
..."Karena aku mencintaimu."...
...********...
Atlas mengirimkan lokasi dimana mereka berdua akan bertemu, taman kota Rajawali. Senja berangkat ke tempat tersebut dengan jalan kaki, karena memang letaknya yang tidak jauh dari rumahnya.
"Sudah lima belas menit," batin Senja celingukan, berdiri seorang diri di dekat air mancur. Tidak banyak orang di sana, membuat hatinya menjadi sedikit was-was.
Dari kejauhan, nampak seorang pemuda misterius menggunakan hoodie hitam serta penutup masker di wajahnya, Senja memandangnya ketakutan, siapa orang itu? Kenapa ia semakin berjalan mendekat kemari?
Kaki Senja mundur perlahan, tatkala laki-laki misterius tersebut kurang sedikit lagi mendekat ke arahnya. Tangan Senja bergetar hebat, begitupun degup jantungnya. Dan tiba-tiba saja, sesuatu yang tak pernah dia duga, orang itu langsung membekap mulut Senja, sampai membuatnya kesulitan untuk berteriak, tubuhnya mulai lemas, pengelihatan Senja menjadi buram, dan akhirnya kehilangan kesadaran.
...********...
Sensasi rasa pusing masih menyelimuti kepalanya, sepasang mata itu mulai terbuka dengan pengelihatan sedikit buram. Ia dibuat syok, dengan keadaan tubuhnya yang sudah diikat di atas kursi. "A-Apa ini?" batinnya terkejut.
"Kau sudah bangun sayang."
"A-Atlas, apa-apaan ini?" cengang Senja melihat laki-laki tersebut duduk semeja dengan dirinya, sembari mengenakan pakaian setelan jas hitam.
"Sorry, gua harus ikat tangan lo, gua takut lo kabur," ucap Atlas terlihat mengerikan. Laki-laki itu berdiri, menarik kursinya di samping Senja. "Lihat, gua siapkan semua ini spesial buat lo, lo senang kan?" sambung Atlas menunjukkan banyak sekali makanan mewah, juga dekorasi indah.
Atlas terlihat begitu menakutkan, Senja tidak tahu lagi apa yang sudah terjadi dengannya. Hanya satu kata yang terbesit di pikirannya, dia ingin pergi sekarang juga. "Gua suapin lo yah," Atlas mengambil sesendok nasi, lalu didekatkannya pada mulut gadis itu.
Senja menggeleng beberapa kali, bibirnya ia tutup rapat-rapat, sama sekali tidak mau terbuka. "Buka mulut lo Senja!" pinta Atlas mulai geram. "GUA BILANG BUKA!"
//Pak// sendok itu jatuh ke lantai, ketika Senja sengaja menyenggolnya menggunakan wajahnya. Emosi Atlas memuncak, tanpa akal sehat ia menampar pipi Senja sangat keras.
Rembesan darah keluar dari wajah Senja, gadis itu menangis kesakitan. "Selama ini gua berusaha sabar, tapi lo sangat suka menguji kesabaran gua Senja," ucap Atlas.
"Tunggu di sini, gua akan ambil beberapa buah kesukaan lo," pungkasnya lalu berjalan ke luar ruangan.
"Hiks, apa ini? Kenapa ini semua harus terjadi kepadaku?" batin Senja menangis, mengapa takdir begitu senang melihatnya tersiksa seperti ini.
"Senjaaaa!! Senjaaa!!" terdengar suara teriakan seseorang dari arah sana, Senja yang mengenal siapa pemilik suara itu langsung mendorong sebuah meja di dekatnya, membuat beberapa piring berjatuhan.
"Senja!" ternyata itu adalah Cakra, ia langsung berlari menghampiri gadis tersebut, dan membantu melepaskan ikatan tali di tangannya. "Lo gak kenapa-kenapa?"
Senja mengangguk cepat dengan wajah ketakutan, "kita harus segera pergi dari sini!"
"AARRRGH," jerit Cakra kesakitan, sembari memegang perutnya yang sudah bersimbah darah.
"Akhirnya lo datang Cakra," ujar Atlas tersenyum menyeringai, menusukkan sebilah pisau tajam dari arah belakang. "Sudah saatnya lo pulang sekarang," sambungnya semakin menekan tikaman nya.
//BRAKKK// sebuah kursi kayu Senja hantamankan kepada kepala Atlas, membuat laki-laki itu sempoyongan hingga pada akhirnya jatuh pingsan. Dengan segera, Senja membantu memapah Cakra keluar dari dalam sana.
Dalam perjalanan, sesekali Cakra meminta kepada Senja untuk berhenti sejenak, sungguh, sekujur area perut anak itu telah dilumuri oleh darah. Kondisi jalan amatlah sepi, tidak ada satu kendaraan pun yang lewat, koneksi jaringan juga buruk. "Ya Allah apa yang harus aku lakukan?" batin Senja merasa kasihan melihat kondisi Cakra, wajahnya putih pucat.
Ia kembali mencoba memapah tubuh Cakra, sembari memberikannya semangat untuk bangkit. "Kita harus kuat Cakra, kamu harus selamat," batin Senja terus berjalan, sembari berharap ada seseorang yang menolong mereka.
Burung-burung berkicau, berterbangan bebas di selimut angkasa. Langit tengah menyuguhkan pemandangan indah sekarang, goresan jingga bercampur kuning keemasan terlukis begitu cantik di sana.
Di sebuah hamparan tanah yang dipenuhi rumput hijau membentang, dekat danau. Pantulan sinar matahari tergambar jelas di genangan air.
"Senja, gua mau istirahat dulu," ujar Cakra dan disetujui oleh Senja, mereka berdua berjalan menuju lapangan hijau tersebut, dan duduk di sana. Cakra dengan posisi telentang, yang kepalanya bersandar kepada paha Senja. Posisi arah tubuh mereka menghadap danau.
"Langitnya Cantik yah?" kagum Cakra sembari memandang ke arah langit oranye tersebut, sedangkan Senja, tatapannya terpaku kepada luka Cakra.
"Mungkin itu alasan kenapa orang tua lo beri lo nama Senja," sambungnya menoleh ke arah perempuan tersebut. Senja berusaha sekuat tenaga, agar tidak mengeluarkan bulir-bulir air mata di hadapan Cakra.
"Kamu harus sembuh Cakra," batinnya sedih. Punggung tangannya mengusap cepat, deraian air mata yang keluar dari dalam pelupuk matanya. Senja hendak berdiri, namun seketika ditahan olehnya.
"Lo mau kemana? Jangan pergi, temenin gua di sini," pinta Cakra terdengar sayu. Tangan lemahnya terulur, untuk menghapus air mata di pipi gadis itu. "Jangan nangis, gua gak mau melihat Tuan putri gua sedih."
"Gua sangat bersyukur bisa bersama lo di momen ini, gua mau minta maaf karena sudah buat lo sakit hati kemarin. Lo mau maafin gua kan?" tanya Cakra dan diangguki oleh Senja.
Laki-laki itu tersenyum lemah, "gua cinta lo Senja, gua sayang sama lo. Sorry, kalau perlakuan gua selama ini egois."
Bulir air mata semakin memancar deras, Senja sudah tak kuasa menahannya. Kata-kata yang keluar dari mulut Cakra, seperti mengisyaratkan sesuatu yang tak pernah ia inginkan.
"Senja, apa gua boleh minta sesuatu?"
"Hm," dehamnya mengangguk.
"Gua mau lihat lo senyum," Senja langsung mengabulkan permintaan Cakra, ia tersenyum selebar-lebarnya walau hatinya kini sangat sesak.
"Haha cantik," puji Cakra senang, lalu meminta kepada Senja supaya mendekatkan wajahnya. "Terimakasih Senja, dengan begini gua bisa pergi dengan tenang," bisik Cakra ditelinga Senja, lalu dengan perlahan menutup kedua matanya untuk selama-lamanya.
"Hiks, aku juga mencintaimu Cakra," batin Senja tersenyum, sembari memeluk erat tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.
Kilauan langit indah mulai memudarkan kecantikannya, matahari tenggelam tepat setelah laki-laki itu meninggal.
..."Jikalau takdir memberikan kesempatan kedua, semoga kita bisa hidup bersama di kehidupan selanjutnya."...
...-Cakra dan Senja-...
...TAMAT...