
Raja Iblis Azaroth itulah nama sosok yang akan bangkit dalam kurun waktu kurang dari dua tahun lagi.
Pada masa lampau saat peperangan panas masih terjadi. Raja Iblis menciptakan pengikutnya yang di sebut sebagai monster, semenjak Raja Iblis telah berhasil di segel. Para monster tersebar dan menidami berbagai wilayah yang berbeda.
Terkadang penyerangan kecil masih sering terjadi yang dilakukan oleh para monster, namun karena tidak adanya Raja Iblis. penyerangan mereka tidaklah se berbahaya dulu namun tetap saja hal itu masih menciptakan sebuah kerugian.
Maka dari itu orang-orang di dunia ini terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi populasi para monster.
Sehingga di Kota Durandal sendiri di bentuk dua pasukan, yang pertama Pasukan Resmi dan Pasukan Petualang.
Pasukan Resmi, mereka adalah pasukan yang bergerak di bawah perintah kerajaan dan lebih terorganisir. Biasanya diisi oleh orang-orang berpengalaman dan harus melalui serangkaian regulasi.
Tugas Pasukan Resmi adalah menjaga kota dan melakukan sebuah serangan besar apabila di perlukan atas perintah Raja.
Penyerangan yang dilakukan oleh Pasukan Resmi biasanya membutuhkan biaya yang banyak, seperti memenuhi kebutuhan logistik atau perlengkapan perang. Jadi,penyerangan yang di lakukan oleh Pasukan Resmi jarang sekali dilakukan.
Untuk itu ada Pasukan Petualang, mereka memiliki tugas untuk menjelajah wilayah monster dan menghabisi mereka. Pasukan Petualang ini tidaklah resmi bisa di bilang mereka adalah Pasukan Sukarela juga.
Penghasilan mereka bukan di berikan oleh pemerintah kota, melainkan dengan cara menjual barang yang mereka dapat dari hasil peruburuan monster.
Oleh karena itu semua orang bisa menjadi Pasukan Petualang tanpa harus melewati sebuah regulasi. Selama dirimu memburu monster kamu sudah di anggap sebagai Pasukan Petualang.
Juga, pergerakan dari Pasukan Petualang ini lebih banyak dilakukan secara independen. Jadi mereka bergerak sesuai kemauan tidak ada arahan ataupun intruksi dari Kerajaan.
Pasukan Petualang biasanya akan membentuk sebuah kelompok sesuai dengan kenyamanan mereka, dan terus bergerak terpisah dari kelompok lain.
Itu adalah satu di antara informasi lain yang Amir dapatkan selama satu minggu hidup di Kota Durandal.
Setelah menghabiskan waktu selama satu Minggu hanya untuk berlatih, Amir dan teman-temannya memutuskan untuk mengambil langkah berani dalam memulai perjalanan mereka sebagai Pasukan Petualang.
Dari apa yang Amir pelajari, monster dengan tingkat kesulitan terendah untuk di tangani itu bernama Imp.
Imp adalah monster, dengan wujud humanoid, memiliki kepala botak yang bertanduk, berekor,memiliki tinggi setara anak kecil dengan hidung dan telinga yang runcing serta bisa melakukan beberapa sihir. Imp sendiri menghuni Hutan Geeylig
"Apa kau tidak gugup Lang?" Tanya Iqbal sembari memegang erat gitarnya.
Saat ini Amir dan teman-temannya sedang melakukan perjalanan untuk menuju Hutan Geeylig. Mereka bangun pukul delapan pagi dan setelah bersiap-siap kemudian berangkat pada pukul sepuluh pagi.
Dalam perjalanan ini mereka di tuntun oleh Amir, Amir sendiri sebenarnya juga baru pertama kali menuju Hutan Geeylig, Namun karena dirinya yang membawa informasi terkait hal itu maka teman-temannya mempercayakan Amir dalam urusan navigasi.
Dengan berbekal dari informasi yang ia dapatkan dan sebuah peta yang dia beli, Amir berhasil membawa teman-temannya pada jalur yang benar.
Menurut Amir perjalanan dari Kota ke Hutan Geeylig membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam. Saat ini mereka semua sudah menempuh perjalanan selama satu jam, maka kurang setengah jam lagi mereka semua sampai.
"Buat apa takut Bal? Dari yang Amir bilang monster Imp itu perawakannya sama seperti tuyul! iya benar tuyul! Ya kan Mir!? " Ucap Gilang dengan meninggikan suaranya.
"Dari segi penampilan mungkin mirip, tapi jangan terlalu sombong. Karena mereka bisa melakukan sihir ber-elemen api, jadi jika kita lengah maka mungkin saja mereka berhasil memanggang kita semua" Jawab Amir sembari tetap memerhatikan jalan dan sesekali melihat ke arah peta yang dia bawa.
"Jangan sampai lupa ini perburuan pertama kita." Ucap Bella dengan sinis.
"Kau percaya diri karena membawa belati, bagaimana denganku?" Iqbal tidak terima. "Jika dalam suasana genting, apa aku harus memetik senarku dengan lebih cepat, huh? "
"Wah pasti dengan begitu monster yang menyerang mu akan memilih untuk menari, dan dia akan kelelahan lalu tidur. Sehingga tidak jadi meyerang mu Iqbal.. " Kania berkata dengan nada yang ceria sembari memeluk tongkat nya.
"Sepertinya tidak seperti itu konsepnya Kania.. " Iqbal menghela nafas.
"Eh? bukankah semua orang suka musik?"
"Benar, tapi bahkan dalam dunia asli kita tidak pernah ada kasus seorang pembunuh yang gagal melakukan aksinya gegara mendengar music lalu asik berjoged. "
"Benar juga! Terus bagaimana dong nasibmu nanti? "
"Aku juga sedang memikirkan nya..."
"Sebenarnya apa yang di katakan Gilang tidak salah, kita tak perlu pesimis. Sekarang kita ber-sembilan, maka dari itu kita harus saling bekerjasama, Gitarmu juga masih bisa di gunakan sebagai senjata tumpul jika mendesak, dan aku juga akan menjadi perisai kedua kalian setelah Irza" Ucap Amir sembari menoleh ke arah teman-temanya yang ada di belakang.
"Sebenarnya, aku juga masih ragu Mir. Apa kau yakin mengambil peran ini? " Irza bertanya dengan serius.
"Aku juga, bukan aku tidak mempercayai mu Mir. Namun, aku khawatir dengan keselamatan mu. Bagaimanapun juga kamu masih manusia normal" Ucap Gita.
Gita mungkin memilih kalimat 'Manusia Normal' untuk memperhalus maknya nya, sebenarnya yang ingin dia katakan bahwa Amir satu-satunya orang yang tidak memiliki kekuatan.
Beberapa hari sebelum nya mereka semua berdiskusi dan membahas peran yang sesuai dengan Class yang tersedia di antara mereka.
Setelah di amati,di antara mereka kebanyakan adalah Class yang berada di garisan belakang. Gita sebagai Ranger, Kania sebagai Druid, Shela sebagai Wizard, Nami sebagai Cleric, Bella sebagai Warloc, dan Iqbal sebagai Bard.
Menyisakan Irza yang memiliki Class Warrior, dan Gilang Class Rogue. Tetapi Gilang sendiri tidak cocok berperan sebagai perisai, karena dari gaya bertarung Rogue yang licik dimana ia akan berusaha mencari kesempatan untuk menyerang lawan dari belakang.
Maka dari itu perlu adanya sosok yang menjadi perisai kedua, seandainya lawan yang di temui melebihi kemampuan Irza untuk menahan mereka.
Karena Amir sendiri tidak memiliki Class, maka dia bisa di bilang fleksibel. Dia bisa mengisi Class apapun selama Class itu tidak menggunakan sihir sebagai skill nya, tentu saja dalam catatan Amir tidak akan bisa menggunakan skill apapun.
Maka Amir pun menawarkan dirinya untuk mengisi kelas yang sama seperti Irza yakni Fighter, bedanya jika Irza menggunakan pedang panjang. Amir menggunakan pedang pendek dan sebuah perisai kecil.
Walau tidak memiliki Skill, Amir berpikiran bahwa setidaknya dengan sebuah perisai dan kecerdikan ia bisa menghadang lawan. Untuk menghabisi Amir bisa mempercayakan itu ke teman-temannya yang lain.
"Tidak apa-apa, aku yakin kalian pasti akan membantuku di situasi genting" Amir tersenyum untuk meyakinkan teman-temannya.
Akhirnya langkah mereka sampai di ujung jalan, dimana beberapa langkah lagi mereka akan memasuki Hutan Geeylig.
Hutan ini di penuhi sebuah kabut tipis, dengan banyak pohon yang sudah tidak memiliki daun, dari luar hutan ini terlihat begitu gelap. Suasana mencekam dan menyeramkan begitu tergambarkan kepada Hutan ini.
Amir menoleh kebelakang untuk menganggukan kepala, memberikan tanda bahwa dirinya siap masuk ke hutan ini.
Sesaat masing-masing dari mereka saling bertukar pandang dan akhirnya juga mengangguk.
Amir dan teman-temannya pun mulai menjelajah ke dalam Hutan Geeylig.