
"997!"
"998!"
"999!"
"1000!"
Nafas Amir menderu-deru, pada malam ini juga ia berhasil menyelesaikan latihannya.
100x Push Up, 100x Sit Up, 100x Squat, 100x Lari mengeleilingi halaman, dan yang terakhir 1000x mengayunkan pedang pendek.
Latihan seperti itu sudah ia mulai dari malam kedua semenjak kedatangan mereka di dunia ini, Amir sudah tidak lagi memikirkan gulungan itu. Ia merasa bahwa berharap pada sesuatu yang tidak jelas merupakan sebuah kesalahan besar.
Maka dari itu ia memutuskan untuk menjadi kuat dengan caranya sendiri, kekecewaan merupakan hal yang wajar tapi tidak berarti selamanya kita harus meratapi nasib. Bagaimana pun juga waktu dua tahun merupakan hal yang harus mereka kejar, jika tetap berhenti di satu titik saja maka Amir merasa tidak akan bisa bisa kembali di dunia asal nya.
Bagi Amir, mungkin dialah satu-satu nya orang yang tidak memiliki sebuah anugerah kekuatan. Tetapi, dia sekarang merupakan bagian dari 8 Bidak Dewa King. Maka ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi sosok yang tidak berguna dan hanya menyusahkan.
Sebelum ini semua orang merasa bingung atas apa langkah yang harus di ambil setelahnya, misi mereka hanya satu mengalahkan Raja Iblis. Namun bagaimana caranya? bukankah dengan sebuah gelar sebagai Raja merupakan tanda bahwa mahkluk itu begitu superior dan kuat? di tambah apakah mereka harus benar-benar mengalahkan mahkluk itu dengan hanya berjumlahkam delapan orang?
Selain adanya Pondok Tua Cielo ini, mereka sama sekali tidak di beri petunjuk oleh Dewa King, maka mau tidak mau Amir dan teman-temannya harus memeras otak mereka dan mencari tau sendiri langkah demi langkah yang ingin mereka lalui.
Selain melakukan sebuah latihan untuk memperkuat fisiknya, Amir juga ingin memperluas pengetahuannya akan dunia ini. Karena pengetahuan juga merupakan salah satu senjata pamungkas dalam medan perang.
Semua orang kecuali Amir akan berlatih di pagi hari untuk membiasakan tubuh mereka, sedangkan Amir akan berkeliling untuk mencari informasi dengan cara membaca buku di perpustakaan kota ataupun menguping pembicaraan orang-orang.
Namun ketika malam hari saat semuanya tertidur Amir akan memulai latihannya.
Ia kini sedang duduk di salah satu tepian halaman sembari menegak air dari dalam labu yang sudah dia persiapkan sebelum memulai latihan.
Bisa di bilang latihan yang Amir lakukan merupakan latihan yang sangat ekstrem, kadang Amir merasa apa yang dia lakukan itu terlalu berlebihan dan mungkin hanya untuk memuaskan gengsi nya. Namun, disisi lain ia merasa bahwa tidak ada cara lain untuk bertambah kuat dengan cepat jika tidak mencoba melebihi batas kemampuannya.
Bentuk latihan ini memang 10x lebih berat daripada latihan yang biasa dia lakukan saat di dunia aslinya, tentu saja pada kala itu ia melakukan latihan hanya untuk kesehatan tubuh semata, namun kini ia melakukan latihan untuk menyiapkan diri melawan sesosok Raja Iblis.
"Eh, belum tidur ternyata?" Ucap Shela dari arah pintu belakang pondok.
"..... " Amir hanya mengangguk dengan nafas yang terengah-engah bahkan ia harus membuka mulut untuk memenuhi oksigen di paru-paru nya.
Kemudian Shela berjalan ke kamar mandi dan kembali untuk waktu yang tidak begitu lama, sepertinya ia baru saja buang air kecil.
"Kamu setiap malam selalu melakukan ini ya? " tanya Shela yang saat ini sudah duduk di samping Amir.
"Yah kalian semua juga melakukan latihan kan setiap pagi, jadi aku merasa harus melakukan nya juga" Jawab Amir yang saat ini sudah bisa mengatur ritme pernafasan nya.
".. bisa melindungi diri di dunia ini" lanjut Shela.
Dari pekataan itu Amir sudah bisa tau kalau Shela tidak memiliki keyakinan yang besar untuk bisa mengalahkan sang Raja Iblis. Hal itu juga yang menjadi salah satu alasan bagi Amir agar menjadi lebih kuat.
"Tidak apa-apa, aku juga ingin bisa melindungi diriku."
"Kalau begitu terserah lah.. tapi ada hal yang aku ingin tanyakan"
"Tanyakan saja. "
"Mengapa kita tidak menemui pihak kerajaan dan mengatakan bahwa kita adalah semacam pahlawan yang di utus oleh dewa untuk menyelamatkan dunia ini? Mungkin saja kita bisa mendapatkan sebuah bantuan atau arahan... yang intinya kita tidak perlu hidup susah seperti ini. "
"Bukankah kita sudah pernah membahas ini? "
"Tapi aku masih saja tidak mengerti, tinggal jelaskan lagi aja loh! " Shela kini memasang wajah cemberut.
"Iya iya... " Amir mulai menjelaskan kembali perihal apa yang di tanyakan oleh Shela.
Mulanya semua orang memikirkan hal itu dan mayoritas setuju untuk mendatangi istana, tetapi Amir memiliki pendapat lain.
Dimana ia merasa bahwa kedatangan mereka di dunia ini tidaklah di ketahui siapapun oleh orang-orang di kota maupun di kerajaan. Terbukti bahwa tidak adanya sebuah acara atau semacamnya yang menjadi bentuk penyambutan atas kehadiran mereka.
Dari situ yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana cara mereka agar bisa meyakinkan pihak kerajaan bahwa mereka adalah sekumpulan pahlawan yang memiliki misi untuk menyelamatkan dunia atau lebih tepat nya mengalahkan Raja Iblis.
Jika memang Dewa King ingin membuat kita bertemu dengan pihak kerjaan dari awal, mengapa ia mentransfer mereka semua di sebuah padang rumput dengan pakaian layaknya petani, memang benar Dewa King memiliki banyak ketidak jelasan pada dirinya.
Tetapi hal yang bisa Amir simpulkan adalah sia-sia untuk pergi ke Istana, karena mereka tidak memiliki bukti yang meyakinkan mengenai posisi mereka sebenarnya. Kemungkinan mereka hanya akan di usir dan yang paling parah bisa saja di hukum, Amir bahkan tidak sanggup memikirkan hukuman seperti apa yang akan di berikan kepada para penyebar berita bohong ke pihak kerajaan.
Untuk alasan yang kedua, ini merupakan alasan yang sedikit berlebihan namun layak di pertimbangan. Bagaimana jika di kota ini ada musuh mereka? dan saat ini teman-teman Amir bisa di bilang belum begitu kuat. Karena semua orang masih berada di Level 1.
Bagaimana jika kita mereka menunjukkan jati diri yang sebenarnya kemudian tidak lama penyerangan terjadi, apakah mereka benar-benar bisa melindungi diri dalam kondisi mereka saat ini?
Maka dari itu sebenarnya Amir tidak menolak rencana mereka, hanya saja lebih baik tidak terburu-buru.
Amir berjanji kepada semua orang bahwa dirinya akan mencari informasi dan mempelajari banyak hal mengenai dunia ini. Lalu, mungkin saja dia bisa menemukan sesuatu yang menguatkan kehadiran mereka, setelah itu baru mereka bisa memutuskan untuk benar-benar mengungkapkan identitas mereka yang sebenarnya atau tidak.
"Tapi kapannn?! " Shela bertanya dengan nada agak tinggi sembari menyipitkan matanya.
Amir mulai menggerakkan tangannya saat Shela menyelesaikan kalimatnya.