
Kicauan burung bersaut sautan memasuki pendengaran Mio di hari libur nya, Tanpa di sadari matahari sudah meninggi tapi Mio tak kunjung bangun.
Tetapi tiba tiba tubuh nya bergerak gelisah dan tanpa sadar air mata menetes deras.
"J-jangan...Jangan pergi..." Gumam Mio dan sesaat kemudian dia terbangun dan langsung terduduk masih dengar air mata yang mengalir.
Mio menunduk dan melihat tetesan air matanya yang terjatuh di ranjang dan bajunya, lalu mengusap air matanya guna menghilangkan bekasnya, lalu berdiri dan pergi keluar kamar menuju dapur dan meminum air.
"Hah...mimpi apa tadi itu.." Kata Mio setelah menegak minuman nya, lalu melihat jam dan setelah itu perutnya berbunyi
"Ugh...aku kelewatan sarapan" Mio memegang perutnya dan memakai jaket dan mengambil dompet lalu berjalan keluar rumah, tidak lupa mengunci pintu rumah.
Mio berjalan santai menuju Supermarket terdekat, sesekali menguap kecil seperti kucing. Begitu sampai di supermarket, Mio langsung masuk dan membeli sekotak susu dan satu onigiri.
Lalu duduk di kursi Supermarket dan memakan 'sarapan' nya itu sambil menatap jalan raya, dan matanya menangkap seseorang yang tampak dia kenal di sisi lain jalan, dia menyipitkan mata dan mencondongkan tuduh untuk melihat lebih jelas.
Ah...ternyata kakak kelasnya yang waktu itu, sudah lah jangan mengganggu, pikir Mio sambil menunduk dan melanjutkan makannya
Mio melirik tepi jalan itu dan merasa sedikit kecewa karena tidak menemukan kakak kelas nya itu, Mio mendengus dan sorot matanya tampak kesepian, Saat Mio tersadar bahwa dia merasa sedikit kecewa tadi membuatnya menggeleng gelengkan kepalanya cepat untuk menyangkal kekecewaan nya itu.
"Hei, ada apa?" Sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Mio dan dengan cepat menoleh kebelakang
Kei-kun-!
Oh tidak, dia melihat semua nya? Bagaimana ini, bagaimana?!
"A-ah...T-tidak ada apa apa...,S-senpai.." Mio malu dengan perbuatan nya dan memalingkan wajah.
Kei kebingungan dan mulai berpikir,
Apa dia tidak suka aku di sini? apa sebaiknya aku pergi? hmm...
"Apa aku menggangu?" Mio langsung menoleh dan menatap Kei
"T-tidak Senpai, Duduk lah dulu." Mio menarik kursi di sampingnya, Kei tersenyum dan duduk di samping Mio
Mio melanjutkan makan nya sedangkan Kei sesekali memperhatian Mio, keduanya saling berdiam diri, Mio malu untuk berbicara dan Kei lebih senang memperhatikan.
Begitu menghabiskan makanannya, Mio segera menghabiskan susu nya juga, dan setelah itu dia langsung berdiri membuat Kei terkejut.
"Terima kasih, Senpai, sampai jumpa" Lalu Mio langsung berlari dengan kaki kaki pendek nya. Dia berlari tetap entah kenapa tidak membuatnya menjauh dari tempat itu dengan cepat juga.
Tanpa di sadari Kei mengikutinya dari belakang dengan santai sambil memerhatikan punggung Mio.
Mio merasa sudah cukup berlari dan berhenti lalu menenangkan nafas nya yang memburu. Tidak menyadari dengan orang.yang mengikutinya.
"Sudah capek larinya? Mau kemana sih?" Kei terkekeh lagi dan berpindah tempat di depan Mio menatap Mio yang memerah karena ketahuan kabur.
Kei mengambil tangan kanan Mio dan menggenggam nya erat, "Jangan lari dong, Aku gak gigit." Tingkah senpai nya itu membuat Mio semakin gelagapan dan mencoba melepas genggaman tangan Kei yang berbuah sia sia. Kei terlalu kuat untuk gadis mungil sepertinya.
"Ehh, kamu kabur? Kirain lagi main kejar kejaran" Kei tertawa meledek, dan seketika membuat rasa malu Mio menghilang di gantikan dengan rasa kesal. Mio memperhatikan sambil tersenyum kecut
"Senpai, menyebalkan ya." 3 kalimat itu membuat Kei langsung berhenti tertawa dan di kepalanya terus berputar ketiga kalimat itu seperti radio rusak, dan Kei pun terdiam beberapa detik dengan kalimat berulang itu.
"Senpai?" Mio mengguncang tubuh Kei pelan karena sejak tadi terlihat seperti tidak bernafas setelah dia mengatakan itu.
"A-apa aku menyebalkan? Maafkan aku, maksud ku bukan seperti itu, aku hanya bercanda." Kei terlihat panik dan memegang kedua bahu Mio, membuat Mio terkejut dan memegang kedua lengan Kei
"Astaga- Senpai, iya aku tau, tenang lah, aku juga bercanda." kata Mio sambil mengelus lengan Kei, dan Kei kembali tenang lalu menghela nafas lega.
Mio tersenyum dan tertawa kecil, Senpai nya yang satu ini benar benar menggemaskan, sejak awal bertemu rasanya ingin sekali menguyel uyel pipi nya, tapi di ingat bahwa dia tidak terlalu dekat dengan senior nya itu membuat nya ragu.
Kei terpesona dan tampak sedikit semburat merah di wajahnya. Kei tersenyum cerah membuat siapapun yang melihatnya terpesona.
"Mau jalan dengan ku?" Kalimat itu terlontar bahkan sebelum Kei menyadari nya, Kei terkejut karena bisa mengatakan kalimat itu, mengingat dia tidak pernah berjalan dengan seorang wanita pun.
Mio pun tak kalah terkejut dan membelalakkan matanya, "E-eh? Apa? Jalan? Senpai mengajak ku kencan?" Mio mengerjapkan mata kecil polos nya.
"Ah, Eh, hmm, seperti itu...mungkin?" Kei bertanya balik dan membuat Mio menjadi bingung. Melihat Mio bingung, Kei meringis pelan dan menenangkan diri nya. "Iya aku ingin mengajak mu kencan." Kata Kei dengan mantap.
Mio terkejut untuk kesekian kalinya hari ini, "W-wohh- aku tidak pernah kencan, bagaimana caranya-"
Kei mengulurkan tangan, "Berikan tangan mu" dan entah kenapa Mio menurutinya begitu saja meski masih bingung, begitu memegang tangan Mio, Kei mengenggam tangan mungil itu dan mulai berjalan, Mio mengikuti nya tanpa tau akan di bawah kemana.
Mio memperhatikan muka seniornya dari samping lalu turun melihat tangan nya dan tangan senior nya itu saling tertaut, lalu seketika Mio menyadari sesuatu dan wajahnya menjadi merah seketika.
Tangan nya terasa hangat dan nyaman di dalam genggaman Kei,
Apa aku harus melepas nya? Tapi entah kenapa rasanya aku menyukai ini..perasaan aneh apa ini?
Mio bertanya heran pada diri nya sendiri dan masih memandangi tangannya dan seniornya itu. Tanpa sadar dia di bawah ke sebuah Mall yang cukup ramai, saat menyadari ada angin dingin menghembus tubuhnya, dia melihat sekeliling.
"Eh? Mall?" Mio mengerjapkan matanya lalu menatap senior nya, yang ternyata sedang memperhatikan nya dengan senyuman manis.
"Iya, apa kau lapar?" Kei melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 1 siang, "Kurasa sudah jam makan siang, dan lagi kamu cuma makan onigiri dan susu, ayo cari makan." Kei menarik pelan tangan Mio dan kembali berjalan mencari tempat makan.
Membawa Mio ke lantai teratas tempat yang penuh makanan, mencium berbagai bau makanan enak membuat Mio menelan ludah nya, padahal dia baru saja makan, kenapa bau makanan ini menggugah sekali? pikiran Mio melayang sambil sesekali menoleh melihat tempat tempat makan di sekelilingnya.
"Kei-chann~" Suara gadis melengking yang tiba tiba terdengar dan memeluk Kei secara sepihak, membuat kedua nya terdiam, Mio menatap heran gadis itu.
Gadis itu merasa di perhatikan dan menatap Mio, "Siapa kau?" Pandangan gadis itu turun melihat tangan Mio dan Kei dan dengan cepat menepis nya, membuta Mio merasa takut.
Kei masih terdiam, apa yang baru saja terjadi?
×××××
TBC