Crawling In The New World

Crawling In The New World
Chapter 9 : Tekad Sudah Dibulatkan



Sebuah melodi tercipta dari tiap petikan senar yang di lakukan oleh Iqbal, nada dan irama nya terdengar berbeda dari sebelumnya. Entah mengapa ketika mendengar alunan musik dari gitar Iqbal saat ini Amir merasa seperti menjadi lebih kuat, dia bahkan seperti memiliki kepercayaan diri untuk bisa menghancurkan sebuah tembok beton dengan sekali pukul.


Tanpa sadar rupanya saat ini tubuh Amir dengan teman-temanya sedang di selimuti cahaya berwana kemerahan.


"Apaan? Ampas gini. Skill nya cuman bikin kalian jadi kayak lampu taman. " Ucap Iqbal dengan rasa kesal.


"Sepertinya ada yang ingin aku coba" Ucap Irza sembari berjalan ke arah gudang.


Ia kemudian kembali dengan membawa sebuah benda yang terlihat seperti boneka manusia dengan cat merah di badanya membentuk pola lingkaran, sesuatu yang mirip dengan sebutan training dummy pada game-game fantasy pada umumnya.


"HIYAA!"


Irza melakukan sebuah tebasan diagonal dengan pedang panjang yang mengarah ke bahu boneka itu, dan luar biasanya boneka itu langsung terbelah menjadi dua.


Setelahnya cahaya kemerahan yang menyelimuti semua orang sekarang sudah menghilang.


"Wow luar biasa! kalian juga mengalami nya kan? perasaan seperti diri kalian sekuat Hulk atau Captain America ketika skill Iqbal aktif. " Ucap Irza dengan perasan takjub.


Semuanya kemudian saling memandangi satu sama lain dan mengatakan hal-hal yang mengungkapkan rasa setuju mereka atas apa yang di nyatakan oleh Irza.


"Mari kita coba lagi. Gilang! bantu aku ambil boneka lainnya di dalam gudang. " ucap Amir.


"Ayuk!" Gilang menyetujui.


Saat ini ada dua training dummy yang di letakkan di halaman secara bersebelahan.


"Hiyaa!"


Sebuah tebasan dengan pola sama kembali Irza lancarkan, kali ini tebasan itu tidak berhasil membelah boneka menjadi dua seperti sebelumnya. Mungkin hanya menembus seperempat bagian dari tubuh boneka tersebut.


"Jadi begitu! berarti 'Melody Of War' adalah sebuah skill yang membuat teman menjadi lebih kuat untuk beberapa waktu." Iqbal sudah bisa memahami.


"Okeh! Irza pinjam pedang panjang mu sebentar. Lagipula nantinya aku adalah Sang Bard Dengan Pedang" Ucap Iqbal.


"Oke tidak masalah, ini!" Ucap Irza menyetujui.


Irza melempar pedang panjang miliknya seperti seseorang yang melemparkan tongkat baseball, tidak terlihat adanya sedikitpun kesusahan saat Irza melakukan itu. Padahal saat Amir berusaha memberikan pedang panjang tersebut kepada Irza, ia memerlukan sebuah usaha keras bahkan sampai menyeretnya saking terasa begitu berat.


"ANJING!" teriak Iqbal saat berhasil menangkap ganggang pedang tersebut.


"Berat banget gila Irza, pakek di lempar pula ngasihnya"


Ketika Iqbal berhasil menangkap ganggang pedang itu, bilahnya langsung menancap ke dalam tanah. Seperti Iqbal tidak sanggup menahan keseluruhan beban dari pedang itu.


"Masa sih? Padahal tadi perasaan biasa aja. Emang agak berat dikit sih.. " Irza membalas sembari menggaruk pipi dengan jari telunjuk.


"Berat dikit apanya Za? ini udah kayak ngangkat Dosa nya Gilang, berat!!" Iqbal masih tidak setuju.


"Heh, kamu jangan suka banyak buat dosa! inget kata Mama!" Ucap Gita sembari menjitak kepala Gilang.


"Enggak kak Git! Demi apapun. Emang mulutnya Iqbal kalo ngomong suka sembarangan, mulut sampah memang! " Gilang mengelus kepala nya sembari meringis menahan sakit.


"Teman-teman,apa mungkin ini ada hubungannya dengan itu?" Ucap Shela dengan pertanyaan yang merujuk ke suatu hal.


"Status?" Amir menjawab.


"Yap, aku setuju. Dan itu membuat Irza memiliki kapabilitas untuk membawa barang-barang yang lebih berat di atas kemampuan kita."


Sedari tadi Amir memang memikirkan nya, ada enam kemampuan yang tertulis di bawah status. Yakni : Strength, Dextery, Constitution, Intelligence, Wisdom, dan Charisma. masing-masing orang memiliki jumlah poin yang berbeda beda.


Karena mekanisme dunia ini mirip sekali dengan dunia game, pastilah ada kemiripan dalam sistem kekuatannya. Seperti pada status, mungkin jika semakin tinggi poin Strength yang di miliki sesorang. Maka orang tersebut akan semakin kuat, maka tidak heran ketika Iqbal tidak sanggup mengangkat pedang panjang itu semudah Irza. Karena mungkin point Strength nya tidak cukup.


"Hoo~ Kania mengerti, kalau kania pasti tidak akan kuat mengangkat pedang itu. Karena disini point Strength kania rendah, tapi gapapa kan kania cewek. " Ucap Kania, lubang hidung nya membesar ketika mengatakan hal itu.


"Jangan bilang seperti itu Kania, aku jadi merasa seperti cowok paling lemah di dunia" Ucap Iqbal memelas.


"Gapapa kok Bal, aku yakin kamu tidak lemah... " Ucap Nami dengan nada yang lirih.


"Uh, aku tidak mendengar dengan jelas. Tapi itu kata-kata penyemangat kan Nami? Okeh! tidak ada rotan maka akar pun jadi!"


Iqbal kemudian menggeletekan pedang panjang itu begitu saja di atas tanah dan mengambil sebuah pedang pendek, ia terlihat lebih mudah ketika membawanya. Berbeda dengan sebelumnya.


"Oke mari kita lakukan lagi..Melody of War! " Iqbal meneriakan nama skill nya sembari mengayunkan pedang secara vertikal.


Namun, tidak terjadi apa-apa setelahnya.


"Kubilang, ucapkan dalam hati. " Bella mengingatkan dengan ekspresi dingin.


"Uh, iya benar.. "


Kini Iqbal terlihat lebih berkonsentrasi dari sebelumnya, ia mencoba memastikan genggaman tangan nya sudah pas pada ganggang pedang itu.


Dan sekali lagi, Iqbal melayangkan sebuah tebasan.


Masih tidak terjadi apa-apa.


"Pedang nya rusak kayaknya. " Ucap Iqbal dengan rasa bingung.


"Seharusnya tidak ada masalah dengan pedang itu Bal.." Amir mulai menjelaskan. "Sepertinya Class—Senjata—Skill—Status, itu saling berhubungan. Skill mu merupakan skill yang di miliki oleh seorang Bard, maka, mungkin untuk mengaktifkan nya kau harus menggunakan senjata yang cocok dengan seorang Bard. "


Tentu saja itu hanyalah dugaan, Amir masih memikirkan sebuah kemungkinan bahwa ada Skill yang tidak harus di aktifkan melalui media senjata. Tetapi untuk 'Melody Of War' sendiri, saat di praktekan oleh Iqbal. Berhasil ketika ia menggunakan gitarnya, dan sebuah Instrumen unik tercipta ketika Iqbal menggunakan skill itu.


"Sial sial sial sial! jadi aku benar-benar menjadi support, huh? " Iqbal dengan kesal membanting pedang pendek itu ke tanah.


"Apa support itu buruk? bukankah Cleric juga bertugas sebagai pendukung? " Ucap Nami dengan menundukkan kepala.


"Bukan, maksudku bukan begitu Nami! Tidak! Support adalah yang terbaik, sial! aku senang sekali menjadi Support! Ayo kita berdua menjadi support terbaik di dunia ini,Nami!" Ucap Iqbal dengan semangat berkobar-kobar.


Tentu saja semua orang tau bahwa Iqbal hanya berpura-pura mengatakan hal itu, sebenarnya di dalam hatinya ia sangat kecewa. Amir tersenyum saat melihat tingkah Iqbal, walau Iqbal adalah lelaki yang suka mengeluh. Tetapi dia juga bisa melindungi perasaan perempuan.


Hari ini mmenjadi sebuah permulaan bagi Amir dan teman-temannya, semua orang pada akhirnya sudah bisa mengaktifkan skill mereka masing masing dan mengetahui senjata yang cocok untuk mereka.


Amir masih tetap, dirinya menjadi satu satu nya yang tidak memiliki kesempatan seperti yang lainnya. Sepanjang hari Amir hanya akan memberikan saran dan ide ketika teman-temannya kesulitan membiasakan diri pada kekuatan baru mereka.


Ia mengangkat kepalnya ke atas, dengan tekad yang sudah ia bulatkan.


"Aku berjanji tidak akan menjadi beban untuk kalian. " Ucap Amir dalam hati.