
"Apa kau bisa menjelaskan tentang semua ini, Soraya?" Ulang Abimanyu dengan sangat marah.
"Kau tidak perlu memarahi kakak ipar. Dia tidak salah. Aku dan Alif memang sudah memutuskan untuk tinggal sekamar. Lagi pula sebentar lagi kami akan menikah. Jadi tidak ada salah nya." Wajah nya terlihat lempeng saat mengatakan itu pada Abimanyu. Entah mungkin karena rasa kesal nya yang telah menumpuk pada Abimanyu atau apa, kini bawaan nya Ameera asal melihat muka Abimanyu ingin bicara ketus saja.
"Ini rumah ku. Jadi kalian harus ikut dengan aturan ku." Balas Abimanyu dengan tegas.
"Kalau itu permasalahan nya maka aku dan Alif bisa tinggal di apartemen ku atau di mansion milik Alif." Kata - kata yang keluar dari mulut Ameera sungguh membuat Abimanyu kesal. Dia tidak akan pernah membiarkan Ameera lepas dari penglihatan nya.
"Aku wali mu saat ini Ameera. Dan itu arti nya kau harus menuruti apa yang aku katakan!" Tegas Abimanyu sambil menarik tangan Ameera dengan sangat kuat. Saking kuat nya Ameera sampai meringis kesakitan.
"Kau menyakiti Ameera, Abi!" Alif langsung menarik tangan Abimanyu. Kini kedua pria itu saling menatap.
"Aku kakak nya! Kau jangan ikut campur!" Bentak Abimanyu.
"Tapi aku adalah tunangan nya yang sebentar lagi akan menjadi suami nya. Jadi aku pun berhak untuk memberikan pelajaran pada mu jika kau menyakiti nya." Alif pun menatap tajam dan terlihat sangat tidak senang pada Abimanyu.
"Itu kalau kau benar- benar menjadi suami nya kelak. Kau jangan terlalu yakin untuk hal yang tidak kau ketahui." Abimanyu melepaskan tangan Ameera dan keluar dari kamar itu. Dengan perasaan marah dia pergi tanpa mengajak Soraya untuk ikut serta dengan nya.
"Selamat Alif, seperti nya kau sudah move on dari cinta lama mu." Ucap Soraya yang kemudian keluar dari kamar itu. Entah apa maksud nya berkata begitu pada Alif tapi yang pasti terlihat jelas kalau ada kekecewaan yang tidak bisa terkatakan di wajah Soraya.
Mata Ameera melirik ke arah Alif dan juga ke arah punggung Soraya yang perlahan menghilang dari pandanga nya. "Seperti nya dia masih menyimpan rasa pada mu Alif." Ucap nya pelan, dan hampir berbisik.
"Dia memang selalu seperti itu. Dia tidak suka aku dekat dengan wanita lain selain diri nya. Tapi dia sendiri melemparkan diri nya ke pria lain. Ini bukan pertama kali nya Soraya seperti itu." Jawab Alif. Kali ini suara Alif terdengar berbeda. Aura yang terpancar dari nya pun tidak seriang tadi. Alif yang tengah berdiri di depan Ameera saat ini benar- benar berbeda dengan Alif yang beberapa menit yang lalu yang tertawa bersama nya.
"Apa itu arti nya dia sering menyakiti mu? Kalau benar seperti itu? mengapa kau tidak tinggalkan saja cinta toxic seperti itu Alif? Kau tampan dan pasti akan banyak wanita yang akan mengejar mu." Ameera berusaha untuk menyemangati Alif. Dia merasa iba melihat cowok korban cinta toxix seperti Alif ini. Padahal kalau di pikir- pikir nasib percintaan nya juga tidak lebih baik dari pada Alif. Dia pun masih belum bisa move on dari cinta nya di masa lalu.
"Aku tidak bisa meninggalkan nya. Selain karena rasa cinta ku yang begitu sangat besar pada nya, aku juga punya hutang yang tidak akan pernah bisa aku bayar seumur hidup ku pada nya Ameera. Aku telah membunuh anak kami. Anak kami yang belum sempat Soraya lahir kan ke dunia ini. Aku membunuh janin yang tidak berdosa itu karena aku mengira Soraya mengandung anak pria lain. Aku terlalu emosi saat itu. Aku tidak bierpikir panjang dan terjatuh sangat dalam ke dalam kecemburuan ku pada nya. Sejak saat itu, bila Soraya mengatakan tidak maka hal itu MUTLAK adalah tidak." Jelas Alig yang bahkan tidak berani mengangkat wajah nya saat bercerita pada Ameera.
"Tapi kasus nya berbeda untuk kali ini kan Alif? Soraya dengan sadar setuju menikah dengan Abimanyu." ujar Ameera.
"Yang benar saja.. Mana ada orang yang rela melepaskan cinta nya demi hal seperti itu." Cetus Ameera ketus.
"Kata siapa tidak ada? Kau sendiri melepaskan cinta mu pada Abimanyu karena orang tua mu meminta mu untuk mengalah pada kakak mu Ayu kan? lantas apa beda nya antara diri mu dan Soraya?" kejar Alif.
"Beda ku dengan Soraya? Aku tidak melepaskan pria yang aku cintai demi menikahi pria lain. Sedang kan Soraya?~" Ameera menggantung kalimat nya dan menatap dalam ke mata Alif. Sebenarnya lanjutan perkataan nya tadi sudah ada di ujung lidah nya hanya saja dia tidak tega untuk melanjutkan nya karena pasti lanjutan kata- kata nya itu akan membuat hati Alif semakin sakit.
"Kita sudahi saja pembicaraan ini. Aku mau mandi. Dan ya, karena tadi aku sudah mengatakan pada kak Abi kalau kita akan tidur sekamar, jadi mungkin ada baik nya kita mulai berbagi wilayah demi kenyamanan bersama." Usul Ameera.
Ameera tentu saja sadar akan sangat berbahaya jika dia dan Alif terus satu kamar tanpa ada pembagian wilayah kekuasaan yang jelas.
"Aku akan tidur di tempat tidur, sementara dirimu tidur di sofa? Kamar mandi adalah zona bersama. Ruang ganti pakaian adalah ruangan ku karena isi nya adalah pakaian ku. Kau bisa ganti pakaian di kamar mandi. Koper mu tidak ada apa- apa jika di letakan di ruang ganti pakaian. Aku rasa itu adalah pembagian wilayah yang adil." Seru Ameera dengan sumringah.
"Adil untuk mu tapi tidak adil untuk ku. Aku menolak usulan pembagian zona kamar yang kau sebutkan tadi. Dengar kan aku nona Ameera. Kita kan bagi dua semua nya. Tempat tidur kita bagi dua. Kamar mandi zona bersama. Kamar ganti pakaian kita bagi dua. Ruang yang ini~ " tunjuk nya di area sofa, "adalah zona bersama." Alif melipat kedua tangan nya di dada dan melihat ke arah ke arah Ameera dengan satu alis nya yang terangkat.
"What? apa yang baru saja kau bilang? No! Aku tidak percaya pada mu~ Bagaimana kalau di saat aku tidur kau tiba- tiba menyebarang ke Zona ku?" Sahut Ameera ketus.
"Kalau seandai nya aku memang ada niatan untuk berbuat hal yang tidak senonoh pada mu, meski aku tidur di sofa aku tetap bisa melakukan nya. Hal ini itu akan menjadi penghalang untuk sebuah tindakan kriminal." Balasa Alif.
Meski paham dengan apa yang Alif katakan, Ameera tidak akan setuju dengan ide Alif. Dan itu terlihat jelas dari ekspresi di wajah nya saat ini.
"Ameera, dengarkan aku! Aku sungguh tidak akan melakukan sesuatu hal yang buruk pada mu. Toh kita sudah surat perjanjian yang kita tanda tangani di atas materai kan? Kau jangan berpikiran buruk pada ku. Aku melakukan semua hal itu demi sandiwara yang kita sedang jalani saat ini. Kita tidak bisa setengah- setengah. Kau lihat sendiri seperti apa reaksi Abimanyu tadi? Sebagai serorang pria aku bisa merasakan kalau dia cemburu. Dan itu arti nya dia masih memiliki rasa cinta untuk mu. Kini kita hanya perlu membuat rasa itu kian terdesak di dalam sana sehingga tidak dapat lagi dia sembunyikan. Dengan begitu dia akan kembali pada mu Ameera. Dan Soraya pun pasti tidak akan bersikeras dengan hal gila ini lagi. Dia pun akan kembali pada ku. Bukan kah ini adalah tujuan kita bekerja sama?" sebuah penekanan Alif berikan di akhir kalimat penjelasan nya yang panjang kali lebar itu.
"Baiklah! Tapi awas kalau kau sampai melaranggar kontrak yang telah kita sepekati!" Kecam Ameera.
"Kau tenang saja. No contact physic, no falling in love, itu sangat jelas bagi ku," ujar Alif dengan sangat yakin.