Crawling In The New World

Crawling In The New World
Chapter 6 : Di Bawah Sinar Rembulan



Langkah Amir dan Gita terasa ringan.Walaupun mereka hanya melihat dari kejauhan, tetapi pemandangan itu sudah cukup untuk membuat rasa cemas menggeliati pikiran mereka.


"Hoi! Kalian semua! Bisa dengar suaraku,tidak!?"


Amir berseru,dia berharap di antara teman- temannya ada yang bisa menjawab panggilan itu, kemungkinan terburuk yang bisa Amir pikiran adalah teman-temannya baru saja di serang sehingga mereka saat ini berada dalam keadaan terkulai lemas. Hanya saja, andaikan bukan itu hal yang terjadi pastilah ada di antara yang mereka yang dapat menjawab panggilan Amir.


Sepersekian detik setelahnya Amir dapat melihat sebuah kepala terlihat mendongak, itu adalah wajah Iqbal. Amir tidak mungkin salah lagi, karena wajah Iqbal memiliki sebuah kesan khusus tersendiri. Yaitu, seperti orang yang selalu ngantuk.


Iqbal pun mengangkat tangan sembari menunjukan jempol,sebuah seringai juga terukir di wajah nya sembari melihat ke arah Amir dan Gita. Setelah itu ia menurunkan kepala nya dan kembali dalam posisi terkapar seperti orang sekarat.


Dalam hatinya Amir ingin melempar batu dan melakukan sebuah headshot ke Iqbal, bukanya di jawab. Justru Iqbal hanya menunjukan jempol sembari membuat senyum yang begitu tolol untuk saat ini. Tetapi, setidaknya, Amir tau bahwa tidak ada hal buruk yang baru saja menimpa mereka semua.


"Oi, bangun!" Amir sedikit meninggikan suaranya "Kalian kenapa tidak menjawab, huh?"


Tangannya juga menepuk nepuk pipi Iqbal lalu Gilang secara bergantian karena mereka berdualah yang paling berdekatan posisinya nya, di sekeliling mereka juga begitu.Irza terlihat tidur dengan posisi terlentang kemudian, untuk Kania,Shela, Bella, dan Nami saling memberikan bahu untuk sandaran kepala.


"Kalau kau tidak membawakan makanan maka, jangan berisik." ucap Iqbal dengan nada santai.


Dari atas wajah Iqbal terlihat seperti bayi yang tidur, di tambah ia menggerak gerakan bibirnya untuk senyum kemudian di kendorkan kemudian senyum kembali. Tetapi, entah mengapa, harusnya wajah bayi itu membuat orang merasa gemas. Namun, wajah Iqbal malah sebaliknya. Orang-orang pasti akan terpancing untuk menonjoknya dalam sekali lihat.


Dan Gilang hanya membalikkan posisi tubuh nya dengan kini menghadapkan pantat miliknya kepada Amir, hawa dingin tiba tiba menjalar di tulang punggung Amir, ketika ia menoleh ke arah sumbernya.


"Jangan buat aku hitung sampai tiga." Kata Gita dengan nada datar dan raut wajah yang gelap.


Serentak Iqbal dan Gilang langsung terduduk dengan gerakan cepat layaknya mainan tiup tinju anak-anak.


"Eh,sudah datang kalian?" Gilang berbasa basi.


"Iya,sejak kapan?" Iqbal menambahi.


"Kalau Gilang, mungkin masih bisa di terima." Amir menanggapi "Tapi Bal, akting mu jelek banget."


"Bagaimana bisa kamu beranggapan seperti itu? dan kata siapa aku sedang ber akting, Mir?" Iqbal berkata sembari menyedot salah satu pipinya.


"Kataku." Pertanyaan itu di jawab oleh Gita.


"Oh oke.." Iqbal sekarang menundukan kepala


"Jadi semua sedang tidur ya?" Amir sekarang melirihkan suaranya.


"Yeah, tadi aku dan Iqbal melakukan sebuah tarian untuk menghubur para gadis.." Gilang mulai menjelaskan. "Namun sekeras apapun kami mencoba, mereka tidak tertawa sedikit pun. Justru melempari kami dengan batu bahkan memarahi kami, sedangkan Irza hanya tertawa seperti orang tolol. Entah mengapa setelah itu kami semua kelelahan dan tidur tanpa sadar"


"Oh begitu.." Amir mulai mengerti kondisinya.


Walau duo ini sedikit idiot. Namun, mereka benar benar melakukan apa yang di perintahkan oleh Gita. Dalam hatinya Amir benar benar berterimakasih kepada mereka,jika mengingat kembali perkataan Iqbal saat pura pura tidur membuat Amir sedikit merasa bersalah. Dia tidak memikirkan bahwa ada kemungkinan teman-temanya sedang menunggu dalam keadaan lapar di tambah saat ini sepertinya sudah lebih dari waktu jam makan malam. Seharusnya sebelum kembali kesini ia membeli beberapa makanan untuk di bawa.


"Syukurlah kalian pulang dengan selamat." Irza merenggangkan badannya, ia benar benar baru bangun tidur.


"Jadi bagaimana hasilnya, adakah orang yang bisa membantu kita?" Irza lanjut bertanya.


"Ah soal itu.. " benar, sebelum pergi ke kota, yang Amir katakan adalah mencari seseorang yang bisa menolong masalah mereka, jadi tentu saja Irza akan menanyakan tentang orang tersebut.


Akhirnya Amir menjelaskan semua, bahwa untuk saat ini belum ada seseorang yang bisa di mintai pertolongan, namun kabar baiknya Amir dan Gita menemukan sebuah pondok yang mungkin di sediakan sebagai tempat tinggal untuk mereka.


"Begitu ya, sepertinya itu sudah cukup baik." Irza mengangguk paham.


"Hoamm~" suara orang menguap terdengar, dan itu berasal dari Kania.


Karena Kania menggerakkan badannya, hal itu membuat gadis lain juga ikut terbangun.


"Lama sekali Mir,kamu benar-benar membuat ku khawatir" Shela berkata sembari mengusap matanya.


"Omong kosong, tidak ada ceritanya orang khawatir tapi tidur" Amir menggoda.


Sebenarnya sifat dasar Amir adalah bukan seseorang yang suka menyinggung wanita, tetapi ia dan Shela sudah menghabiskan waktu bersama sejak kecil. Jadi, keakraban itu yang membuat merek berdua lebih santai ketika berbicara. Terkadang, Amir berfikir bahwa ia memperlakukan Shela sama seperti dia memperlakukan teman laki-lakinya.


"Dasar!" Shela menjawab dengan jutek.


"K-kalian baik-baik saja kan?" Ucap Nami berbisik bahkan hampir tidak bisa di dengar oleh Amir.


Terimakasih Kania atas kekhawatiranmu, tapi sepertinya di dunia kita sekarang belum tentu ada seorang Polisi, dan Handphone juga kayaknya gaada. Amir ingin sekali mengatakan itu, tapi jika ia melihat dari sisi Kania. Kania juga belum melihat kondisi kota dan keadaan masyarakat disana, jadi wajar saja pikiran Kania masih belum beradaptasi.


"Kami baik-baik saja, justru kami sangat khawatir ketika kalian tertidur di hamparan padang rumput yang luas ini. Bagaimana jika ada orang jahat menghampiri kalian saat tidur?" Gita menjawab dengan nada cemas dan lembut.


"Tapi kenyataannya tidak kan?berhenti basa-basi, dan segera katakan apa yang kalian temukan di kota. " Bella menjawab dengan nada sinis.


Amir memiliki perasaan bahwa hanya Bella yang tidak merasa khawatir kepada dirinya dan Gita, Walaupun mungkin kekhawatiran itu sudah di wakilkan gadis lain, hanya saja, siapapun orang yang mendengar gaya bicara seperti itu pasti akan merasa tersinggung. Beruntung nya, lawan bicaranya adalah Gita yang seharusnya sudah terbiasa menghadapi Bella. Maka, pastinya Gita tidak terlalu mengambil hati atas ucapan Bella.


Akhirnya giliran Gita, yang menjelaskan kembali situasi nya kepada para gadis.


Butuh sedikit waktu, agar mereka akhirnya mengumpulkan nyawa dengan penuh untuk akhirnya berangkat ke Pondok Tua Cielo yang tentunya di tuntun oleh Amir dan Gita, dalam perjalanan pulang mereka membeli makanan untuk di bungkus pulang. Makanan itu terlihat seperti martabak asin bila di miripkan pada dunia mereka sebelum nya, tetapi disini memiliki nama Collati. Untuk satu porsi terdapat 9 potong dengan harga 10 Koin Perunggu, jadi mereka membeli dua porsi. Maka totalnya 20 koin perunggu. karena hanya Amir saja yang sudah menukar uang, maka dia dengan suka rela menggunakan uang nya terlebih dahulu untuk menalangi nya.


"aww... lucu sekali! " Kata Shela


"Bulunya lembut. " Kata Kania


"Dia mirip seperti anjing. " Kata Nami, yang suaranya semakin lama semakin kecil.


"Mafu.. Mafu..." Mahkluk itu mengatakan sesuatu yang Amir tidak mengerti, namun dari bahasa tubuhnya seperti dia merasa senang.


Ketika semuanya masuk kedalam pondok Shela, Kania, dan Nami langsung mengurubungi mahluk itu dan mengajak nya bermain.


Saat dalam perjalanan Amir sudah menceritakan keberadaan mahkluk serta dugaan Amir tentang alasan kehadiran nya di pondok itu, wajah mereka semua ketika tau akan hal itu seperti tidak percaya. Kini semuanya bisa melihat sendiri.


Iqbal dan Gilang sibuk memakan Collati,sampai-sampai mayoritas orang hanya memakan 1 potong dan selebihnya mereka dekap sendiri. Semuanya ingin marah, namun sepertinya masalah seperti ini tidak perlu di besarkan.


"Para gadis akan tidur di lantai atas,kalian para lelaki tidur di lantai bawah! " Bella mengatur.


"Tapi di lantai atas hanya ada empat kamar, sehingga harus ada satu di antara kalian yang tidur di lantai bawah" Irza menanggapi.


"Biar aku saja yang tidur di lantai bawah" Gita secara sukarela mengalah.


"Hanya saja.. " Irza berdecak sembari menggelengkan kepala "Kamar nya kurang, kita ada 9 orang sedangkan disini hanya ada 8"


"Kalian para lelaki berarti harus ada yang mengalah untuk tidur di ruang tengah" Bella menjawab dengan ekspresi dingin.


"Kalau menurut ku lebih baik jangan aku yang tidur di ruang tengah" Iqbal bergabung dalam obrolan.


"Mengapa?" tanya Bella dengan mata yang menyipit.


"Karena aku ga di bolehin mama tidur di ruang tengah" Ucap Iqbal dengan menjulurkan lidah.


Bella menatap sinis kepada Iqbal dengan alis nya yang berkedut-kedut. Iqbal pun menundukan kepala dan lanjut makan.


"Aku juga tidak bisa.. " kini Gilang juga menolak. "Aku tidak bisa tidur kalau bukan beralas kasur. "


Andaikan solusi seperti tidur berdua dalam satu kamar bisa dilakukan maka semuanya akan mudah. Sayangnya, kasur dalam kamar adalah tipe kasur tunggal. Jadi, jika di gunakan untuk tidur berdua sangatlah sempit.


Diskusi terkait masalah ini berlangsung cukup lama sampai akhirnya Amir menemukan sebuah solusi cemerlang.


"Kalau begitu biar aku saja yang tidur di ruang tengah,sebenarnya di rumah pun aku sudah terbiasa tidur di sofa atau di atas tikar" Benar, solusi terbaik ketika tidak ada yang mengalah adalah menawarkan diri dengan sukarela.


Amir sebenarnya tidak berat hati apabila harus tidur di ruang tengah, hanya saja ia tidak ingin mengajukan diri terlalu awal.


"Disini ada karpet, itu lebih baik dari tikar. Jadi, harusnya tidak masalah" Amir menambahi.


"Kau bilang disini ada gudang kan? mungkin disana menyimpan sebuah kasur lebih atau semacam nya. " Irza berkata.


"Lebih baik kalian cek dulu" Bella mengusulkan.


Akhirnya Irza dan Amir pun mendatangi gudang yang ada di belakang pondok.


Beruntung nya gudang itu tidaklah terkunci maupun tergembok, karena mereka hanya memiliki satu kunci yang hanya bisa di gunakan untuk membuka pintu depan.


Pintu gudang pun terbuka, dengan mengeluarkan suara decitan khas pintu kayu. Dengan bantuan sinar rembulan, mereka berdua dapat melihat dengan cukup jelas apa yang ada di dalam nya.


Ketika tau apa isi di dalam gudang itu, Irza dan Amir hanya bisa terbelalak melihat nya.