
"Felling better?"
Hexa cuma mengangguk sambil satu tangannya masih memegang botol berisi air hangat yang dia letakkan di perutnya.
"Jamunya udah lo minum?"
Dia kembali mengangguk.
"Lo bandel sih, udah berkali-kali gue bilangin kalau lo itu harus nyetok pembalut sama jamu nyeri datang bulan gak pernah nurut"
"Gue lupa, Gha"
"Lupa aja terus, giliran mikirin si Adit gak pernah lupa lo"
Hexa cuma meringis, entah nahan sakit atau meratapi nasib hubungan dia yang kandas.
"Adit masih suka nelpon lo?"
Hexa menggeleng.
"Dia serius sama ucapannya, dia benar-benar pergi ninggalin gue"
"Lagi lo jadi cewek lemah banget, kenapa lo gak coba buat tahan dia sih"
"Gue gak bisa, Gha. Itu impian dia"
"Dan karena impian sialan itu, dia mencampakkan lo seperti ini"
"Gha, gak sepenuhnya salah dia"
"Tau ah, pusing gue nasehatin lo. Gak pernah mempan"
Gue ambil kunci mobil gue yang terletak di nakasnya, emosi gue.
"Lo mau kemana?"
"Pulang"
"Gak bisa nemenin gue disini?"
Gue menarik nafas gue, ini cewek maunya apa sih.
"Gue sibuk Xa, gue pimpinan di perusahaan kalau lo lupa"
Hexa tersenyum sendu.
"Oke, lo boleh pergi"
Ekspresinya Hexa membuat gue gak tega.
"Emang ortu lo kemana?"
"Mama nginap di rumah bibi kalau papa dinas keluar kota"
Gue hanya ber-oh ria.
Netra mata gue menangkap foto yang terpajang di samping ranjang Hexa. Foto dirinya bersama Adit.
"Masih lo pajang aja"
Bola mata Hexa berputar mengikuti arah tatapan gue.
"Gue masih belum bisa lupain dia"
Gue mendengus kesal.
"Lo pantas dapat cowok yang lebih baik dari dia, Xa. Move on dong"
"Gak bisa, Gha. Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar"
Saat gue bersiap untuk debat dengan Hexa, ponsel gue berdering.
"Ya hallo ma"
"ANAK SIALAN! DIMANA KAMU SEKARANG? KAMU TINGGALIN TENDER BESAR BUAT APA, HAH? ****** MANA LAGI YANG NGAKU HAMIL ANAK KAMU? ATAU KAMU PERGI BURU-BURU CUMA BUAT NEMENIN ****** KAMU LAGI! PULANG CEPAT! MAMA MAU NGASIH PELAJARAN KE KAMU. DASAR ANAK SIALAN!"
Gue menjauhkan telinga gue, mengamankannya dari teriakan menggelegar mama.
Hexa hanya melongo, gue yakin dia bisa mendengar setiap kata yang diucapkan mama. Terlihat gurat kesedihan di raut wajahnya.
"HEH! KENAPA DIAM? MANA ****** KAMU? MAMA MAU NGOMONG, BERANI BANGET BIKIN PERUSAHAAN KITA RUGI RATUSAN JUTA"
"Ma"
"DIAM, MANA ****** KAMU? KASIHIN HP KAMU KE DIA, CEPETAN MAMA MAU NGOMONG"
Gue kasih ponsel gue ke Hexa, dia sedikit takut untuk menerimanya.
"HEH ******, BERANI BANGET YA MAIN NYURUH ANAK SAYA BUAT KETEMU SAMA KAMU. KAMU BUAT SAYA RUGI, GANTI UANG SAYA RATUSAN JUTA. UDAH TAU ANAK SAYA ITU CEO, DIA NINGGALIN MEETING DENGAN KLIEN CUMA BUAT KAMU. TAU DIRI DIKIT KENAPA SIH"
Hexa hanya menarik nafasnya.
"Tante maafin Hexa, hiks"
Hexa nangis, dia ngerasa bersalah sama gue atau gara-gara diomelin mama.
"HEXA? ASTAGA, JADI INI HEXA. REGHA ADA SAMA KAMU?"
"Iya tante, maaf. Hexa udah buat tante sama Regha rugi, maaf banget ya tante. Hiks"
Hayo loh mama anak orang dinangisin.
"Eh Hexa, cup, cup, cup jangan nangis cantik. Mama pikir Regha itu main ke jal—astaga maaf ya Hexa, tante bukan bermaksud bilang ****** ke kamu tapi kamu tau sendiri kan Regha itu gimana"
"Kalau aja Hexa gak chat Regha mungkin dia bisa menangin tender itu. Hexa minta maaf banget tante, hiks"
"Eh sayang gak usah dipikirin, gak menang tender itu juga gak apa-apa kok. Rezeki kan bisa dicari, tenang aja ya"
"Tapi Tan—"
"Udah sayang gak usah dipikirin. Xa, kasih ponselnya ke Regha tante mau ngomong"
Hexa menyodorkan ponsel ke gue.
"Bang, kenapa kamu gak bilang sih kalau kamu ke tempat Hexa? Aduh mama jadi gak enak tau gak udah bentak dia"
"Lagian mama gak nanya dulu, main nyerocos aja"
"Bodo ah"
"Bang, kamu harus tenangin Hexa. Bilang mama minta maaf banget gitu ya. Awas aja kalau Hexa marah sama mama"
"Dih salah mama sendiri juga"
"Gak boleh bantah bang"
"Iya bawel"
"Jagain calon mantu mama, awas aja kalau kamu apa-apain"
"Iya mama bawel"
Gue menatap Hexa dengan tatapan merasa bersalah. Dasar mama, gadis secantik ini dikasih sumpah serapah.
"Xa, sorry mama kadang suka gitu. Jangan dimasukkin ke hati ya, mama cuma emosi doang itu lebih tepatnya sih emosinya ke gue bukan lo. Xa—"
"Bawel lo, Gha. Balik sana, gue mau tidur"
Gue hanya melongo, Hexa narik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Berasa habis manis sepah dibuang gue.
***
Sudah seminggu Hexa gak ada kabar. Jangankan untuk menelepon atau kirim pesan, semua akun sosial medianya gak ada update sama sekali. Sumpah bikin orang panik aja, apa iya dia tersinggung sama ucapan mama?
Ah gue jadi gak enak, mamanya siapa sih itu kalau ngomong gak disaring dulu.
Gue bolak-balik ngecek ponsel, stalking semua akun sosmed dia. Gue cemas? Tentu. Hexa itu lagi sendiri dan dalam kondisi yang gak baik-baik aja.
Gue kudu eotteoke?
Di tengah kebingungan gue si kunyuk versi 2.0 calling..
Kunyuk versi 2.0 calling...
Gue mendengus kesal.
"Hm"
"Ya elah, lemas amet bang. Gak dapet jatah?"
"Mau ngomong apa lo? Cepat ah gak ada waktu gue buat debat sama lo"
"Wuih santai bro, gue punya kabar gembira untuk kita semua"
"Basi lo"
"Serius, Gha. Ini menyangkut masa depan lo"
"Kalau lo ngomong gak langsung ke intinya, gue tutup ya"
"Wuih galak amat mas bro, gue jadi takut"
"Rey"
"Haha sorry, Gha"
Tunggu gue seperti mendengar suara tawa lain di sebrang sana, suara yang tak asing di telinga gue.
"Lo lagi sama siapa Rey?"
"Ayo dong tebak"
"REY"
Gue bentak aja dia saking kesalnya.
"Xa, mau ngomong gak sama gebetan lo?"
Reysha sialan. Hexa ada disana sama Reysha? Mereka ngapain?
"Enak aja gebetan, orang Reysha masih milik gue"
Suara itu. Gue memejamkan mata gue, ada yang patah namun tidak terdengar.
"Gha, lo kesini, buru. Si kunyuk baru balik dari Maroko nih, liburan katanya eh tapinya malah balikan sama Hexa. Sialan ya tuh bocah"
Balikan? Hexa sama Ergha eh Adit pacaran lagi?
Huwaaa mama.
Dasar hati sialan, kenapa lo malah berdenyut nyeri sih. Mata sialan juga kenapa harus berembun.
"Kesini lo nyet, gak kangen sama gue? Btw, thanks ya udah jagain Hexa selama gue gak ada. Lo emang sahabat terbaik gue"
Cih!
Persetan, dia bahagia di atas penderitaan gue.
Sementara Hexa, gue yakin pasti dia sangat bahagia. Sayup-sayup gue dengar dia terkikik, astaga Hexa tega nian caramu menyingkirkan diriku. Hiks.
"Gha, ayo kesini. Kita kumpul lagi kayak dulu"
Itu suaranya, suara indah yang mematahkan hatiku. Hexa jahat.
"Ehem, sorry gue gak bisa. Lagi banyak kerjaan nih. Have fun ya kalian"
"Eh Gha—"
Gue putuskan panggilan telepon sepihak.
Gue mengeram, meremas rambut gue frustasi.
"Makanya bang, udah dikasih kesempatan tapi disia-siakan. Salah sendiri" sambar mama.
"Huwaa mama"
Gue peluk mama erat, gak tau kenapa gue jadi cengeng gini.
Semua gara-gara Hexa.
^^^To be continued...^^^