangkok ya"


"siap neng"


"ayo duduk"


Widia menarik tangan gio agar Dio duduk


"Lo yakin mau makan kaya gini"


ujar gio sambil melihat-lihat kekiri dan ke kana


"udah deh Lo diem bakso nya enak kok pasti bersih juga"


(dasar anak orang kaya mentang mentang selalu makan di restoran jadi liat makanan dipinggir jalan gini bilangnya ngak bersih)


gumam Widia dalam hati


"ini neng bakso nya udah siap".


ujar tukang bakso tersebut


"oh iya makasih mang"


"yaudah yuk makan udah laper banget gue"


ajak Widia


gio hanya melihat baksonya tanpa di makan


"ehh makan dong enak tau"


ujar Widia sambil melihat ke arah gio


tapi gio belum juga memakan bakso tersebut


karena kesal Widia mengambil mangkuk bakso gio dan menusuk bakso itu dengan garpu lalu menyuapkannya ke mulut gio


"buka mulut Lo kalau Lo makan pasti nagih deh aaaaa"


ujar Widia sambil mengarahkan bakso tersebut ke mulut gio


gio membuka mulutnya dan memakan bakso tersebut


(enak juga ni bakso)


gumam gio dalam hati


"enak kan Lo si udah gue bilang bakso nya enak"


sekarang gio menyantap baksonya karena menurutnya enak malah dia pengen nambah satu porsi lagi


Widia asik memakan baksonya tanpa sadar dia makan dengan lahap sampai sampai belepotan


gio melihat itu langsung mengambil tisu dan mengelap mulut Widia


Widia terkejut spontan melihat ke arah gio lalu mata mereka tiba-tiba terkunci


(ganteng juga ni anak kalau di liat liat)


gumam Widia dalam hati.


(manis banget sih Lo wid)


gumam gio dalam hati


tiba tiba


"udah neng tatap tatapannya,entar baksonya dingin lagi".


ujar tukang bakso tersebut membuyarkan lamunan Widia dan gio


seketika pipi Widia merah merona karena merasa malu. dan sekarang suasananya malah jadi canggung


"emm berapa mang".


tanya Widia saat mereka sudah selesai makan


"30 rebu neng"


ucap tukang bakso tersebut


saat Widia ingin membayar makan mereka gio malah duluan menyodorkan uang 50 ribu ke tukang bakso tersebut


"nih mang kembaliannya ambil aja"


"wah kebanyakan bang"


ujar tukang bakso itu


"udah ambil aja ngak papa mang"


"ehh yaudah deh maksih bang"


"hmm"


jawab gio


"udah yok pulang "


ajak gio kepada Widia


"Lo pulang naik apa?".


"tuh angkot"


tunjuk Widia. Widia memang orangnya sangat sederhana padahal dia ada mobil tapi dia lebih memilih untuk naik angkot.


"sama gue aja gue anter"


ajak gio.


"ngak usah deh gue bisa pulang sendiri"


"ngak ada penolakan"


ujar gio Sambil menarik tangan Widia menuju parkiran mobilnya


saat di perjalanan suasana didalam mobil gio hening


Widia hanya diam pokus memainkan hpnya dan gio pokus menyetir


"diem diem aja ngomong dong biar ngak sunyi gini"


ujar gio


Widia masih Diam sambil pokus dengan hpnya


"woii".


ujar gio.membuat Widia seketika menoleh


"apa apaan sih Lo kaget gue tau ngak"


"Lo sih diem aja sambil main hp Lo ngomong kek sama gue atau nanya apa kek"


"yaa buat apa ngomong sama Lo dan apa juga yang harus gue tanya".


ujar Widia


"ya tanya kek gue udah punya pacar apa belum gitu".


ujar gio


"diih males banget gue nanya gitu"


ujar Widia bergidik.


"yaudah gue aja yang nanya Lo udah punya pacar apa belum?".


tanya gio


Widia hanya diam bingung ingin membalas apa karena dia aja ngak pernah dekat sama cowo apalagi pacaran.


"jawab dong woi"


ucap Gio karena Widia hanya diam aja


"eh em gue (gugup widia) ngapain Lo nanya kaya gitu ngak penting banget"


ujar Widia menghilangkan kegugupan nya


"ya kan gue cuman nanya aja jawab lah"


"gue ngak pernah pacaran dan gue ngak pernah dekat sama cowo puas Lo".


ujar Widia


(bagus deh kalau gitu gue punya kesempatan)


ujar gio dalam hati sambil senyum-senyum sendiri


"ehh Lo mikir apaan senyum senyum gitu awas ya Lo kalau mikir buat nembak gue"


ujar Widia kesal.


"dih ge'eran Lo siapa juga yang mikir gitu".


jawab gio padahal memang benar apa yang Widia katakan πŸ˜†


"udah deh diem"


ujar Widia


"dimana rumah Lo?".


"didepan tu antar gue sampai depan aja"


"ngak Lo pikir gue cowo apaan antar cewe ngak nyampe rumahnya".


ujar gio


Widia hanya diam karena kesal dengan gio


dan sekarang mereka sampai widia buru buru turun dan ingin masuk ke rumahnya sambil membawa belanjaan nya


"ngak bilang makasih sama gue atau suruh gue mampir gitu".


"huuh makasih gio".


ujar Widia dan langsung masuk ke rumahnya


gio tersenyum melihat Widia yang terlihat kesal kepadanya dia langsung memutar


lalu melaju kan mobilnya pulang


#bersambung