Dark Relationship

Dark Relationship
Tamu tak di undang



Untuk kesekian kali nya Ameera kembali menangis di kamar nya. Hati nya benar- benar hancur saat mengingat bagaimana Abimanyu dengan tidak mempertimbangkan perasaan nya lagi- lagi memaksa nya menikah dengan Alif, pria yang sama sekali tidak Ameera kenal.


“Kalau memang cinta nya untuk ku sudah tidak ada lagi, dia juga tidak harus melakukan semua itu! Kenapa dia harus memaksa ku menikah? Apa kesendirian ku ini sungguh mengganggu nya? Apa dia takut aku mengganggu rumah tangga baru nya?” Isak Ameera dengan air mata yang jatuh tak tertahan kan.


“Aku membenci mu kak Abi! Aku sangat membenci mu!” Teriak nya dalam tangis nya.


Mungkin karena rasa sedih yang sudah tidak tertahan kan akhirnya Ameera pun tertidur di atas ranjang besar nya itu.


Kalau apa yang Abi katakan tadi benar- benar Abi jalan kan maka hari ini adalah hari terakhir Ameera berada di apartemen pribadi nya. Karena esok Abi atau mungkin saja orang- orang nya Abi akan datang menjemput Ameera untuk tinggal di mansion milik Abi. Karena sejak kedua orang tuan Ameera meninggal, yang menjadi wali Ameera adalah kakak tiri nya tersebut. Dan kini kakak tiri nya pun telah meninggal dunia. Sehingga satu- satu nya keluarga yang tersisa yang bisa menjadi wali nya Ameera hanya lah Abi seorang. Meski sebenar nya Ameera tidak terlalu memerlukan wali lagi mengingat usia nya saat ini sudah dua puluh satu tahun. Dan lagi pula Abimanyu bukan keluarga langsung nya. Namun karena Abimanyu memaksa hal itu, bahkan dia sudah mengambil mengurusi semua nya secara hukum maka mau tidak mau Ameera harus menerima Abimanyu sebagai wali yang akan mengurusi semua hal dalam hidup nya.


Hari pun telah berganti. Tanpa terasa matahari pagi pun mulai masuk menembus kaca jendela besar yang tepat berada di depan tempat tidur nya Ameera. Semalam karena ketiduran maka Ameera memang tidak menutup gorden kamar nya. Jadi wajar saja jika sinar matahari yang sungguh menyilaukan itu bisa masuk dengan bebas ke dalam kamar Ameera.


“Ting Tong... Ting Tong~!” Suara bel terdengar beberapa kali. Namun mata Ameera masih enggan untuk terbuka. Dia semakin malas untuk membuka pintu itu karena dia mengira kalau orang yang datang membunyikan bel apartemen nya pasti lah Abimanyu atau pun orang- orang nya Abimanyu.


“Pasti itu adalah orang- orang suruhan nya kak Abi.” Ujar nya malas. Dan kembali melempar diri nya ke alam mimpi. Karena kalau Ameera pikir- pikir, dunia mimpi jauh lebib baik dan lebih menyenankan dari pada dunia nyata yang ia tapaki sekarang.


“Ting Tong ... Ting Tong...”” Bel itu kembali berbunyi seolah orang di luar apartemen nya itu tidak akan berhenti memencet bel sampai Ameera keluar.


“Aaahhhk!” teriak nya kesal dan bangkit dari tempat tidur nya. Karena bagaimana dia bisa tertidur kalau suara bel itu sungguh mengganggu nya. Jangankan untuk tidur, berbaring saja Ameera tidak bisa tenang.


Dengan langkah marah Ameera berjalan menuju pintu apartemen nya.


“Ting – Tong... Ting tong...” Bela itu kembali berbunyi.


“Kenapa tidak sabaran sekali sih!!” gerutu nya dalam hati.


Maya melihat jam tangan nya yang masih terpasang di tangan kiri nya. Kemarin dia lupa melepaskan benda itu.


“Sudah jam 9 pagi. Ya Lord! Harus ya~ mereka datang sepagi ini? Aku akan tetap ikut dengan mereka tapi apa tidak bisa sabar!” Rasa kesal nya semakin menjadi – jadi.


“Kak! Apa kau tidak bisa menjemput ku nanti sore atau nanti malam. Aku tidak akan kabur kemana pun! Aku akan tinggal dengan mu! Tapi biarkan aku untuk datang di saat aku merasa siap untuk datang! Tidak perlu dengan mode paksa seperti ini!” Ketus nnya kesal tanpa melihat siapa orang yang ada di depan nya.


“Apa itu arti nya kau menerima menikah dengan ku, nona Ameera?”


Ameera langsung membuka mata nya saat mendengar suara orang yang berbicara pada nya barusan bukan lah suara Abimanyu. Ameera sangat mengenal suara Abimanyu. Dan yang bicara barusan jelas- jelas bukan Abimanyu.


Ameera tersentak melihat siapa yang ada di depan nya saat ini. Dia mengenal pria ini. “Bukan kah dia Alif? Apa yang dia lakukan di apartemen ku? Apa dia memang khusus datang kemari?”


Ada begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Ameera saat melihat ternyata orang yang iseng menekan tombol bel nya sedari tadi adalah Alif, pria yang ingin di nikah kan oleh sang kakak dengan nya.


Meski tidak pernah bertemu secara langsung tapi beberapa kali Ameera pernah melihat foto nya- dengan terpaksa pasti nya.


“Apa kau tidak akan mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam apartemen mu Ameera? Kakin ku sudah mulai merasa tidak enak untuk di ajak berdiri lebih lama.” Ungkap Alif dengan gaya basa basi nya yang terdengar sudah sangat basi.


“Apa itu sebuah permintaan? Karena aneh nya di telinga ku terdengar seperti sebuah perintah.” Balas Ameera penuh sarkasme.


“Kau bisa menganggap nya apa saja. Terserah pada mu! Tapi yang pasti aku memilih untuk masuk dan duduk. Ehkm.. akan terasa lebih nyaman lagi jika di suguhi teh panas dan roti lapis coklat. Dan ya! Aku tidak akan keberatan jika kau pergi mandi terlebih dahulu. Bekas iler mu semalam ada dimana- mana.” Ujar Alif yang auto membuat Ameera mengelap muka nya dengan tangan seperti seorang bocah.


“Menggemaskan sekali wanita ini?” Seru Alif dalam hati, dan tertawa kecil melihat tingkah Ameera.


Ameera pun heran melihat Alif yang tertawa melihat pada nya. Dia merasa Alif telah mengerjai nya." Kau sengaja mengerjai ku ya?" Sontak Ameera marah pada Alif.


"Aku tidak mengerjai mu Ameera. Wajah mu memang penuh peta. Kalau kau tidak percaya pergi lah ke kamar dan lihat lah cermin yang ada di dalam kamar mu . Baru setelah nya kau boleh marah pada ku jika aku terbukti berkata bohong pada mu." Seru Alif.


Ameera pun buru- buru masuk ke dalam kamar nya. Tentu saja tujuan nya masuk ke dalam kamar itu adalah untuk melihat apa benar wajah nya penuh dengan iler seperti yang Alif katakan pada nya tadi.


"Awas saja kalau sampai dia benar membohongi ku! Akan aku tendang dia dari apartemen ku ini!" Seru Ameera saat memasuki kamar nya.