
Di sekeliling mereka adalah hamparan padang rumput.Beberapa kambing liar sedang sibuk mengunyah rerumputan,matahari mulai mengarah ke barat.Hal itulah yang yang menjadi pemandangan pertama di mata Amir, hamburan cahaya dari hexagram itu sepertinya merupakan metode untuk memindahkan jiwa Amir dan teman teman nya ke dunia ini. Dunia yang di maksudkan oleh King, Dunia yang kelak akan hancur dalam waktu 2 tahun. Dengan mereka, sekumpulan anak SMA yang kelak menjadi penyelamat dunia ini,setidaknya itulah yang di katakan oleh King.
Beberapa menit waktu telah terlewat, namun mereka masih seperti orang linglung.Ada yang memandang awan, melihat para kawanan kambing,dan mencabuti rumput lalu melemparnya ke angkasa. Semua orang masih tidak menyangka bahwa ini adalah kenyataan.Pakaian mereka kini sudah berubah yang entah bagaimana caranya.Dianatara mereka semua tidak ada yang membahas soal itu,terlihat semuanya mengenakan pakian yang terbuat dari kain lusuh,lebih seperti pakaian para petani di abad pertengahan di negara-negara Eropa.Juga, dari arah utara mereka bisa melihat bentukan bangunan bangunan yang saling berdempet, walau tidak jelas namun seperti nya kebanyakan bangunan-bangunan itu terbuat dari material batu. Susunan dan tata letak nya mirip dengan sebuah kota namun yang menarik perhatian terlihat sebuah bangunan yang mirip dengan Kastil brdiri menjulang tinggi di antara bangunan lain.
"Coba cari sesuatu seperti kantong di pakaian kalian" Iqbal berkata, tanganya sibukk merogoh sesuatu dari kantong yang tergantung di sekitar lingkar celana nya.
Itu adalah koin, lebih tepat nya koin perak. Koin-koin itu jumlahnya ada lima, dan rupanya masing masing orang juga memiliki nya dengan jumlah yang sama.
Namun untuk apa koin koin itu? Dalam sejarah masa lalu di jelaskan bahwa manusia menggunakan perunggu, perak, dan emas sebagai alat tukar. Orang orang kini menghubungkan nya dengan hal tersebut, mungkin memang benar koin perak itu di berikan oleh mereka sebagai perbekalan untuk bertahan hidup.
Jika memang benar itu adalah uang mereka untuk saat ini, sebanyak apa 5 koin perak itu? Berapa lama mereka bisa bertahan hidup sebelum benar benar bangkrut?Saat ini Amir dan teman temannya tidak memiliki petunjuk apapun, bagaimana pun juga semua ini terjadi dengan begitu tiba tiba.Mereka seperti tenaga kerja yang di paksa pergi ke luar negeri namun tidak di beri pelatihan sedikit pun.
"Juga ada sebuah gulungan" Kali ini Irza yang menyadarkan mereka.
Di sisi lain, terdapat wadah tabung terbuat dari kayu yang di dalam nya ada gulungan yang terbuat dari kulit.
Irza lah orang pertama yang membuka gulungan itu, ketika di bentangkan yang ia lihat hanyalah lembaran kosong, ia bingung untuk sesaat. Namun kebingungan itu menjadi jadi, ketika lembaran yang awalnya kosong itu mulai mengobarkan api kecil di beberapa titik yang menyebabkan bercak gosong dimana mana, namun bercak bercak itu membentuk huruf huruf yang terangkai menjadi sebuah tulisan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Name : Irza
Level : 1
Class : Fighter
Skill Point : 5
[Status]
Strength : 16
Dextery : 11
Constitution : 15
Intelligence : 9
Wisdom : 14
Charisma : 13
[Skill] [Cost]
1.Heavy Slash 1 SP
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Coba liat, bukankah ini mirip seperti semacam status di game RPG pada umum nya?" Irza memiringkan kepala nya, dan para lelaki mengerubungi dirinya untuk melihat apa yang tertulis di gulungan itu
"Benar!Dewa itu juga mengatakan bahwa kekuatan kita berhubungan dengan sebuah game RPG kan? " Gilang berseru.
"Ew, aku menjadi seorang Bard" Iqbal menjauhkan Wajah nya dari gulungan miliknya sembari memasang ekspresi jijik.
"Lang,cepat buka punyamu!" Masih dengan wajah yang jijik Iqbal menyenggol Gilang untuk mendesak nya.
"Sabar—wah! Aku menjadi Rogue! Bukankah itu semacam petarung yang menggunakan belati ganda? Gila pasti keren sekali aku! " Mata Gilang berbinar binar, dia mengucapkan itu sembari membayangkan adegan adegan di film aksi yang nantinya mungkin akan dia praktekan.
"Sial! Kenapa aku dapat Bard, bukankah ini seperti role Support? Tidak! Menjadi babu di dunia lain. Memikirkan nya saja sudah membuatku kesal"
"Mungkin ini yang namanya tukar nasib,di Mobile Legends kau menjadi Jungler dan aku Support nya. Kini semua nya berbalik, sekarang rasakan penderitaan ku! "
"Memangya apa kesulitan menjadi Support?"
"Tidak ada sih,sebenarnya lebih ke arah kesal ketika Jungler nya bego seperti kamu"
"Ah, jadi begitu ya karena aku bego dan tidak berbakat untuk mengisi peran sebagai role penyerang. Maka dari itu aku menjadi Bard, masuk akal. Hah?! Apanya yang masuk akal!? Sialan kau Gilang, mengataiku bego!"
"Sudah- sudah,jangan bertengkar di saat seperti ini"
Irza menengahi, akhirnya Iqbal dan Gilang tidak berisik untuk sementara waktu.
"Benar juga,bagaimana dengan mu Mir,apa yang kamu dapat?" Irza bertanya kepada Amir yang dari tadi sibuk membolak balikan gulungan yang sudah ia bentangkan.
"Tidak muncul... " Amir berbisik.
"Huh? Bagaimana bisa?apa mungkin punyamu rusak? " Irza berucap dan tanpa aba aba ia merebut gulungan milik Amir dari tangan nya.
Dan ketika gulungan itu berpindah tangan, tulisan tulisan yang menerangkan status milik nya muncul. Irza hanya bisa diam dengan rasa heran ketika melihat hal itu.
"Coba Mir pakai punyaku!" Irza menyerah kan gulungan yang menjadi milik nya kepada Amir.
Dan lagi lagi ketika giliran Amir yang membuka nya, gulungan itu tidak memperlihatkan apapun. Apa maksudnya ini? Apa memang tidak semua orang langsung mendapatkan status nya? Mungkin harus menunggu selama beberapa jam atau mungkin bebrapa hari sampai status kita muncul, namun bagaimana jika tidak muncul sama sekali? Amir sedikit bergidik takut ketika memikirkan nya.
Gulungan itu sepertinya menunjukkan sesuatu mengenai kekuatan mereka, namun apa jadinya ketika dalam gulungan itu tidak menunjukan apapun?Apakah itu berarti Amir tidak memiliki kekuatan? Bukankah itu membuat Amir hanya akan menjadi beban untuk teman teman nya.
Kekhawatiran itu menjadi jadi, namun sekarang semua orang pasti sedang kebingungan.Jadi, untuk saat ini Amir lebih memilih untuk memendam hal itu.
Ketika sedang memikirkan itu semua, terdengar suara dengusan dari belakang. Shela,Bella,dan Nami sedang menangis sembari berjongkok. Sedangkan Kania bersama Gita memeluk mereka semua dan berusaha melakukan hal terbaik untuk menenangkan hati ketiga temannya.
"A-Aku tidak mungkin bisa melewati ini" itu adalah suara Shela, nada nya terdengar begitu putus asa.
"Sejak awal, kenapa harus kita!? Aku sendiri hanya ingin pulang" Bella mengutuk nasib nya.
"M-maaf.. .h-hanya saja ini terlalu..." Nami bahkan tak sangguk menyelesaikan kalimat nya.
Tangisan mereka makin menjadi jadi, tentu saja hal seperti ini tidak akan bisa di terima dengan mudah, dan para gadis lah yang pasti paling terpukul dengan semua ini. Beberapa hari yang lalu mereka semua hanyalah anak sekolahan bisa, berangkat sekolah, menuntut ilmu,lalu pulang untuk bersenang senang dan beristirahat. Namun kali ini mereka di tuntut itu melakukan sesuatu yang mustahil seperti
membunuh Sang Raja Iblis.
"Cup cup, jangan menangis.kalo kalian begitu Kania bakal......huwaaaa!"
Kania yang mulanya ingin menenangkan kini juga ikut menangis,tangisanya pun menjadi yang paling kencang.Meninggalkan Gita seorang yang masih bertahan.
Dalam momen ini, Amir bertanya tanya. Apa yang harus di lakukan nya saat ini? Mungkin dia bisa mengatakan sesuatu untuk menghibur asa mereka. Namun, apakah itu benar benar yang mereka perlukan? Dalam suatu masalah hal yang paling di perlukan adalah solusi. Namun solusi apa yang bisa Amir tawarkan kepada mereka? Dia sama hal nya tidak tau harus bagaimana untuk saat ini. Tetapi Amir memiliki perasaan, bahwa jika hanya berdiam berpangku tangan tidak akan membuat perubahan.
"Maaf semuanya, aku ingin pergi sebentar" Amir berkata.
"Kamu ingin kemana mir? " Tanya Irza
"Aku akan ke Kota itu, mungkin disana ada orang yang bisa menolong kita" Ucap Amir sembari menunjuk kota yang berada di arah utara.
"Kamu mau kesana sendirian?"
Amir hanya mengangguk, dia tidak tau apa yang bisa ia temukan disana. Mungkin dia tidak akan mendapatkan apa apa, jadi lebih baik pergi kesana sendiri agar tidak menyusahkan mereka, dan pulang dengan membawa kabar setelah dari sana.
"Tunggu, biarkan aku ikut Mir" Gita berkata, tangan nya mulai melepaskan pelukan dari para gadis.
Sepertinya para gadis sudah mulai tenang, namun isak tangis masih terdengar sesekali.
"Bagaimana dengan para gadis? " Amir bertanya.
"Iqbal dan Gilang pasti bisa menghibur mereka,tolong ya Lang..." Gita menatap ke arah adiknya Gilang.
"Siap kak Gita! " Gilang mengucapkan dengan lantang sembari memasang pose hormat, layaknya Prajurit yang sedang menerima intruksi dari seorang Jendral.
"Kalau begitu ayo" Amir memulai langkah lebih dulu
"Hati hati kalian" Irza berpesan.
Amir dan Gita kemudian menoleh untuk mengangguk. Mereka berdua akhirnya berjalan menyusuri padang ramput, dari perkiraan Amir mungkin dalam waktu kurang dari 30 menit mereka sudah bisa mencapai kota itu.
"Sebenarnya Mir, ada sesuatu yang ingin ku tunjukan" Gita berkata dengan suara lembut.
"Apa itu Git?"
Kemudian dari tangan nya, Gita menunjukkan sebuah kunci dan secarik kertas.
"Di dalam kantongku, selain ada koin perak. Aku menemukan ini"
Amir kemudian mengambil secarik kertas itu, disana tertulis...
'Pondok Tua Cielo'