
Tangan Amir menyentuh atas kepala Shela dan mulai mengelus - ngelus rambutnya
"Utuk-utuk sabar yah.." Ucap Amir bergurau dengan sedikit tersenyum.
Shela langsung menepis tangan Amir dan memberikan pandangan yang tajam seperti pisau yang menusuk nusuk.
"Jangan sentuh-sentuh aku!" Ucap tegas dari Shela.
"Iya-iya enggak lagi.. " Amir kemudian menurunkan tangan nya dengan sedikit menundukan kepala.
Sesaat ia berfikir apakah dirinya terlalu berlebihan,sehingga membuat Shela menjadi marah?Mungkin bercanda dengan sebuah kontak fisik merupakan hal yang tidak bisa di terima oleh Shela. Amir berusah mengingat-ingat hal itu dan tidak ingin mengulanginya.
"Kamu jangan-jangan masih menyukaiku ya? " Tanya Shela dengan nada penuh curiga.
Amir terkejut bukan main. Darimana tiba-tiba pertanyaan itu muncul?yang ia lakukan sebelum nya hanya sekedar keisengan untuk menghibur Shela semata, mengapa bisa-bisanya di hubungkan dengan hal seperti itu oleh Shela?
Seharusnya itu adalah pertanyaan yang bisa di jawab enteng oleh Amir, tapi entah mengapa ketika mendengar itu rasanya sekarang perut Amir seperti di tinju dengan begitu keras. Seolah pertanyaan itu begitu sensitif untuk dirinya.
Sebuah ingatan membawa dirinya kepada masa lalu, saat Amir masih SMP, saat itu sudah jam pulang sekolah, langit sudah menguning dan angin lembut terasa menyapu kulit, ia berada di area belakang sekolah.
Di hadapannya adalah Shela yang juga mengenakan seragam sama dengan dirinya, namun saat ini rambutnya terurai tidak di kuncir kembar. Karena angin begitu keras menerpa, membuat rambut gadis itu berterbangan.
Amir saat ini membawa sebuah bingkisan yang ia sembunyikan di balik punggung nya dengan kedua tangan.
Amir melangkah dengan cukup pelan menghampiri Shela.
"Ada urusan apa kamu minta kita bertemu disini?" Ucap Shela
"Ada sesuatu yang mau ku bicarakan. " ucap Amir dengan begitu tenang.
"Apa? katakan saja! Apa ini tentang nilai ulangan yang kamu sembunyikan?Tenang saja aku tidak akan memberi tahu Ibumu. "
"Eh?bukan itu. Lagipula ibuku sudah tau.. " Amir menggaruk garuk pipinya.
"Bukan itu." Amir melanjutkan.
"Lalu? "
"Sebenarnya, selama ini aku selalu memperhatikan mu. Bahkan mungkin saat pertama kali kita bertemu di umur 5 tahun, saat kamu pindah di samping rumahku. Kita terus bersama semenjak itu, mulanya aku merasa perasaan ini hanyalah perasaan sayang seperti aku menyayangi ibu dan adikku. Namun, sepertinya bukan seperti itu. Dan perasaan ini terus bertambah besar setiap harinya selama 9 tahun ini, aku menyukaimu dan jadilah kekasihku" Ucap Amir sembari menyudorkan sebuah bingkisan yang telah ia bawa ke Shela.
Shela diam sesaat, ia hanya memandangi bingkisan milik Amir dengan wajah jijik. Tanganya mengambil bingkisan itu dengan cepat lalu melemparnya jauh jauh ke udara.
Saat melihat hal itu,hati Amir rasanya begitu hancur seperti gelas yang telah di lempar, mungkin sebuah penolakan adalah hal yang telah dia persiapkan. Namun, perlakuan seperti melempar bingkisan bukanlah hal yang pernah Amir bayangkan.
Ia melipat bibirnya kedalam mulut, perasaan yang begitu campur aduk menggerayangi hatinya.Amir dengan sekuat tenaga berusaha menahan itu semua dan berusaha agar dirinya tidak mengatakan seusatu saat ini.
"Kau sudah gila?" Kata itu yang pertama kali muncul dari Shela satelah ia melempar bingkisan milik Amir.
"Suka padaku? jangan bercanda. Hanya karena kita berteman sejak kecil bukan berarti aku dapat menyukaimu Mir. Jika ada lelaki dunia ini yang membuatku jatuh cinta, itu pasti bukan dirimu."
"Maaf... " Kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.
Apa memang harus sampai mengeluarkan kata-kata seperti itu ketika kau ingin menolak seseorang? Apa memang kau harus merendahkan lawan mu serendah itu hanya untuk menolak perasaannya?
Andaikan Shela hanya mengatakan 'Maaf Mir, aku tidak bisa menerimanya.' Amir pasti akan segera mundur dan tidak akan mengejarnya lagi. Hanya perkataan seperti itu saja harusnya sudah cukup.
Perasaan kecewa, marah, dan sedih bergejolak pada hatinya. Maka dari itu dia berusaha menahan diri agar tidak meluapkan semuanya sehingga hanya menyisakan kata 'Maaf'.
"Terimakasih sudah membuang waktuku Mir." Ucap Shela dengan begitu dingin.
Ia pun meninggalkan Amir begitu saja, Amir masih diam mematung untuk beberapa saat.
Matanya menyadari bahwa bingkisan yang ia bawa tadi tergeletak di atas tanah, ia pun berjalan ke kesana dan segera mengambilnya.
"Yeah, mungkin aku yang salah.. benar aku yang salah.. sejak awal aku tau akan di tolak. Namun, aku tetap melakukan ini. haha bodohnya aku.. " Ia pun mengambil bingkisan itu dan segera menyimpan nya di dalam tas.
Ingatan tersebut kemudian berubah menjadi kumpulan cahaya putih yang menyilaukan sampai akhirnya Amir kembali pada kesadaran nya.
Di hadapannya saat ini ada Shela dengan rambut yang sudah ia kuncir kembar dan langit yang sudah gelap, benar sekarang sudah 2 tahun setelah kejadian itu.
"Tentu saja tidak. " Amir menjawab itu dengan sebuah senyuman yang memiliki makna.
"Cepat tidur sana, besok kesiangan. Aku malas membangunkanmu" Ucap Amir mengejek.
"Ah dasar cerewet! Aku akan kembali ke kamar kalau begitu" Ucap Shela dengan nada jutek.
Ia kemudian berjalan pergi meninggalkan Amir menuju ke dalam pondok, saat ini dalam pandangan Amir ketika melihat punggung Shela. Matanya seolah sedang melihat sosok gadis itu pada dua tahun yang lalu ketika meninggalkan dirinya setelah kejadian di belakang sekolah.
Ia menghela nafas panjang sembari memandang langit.
"Kenapa hal ini masih mengganggumu Amir! " Ia membentak dirinya sendiri dalam hati.
Shela adalah orang yang begitu akrab dengan dirinya, tidak ada gadis lain yang bisa membuat Amir bisa berbicara begitu santai jika bukan dirinya, Shela merupakan sahabat sekaligus teman kecilnya.
Seharusnya seperti itu, tapi dari dalam lubuk hatinya Shela adalah gadis yang paling Amir benci seumur hidup nya. Tak peduli seberapa keras ia ingin melupakan kejadian itu, tetap saja terkedang ingatan itu menghantui pikirannya.
Setelah kejadian dua tahun yang lalu, Amir benar-benar berusaha menghindari Shela bahkan sampai mereka berdua lulus SMP. Namun sebuah kejadian naas terjadi.
Ayah Shela mengalami kecelakaan lalu lintas sehingga membuatnya berada dalam keadaan kritis. Keluarga Amir ikut membantu menunggui dan rutin menjenguk ayah Shela.
Karena pada dasarnya keluarga Shela berasal dari kota yang ada di pulau yang jauh sehingga mereka tidak memiliki sanak saudara. Maka keluarga Amir benar-benar menjadi orang terdekat mereka.
Sebelum ajal menjemput, Ayah Shela mengatakan sesuatu kepada Amir dan hal itu memaksa Amir untuk membuat sumpah yang begitu ia sesalkan.
"Mir.. Shela adalah anakku satu-satunya, dia ceroboh,tidak mandiri, dan terkadang bertindak semaunya. Kalau aku tidak ada dia pasti akan menghabiskan berhari hari dengan menangis seperti bayi. Selama ini aku begitu menyanyangi dan menjaga nya, dia pasti akan sangat terpukul saat aku meninggalkan nya. Untuk itu tolong ketika aku sudah tidak ada, jaga dia ya Mir. Hanya kamu satu-satunya orang yang bisa ku percaya.. "
Itu menjadi kalimat terakhir yang di ucapkan oleh ayah Shela, dan dua hari setelah nya ketika Amir dan keluarga nya mendatangi rumah sakit. Ayah Shela sudah dinyatakan meninggal.
"Seorang pria harus bisa memegang sumpah nya, bukankah begitu Mir?" Ucap Amir sembari berdiri dan menegakkan kepalanya.