Dark Relationship

Dark Relationship
Tawaran kerja sama



Seolah tidak peduli dengan kedatangan Alif, Ameera malah sengaja mandi lamaaaaaa sekali di dalam kamar nya. Dia sengaja melakukan itu untuk memberikan Alif pelajaran karena telah berani mengganggu tidur nya.


"Siapa suruh dia datang! Lagian dari siapa yang memberikan alamat ku pada nya." Sungut Ameera sambil menyisir rambut nya. Dan setelah dia selesai berdandan, dia pun kembali menemui Alif yang ternyata sudah selesai bikin teh serta roti bakar coklat di dapur Ameera.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ameera terbengong melihat dua cangkir teh serta beberapa roti lapis coklat di atas meja makan nya. Seingat nya dia tidak ada bersentuhan dengan dapur semenjak dia bangun tadi. tapi mengapa dua benda itu sudah tersedia di atas meja nya.


"Kau suka teh yang pakai cream atau gula biasa? Kalau aku lebih suka yang pakai cream. Ngomong- ngomong, cream dimana kau letak?" tanya nya santai tanpa ada perasaan bagaimana gitu dengan Ameera. Secara ini kan apartemen nya Ameera tapi mengapa dia malah menganggap ini seperti tempat tinggal nya sendiri? Ameera ingat betul kalau tadi sebelum dia masuk ke dalam kamar nya dia sama sekali tidak ada mengatakan pada Alif JANGAN SEGAN-SEGAN ALIF! ANGGAP SAJA RUMAH SENDIRI.


No!! Ameera ingat betul dia bahkan tidak ada mengatakan satu patah kata pun pada Alif.


"Hei! Kenapa ekspresi wajah mu seperti itu Ameera? Ayoo lah jangan pasang wajah shock seperti itu! Toh ini kan apartemen mu yang arti nya beberapa hari nanti ini juga akan menjadi apartemen ku. Karena kita kan sebentar lagi akan menikah. So, anggap saja aku sedang belajar beradaptasi di apartemen mu." Ujar Alif sesuka hati nya. Dan Ameera lagi lagi hanya bisa mengernyitkan dahi nya tanpa memberikan respon apapun. Dia yang sebenarnya sangat senang berdebat malah memilih diam. Ya, kalau dalam kamus anak zaman sekarang itu speechless! Saking sulit untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan dia sampai kehilangan kata- kata yang akan dia keluarkan dari mulut nya.


"Jadi cremer nya ada?" tanya nya lagi pada Ameera.


"Aku tidak pernah pakai creamer." Jawab Ameera singkat. Dari ekspresi wajah nya terlihat jelas kalau Ameera masih tidak mengerti alasan apartemen nya kena invansi seperti ini.


"Kalau begitu, gula kau pasti ada kan?" tanya Alif lagi.


"Tidak! Aku tidak punya gula di rumah." Jawab nya lalu duduk di kursi meja makan.


"Aku biasa minum teh pahit." Tambah Ameera sambil menarik cangkir teh yang satu nya. "Ini untuk ku kan?"


"Ya, itu memang untuk mu. Tapi kalau tanpa gula dan creamer saja nya akan buruk." Peringat Alif.


"Wow! aku tidak bisa membayangkan seperti apa rasa nya." Celetuk Alif yang akhir nya memutuskan untuk berhenti mencari gula dan creamer. Alif duduk tepat di depan Ameera.


"Tuan Alif, aku sangat yakin kau datang jauh- jauh ke apartemen ku pagi ini pasti bukan untuk minum teh tanpa gula atau pun creamer kan? Pasti ada sesuatu yang mendorong mu untuk datang kemari, kan?." Tembak Ameera to the poin.


"Selain cantik kau juga sangat cerdas Ameera. Aku rasa aku tidak akan menyesali pernikahan kita nanti nya." Jawab Alif yang malah tidak serius. Padahal Ameera sudah pasang wajah yang serius saat mengatakan hal itu tadi.


"Kalau kau datang untuk membuang- buang waktu ku maka sebaiknya kau pulang saja tuan Alif. Aku sedang butuh teman untuk bermain." Ketus Ameera.


"Benar kah? Apa kau juga tidak butuh teman untuk bersandiwara? Karena kedatangan ku ke tempat mu pagi ini adalah untuk mengajak mu untuk bermain sandiwara. Sandiwara sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai. Aku ingin membuat Soraya menyadari kalau aku jauh lebih baik dari mantan kakak ipar mu. Dan aku sangat yakin hanya dengan membuat nya terbakar api cemburu lah yang satu- satu nya cara pernikahan nya dan Abimanyu di batalkan. Bukan kah kau juga menginginkan hal yang sama? Kau ingin pernikahan mereka batal kan? Aku tahu kau menyukai Abimanyu. Lebih tepat nya rasa suka dan cinta mu pada Abimanyu tidak pernah padam. Tapi aku rasa itu sangat wajar, secara kalian dahulu pernah bertunangan dan sama- sama memiliki rasa yang sama. Ya, paling tidak sebelum Abimanyu menikah dengan kakak tiri mu." ALif berhenti sesaat dan memperhatikan wajah Ameera lekat- lekat.


"Bagaimana Ameera? Apa kau bersedia membuat kesepakatan dengan ku? Aku rasa tidak ada rugi nya kita bersekutu." tawar nya pada Ameera.


Ameera masih dalam mode diam. Dia sedang menimbang- nimbang tawaran dari Alif. Tapi meski pun diri nya sangat tertarik dengan tawaran dari Alif, Ameera merasa harga diri nya sebagai wanita seolah sedang di letakan di tempat yang paling tercela di bumi ini. Kenapa demikian? Itu karena dia merasa diri nya sangat rendah jika dia sampai melakukan sebuah intrik kotor seperti ini hanya demi mendapatkan cinta dari pria yang mungkin saja sudah melupakan rasa cinta yang dahulu pernah mereka miliki bersama.


Ameera mengepalkan kedua telapak tangan nya. Dalam pikiran nya kini dia bertanya- tanya apakah boleh kali ini dia sedikit egois dan menghalal kan cara seperti ini untuk meraih kebahagiaan yang telah lama di rebut dari nya? Apakah dia tidak akan terkena karma di masa datang karena bermain licik seperti ini??


Keraguan masih menyelimuti hati Ameera. Dia tidak tahu timbangan sebelah mana yang harus dia beratkan? Haruskah sebelah kanan? Atau sebelah kiri???


"Kalau tidak perlu ragu Ameera. Di dunia ini ada orang yang kebahagiaan datang dengan melenggang pada nya begitu saja. Namun ada juga orang- orang yang kebahagiaan itu harus di jemput dengan usaha nya. Dan anggap lah kita adalah golongan orang yang kedua. Orang - orang yang pergi berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan nya. Jangan sampai kau kehilangan cinta mu untuk kedua kali nya." Ucap Alif dengan setengah berbisik pada Ameera.


*****Ameeera! Kau cuma bilang aja..  jangan sampai terhasut dengan kata- kata Alif\, kak Upe lihat aura- aura nya Alif ini agak beda! Gak kayak Aura kasih gitu.. wkwkw!****