
Kota Durandal, itulah yang tertulis di gapura besar yang menjadi pintu masuk ke kota ini. Gaya arsitektur pada bangunan-bangunan yang di tunjukan begitu klasik,dan benar seperti dugaan Amir.Sebagian besar bangunan di buat dengan material batu namun ada juga yang terbuat dari kayu berberapa juga menjadi kombinasi akan keduanya.
Orang orang yang Amir dan Gita lihat di sepanjang jalan ketika menyusuri kota mengenakan pakaian yang kurang lebih sama dengan mereka,sepertinya waktu saat ini menunjukkan sore hari. Terlihat dari langit yang kini sudah berwarna oranye, ketika sampai di perempatan Amir dapat melihat stan stan dengan beratapan tenda masih buka untuk berbisnis. Semuanya berdiri di tepi jalan setapak, suasananya untuk saat ini tidak terlalu ramai. Apakah mungkin karena sudah sore hari? Amir bertanya dalam kepala nya.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan Mir?" Gita bertanya sembari memiringkan kepala.
Sejak awal tujuan mereka berdua ke Kota ini tidak lain adalah untuk mencari seseorang yang bisa membantu masalah mereka, siapapun itu yang sekiranya menjanjikan. Namun standar dari menjanjikan itu seperti apa? Bagaimana membedakan orang yang baik dan jahat saat ini? Dari pakaian nya? Wajah nya? Atau apa? Karena saat ini mereka benar bener berada di sebuah Dunia lain yang sangat mirip dengan Dunia Fantasy dalam game,film, komik, dan sejenisnya. Apakah menggunakan pengetahuan umum dari itu semua sah-sah saja untuk saat ini? Tidak! Kita tidak boleh bertindak naif,jangan sampai melakukan kesalahan konyol ketika baru saja memulai start.
"Apa mungkin lebih baik kita tanya orang sekitar tentang Pondok Tua Cielo?" Gita memberikan usul dengan ragu ragu.
"Tunggu Git,sebelum itu,ayo! kita ke salah satu stan yang ada disini" Ujar Amir.
Langkah Amir pun menuntun Gita ke salah satu stan, stan itu memiliki pondasi yang paling rapuh di antara stan lain dan sudah reot. Tenda nya pun terlihat banyak bolong dimana mama, selain itu stan tersebut menjadi satu satu nya yang tidak memiliki papan harga. Bisa di lihat bahwa stan itu menjual berbagai jenis buah dan sayuran.
"Aku beli satu apel" Amir berucap sembari meletakkan satu koin perak di atas meja stan itu.
"Huh?! Kau sudah gila ya!" Disana sosok pria tua berbadan kurus dengan gigi ompong terlihat terkejut dan agaknya marah karena Amir.
"Aku mana mungkin punya kembalian jika kau hanya membeli satu apel, setidaknya belilah satu karung! kalau ingin membayar dengan satu perak" Sang pria tua penjaga stan berdecak kesal.
"Oh ya?! Masa tidak ada?"
"Harga satu apel ini hanya 3 koin perunggu,jika kau membayar nya dengan 1 Koin perak maka aku harus memberi kembalian sebanyak 97 koin perunggu, bahkan sampai saat ini saja aku baru menghasilkan 45 koin perunggu.Jadi lupakan saja jika kau hanya ingin membeli 1 Apel." Sang penjaga stan menjelaskan dengan nada malas sembari pipinya ia topang dengan tangan di atas meja.
"Kalau begitu,maaf sudah mengganggu, kami akan pergi." Amir membalas dengan nada yang sesopan mungkin.
Gita pun hanya bisa memandang bingung tentang hal yang baru saja Amir lakukan, apakah Amir sedang lapar? Sebenarnya Gita tidak mempermasalahkan jika Amir ingin mengisi perutnya. Hanya saja,Amir sedari tadi tidak mengeluhkan akan hal itu.Jadi,yang Gita pahami satu satunya tujuan ke kota ini adalah untuk mencari bantuan atau setidaknya menemukan petunjuk mengenai Pondok Tua Cielo.
"Seharusnya ada.. " Amir berbisik, dan kata kata itu bahkan tidak bisa di dengar oleh Gita.
Matanya melihat kesana kemari dengan liar, seperti dirinya sedang mencari sesuatu atau mungkin seseorang?
"Ayo Git kesana!" Tiba tiba Amir berseru sembari menunjuk ke arah sebuah jembatan yang berada setelah belokan ke kiri dari perempatan.
"Uh,mengapa?!" Gita menjawab dengan penuh kebingungan.
Tanpa menjawabnya Amir pun langsung bergegas untuk pergi menuju tempat yang ia maksudkan.
Rupanya yang Amir maksud bukanlah jembatan itu, melainkan sesosok orang yang sedang duduk di tepi jembatan. Ia terlihat seperti pria paruh baya dengan kumis dan jenggot tebal, dengan sebuah papan kecil terlihat di samping nya yang bertuliskan 'Jasa Penukaran Uang'
"Aku mau menukar nya dengan koin perunggu" Ucap Amir sembari meletakkan satu koin perak di atas meja,atau mungkin tepat nya sebuah kotak kayu yang di gunakan layaknya meja oleh sang pemilik usaha.
Sesaat, si pria paruh baya memandangi wajah Amir dan Gita secara bergantian dengan seksama, walau berusaha menahannya namun Amir bisa tau bahwa pria itu sedang tersenyum.
"Baiklah 1 koin perak,dengan kurs mata uang saat ini maka di tukar dengan 50 koin perunggu. Oh ya, untuk biaya jasa nya adalah 2 koin perunggu. Jadi yang kamu dapat adalah 48 koin perunggu" Ucap Pria itu dengan begitu sopan dan terdengar meyakinkan.
Amir kemudian menghantam kotak kayu itu, tidak! Dia lebih tepat nya bertujuan untuk menutupi koin perak itu dengan tangan nya.
"Tolong jangan menipu kami,kurs saat ini harusnya 1 perak setara dengan 100 perunggu" Ucap Amir dengan tegas.
"Tcih, kau sudah tau ya?Ku lihat wajah kalian sangat bersih, tidak seperti penuduk sekitar. Ku kira kalian pendatang" Ucap pria itu dengan kesal.
"Walaupun kami pendatang, lebih baik jangan berbuat curang. Tolong, tukar ini dengan nilai yang semestinya dan mungkin aku akan menjadi pelanggan tetap mu"
"Baiklah, tapi biaya jasa nya memang 2 koin perunggu tiap kelipatan 1 koin perak.kau tidak mempermasalahkan itu kan? "
"Ya tidak apa apa"
Akhirnya mereka berdua menemukan kesepakatan.
Gita akhirnya mengerti maksud Amir. Amir mendatangi salah satu stan memang bukan ingin membeli sesuatu.Namun bertujuan untuk mengetahui nilai tukar uang di kota ini, sepertinya Amir sudah mengetahui bahwa ada kemungkinan dia di curangi oleh oknum nakal. Untuk itu juga Amir memilih stan yang tidak memiliki plat harga sehingga sang penjual mau tidak mau menjelaskan mengenai transaksi itu dengan detail. Tapi untuk apa menukar uang? Bukankah harusnya mereka saat ini mencari pertolongan atau pondok itu?
Kini kantong milik Amir berisi 4 koin perak dan 98 koin perunggu,setelah itu Amir masih saja menuntun Gita ke sebuah arah. Namun Amir seolah tidak tau dan tau secara bersamaan kemana dia pergi, Gita yang kebingungan akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Kenapa kamu harus menukar uang,Mir?dan mau kemana kita?" Tanya Gita.
"Mulanya ini cuman perasaanku saja,dimana jika hanya membawa koin perak itu sangat tidak praktis. Jadi lebih baik menukarkan sedini mungkin, sehingga kita bisa menggunakan uang kita untuk hal yang penting, seperti saat ini!" Amir menghentikan langkah nya secara tiba-tiba.Sehingga,membuat tubuh Gita secara tidak sengaja menabrak bahu nya.Bahkan Amir tidak sempat menjawab pertanyaan kedua Gita atau bisa jadi memang pertanyaan itu tidak perlu di jawab.
Di hadapan mereka terlihat dua bocah yang mungkin berumur 13-14 tahun sedang bermain bola, yang satu mengenakan topi dan yang satunya lagi memiliki rambut kribo dan berkulit coklat.
Kedua bocah itu kemudian langsung berlari menghampiri nya.
"Ada apa kak?" Bocah berambut kribo bertanya.
"Apakah kalian mengetahui sebuah bangunan yang memiliki nama Pondok Tua Cielo?" Amir bertanya dengan nada yang lembut dan bersahabat.
Sesaat kedua bocah itu saling tukar pandang, dan kemudian berbisik, sama samar Amir dapat mendengar suara seperti.
'Bukankah itu pondok berhantu yang mereka cari?'
'Seperti nya benar'
Padangan mereka akhirnya kembali ke pada Amir dan Gita.
"Hmm, aku tau tapi bisa juga tidak tau. Semuanya tergantung" Bocah Kribo berkata sembari melipat tangan di dada dan menutup salah satu matanya.
"Iya iya,akan ada imbalan nya kok.Tolong sekalian antar kami ya" Amir merayu sembari tersenyum ramah.
"Stela, kamu tunggu disini saja. Aku tidak akan lama kok" Ucap bocah kribo ke pada teman nya.
Sesaat Amir sedikit terkejut, dia mengira bocah bertopi itu adalah laki laki. Namun baru saja si bocah kribo itu memanggil namanya yang terdengar sangat feminim, namun pada akhirnya semua itu tidak terlalu penting.
Akhirnya kini yang memimpin jalan adalah bocah kribo itu, dan Amir serta Gita mengekorinya di belakang.
"Namamu siapa dik kalo boleh tau?" Amir bertanya.
"Namaku Marco" Marco menjawab dengan cuek.
Setelah melewati beberapa belokan,Amir dan Gita akhirnya tiba di depan sebuah bangunan tua.Banyak lumut yang tumbuh di dinding serta tumbuhan rambat yang mengerubungi bangunan itu, namun disisi lain bangunan nya masih terlihat kokoh. Mungkin karena terbuat dari material batu, dan kayu hanya di gunakan sebagai kerangka nya saja.
"Itu tempat nya!" Ucap Marco sembari menunjuk bangunan itu.
"Tugasku sudah selesai, sekarang berikan uang nya!"
"Sebentar,ada yang harus kami pastikan terlebih dahulu.Setelah nya akan aku berikan" Amir berusaha memberi pengertian.
"Uh, yasudah cepat"
Akhirnya Amir berjalan lebih dulu, di belakang nya adalah Gita kemudian Marco. Kali ini Marco menunjukkan gestur ketakutan layaknya seorang anak kecil bahkan dia mencengkram baju Gita dari belakang.
Ketika sudah di depan pintu, Amir mengambil kunci dari Gita kemudian memasukan itu pada lubang pintu. Dan...kunci itu masuk tanpa sedikit pun masalah.
*Klek!
Ciri khas suara ketika sebuah kunci berhasil membuka pintu terdengar.
"Huwaa!" Marco meloncat takut.
"B-bisakah kalian c-cepat memberikan uang nya?" imbuh Marco, kali ini tubuh Marco terlihat bergetar hebat karena ketakutan.
Melihat tingkah Marco membuat Amir menjadi sedikit paranoid. Namun, pondok ini menjadi satu-satu nya petunjuk yang mereka miliki dan di tinggalkan langsung oleh Dewa King. Jadi,apapun alasan di balik ketakutan Marco akan bangunan ini. Amir,harus tidak memperdulikannya. Setidaknya,sampai ia tau apa yang ada di dalam pondok ini.
"Ini cukup kan?" Amir mengambil 1 koin perunggu, dan meletakkan nya di tangan Marco.
Sesaat Marco memandangi itu dengan ekspresi tidak terima, namun pada akhir nya ia mengambil koin itu dan lari sekencang mungkin meninggalkan Amir dan Gita.
"Kita masuk ya Git" Ucap Amir dengan ekspresi ragu ragu saat menatap mata Gita.
Gita pun membalas itu dengan anggukan yang mantap.
Ketika pintu terbuka,
tiba-tiba...
"MAFUUU!MAFUU! "
Sesuatu seperti menibarak wajah Amir. Sesuatu yang lembut, kenyal,berbulu, dan mengeluarkan suara seperti 'mafuu!'?