Crawling In The New World

Crawling In The New World
Chapter 7 : Lentera Malam



Gokil Abis! Mungkin kata kata itu yang bisa menggambarkan raut wajah Amir dan Irza saat ini. Sebelum nya Amir hanya bisa mengetahui bahwa ruangan itu adalah gudang karena mengintip dari lubang kecil di jendela. Namun, karena di dalam begitu gelap kala itu, ia tidak benar benar bisa mengidentifikasi kan secara jelas apa yang ada di dalam sana.


Tetapi kini karena pintu terbuka dan sinar bulan bisa masuk, apa yang ada di dalam sana sudah terlihat. Ada senjata atau mungkin lebih tepatnya banyak senjata dengan berbagai jenis, Amir yang tidak terlalu memiliki pemahaman mengenai senjata, namun dengan melihat nya pertama kali, ia sudah bisa mengetahui bahwa semuanya adalah jenis senjata pada zaman abad pertengahan. Ada busur,segala jenis pedang, belati, tongkat ala-ala di film penyihir, dan sebuah gitar.


Wow, bukankah ini terlihat seperti gudang senjata? jiwa kekanak kanakan Amir dan Irza bergejolak sekarang. Melihat pemandangan seperti ini melupakan salah satu khayalan yang menjadi nyata bagi mereka, mungkin untuk sesaat mereka benar benar lupa bahwa dalam waktu dua tahun kedepan mereka harus bertaruh nyawa.


"Apa menurut mu kita akan benar-benar menjadi pembunuh Mir?" Raut wajah Irza kemudian berubah menjadi sedikit sedih.


Walaupun yang di katakan oleh Dewa King tujuan mereka ke dunia ini adalah mengalahkan Sang Raja Iblis, namun tetap saja saat ini mereka akan memulai karir mereka sebagai seorang pembunuh. Sebutan pahlawan mungkin yang di sematkan pada mereka, tetapi tetap saja misi mereka adalah untuk mengambil nyawa mahkluk hidup.


Dalam pemahaman mereka mengenai game RPG, sebuah karakter akan semakin kuat apabila ia membunuh sesosok monster, benar monster. Monster bukanlah manusia juga bukan hewan, mereka biasanya bergerak dengan instinct dan kecerdasan yang terbatas serta mendiami sebuah wilayah. Lalu, para pemain nantinya akan memburu mereka dan menjarah apa yang mereka miliki dan bertambah kuat seiring berjalan nya waktu.


Apa benar kelak hal-hal seperti itu lah yang nantinya akan mereka lakukan?


"Sejujurnya aku juga belum begitu yakin Za.." Amir menjawab. "Namun yang saat ini aku pikirkan adalah bagaimana cara beradaptasi di dunia ini dan bertahan hidup."


Belum genap satu hari mereka datang kedunia ini, namun Amir sudah bisa merasakan sebuah perbedaan yang besar. terutama pada ketidak adanya listrik, dalam pondok saat ini pun mereka menggunakan lentera sebagai penerangan. tidak ada alat komunikasi, tidak ada sanak saudara. Mereka benar-benar kini ber-sembilan harus hidup mandiri. Bagaimanapun juga sebelum nya mereka hanyalah anak SMA biasa.


Amir mungkin bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, karena pada dasarnya ia tidak terlalu bermasalah bila harus hidup serba kekurangan. Namun bagaimana dengan yang lain, terutama para gadis? Saat masuk ke dalam kota hampir semuanya menunjukan ekspresi tidak nyaman.


"Kamu benar Mir, lebih baik fokus kepada diri sendiri untuk saat ini. " Irza mengangkat kepala nya dengan perasaan lebih yakin.


"Yeah, kurasa begitu.." Amir menjawab dengan sedikit ragu.


Dalam hatinya mungkin apa yang di khawatirkan Irza akan menjadi sebuah kebenaran, masa depan yang menanti mungkin harus menuntut mereka untuk bertarung melawan monster atau mahkluk jahat dan tentunya itu adalah petaruhan antara hidup dan mati, secara tidak langsung pemikiran yang harus mereka siapkan adalah untuk mampu membunuh mereka.


"Lihat aku menemukan apa!" Irza berteriak dengan perasaan kagum.


"Apa itu..? " Amir berjalan menghampiri Irza yang kini berada di depan sebuah peti besar.


Di dalam sana rupanyaa ada beberapa pakaian kain, kemudian ada pakaian lain yang terbuat dari kulit, dan yang terakhir beberapa potongan besi yang tampaknya di gunakan untuk pelindung tubuh juga tergelerak di dalam peti itu.


"Ah, kita juga dapat pakaian rupanya. " Amir mengangguk paham


"Dewa King sepertinya cukup perhatian dengan kita" Irza berkata.


"Yeah di transfer di sebuah padang rumput yang penuh kambing, dengan sebuah arahan seperti 'Temukan sendiri tujuan mu, sementara aku akan bermain game' memang benar-benar sebuah bentuk perhatian. " Amir bersarkasme.


"Haha, yah... sebenarnya aku sempat berfikir kita akan di transfer di sebuah altar yang ada di istana kemudian hidup nyaman dengan perawatan sebagai pahlawan negeri ."


"Seperti itu pasti lebih baik. "


Nasi sudah menjadi bubur apa yang mereka dapat saat ini harus bisa mereka terima dengan lapang dada, mau tidak mau dan suka tidak suka mereka semua secara tidak langsung telah menyetujui untuk menerima kesepakatan sebagai delapan bidak Dewa King untuk mengalahkan raja iblis, yah delapan Bidak saat jumlah mereka sembilan orang.


Setelah menggeledah seisi gudang, mereka juga menemukan beberapa barang berguna lainnya salah satu nya juga menjadi hal yang mereka cari, yaitu sesuatu semacam kasur ekstra. Sebenarnya yang mereka temukan adalah kasur tidur portabel yang terbuat dari kulit, namun itu lebih baik daripada hanya tidur di atas karpet.


"8 Bidak ya..." Amir berbisik.


Apakah ada kemungkinan bahwa Dewa King melakukan sebuah kesalahan? Mungkin sebenarnya dia tidak di butuhkan untuk melakukan tugas ini. Jadi dia semacam orang yang secara tidak sengaja terlibat dalam misi ini. Namun, andaikan dia tidak di ikut sertakan bukankah berarti Amir akan benar-benar mati. Di satu sisi Amir bersyukur karena dia memiliki kesempatan kedua untuk bisa hidup. Namun, disisi lain dia juga merasa kecewa.


Untuk saat ini yang dia tau Irza adalah Fighter, Iqbal adalah Bard, Gilang adalah Rogue, Gita adalah Ranger. Sedangkan ketiga gadis lainnya ia belum tahu. Namun, sedari tadi ia tidak mendengar sebuah keluhan di antara mereka yang menyinggung soal ketidakadanya tulisan pada gulungan mereka.


"Jika besok memang tidak muncul,maka aku harus mencari cara lain. " Amir menguatkan tekadnya.


Ia kemudian mematikan lentera menyala yang ada di samping nya dan berniat untuk segera tidur, saat matanya sudah terpejam ia mendengar sayup-sayup suara tangisan gadis dari lantai atas. Andaikan dia masih berada di dunia lamanya, mungkin Amir akan mengira itu suara kuntilanak. Namun, untuk saat ini Amir menduga di antara Kania, Shela, Bella, dan Nami ada yang masih terjaga dan sedang menangis. Yah, jika di pikir-pikir Amir juga saat ini sudah rindu dengan rumah serta keluarga nya.


Ketka matahari telah terbit, Amir entah mengapa menjadi satu-satunya orang yang telah terbangun. Untik itu ia pun memutuskan pergi keluar untuk membeli sarapan. Dia pun mendapatkan roti murah yang memiliki harga tiga koin perunggu, karena roti itu seperti nya bisa di bagi dengan tiga orang. Amir kemudian memutuskan untuk membeli tiga roti dengan total sembilan perunggu. Uang nya kini hanya tersisi empat koin perak dan 68 koin perunggu.


Ketika kembali ke pondok, semuanya sudah bangun dan kebanyakan di antara mereka serang berkumpul di ruang tengah.


"Baik sekali kamu Mir, memang ga salah dari dulu aku selalu memilih mu jadi ketua kelas" Ucap Iqbal saat menyambut kedatangan Amir.


Atau mungkin lebih terpatnya menyambut kedatangan roti-roti yang di bawa Amir.


"Iya.. iyaa.. itu satu roti buat tiga orang ya." Amir mengingatkan.


"Beli dimana Mir?" Shela bertanya sembari mengambil satu roti.


"Di pasar, tadi ku liat toko ini yang paling ramai. Jadi aku memilih kesana. Rupanya karena harganya murah" Jawab Amir.


"Kalau buat aku harusnya yang mahal dong" Ucap Shela sembari mengangkat alis nya.


Roti milik nya di bagi kepada Kania dan Nami yang ada di sebelahnya.


"Tadi sebenarnya buat kamu l, mau ku belikan paket panas Mcdonald sih. tapi berhubung tutup jadi apa boleh buat. "


"Oh disini ada McDonald juga toh, nanti kita kesana bareng yuk. Kania jadi pengen Ice Cone" Ucap Kania sembari melahap rotinya.


"Uh Kania, sepertinya Amir hanya bercanda. Aku tidak berpikir disini ada McDonald" Nami berkata dengan nada lirih.


"Ehh! Kok bisa?!" Kania terkejut seakan tidak terima.


Akhirnya Nami dan Shela berusaha menjelaskan lelucon Amir dengan sekuat tenaga kepada Kania sampai ia paham.


"Teman - teman setelah sarapan, nanti semuanya berkumpul di halaman belakang ya! " Irza berteriak dari arah halaman.


"Ngapain Za?" Gilang bertanya.


"Tentu saja untuk mengetest kekuatan super yang kita miliki!" Ucap nya dengan penuh semangat.