
Apa arti sebuah pemimpin? Orang yang bisa di andalkan, orang yang mampu menginspirasi, orang yang mampu menyatukan tim, lalu apalagi? Banyak definisi yang bisa di sebutkan. Apakah semua orang boleh menjadi pemimpin? hal tersebut yang masih di perdebatkan. Namun ada seorang lelaki yang sepanjang kehidupan sekolah nya di tuntut sebagai pemimpin,namanya adalah Amir. Seorang siswa SMA yang sekarang berumur 17 tahun.
Ada saja skenario yang terjadi mulai di tunjuk oleh guru, pemungutan suara yang di manipulasi,bahkan suatu ketika dia izin ke kamar kecil di awal jam pelajaran dan saat kembali namanya sudah ada di papan sebagai ketua kelas. Sampai ada sebuah julukan bagi dirinya yaitu "Ketua Kelas Seumur Hidup".Jika di mintai pendapat terhadap hal tersebut, maka Amir selalu bersikeras bahwa menjadi anggota dan bawahan adalah yang terbaik. Tidak perlu banyak berpikir, tidak perlu tau segala nya,dan tidak harus tertekan karena tanggung jawab.Menyenangkan sekali,jika ada sesuatu yang di rasa kurang pas ataupun cacat tinggal limpahkan saja kepada ketua, mungkin seperti peribahasa lempar batu sembunyi tangan. Kadang Amir merasa ingin sesekali merealisasikan pribahasa itu di kehidupan nyata.
Hal yang membuat dirinya selalu terjerat oleh tanggung jawab sebagai pemimpin adalah sifat nya yang selalu tidak ingin mengecewakan orang lain,mungkin hal itu akan terdengar heroic.Kenyataan nya orang dengan sifat seperti itu akan mudah di manfaatkan dan di manipulasi,Amir tau akan hal itu. Namun,sebenarnya dia hanya ingin menjadi diri sendiri saja,apabila dia menolak amanah dari seseorang maka malam nya dia akan kesulitan tidur, dan besoknya dia kembali ke orang tersebut dan memohon untuk di bolehkan membantu seperti orang bodoh.
Jadi, daripada harus mengalami hal seperti itu. Mengemban amanah,hidup tertekan,serta terus bekerja seperti kuda sepertinya bukan masalah besar, apa memang benar itu bukan masalah? Bukan kah itu justru terdengar seperti kehidupan seorang budak?Namun kalimat kalimat itulah yang selalu Amir kumandangkan dalam hati nya. Mungkin itu itu sudah menjadi semacam penyemangat bagi dirinya.Intinya semua itu menjadi alasan orang orang selalu membebankan tanggung jawab berat di pundak nya.
Jika di tanya soal penampilan nya, kata kata seperti biasa saja atau standart adalah yang paling pas dengan dirinya. Seorang laki laki dengan tinggi 175 cm, rambutnya acak acak an karena jarang di sisir, matanya berwarna hitam seperti mayoritas kebanyakan orang. Ia menjalani hidup nya begitu lurus bahkan sampai sampai tidak ada yang menarik tentang dirinya, mungkin jika ada tentu saja karena dia selalu menjadi ketua kelas. Tapi,kembali lagi selama ini ia hanya mengisi posisi itu karena di akali dan faktor tidak ada yang mau sehingga semua orang masih mengganggap Amir sebagai orang yang biasa biasa saja.
Seperti biasanya ketika matahari hendak tenggelam, Amir akan menunggu angkutan umum di pinggir jalan dekat dengan gerbang sekolah. Terlalu sore bagi seorang siswa untuk pulang sebenarnya, tapi selalu saja ada hal yang mencegahnya pulang lebih awal. Sehingga hal seperti ini sudah menjadi rutinitas.
"Mir! Belum ada angkutan kota yang melintas ya?"
Seseorang memanggil namanya, itu adalah Irza laki - laki yang memiliki charisma sebagai pria populer nomor satu di sekolah, tinggi nya sekitar 178 cm, bertubuh tegap, Tampan, rupawan, keren dan selalu di puja puja oleh perempuan. Ia memiliki alis yang tebal, dengan rambut bergaya comma berwarna coklat, serta iris matanya berwarna sapphire. Segala hal tentang penampilan nya akan membuat laki manapun iri di tambah dirinya adalah kapten tim basket dan salah satu pria terpintar di sekolah.
"Sabar,aku juga sedang menunggu"
"Tapi,menunggu sampai kapan? "
"Sebentar lagi Za" Amir mendesah
"Yang pasti lah!" Irza menyipitkan mata seperti menyudutkan Amir.
"Kalau aku punya kontak sopir nya di handphone ku,pasti aku sudah menelfon nya sekarang dan akan ku maki maki karena tidak kunjung datang"
Amir memandang wajah Irza dengan ekspresi penuh kekesalan, dan Irza terkekeh setelahnya.
Tak lama tiga orang gadis ikut bergabung dalam penantian untuk menunggu angkutan kota, mereka adalah Shela, Kania, dan Nami, ketiga nya adalah member dari tim dance sekolah yang seperti baru saja selesai latihan.
"Halo, Irza yang ganteng dan juga Amir" Shela menyapa sembari melambaikan tangan.
Wow, ada embel ganteng untuk Irza dan untuk Amir hanya cukup di Amir saja. Oh inikah yang di namakan kesenjangan sosial?rasanya Amir ingin kesal namun jika di pikirkan kembali Amir adalah Amir, tidak istimewa seperti Irza. Jadi lebih baik menerimanya dengan lapang dada.
Memang dari dulu Shela selalu memberikan perlakuan khusus ketika berhadapan dengan Irza bahkan kepada Amir yang menjadi teman sejak kecilnya pun gadis ini tidak pernah menunjukkan perlakuan manis,gadis dengan gaya rambut ekor kembar berwarna pirang ini sepertinya memang menaruh hati kepada Irza, namun sepanjang yang Amir tau. Sepertinya kisah cinta gadis itu masih bertepuk sebelah tangan.
“H-Halo Semuanya” Nami mengikuti, namun gadis itu tidak melambaikan tangan,justru meringkuk setelah mengucapkannya.
Nami adalah gadis blasteran Indonesia dan Jepang, jadi tidak heran ia memiliki nama yang unik. Rambutnya hanya sepanjang bahu, paras nya cantik hanya saja jika dia tidak memiliki sifat pemalu mungkin ia sudah sangat populer di sekolah, hal yang masih membingungkan bagi Amir adalah mengapa ia mengikuti eskul dance bila tidak memiliki keberanian untuk tampil di depan orang?mungkin Nami ingin keluar dari zona nyaman nya.
"Amir dan Irza! Halo! Kalian pasti sudah rindu dengan Kania kan?!" Gadis energetik bernama Kania mengedip kedipkan mata,sembari memamerkan senyuman menggoda dari bibir nya.
Jika melihat Kania, maka yang melekat dari gadis ini adalah energetik dan juga ceria. Seperti nya energi positif di dunia berhasil ia sedot seluruhnya, andai Kania ingin membagikan sedikit kepada Amir, maka mungkin kehidupan Amir akan lebih bersemangat.
"Halo semuanya! dan benar Kania, baru saja Amir menceritakan seberapa rindu nya dia padamu" Irza menanggapi sembari menyikut bahu Amir.
"Eh iya halo! —"
Kata kata Amir tersendat karena di sikut oleh Irza.
Apasih?! Amir sebenarnya ingin mengucapkan itu dengan lantang, namun ia hanya menghela napas. Dan memilih mengikuti skenario yang di buat buat oleh Irza.
"Eh iya benar, Rasanya seperti bertahun tahun tidak ketemu!" Amir membalas dengan nada yang antusias, atau lebih tepatnya di upayakan agar terdengar antusias.
"Eh sungguh? Padahal tadi Kania hanya bercanda loh" Kania merespon itu dengan menggaruk garuk rambutnya sembari tercengir.
"Parah pakek banget,lagi lagi kita gagal lolos seleksi"
"Gapapa, kita kan sudah biasa.lagian retribution mu Indomaret terus jadi kita selalu tertekan"
Seperti hantu, tiba tiba kemunculan doa orang ini tak di sadari dan sekarang mereka sedang berjongkok di atas tanah. Yang barusan mengeluh itu adalah Iqbal dan yang satunya lagi adalah Gilang, mereka adalah anggota eskul E-Sport yang saat ini sedang membicarakan seberapa payah mereka dalam bermain game Mobile Legend.
Iqbal dan Gilang adalah sebuah kombi yang selalu bersama,yang Amir ketahui di game Mobile Legend Iqbal bertugas sebagai Jungler dan Gilang adalah Support-nya. Jadi chemistry mereka seharusnya sudah cukup bagus, tapi entah mengapa ketika waktunya seleksi untuk masuk tim inti. Mereka berdua selalu gagal
"Masa sih? Kan buff ku cuman kecuri sekali,Turtle dua kali, Lord juga dua kali. Lah iya rupanya emang Indomaret"
"Benar Indomaret, tapi ada yang bilang kalo sebenarnya kamu itu Retri Kangkung"
"Siapa yang bilang itu? Lagipula sejak awal arti Retri Indomaret atau Retri Kangkung itu apa sih?"
"Gatau juga, kan aku cuma ikutan"
"Sial"
Akhirnya mereka berdua pun diam melamun meratapi nasib sambil melihat jalan yang lalu lalang akan kendaraan.
"Aduh! Apa sih kak Gita?! "
Gilang meringis kesakitan sembari mengusap usap kepala nya, di belakang Gilang rupa nya ada Gita. Saudara kembar perempuan yang lebih tua dari nya dan Gita baru saja menjitak kepala Gilang.
“Maksudmu apa meninggal kan ku? ”
Tanya Gita dengan nada datar, Gita sendiri memiliki sifat yang keterbalikan dengan Gilang. Jika Gilang lebih condong sebagai orang yang tidak berkompeten sedangkan Gita sendiri memiliki sifat tegas dan berwibawa.
"Aku tadi sudah menunggu lama, kamu rapat osis nya ga selesai selesai,Bahas apa sih? paling juga tidak penting"
"Apa kamu bilang? Coba ulangi?" Gita menatap Gilang dengan tatapan menusuk nusuk seperti pisau.
"Engga kak gajadi, maaf aku salah.Aku akan bertaubat" Kata Gilang yang nyalinya sudah menciut.
Selain Gita rupanya Bella juga ada,mereka adalah anggota OSIS dan sepertinya mereka berdua berjalan bersama kesini setelah rapat selesai. Bella sendiri adalah gadis paling kaya di sekolah,penampilan nya begitu stylist. Bisa di bilang jika Irza adalah raja di sekolah, maka Bella adalah ratu nya. Banyak orang yang menjodohkan mereka berdua tapi hal itu tidak pernah terwujud hingga sekarang.
"Bel, juga nunggu angkutan kota? " Tanya Amir yang penasaran.
"......"
"Um, bel?"
"......"
Di abaikan ya? Amir pun mengurungkan kembali rasa penasaran nya.Bella memang sangat dingin, seperti Es. Jadi sikap seperti ini sudah di antisipasi oleh Amir, jika diam mungkin artinya iya. Karena biasanya Bella akan di jemput langsung oleh supir pribadi nya di dalam sekolah, maka dari itu melihat Bella menunggu di depan gerbang cukup memancing rasa penasaran Amir.
Akhirnya penantian mereka sepertinya akan selesai, sebuah mobil angkutan kota berawarna kuning terlihat dari kejauhan.Semua orang pun melambaikan tangan kecuali Bella, sebagai tanda untuk meminta pak sopir berhenti menghampiri mereka. Tentu saja yang paling bersemangat adalah Kania, namun aneh nya ketika mobil itu semakin mendekat kecepatan nya tidak melambat malah justru semakin cepat, Amir sadar bahwa hal ini tidak beres. Di tambah mobil itu membunyikan klakson yang keras sekali hingga membuat telinga pekik.
"AWAS REM NYA BLONG!!!" Suara teriakan terdengar dari dalam angkutan umum.
"MENGHINDAR!!!" Amir berseru.
Namun di saat semunya merespon untuk berusaha menghindar tiba tiba pandangan mereka di penuhi dengan warna hitam.