Crawling In The New World

Crawling In The New World
Chapter 8 : Legenda Seorang Bard



Irza sebagai Fighter, Iqbal sebagai Bard, Gilang sebagai Rogue, Gita sebagai Ranger, Nami sebagai Cleric, Shela sebagai Wizard, Bella sebagai Warlock, Kania sebagai Druid, dan terakhir Amir sebagai Amir.


Walau sudah menunggu sehari namun gulungan milik Amir masih belum menunjukkan apapun, teman-temannya yang mengetahui hal itu hanya bisa menghibur hati Amir dengan kata-kata seperti 'Nanti pasti muncul kok' atau 'Jangan terlalu di pikirkan Mir' lalu yang paling tidak nyambung namun justru menghibur adalah kata-kata dari Kania, ia mengatakan 'Amir mungkin belum cukup umur, maka dari itu gulungan nya belum muncul tulisan.'


Mungkin Kania menghubungkan gulungan ini seperti KTP. Andaikan memang caranya kerjanya sama pun, seharusnya bukan jadi masalah. Karena, Amir sendiri sudah 17 tahun dan yang ia tau dari semua orang dialah yang bulan kelahiran nya paling awal. Maka, mungkin, umur memang bukanlah penyebab nya.


Dalam gulungan itu ada tiga point penting menurut Amir yaitu Class, Status, dan Skill.


"Coba pakai ini za... " Amir memberi sepasang belati kepada Irza.


"Hmm, rasanya kurang cocok" Irza menjawab sembari ia memainkan kedua belati itu dengan kaku.


"Kalau begitu yang ini.." Kali ini Amir memberi sebuah pedang pendek.


"Aku bisa menggunakan hanya saja terasa kurang nyaman" Ucap Irza sembari memainkan pedang pendek itu dengan gerakan yang monoton.


"Ini panjang dan berat maka berhati-hatilah! " Sebuah pedang panjang Amir berikan kepada Irza.


"Wow!" Irza memainkan pedang itu dengan begitu lentur dan menunjukkan begitu banyak variasi gerakan.


"Lang, bisa tolong coba mainkan belati ganda itu?"


"Uh.. Oke" Gilang menjawab dengan ragu-ragu.


Ketika Gilang mengambil belati itu dan mulai memainkannya maka semuanya sudah jelas, dan itu sesuai dengan apa yang di pikirkan oleh Amir.


"Woah! Gila keren abis! Rasanya kayak aku adalah seorang ahli Kung-Fu!" Gilang berkata dengan begitu semangat.


Gilang benar-benar bisa memainkan belati itu dengan begitu tangkas, pada umumnya orang akan mengalami kesulitan jika pertama kali menggunakan senjata. Apalagi belati ganda memerlukan koordinasi yang baik pada kedua tangan, harusnya jika orang awam pasti akan mengalami kesulitan.


Namun, Gilang tidak. Itu karena dia adalah seorang Rogue. Class yang memiliki spesialisasi dalam bergerak secara sembunyi-sembunyi dan menyerang secara tiba-tiba.


Sedangkan Irza adalah Fighter, seorang petarung di garis depan yang memiliki keseimbangan antara bertahan dan menyerang.


Hal-hal itu adalah sebuah pengetahuan umum yang Amir dan teman-teman nya tau dari dalam sebuah game. Namun, yang membuat mereka cukup takjub adalah. Dengan memiliki Class masing masing dari mereka seperti sudah memiliki pemahaman dasar mengenai cara bekerja sesuai Class mereka dan menggunakan senjata yang sesuai dengan Class mereka.


Itulah kenapa, Irza akan lebih nyaman menggunakan pedang panjang,sedangkan Gilang menggunakan belati ganda. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa menggunakan variasi senjata lainnya. Hanya saja mereka merasa lebih efektif ketika menggunakan senjata tertentu yang sesuai dengan mereka.


"Oke, jadi aku seorang Bard... " Iqbak berjalan ke tengah halaman dengan membawa Gitar. .


"HORAAA!" Iqbal mengayunkan gitar itu ke segala arah seperti orang gila.


"Beginikan seorang bard, ketika yang lainnya menggunakan senjata keren seperti pedang dan tongkat sihir. Aku akan mempenyokan muka lawanku dengan gitar" Iqbal berbicara dengan nafas menderu deru.


"Bodoh, kau harusnya memetik senarmu dan memainkan sebuah lagu" Ucap Gilang mengejek.


"Nah itu juga boleh, atau mungkin sebenarnya tiap petikan senarmu mengeluarkan semacam laser atau angin yang bisa mencincang lawan"


"Sial Lang! Mungkin omonganmu ada benarnya. baik akan ku coba!" Iqbal kini lebih bersemangat.


Ia pun kemudian mulai memetik senar gitar milik nya, sebuah melodi indah berhasil ia ciptakan padahal yang Amir tau Iqbal tidak pernah memainkan gitar sebelum nya, tapi itu perkara lain. Karena selama apapun ia mencoba dari petikan senarnya tidak memunculkan sebuah serangan yang Gilang katakan.


"Sialan aku di tipu. " ucap Iqbal tak terima.


"Bukan menipu, tapi nasib mu memang jelek saja. Anggap ini seperti sebuah sinetron adzab dengan judul 'Jungler Bego Mati Ketabrak Angkot Lalu Hidup di Dunia Game Dengan Class Tdak Berguna' sepertinya semacam itu cocok" Gilang tak bisa menahan tawanya ia pun tertawa dengan lepas sampai wajahnya menghadap langit.


"Mir katakan apa aku benar-benar akan tidak berguna di medan perang? Maksudku, aku adalah jungler. Jiwa pembunuh ada dalam diriku,aku akan menolak hukum alam! legenda seorang bard yang menggunakan pedang raksasa akan di mulai! " Iqbal mengatakan kalimat terakhir dengan mengangguk, seperti tekad nya sudah bulat.


Tidak bal, kau pasti berguna karena dirimu memiliki sebuah Class. Orang yang harusnya mengatakan itu adalah aku, hal semacam itu ingin Amir ucapkan. Namun, itu sama saja dengan mengadu nasib. Jadi akan lebih bijak jika tidak membahas hal seperti itu saat ini.


"Sebentar Bal.. " Amir mulai membuka mulutnya. "Cek di bagian kolom Skill, apa yang tertulis disana?


"Disini tertulis 'Melody Of War' um.. Sp Cost nya satu"


"Baiklah coba kau gunakan itu"


"Oke, eh! tunggu bagaimana cara menggunakan skill Mir?"


Bagaimana hal ini bisa tidak terpikirkan oleh Amir? dalam sebuah game biasanya kita hanya perlu menekan sebuah tombol pada controller untuk mengaktfikan sebuah skill, namun saat ini yang mereka hadapi adalah dunia nyata. harusnya ada sebuah mekanisme tersendiri untuk mengaktifkan sebuah skill.


"Caranya? ya benar, um.. bagimana caranya?"


Amir pun ikut bingung saat ini, bagaimana dia tidak bingung. Amir menjadi satu satunya yang tidak memiliki Class, tentu saja ia tidak akan mungkin tau caea mengaktfikan sebuah skill. Ia mungkin pernah menonton beberapa film dengan genre fantasy, yang mana untuk menggunakan sebuah sihir atau kekuatan tertentu sang pengguna harus mengucapkan mantra. Tapi mantra seperti apa yang harus di ucapkan? apakah nama skill itu juga merupakan mantra ?


"Biar aku coba. " Ucap Bella dengan nada datar.


Bella kemudian berjalan ke tengah halaman sembari membawa tongkat.


Ia mengarahkan ujung tungkat miliki nya ke arah langit, kemudian memejamkan matanya untuk sesaat. Bersaman dengan itu, muncul cahaya kelap kelip pada ujung tongkat milik Bella.


*Whosss!


Sebuah bola api muncul dan melesat dari ujung tongkat milik Bella, ke arah langit.


"Bagaimana caramu melakukan itu?" Gita bertanya.


"Pertama, kau harus tau nama skill atau apalah itu. Pada milikku tertulis 'Firebolt', sisanya kau hanya perlu mengucapkan itu dalam hati dengan perasaan ingin melakukan sebuah hal luar biasa. Kemudian di akhir akan muncul sensasi seperti meledak bersaman dengan keluarnya bola api dari tongkat ku" Bella menerangkan.


"Okeh aku sudah mengerti, Melody Of War ya!? Dari namanya aja sudah keren. Mari kita coba!" Ucap Iqbal dengan menirukan nada bicara dari Siska Kohl.