Dandelions

Dandelions
Kata Hati



"Berikan nomor ponsel mu" Kei mengulangi kalimatnya


"Tapi- apa? hah? N-nomor ponsel?" Mio sudah mengerti tapi tetap tidak percaya, sambil menatap heran pada Kei, dia benar benar tidak mengerti.


"Tapi untuk apa?" Kata Mio sekali lagi tetap dengan perasaan heran yang sama


"Untuk menghubungi mu, kalau barang mu tertinggal atau terjatuh lagi, aku bisa membawakan nya untuk mu" Tidak, itu hanya alasan Kei yang tidak masuk akal, Dia hanya ingin menghubungi Mio! Dia ingin dekat dengan gadis yang baru di temui nya ini! Sebenarnya ada apa dengan Kei? Kei merutuki alasan bodoh nya itu.


Mio kaya berkedip lucu mencernah omongan senpai nya ini. Menatap mata senpai nya yang terlihat bersemangat hanya untuk meminta nomor, astaga, dia terlihat seperti anjing yang memelas-


Mio menahan tawa nya di dalam hati dan pasrah sambil mengeluarkan ponselnya,


"Baiklah, ini nomor ku, hanya ku ulangi sekali" Mio membacakan nomornya dengan cepat begitu Kei mengeluarkan hp nya


Selesai menyimpan nomor Mio, Kei mencoba misscall, begitu tersambung, dia mematikan nya


"Di simpan ya" Kei tersenyum lalu berlalu pergi, Mio terpaku sesaat dan tanpa sadar ikut tersenyum sepanjang perjalanan pulang


×××××


"YASSA!" Teriakan semangat Kei begitu sampai di rumah,


Ibu nya yang sedang menonton tv terkejut dengan teriakan putra satu-satunya itu


"Kenapa kamu, pulang pulang bukan ngasih salam malah teriak teriak" Ibunya memperhatikan anak nya itu yang sangat berbahagia sampai ibunya bisa melihat filter bunga di sekeliling anak nya


"Astaga-" Ibunya hanya bisa mengelengkan kepala, Kei hanya menyengir kuda dan pergi ke kamar nya.


Begitu di kamar, Kei menidurkan diri di Kasur nya dan melonggarkan dasi lalu membuka satu kancing seragamnya, lalu memperhatikan nomor Mio yang sudah ada di ponsel nya itu dan tanpa sadar tersenyum sendiri seperti orang gila.


×××××


Mio, Gadis mungil berambut panjang itu sedang berendam di kamar mandi rumah nya, jam sudah menunjukan pukul 6 sore, tetapi gadis itu tetap enggan menyelesaikan acara mandi nya, sudah terlampau nyaman.


Berdiam diri begitu membuat pikiran nya melayang, dan tiba tiba mengingat kakak kelas nya tadi, mengingat dirinya juga mudah berteman, mungkin kakak kelas nya hanya ingin berteman, tapi semakin melihat nya, gadis ini semakin yakin pernah bertemu dengan kakak kelas nya itu.


Mio menghela nafas dan menutup mata, merelaks kan tubuhnya dan membawa nya ke alam mimpi tanpa sadar


.


.


"Mio, berhenti menggerutu, lihat bunga ini" Seorang anak lelaki yang terlihat berumur 5 tahun berjongkok di depan sebuah bunga liar


Mio melihat sekelilingnya dan menyadari dia berada di taman bermain anak anak, langit orange menandakan sudah sore.


Mio ikut berjongkok di samping lelaki itu dan ternyata tinggi nya sama dengan lelaki itu, ternyata dia menjadi gadis yang kira kira berumur 4 tahun.


Mio mengulurkan tangan dan memetik bunga liar itu, dan menatap nya lekat lekat, dan tanpa sadar Mio meniup bunga itu.


Membuat benih benih bunga itu terbang mengikuti arah angin yang mengarah ke belakangnya. Membuat dia dan anak itu menoleh bersamaan


"Huwahhh" kata mereka bersamaan melihat arah terbang benih itu dengan mata berbinar dan semangat


Anak lelaki itu berdiri dan menatap Mio, dan tiba tiba berubah menjadi lelaki remaja bertubuh gagah dan tinggi di saat Mio mengedipkan mata nya, sama hal nya dengan Mio, dia kembali menjadi anak remaja berumur 16 tahun. Mio terkejut dan jatuh terduduk di pasir taman itu


Anak lelaki itu mendekat, membungkukkan badan dan mendekatkan wajah, lalu mencium kening Mio


.


.


"MIO, JANGAN TIDUR DI KAMAR MANDI!" Teriakan Ibu nya membuat Mio terbangun, dan kilasan akhir mimpinya itu langsung membuatnya bersemu merah, Mio pun berdiri dan mengeringkan tubuhnya, keluar kamar mandi dan memakai baju nya


Setelah selesai dia menggantung handuknya dan berjalan menuju ruang makan untuk makan makan.


×××××


"Kei, bangun lah, sudah waktunya makan makan" Kata Ibu Kei begitu membuka pintu kamar anaknya dan mendapati anaknya tertidur pulas dengan memegang ponsel


Kei melenguh pertanda masih ingin melanjutkan tidurnya dan berganti posisi


Ibu nya menghampiri Kei dan mengguncangkan tubuh anaknya ini, "Kei, ayo bangun"


Kei akhirnya bangun, dia duduk dan langsung memeluk pinggang ibunya, masih dengan mata tertutup


Walau tubuhnya gagah dan berwajah tampan, tapi jika sudah bersama ibunya dia seperti bayi besar


"Astaga, sebenarnya umur berapa kamu? apa benar kamu berumur 16 tahun? kenapa seperti anak berumur 5 tahun, manja sekali" Walau ibunya berkata seperti itu tapi sebenarnya dia senang anak lelakinya ini tetap manja seperti ini, akhirnya ibunya membelai kepala anaknya dengan lembut


"Sudah maa", Kei mengambil tangan ibunya dengan lembut dan berdiri, "Malam ini makan apa?" Kei tersenyum hangat membuat ibunya ikut tersenyum,


"Makan Kari, ayo, Papa udah nunggu", Ibunya berkata sambil berjalan menuju ruang makan, di ikuti Kei


"Lama sekali, Kei ngapain tadi?" Ayah nya yang sejak tadi harus menahan lapar karena menunggu putra satu satunya untuk ikut makan bersama


"Ketiduran abis pulang sekolah" Ibunya tertawa kecil dan duduk di kursi sebelah suami nya


"Hehe, maaf, tadi kesenengan sampai ketiduran" Kei menyengir sambil menggaruk tengkuknya, ayahnya hanya bisa menggeleng gelengkan kepala, dan duduk di kursi depan ibu nya, semua makanan sudah tersedia di meja makan


"Seneng kenapa tuh? Ketemu cewek cantik?" kata ayahnya sambil makan, membuat Kei tersedak sendokan pertama nya


"Uhuk- uhuk-" Kei segera meninum air putih nya dan ayahnya hanya tertawa melihat anak nya


"Wah, siapa nih ceweknya? Papa kira kamu suka sama sesama jenis karena dari dulu sampai umur segini gak suka sama cewek, ngelirik pun gak" Ayah nya mengingat kalau anaknya ini sering di jodoh jodohkan oleh teman teman ayahnya dengan putri masing masing.


"Wah...papa keterlaluan, ya kali suka sama cowok, tapi iya sih, ketemu cewek cantik" Kei tersenyum mengingat senyuman Mio hari ini, membuat kedua orang tua nya kaget dan saling pandang, momen langkah di mana anak mereka membicarakan wanita.


"Udah besar ternyata" Ayah nya mengetak kepala putra nya yang di balas dengan ringisan, ayah nya tertawa pelan, dan ibu nya mengacak rambut anaknya sebentar sambil ikut tertawa, dan lama kelamaan Kei ikut tertawa.


Suasana makan malam yang hangat memberi kebahagian bagi siapapun yang melihat mereka, benar benar keluarga bahagia.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Kei masih berada di ruang tamu dan menikmati acara tv yang di tontonnya, tapi tiba tiba mendengar suara suara aneh dari kamar orang tuanya.


"Sialan.." Gumam Kei, dan dia pun mematikan tv lalu pergi ke kamarnya untuk tidur, dari pada mendengar sesuatu yang tidak seharusnya.


TBC