
Apakah ini yang di sebut alam setelah kematian?Ketika Amir membuka mata ia mendapati dirinya sedang duduk di sebuah kursi kayu pada ruangan yang gelap. Memori terakhir yang Amir ingat adalah mobil angkutan umum menabrak dirinya, tidak.Bukan hanya Amir saja, tapi juga teman teman nya. Apakah mereka selamat? Namun, sangat di sayangkan harapan Amir langsung pupus seketika.Matanya mengederi sekeliling dan melihat teman-teman nya juga berada di tempat yang sama duduk di sebuah kursi kayu membentuk formasi lengkung, ada perasaan ingin memanggil mereka. Namun, kata kata apa yang pantas?apakah seperti 'Halo teman teman! 'atau 'Wah kalian disini juga?' Sepertinya itu sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini, bagaimanapun juga ini adalah alam setelah kematian. Sehingga lebih baik mengkhawatirkan diri sendiri, dan merenungkan nasib selanjutnya.
Ah, Aku masuk surga atau neraka ya? Amir berbicara di kepala nya, ia berfikir mungkin dia dan teman temannya sedang mengantre penimbangan dosa,dan mereka sedang berada di ruang tunggu, atau mungkin semacam itu. Jika Amir berfikir serius tentang hal ini, sepertinya dia hidup dengan baik, tidak pernah menipu, menuruti kata orang tua, dan sama sekali tidak pernah berbuat curang. Namun, beberapa kali mungkin Amir pernah bercanda yang terlalu kelewatan sehingga kemungkinan orang tersebut merasa sakit hati padanya. Oh ya benar juga,Amir masih ada hutang di kantin, Amir mengingat bahwa hari ini atau mungkin lebih tepat hari di saat ia mati.Kala itu,saat jam istirahat Amir menghutang satu mangkok bakso, karena uang nya ketinggalan di kelas. Kira kira si tante mengikhlaskan hutang-nya atau tidak ya? Amir berandai andai tentang hal itu, dan mungkin harapan terakhirnya adalah kekuarga nya sadar akan hal tersebut dan membayarkan hutang itu untuk Amir.
[Oh ya benar, Ayah, Ibu, dan Adik apakah mereka akan baik baik saja tanpaku?]
Ketika mekirikan nya dada Amir menjadi begitu sakit, rasanya sampai ia ingin merobek sesuatu disana. Mungkin ini yang di sebut penyesalan setelah kematian, namun entah mengapa Amir tidak bisa mengeluarkan air mata untuk saat ini.
Tanpa sadar saat ia hanyut atas itu semua wajah nya sedang mendongak ke atas langit, langit itu begitu gelap tidak seperti malam karena yang ini tidak ada bintang atau bulan yang menyinari. Namun jika memang tidak ada cahaya, mengapa Amir bisa melihat sosok teman nya dengan jelas? Rupanya di lantai yang mereka pijak terukir sebuah simbol hexagram yang begitu besar dan di setiap garisnya mengeluarkan cahaya, Amir dan teman - temannya kini berada di tengah nya.
Jika mencoba mengamati sekitar dengan jeli, Amir melihat di depannya ada sebuah tangga yang terbuat dari marmer berwarna putih. Dan di ujung tangga itu terlihat sosok bocah laki laki dengan punggungnya yang menghadap dirinya, secara samar samar juga terdengar suara suara seperti *SLASH! lalu *VICTORY! dan efek efek suara lain yang bisa di dengar dari sebuah game, tepatnya game dengan genre RPG.
“Halo! Yang di atas sana,bisakah kamu menolong kami?” Tiba tiba suara yang Amir kenal memecah keheningan, itu adalah suara Kania.
"Hei lepas kan kami!" Iqbal berseru.
Kemudian terdengar suara denyitan kayu dari kursi karena di goyang goyangkan dengan begitu kasar. Sepertinya Iqbal berusaha beranjak dari kursi itu namun tak bisa.
Amir pun melihat ke bawah dan menemukan bahwa tangan dan kakinya terikat dengan kursinya, Apa apaan ini? Apakah sebenarnya kami di sekap? Atau kami sedang berada di semacam acara televisi yang baru? Sekeras apapun Amir berfikir ia tidak menemukan jawaban sama sekali. Karena bagaimanapun juga tempat ini sangatlah asing, bahkan Amir tidak pernah melihat yang mirip sedikit pun seperti ini di sepanjang hidupnya.
"Aku akan AFK sebentar,ada urusan"
Dari kejauhan terdengar suara si pemilik tubuh bocah kecil itu, dan seperti nya ia berbicara dengan seseorang. Namun kalimat seperti itu bukankah lebih mirip obrolan ketika sedang bermain game?
Bocah lelaki itu berjalan menuruni tangga, dan terlihat paras nya yang itu tak lain adalah King.
"Kalian sudah sadar rupanya" Ucap King sembara menggaruk garuk bokong nya.
"Apa yang kamu inginkan?! kenapa kami di Ikat?! Kamu yang menculik kami?! " Shela berteriak dengan nada ketakutan.
"Menurut Kania, dia bukan peculik. Mana mungkin penculik adalah anak SD" Kania menanggapi dengan nada polos.
Bukankah kamu terlalu menganggap enteng hal ini Kania?kita baru saja tertabrak dan saat sadar kita berada di tempat antah berantah dalam kondisi tubuh di ikat loh, Amir menggelengkan kepala ketika memikirkan itu. Namun entah mengapa justru karena tingkah Kania, membuat hati Amir menjadi sedikit tenang.
"Hei tidak sopan! Aku bukan anak SD! Namaku King! Dan-Dan seharusnya kalian memanggilku sebagai Dewa King yang Agung! " King berteriak dengan menunjukan urat di pelipis nya, tanda King sedang merasa kesal.
"Kalau begitu Dewa King, apa maumu? Sampai mengikat tubuh kami di sini?" Irza bertanya, nadanya begtu tenang namun tegas di saat bersamaan.
"Oh soal itu? Kalian tertidur dan tubuh kalian tidak bisa duduk dengan benar, ada yang terjatuh bahkan sampai nyungsep. Jadi aku memutuskan mengikat kalian sampai kalian sadar"
King menjentikan jarinya, dan seketika segala ikatan di tubuh Amir dan lainnya terlepas.
"Jadi,King bisakah kau mulai menjelaskan semua ini?" Irza kembali mendesak.
Kemudian King mulai membuka mulutnya, ia pun menjelaskan semuanya. Mulai kebenaran tentang Amir dan lain nya yang tertabrak mobil, kemudian ia juga berkata bahwa harusnya mereka sudah mati. Namun King menyelamatkan jiwa mereka dan menyimpan nya di alam ini.
"Jadi,aku ingin menawarkan kalian sebuah kesepakatan..."
King melanjutkan ceritanya, dengan mula mula menjelaskan kondisi dunia nya dengan umat nya yang sebentar lagi akan punah karena penaklukan yang di lakukan Raja Iblis bersama pasukan nya dalam waktu 2 tahun, sehingga King ingin Amir dan teman-temannya menyelesaikan masalah itu, demi menyelematkan umat nya.Jika berhasil maka King akan mengembalikan jiwa mereka ke tubuh aslinya dan mereka bisa hidup seperti sedia kala.
Semuanya diam sesaat setelah mendengar cerita King. Bagaimanapun juga segala hal tentang menyelamatkan umat itu adalah sesuatu yang hanya bisa di temukan dalam sebuah komik, film, atau dongeng pengantar tidur. Semuanya termasuk Amir tidak pernah berfikir bahwa hal hal tersebut akan terjadi secara nyata, dan mereka semua sepertinya masih belum bisa mencerna ini semua dengan baik. Tertabrak—Mati—Bangun di tempat gelap—Di minta menyelamatkan dunia, itu semua merupakan hal yang sangat absurd untuk saat ini.
"Jangan bercanda! Kembalikan aku! Aku tidak peduli dengan semua omong kosong mu! " Bella memberontak.
King tidak mengatakan apapun untuk merespon, ia hanya menjentikan jarinya. Dan sebuah layar besar muncul di atas kepala nya.
Dari dalam layar itu muncul semacam video rekaman yang terpotong potong, apa yang di nampakan disana menunjukkan kondisi Amir dan teman temannya yang sedang mengalami masa kritis di rumah sakit, terlihat keluarga mereka sedang bersedih dan menunggu dengan rasa putus asa.
"Saat ini tubuh kalian disana hanya seperti cangkang kosong, karena jiwa kalian berada di alam ini. Hal baik tentang ini adalah malaikat maut tidak bisa mengambil jiwa kalian" King menjelaskan.
“Apakah kami benar benar tidak bisa menolak?” Amir bertanya, matanya menatap tajam kepada King.
"Boleh saja—"
Ketika King berkata demikian,Sebuah gerbang muncul dan terbuka di belakang Amir dan teman-temannya.
"Jika kalian menolak, silahkan keluar. Namun perlu di ingat, takdir kalian adalah mati. Ketika keluar dari sini sudah di pastikan malaikat maut akan menjemput jiwa kalian" King melanjutkan.
"Jadi tidak ada pilihan lain ya!?" Irza berbisik dengan ekspresi marah sembari menghantam pegangan kursi dengan tinjunya.
"Namun waktunya? Maksudku waktu yang akan kami habiskan di dunia baru ini sekitar 2 tahun kan? Apakah tubuh di dunia kami akan terbaring koma dalam waktu selama itu" Amir kembali melemparkan pertanyaan.
"Tidak perlu khawatir dunia ini dan dunia kalian tidak terhubung dengan ruang dan waktu,masa 2 tahun di dunia ini mungkin hanya setara 2 hari di dunia kalian, jadi tak perlu khawatir" King menjawab dengan nada enteng.
"T-tapi kami hanyalah anak SMA,m-mana mungkin kami sanggup melakukan hal di luar nalar seperti mengalahkan raja iblis atau menyelamatkan suatu umat dari kepunahan" Gilang berkata dengan terbata bata, seperti tidak yakin dengan apa yang akan menanti dirinya di depan.
"Kalian akan ku anugerahi sebuah kekuatan, itu akan menjadi modal yang cukup untuk kalian mengalahkan Raja Iblis.Namun tetap,kalian harus mengasah kekuatan itu sehingga menjadi sangat tajam" kata King.
“Kekutan seperti apa yang akan kami dapat?” Tanya Amir.
"Apakah kamu pernah bermain game RPG?"
"Um, pernah"
"Ya sesuatu hal semacam itu"
"Aku masih belum menangkap apapun Dewa King"
"Seperti ketika bermain game, akan lebih mudah mengetahui segala nya ketika langsung mempraktikkan—"
"Jadi, kalian menerima atau tidak? Aku sudah AFK lumayan lama karena kalian" King melanjutkan, tangan nya menggaruk pipi dan entah mengapa ekspresi King saat ini terlihat begitu menyebabalkan di mata Amir.
3......
2......
1......
"Oke! tidak ada yang keluar dari tempat ini. Berarti sudah di putuskan jika kalian menerima kesepakatan!" Sembari kedua tangan nya di letakkan di pinggul, King mengatakan semua itu dengan nada gembira.
"Akan aku ucapkan.Terimakasih! kepada 8 bidakku!Berjuang lah di dunia yang baru ini! kalahkan raja Iblis dan selamatkan Dunia! Hahahahaha! " Ia tertawa terbahak bahak dengan begitu lepas.
[Apakah ini semua akan benar baik baik saja? Kita akan menghadapi sebuah bahaya yang besar bukan? Kita bisa benar benar mati bukan?dan sejak kapan seorang dewa menghabiskan waktu dengan bermain game? ]
Namun, sebelum itu ada hal yang lebih penting.
[Aku, Irza, Gilang, Iqbal,Shela, Kania, Gita, Bella, Nami.Bukankah total kami adalah 9 orang? Namun King baru saja menyebutkan 8 bidak?]
"T-TUNGGU! " Amir berteriak dengan segenap udara di paru paru nya, namun sepertinya semua itu terlambat.
Cahaya dari lantai berpola hexagram itu sudah lebih dulu berhamburan dengan begitu terang hingga menyelimuti Amir dan semua teman nya.Amir bisa melihat teman teman nya mulai menghilang dari hadapan nya, bersamaan dengan pandangan matanya yang mulai tersilaukan oleh cahaya tersebut.