
"Cewek kalau udah nangis itu seram ya"
"Seram kenapa?"
"Ditanya kenapa gak jawab, malah terus nangis sambil nutup wajah"
"Ya lo harus ngasih dia waktu buat sendiri dulu, Gha"
"Ah ribet, cewek emang seribet itu ya?"
"Mana gue tau oon, gue juga kan cowok kayak lo"
"Oh iya lupa, haha"
Percakapan gak bermutu gue sama Reysha, dia sahabat gue selain Adit. Kita sahabatan bertiga kayak roda bajaj. Persahabatan kita terjalin saat SMA, waktu itu gue, Adit dan Reysha telat bareng. Tapi sumpah kita gak janjian, karena waktu itu memang kita gak saling kenal satu sama lain. Reysha itu kapten basket, ganteng sudah pasti. Fansnya bejibun men, asli gak bohong gue. Dia paling most wanted dulu, semua cewek tergila-gila sama dia. Tubuh tinggi, kekar, kulit kecokelatan dan wajah, aduhai. Cewek mana yang gak klepek-klepek kalau udah liat dia.
Satunya Adit, boleh gue skip gak sih biar gak usah ceritain si kunyuk satu ini? Gue masih sebel sama dia. Gondok ya Tuhan. Tapi karena gue profesional, baiklah gue ceritakan tentang dia. Eaaak.
Adit itu ketua OSIS, alim, good boy, good looking, good attitude, so good is verry good. Gak ada minusnya dia. Wajahnya tampan, kulit putih bersih, tinggi semampai, kaki jenjang, bibir sensual. Ah kenapa gue jadi bayangin wajah Adit sih, kan takut khilaf. Adit itu orang yang perfeksionis dan dia akan melakukan apapun demi cita-citanya termasuk meninggalkan Hexa, parah emang si Adit. Nama lengkapnya Erghadhitya Altair Myron tapi gue tetap manggil dia Adit. Siapa suruh nyamain nama gue. Dia juga banyak banget fansnya cuma berhubung dia udah ada pawangnya, jadi sebagian fansnya mundur secara teratur. Lagi pula siapa juga yang bisa bersaing dengan seorang Hexavilia Capella Deandra? Paket lengkap Hexa tuh, udah cantik, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, body langsing, punya ABS, kulit putih bersih, terawat, bibir tipis dan enak buat diemut. Astaga mulai ngaco lagi gue. Maaf, suka khilaf gue kalau ngomongin Hexa, rasanya seperti ingin memiliki haha.
Gue awalnya gak tahu tentang Hexa karena kita beda sekolah, sampai ketika Adit membawa Hexa ke tempat tongkrongan kita. Kalian mau tau reaksi gue saat pertama kali bertemu Hexa? Malu ah, gak usah diceritain kali ya.
Eh tapi nanti kalian penasaran lagi, oke baik aku ceritakan. Ciye aku haha.
Saat itu Hexa tiba-tiba datang dengan kaos pendek dan celana jeans. Tampilannya casual, rambut dikuncir kuda tanpa make up yang menghiasi wajahnya. Cuma pakai lip ice sepertinya, soalnya glossy gitu bibirnya. Gue cuma melihat sekilas sambil berdehem dalam hati, memuji kecantikan dia yang gak manusiawi. Satu kata yang muncul di benak gue, Hexa itu, sempurna.
Dia gak sungkan sama kita-kita, orangnya supel gampang banget bergaul sama orang. Gue terkesan di hari pertama kenalan sama Hexa. Kalau dibilang tertarik, hm tertarik sedikit sih karena kalau banyak kasihan hati gue nanti sakit.
Karena Adit sering bawa Hexa ngumpul bareng, kita semua jadi lebih akrab, ya lebih tepatnya gue sama Hexa sih. Dia kadang sok ngechat gue dengan alasan nanya kabar Adit, pasti itu modus doang itu biar bisa chatingan sama gue. Pede dikit gak apa-apa kali ya haha.
Hubungan kita seintens itu, kalau Adit ada rapat dengan anggota OSIS yang lain pasti dia nyuruh gue buat jemput Hexa, gak pernah Reysha. Jadi Hexa sudah ketergantungan sama gue, kalau butuh dia pasti langsung minta jemput gue sekalipun Adit gak sibuk dan bisa jemput dia tapi Hexa lebih milih gue. Serius!
Gue pernah berantem sama Adit gara-gara Hexa lebih milih dijemput sama gue daripada Adit. Tapi ya gimana pun juga Adit gak bisa marah sepenuhnya sama gue, salah dia sendiri yang sudah buka jalan. Jadi bukan salah gue atau Hexa dong.
Tapi yang perlu digaris bawahi, gue sama Hexa gak pernah selingkuh di belakang Adit. Hubungan kita lebih ke FWB, bukan dalam arti negatif tapi arti yang sesungguhnya. Saking dekatnya, gue lebih hafal tanggal datang bulan Hexa, karena dia suka lupa beli pembalut. Dia gak berani minta tolong Adit, katanya Adit bukannya beliin tapi malah marah. Kalau gue sebaliknya, gue selalu nurut kemauan Hexa. Gue aja bingung sebenarnya yang pacaran itu Adit dan Hexa atau Hexa dan gue sih?
Setelah lulus Reysha lanjutin kuliah di Amsterdam, dia mau jadi dokter spesialis jantung yang handal katanya. Aneh emang, si kapten basket banting stir sejauh itu. Gue pikir dia akan menjadi atlet basket terkenal atau minimal pelatih basket eh tapi dia malah milih untuk jadi dokter.
Adit, dia kerja di perusahaan swasta. Gue tau impiannya itu jadi arsitektur ternama. Dari dulu gue sering melihat dia ngegambar-gambar gitu. Hasilnya bagus banget, passion dia emang disana. Tapi karena keterbatasan biaya, Adit gak lanjutin kuliah. Gue sudah menawarkan bantuan materi, tapi dia gak mau nerima. Adit emang keras kepala.
Hexa, dia lanjut kuliah di Bandung. Dia mengambil jurusan komunikasi. Impian dia jadi reporter seingat gue. Padahal apa enaknya ya, kerjaan itu capek banget, kalau menurut gue dia lebih pantas jadi seorang model. Wajah dia itu ngejual banget, ice princess gue. Banyak agensi yang sudah menawarkan dia buat jadi model tapi ditolak semua sama dia, katanya bukan passion dia. Hexa memang seunik itu.
Kalau gue, karena gue terlahir sebagai orang kaya, tugas gue ya melanjutkan usaha keluarga. Setelah papa meninggal, gue harus jadi tulang punggung keluarga. Mama satu-satunya anggota keluarga yang gue miliki saat ini, makanya gue berusaha menuruti semua keinginan mama, termasuk nikung Hexa dari Adit. Hihi.
Tahun ini Reysha balik ke Indonesia, jadi gue ada teman curhat lagi uhuy. Adit pergi Reysha kembali.
***
"Bang, teman arisan mama nanyain kamu. Katanya kamu mau gak kenalan sama anaknya"
"Ya elah ma, kalau kenalan ya kenalan aja kali"
Gue asik ngunyah permen karet sambil baca materi untuk meeting besok. Gini-gini gue juga bisa serius kalau masalah kerjaan, urusannya uang soalnya hehe.
"Kamu mau emang bang dikenalin sama dia?"
"Ya mau aja ma, banyak kenalan kan lebih bagus"
"Cantik sih anaknya, tadi mama dikasih liat fotonya. Seumuran sama kamu, bang"
"Oh"
Mama berdiri di belakang gue, dia melirik map yang daritadi gue baca.
"Serius banget, tumben"
Mama cuma mengangguk setuju.
"Besok di Lily Cafe ya bang, jam tujuh malam. Jangan sampai telat"
"Oke"
"Bang"
"Ya?"
"Hexa nolak kamu ya?"
Gue diam, mengerutkan dahi. Gue tutup map gue, tatapan gue beralih menatap mama yang sedang berdiri di hadapan gue.
"Nolak gimana? Nyoba aja belum"
"Masa?"
"Ma, aku lagi males debat"
"Mama cuma nanya aja sih, kalau kamu gak ditolak gak mungkin kamu mau ketemu anak teman mama besok"
Tau ah bete sama mama. Kenapa tebakan dia selalu tepat sih?
"Hm padahal mama udah ngebayangin anak kamu sama Hexa pasti ganteng dan cantik banget, orang mamanya aja dewi gitu" ucap mama sambil tersenyum dengan mata terpejam.
Gue menghela nafas frustasi.
"Gak usah banyak berharap ma, kadang realita tak sesuai ekspektasi"
"Mama mau nikung di sepertiga malam ah, siapa tau Hexa itu emang benar calon ibu dari anak-anak kamu"
"What?"
Mama mengedipkan matanya, lalu pergi meninggalkan gue yang masih melongo.
Segitu berharapnya mama sama kamu, Xa. Kamu pakai pelet apa sih?
***
Hexa
Gha, bisa ke rumah gue gak?
Perut gue sakit, kayaknya gue lagi M deh.
Stock pembalut gue kosong, bisa sekalian beliin gak?
Sakit banget gue gak kuat jalan
Refleks gue langsung lari dari ruang meeting saat baca chat Hexa. Sepenting itu Hexa buat gue sampai gue rela kehilangan tender besar?
Satu hal yang gue tahu, gue cuma mau Hexa baik-baik saja
Tunggu gue, Xa.
^^^To be continued... ^^^
...Reysha Orion Archie...