
..."Apa yang lebih bersinar dari matahari? senyuman mu."...
...-Nolan Gentala Langit-...
...********...
Keesokan harinya, di perpustakaan SMAGADA. Di tempat belakang, dekat beberapa rak-rak buku besar, terdapat satu meja panjang dengan dua kursi, salah satunya sudah terisi oleh gadis cantik berkacamata. Jari-jari lentiknya tengah menari-nari di atas buku catatan putih, mencatat beberapa materi penting.
"Hah," desahnya sembari mengibas-ngibaskan tangan kanannya, bahunya terasa pegal, begitupun juga dengan punggung, inilah efek jika terlalu lama membungkuk.
Iris mata nya menatap malas, ke arah berkas-berkas tugas yang tertumpuk rapi di atas meja. Sudah dua puluh lima menit dia duduk di kursi coklat perpustakaan itu, bahkan sampai rela mengorbankan waktu istirahatnya.
Andai saja ia mempunyai kekuatan ajaib, sekali kedip semua tugasnya langsung selesai saat ini juga.
"Lagi sibuk yah?" suara dari seseorang mampu membuyarkan lamunannya, kepala gadis itu menoleh ke sisi kiri. Atlas, laki-laki bertubuh tinggi itu datang sembari melemparkan senyuman ramah.
Senja, memandang wajah Atlas dengan tatapan yang tidak dapat dijelaskan, lima detik kemudian, ia kembali menunduk menghadap buku catatannya.
"Lo masih marah sama gua? Sorry yah soal kemarin," ujar Atlas mengingat kembali peristiwa kemarin.
Senja mengangguk tanpa melihat Atlas. Sejujurnya, Senja sama sekali tidak marah kepada anak itu, hanya saja dia masih merasakan takut.
"Karena... gua lihat lo lagi sibuk, gua mau langsung kasih ini aja," kresek merah muda berukuran sedang, Atlas letakkan di atas meja. "Terima yah, anggap aja ini sebagai permintaan maaf gua ke lo," sambungnya.
"Ini apa?" tanya Senja menggunakan bahasa isyarat, raut wajahnya tampak bingung.
"Buka aja!" balas Atlas, untuk menuntaskan rasa penasarannya, Senja mengambil kresek merah muda itu dan membukanya. Ternyata, sebuah bando berwarna biru muda bermotif garis-garis.
"Kebetulan gua lihat bando itu di etalase toko, seingat gua seminggu yang lalu lo sempet pakai bando warna merah, karena gua pikir lo pasti suka makanya gua beli," ujar Atlas, ternyata diam-diam laki-laki itu suka memperhatikan Senja.
"Terima kasih," balas Senja yang ia tulis di buku catatan.
"Cuman makasih aja? Gua mau lihat lo pakai," sahut Atlas, Senja mengangguk beberapa kali, lalu memakaikan bando tersebut ke kepalanya. Kedua sudut bibir Atlas mengembang, ia tersenyum simpul.
"Cantik," puji Atlas.
Kepala Senja menunduk, pipinya merona merah seperti kepiting rebus. Dia merasa malu. "Gua balik dulu yah, dilanjut lagi belajarnya, semangat!" pungkas Atlas sembari mengelus lembut kepala Senja. Jantung gadis itu semakin berdegup kencang, rasanya sangat sesak, semoga momen ini cepat selesai, jika tidak bisa-bisa dia mati karena malu.
...********...
Terjadi kerumunan yang cukup ramai di lapangan basket SMAGADA, semua orang berteriak kencang ketika 'si pangeran' berhasil memasukkan bola bulat tersebut ke dalam ring.
Seluruh murid, terutama golongan perempuan dibuat meleleh layaknya keju dalam oven, perhatian para penonton sama sekali tidak bisa teralihkan dari Cakra, kulitnya yang putih bersih mengkilat akibat biasan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Pucuk-pucuk rambutnya basah, semakin menambah aura ketampanan.
"CAKRAAA!!!!"
"Ganteng banget, jodohnya siapa sih!"
"Semangat sayangku!"
"Bukan remahan rengginang Al, lebih ngenes dari itu. Perasaan gua juga gak kalah ganteng deh sama dia, kenapa cuman si Cakra aja yang disebut," balas Nolan iri.
"Gak usah pada iri lo pada, gua memang sudah ganteng dari lahir, jadi wajar kalau mereka semua klepek-klepek," sahut Cakra percaya diri.
"Dasar! Gua tampol kaus kaki gua lu ye!" geram Alvaro.
"Tampol pakai kaus kaki lo yang belum dicuci lima tahun Al, ikhlas gua," tambah Nolan.
"Lo berdua pingin banget gua mati yah!" sebal Cakra kepada Alvaro dan Nolan. Memang apa salahnya sih kalau dia punya wajah tampan? Kok pada sensi banget, tapi emang bener sih ganteng nya Cakra kebangetan.
Cakra memilih menjauh dari aura-aura jahat yang semakin dirasa mengerikan dari kedua teman baiknya itu, Cakra berjalan menuju area kerumunan dekat pagar besi pembatas, manik matanya nampak sibuk mencari-cari sesuatu.
Dari celah-celah tubuh siswa-siswi yang saling berhimpitan, senyum Cakra merekah, akhirnya dia bisa menemukan apa yang ia cari.
Senja sedang berjalan menuju kembali ke kelasnya, sembari membawa beberapa buku tebal di kedua tangannya.
"Senja!" otomatis Senja menghentikan langkahnya, saat mendengar ada seseorang yang memanggil namanya. Ia melihat anak itu berlari ke arahnya, lalu berhenti.
"Lo darimana?" tanya Cakra pada Senja.
"Dari perpustakaan," jawab Senja yang ia ketikkan pada handphone.
"Owh, gua baru saja selesai tanding basket, lo gak lihat penampilan gua tadi?"
Senja menggeleng, waktunya ia habiskan hanya untuk belajar di perpustakaan. Lagipula, dia juga tidak terlalu tertarik dengan olahraga.
Cakra mendengkus, bisa-bisanya anak itu tidak menyaksikan pertandingan basketnya tadi. Padahal, mulanya ia sengaja tampil semaksimal mungkin supaya terlihat keren di hadapan Senja.
"Huft kenapa?" tanya Cakra bermuka masam.
Senja kembali sibuk mengetikkan sesuatu di layar handphonenya, "yah, karena aku gak terlalu tertarik sama olahraga," ketiknya.
"Tapi pemainnya ganteng loh!" ujar Cakra membusung dada. "Kalau lo gak minat sama olahraga nya, setidaknya lihat demi gua. Gua bakal makin semangat mainnya kalau dilihat sama lo," sambung Cakra berhasil mengobrak-abrik isi hati Senja.
Pagi ini, perasannya telah dibuat tidak karuan oleh dua laki-laki tampan. Senja sudah tidak habis pikir mimpi apa dia semalam.
"Bando itu? Lo baru beli?" tanya Cakra melihat benda yang nampak asing di kepala Senja.
"Bukan, Atlas yang kasih ini buat aku," ketik Senja.
Iris mata Cakra berubah menjadi tajam, selepas mendengar nama Atlas disebut. "Lo suka sama bando itu?" tanya Cakra dingin.
Senja mengangguk ragu, raut wajahnya menjadi khawatir ketika ekspresi Cakra berubah drastis.
"Tapi gua gak suka, ini gak cocok sama lo," ucap Cakra melepaskan bando biru muda itu dari kepala Senja. "Tunggu aja, gua akan belikan yang lebih baik buat lo," sambung Cakra, lalu menepuk-nepuk manis rambut gadis tersebut.
...°•••CAKRASENJANA•••°...