Crawling In The New World

Crawling In The New World
Chapter 5 : Hewan Lucu



Amir dapat merasakan sesuatu seperi menampar nampar pipinya, suara yang ia pahami sebagai kepakan hewan unggas juga terdengar di telinga nya.


Karena wajah nya terbenam oleh sesuatu yang tidak ia mengerti, Amir menjadi panik sehingga,ia berusaha menjauhkan itu dari wajah nya dengan kedua tangan.


Kini matanya sudah bisa melihat sekitar dengan jelas tidak seperti tadi yang hanya di penuhi warna putih, rupanya sesuatu itu adalah sesosok mahkluk. Besar nya mungkin setara kucing gemuk, memiliki bulu putih,ada dua pasang sayang di punggung nya, dan mahkluk itu memiliki empat kaki yang mirip dengan kaki seekor anjing. Sesaat Amir kebingungan, jika di hubungkan dengan hewan hewan di dunia aslinya. Mahkluk ini bisa di bilang seperti perpaduan antara anjing, ayam, dan burung. Namun mahkluk ini tidak memiliki kepala,hanya seperti badan saja namun terdapat mata, hidung dan mulut disana. Walaupun mahkluk ini aneh, tapi entah mengapa mahkluk ini memancarkan aura lucu dan menggemaskan.


"MAFUUU!?" Mahkluk itu berseru, kemudian mengepakan sayap nya seperti ingin terbang.


Amir kemudian melepaskan genggaman nya dan membiarkan mahkluk itu pergi.


Sejak tadi,Amir terlalu fokus akan adanya kehadiran mahkluk itu, sehingga tidak sadar bahwa pintu pondok ini sudah benar benar terbuka. Amir dan Gita bisa melihat dengan jelas apa saja yang ada di dalam pondok ini.


Walaupun dari luar pondok ini terlihat menyeramkan bahkan mirip sekali seperti rumah hantu. Namun,di dalam nya terlihat lebih baik, jika tempat ini memang di tinggalkan oleh pemilik nya tapi entah mengapa di dalam nya begitu bersih seperti ada seseorang yang merawat tempat ini secara berkala, di samping itu di dalamnya juga ada banyak perabotan yang saat ini sedang di tutup oleh kain kain putih.


"Mafuuu.. Mafuu... Mafuu.. " mahkluk itu berterbangan sembari menyibak semua kain kain yang menutupi perabotan di dalam nya, Amir memang tidak mengerti perkataan mahkluk itu. Namun, ia memiliki perasaan bahwa mahkluk itu sedengan bersenadung.


"Bukankah dia terlihat seperti sedang menyiapkan tempat ini untuk kita Mir? " Gita bertanya.


"Benar,keliatan nya seperti itu. Bukankah mahkluk itu terlihat sangat lucu Git? " Ujar Amir.


"Memang,aku daritadi sebenarnya ingin mengelus ngelus nya"


"Apa menurut mu dia tidak menggigit?"


"Kurang tau juga ya, tapi kalau di gigit kita tinggal diam mematung saja"


"Um,begitu ya... "


Mungkin yang di maksud Gita adalah ketika diam mematung maka hewan yang menggigit akan melepaskan dengan suka rela, tapi yang Amir tau itu adalah konsep yang di terapkan ketika kita sedang di kejar anjing. Tindakan tiba tiba akan membuat anjing merasa terancam, sehingga lebih baik diam tidak bergerak dan anjing itu lama kelamaan akan pergi untuk meninggalkan. Tentu saja, jika sudah di gigit seharusnya kita melakukan sesuatu untuk melepaskan. Teori diam menjadi patung seharusnya sudah tidak berguna di saat itu. Namun, untuk saat ini Amir memilih tidak mengoreksi persepsi Gita.


Setelan mahkluk itu selesai menyingkir kain kain yang ada disana, Kini Amir dan Gita sudah bisa melihat semua perabotan nya.Ada meja,kursi,karpet, perapian,jam bandul dan beberapa alat masak. Sepertinya ini merupakan sebuah ruang tengah yang terhubung dengan ruang masak juga, di samping itu juga ada 4 ruang kamar disini. Ketika Amir dan Gita sedang sibuk melihat lihat, mahkluk itu kini terbang kembali menuju sebuah tangga. Amir baru sadar bahwa bangunan ini memiliki dua lantai, mereka berdua pun kembali mengikuti Mahkluk itu dan menuju lantai 2,di atas sana juga terdapat 4 ruang kamar yang sama dengan lantai bawah. Ada perabotan juga yang selayaknya ada di kamar tidur.


Ketika terus mengikuti kemanapun mahkluk itu pergi, Amir dan Gita juga menemukan bahwa pondok ini memiliki sebuah halaman belakang. Yang sekaligus menjadi letak kamar mandi yang berjumlah dua kamar dan satu ruangan yang sepertinya gudang, halaman belakang itu cukup luas mungkin seluas lapangan tennis.


Amir dan Gita kemudian memutuskan duduk sebentar di ruang tamu untuk beristirahat sejenak, Mahkluk itu masih saja beterbangan kesana kemari namun aneh nya dia seperti sedang mengayunkan sesuatu, itu adalah sebuah batang kayu yang di sambung dengan ikatan lidi. Seperti sapu, dan mahkluk itu sedang menyapu?


Amir dan Gita hanya bisa saling pandang dengan wajah penuh ke heranan.


"Mahkluk itu bersih bersih kan?" Amir bertanya, seakan tidak percaya atas apa yang telah ia lihat.


Asumsi untuk saat ini adalah, mahkluk ini semacam sosok yang di tugaskan untuk merawat dan menjaga pondok ini. Namun, hal yang membuat amir sedikit sedih adalah. Pondok terkunci dari luar dan yang membuka nya adalah Amir. Bukankah berarti mahkluk itu terkunci di dalam Pondok ini dari luar,berapa lama ia di dalam pondok ini? Bagaimana jika tidak ada orang yang membukakan pondok ini?Apakah mahkluk ini akan sendirian selamanya di dalam? Namun, melihat mahkluk itu sibuk membersihkan pondok sembaru bersenandung dengan mengatakan 'mafuu - mafuu' justru menghibur hati Amir.


"Kalau kamu sudah selesai beristirahat,ayo kita kembali ke teman teman" Ujar Amir.


"Lebih baik sekarang saja Mir" Ucap Gita, yang langsung beranjak dari posisi duduk.


"Hewan lucu, kami tinggal sebentar ya. Nanti kami kembali kok" Gita berpesan kepada mahkluk yang Gita anggap sebagai hewan.


"Mafuuuuu!" Mahkluk itu berbunyi, seperti menyuarakan 'okee!'


Ketika keluar, Amir memutuskan untuk tidak mengunci pintu nya. Mungkin itu adalah hal yang ceroboh, namun hatinya merasa tidak ingin melihat mahkluk itu terkunci untuk sekali lagi.


Akhirnya, Amir dan Gita berjalan untuk kembali ke padang rumput yang menjadi tempat teman-teman nya menunggu.


Dalam perjalanan, Gita sedikit iseng dengan bertanya hal hal terkait yang Amir lakukan. Seperti saat mengapa dia tidak ingin menanyakan langsung saja nilai tukar uang di kota ini? Kemudian mengapa dia berjalan tanpa arah namun seperti tau sedang mencari apa? Dan mengapa tidak langsung menanyakan saja dimana pondok itu ketika bertemu dengan orang pertama kali disini.


"Sebelumnya aku minta maaf tidak membahas soal itu sebelum sampai di kota ini... "


Kemudian Amir menerangkan, bahwa saat mereka mulai meninggalkan padang rumput untuk menuju kota. Amir berusaha berpikir keras akan apa yang harus ia lakukan ketika sampai, mulanya dia benar benar tidak tau harus bagaimana. Namun akhirnya dia berpikir bahwa Amir dan Gita saat ini benar benar seperti orang yang tak tahu arah, jadi jika mengambil kemungkinan terburuk nya. Orang - orang seperti mereka ini adalah sasaran paling empuk bagi orang-orang jahat, entah di tipu, di curi, atau bahkan di serang. Untuk itu Amir berfikir bahwa dia tidak bisa menunjukan sisi lemah seperti itu ketika sampai.Kemudian ia pun menjelaskan mengenai alasan mendatangi stan sama persis seperti yang Gita duga,juga ia menambahkan bahwa ketika sampai pertama kali ke kota ini terlihat para penduduk mayoritas adalah orang dengan ekonomi menengah kebawah, terlihat dengan wajah dan pakaian mereka yang lusuh. Jadi jika ingin mencari informasi pastilah mereka harus memberi uang, dan koin perak rasanya terlalu bernilai besar untuk itu dia harus menukarkan nya lebih dulu.


Dan terakhir soal dia berjalan tanpa arah, sebenarnya dia sedang mencari seorang anak kecil. Mengapa? Jika di tanya siapa orang yang paling mengenal kota. Mungkin salah satunya adalah anak kecil, karena mereka pasti akan suka menjelajah kota ini.Di tambah seperti nya disini tidak ada gadget atau semacamnya nya jadi pasti mereka akan menghabiskan waktu untuk bermain di luar rumah, lalu mengapa harus anak kecil?ada apa dengan orang dewasa? Amir awalnya belum tau fungsi kunci dan kertas bertuliskan 'Pondok Tua Cielo' ini apa, sehingga dia khawatir jika bertanya kepada orang dewasa dan ternyata yang mereka cari adalah sesuatu yang banyak di incar pasti mereka akan langsung di jahati.Apabila anak kecil, seharusnya mereka tidak memiliki sebuah maksud tersembunyi dan belum mengetahui banyak hal yang begitu penting. Tentu saja itu hanya perkiraan Amir, pada akhirnya juga dia mengandalkan keberuntungan. Namun, sepertinya semua berjalan lancar hinggga sekarang.


"Jadi begitu ya,tidak perlu minta maaf kok. Justru akulah yang harusnya mengatakan itu.Sebelum nya aku meminta ikut,namun aku bahkan tidak membantu sama sekali,berfikir seperti kamu pun tidak" Gita berkata sembari menundukan kepala.


"Tidak apa-apa Git, kita semua saat ini sedang kebingungan. Lagi pula berfikir itu seperti semacam hobi bagiku" Ucap Amir menghibur Gita.


Dalam perjalanan kembali Amir dan Gita lakukan sembari berbincang ringan seperti membahas masa masa sekolah yang begitu menyenangkan sebelum ini.Gita juga memberi tahu bahwa di dalam gulungan miliknya dia mendapatkan class sebagai 'Ranger', ketika giliran Gita bertanya mengenai class apa yang Amir dapat, Amir hanya menjawab dengan kata kata seperti 'Punyaku masih belum muncul' sembari menggaruk kepala nya dan tertawa canggung.


Langit sudah gelap,entah sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan dari berangkat hingga kembali,langkah mereka akhir nya mencapai ke sebuah titik yang sudah dekat di area tempat teman- teman nya menunggu.


Dari kejauhan Amir sudah bisa melihat teman- teman nya,namun ada kekhawatiran yang muncul secara tiba tiba ketika melihat itu. Semua teman-teman nya berada dalam kondisi terkapar di atas tanah.


"Git!" Amir berseru sembari memandang wajah Gita dengan penuh makna.


"Iya, ayo Mir!" Ujar Gita yang sudah mengerti maksud Amir untuk segera bergegas menghampiri teman-temannya.