CAKRASENJANA

CAKRASENJANA
Eps 9



..."Katakanlah aku memang gagal menjadi sang Surya, tapi untuk rembulan tidak akan pernah. Kalau tak bisa mengukir senyum, maka izinkanlah aku menyapu butiran air mata menyebalkan itu."...


...-Atlas Bagaskara-...


...********...


"Ayolah Tera, bantuin aku ungkapin perasaan ke Kak Bima!" paksa Petra menggoyang-goyangkan lengan Tera.


"Ish enggak!" tolak Tera naik satu oktaf, melepaskan kasar genggaman tangan Petra dari lengannya. "Buat apa sih Ra harus ungkapin perasaan lo segala ke dia? Jijik tahu gak," sambung Tera.


"Buka mata lo lebar-lebar Ra! Cinta boleh, tapi buta jangan, Bima itu gak sayang sama lo, jelas-jelas kemarin lo tahu sendiri dia gandeng tangan cewek lain," jelas Tera mencoba menyadarkan pikiran temannya itu.


Tera sudah tidak kuat lagi dengan sikap Petra yang terlalu berlebihan dalam mencintai Bima Kakak kelas mereka, sudah beberapa kali Petra di tolak mentah-mentah bahkan sampai dipermalukan di muka umum oleh Bima. Sebagai teman yang baik, Tera tidak mau Petra meneruskan perjuangan cinta bodoh ini, lagipula untuk apa mencintai orang lain sedangkan dia pun merasa risih dengan hal itu?


"Plis, tolong bantu aku sekali ini aja, aku janji ini yang terakhir," pinta Petra memasang raut muka sedih, jujur saja ia juga lelah untuk memperjuangkan cintanya. Tapi biarlah, entah nanti bagaimana jadinya diterima ataupun ditolak Petra akan menerima semuanya.


"Oke, kalau nanti si Bima sialan itu berbuat kasar lagi sama lo, jangan halangi gua buat hajar dia," kecam Tera.


"Iyah, yuk!" ajak Petra, lalu mereka berdua pun segera pergi menuju taman belakang sekolah, tempat dimana biasa Bima bersantai.


Sesampainya di taman belakang sekolah, Bima sudah berada di sana tengah duduk bersandar di kursi panjang taman sekolah. Petra menggigit bibir bawahnya, saat melihat siluet tubuh Bima dari arah belakang, degup jantungnya berdetak kencang.


"Tenang," ujar Tera menggenggam telapak tangan Petra yang basah mengeluarkan keringat dingin. "Tampol aja Bima kalau macem-macem oke, gak perlu khawatir ada gua," sambung Tera menyemangati, namun masih mengandung unsur bar-bar.


"K-Kak Bima!" panggil Petra gugup, kepada manusia laki-laki di hadapannya saat ini.


"Kak Bima," panggil Petra sekali lagi namun tidak mendapat sahutan jawaban dari Bima, anak itu tetap saja sibuk dengan handphone genggamnya.


Kedua tangan Tera mengepal kuat, ia dibuat kesal dengan sifat sok dingin laki-laki itu. "Woy dasar! Lo budek apa tuli! Temen gua lagi ngomong sama lo!" bentak Tera tidak kuat.


Bima yang mendapat bentakan dari Tera mengangkat kepalanya menghadap Petra, raut mukanya benar-benar datar, tidak ada ekspresi sama sekali.


"Hm?" deham Bima seperti menanyakan apa maksud kedatangan kedua perempuan itu kemari.


"I-ini, aku bawakan sesuatu buat Kakak, se-semoga Kak Bima suka," balas Petra menunjukkan sebuah coklat batang bertalikan pita merah kepada Bima.


"Owh," Bima tersenyum smirk sembari menerima pemberian coklat itu, lalu melemparnya begitu saja ke tanah, hingga benda manis yang menjadi favorit semua umat manusia itu patah terbelah menjadi dua bagian. Bungkusnya robek, begitupun dengan pitanya.


Mereka semua dibuat terkejut dengan aksi yang Bima lakukan, Petra terdiam pandangannya sama sekali tidak teralihkan dari coklat batang tersebut yang sudah berserakan di atas tanah.


Tera menggenggam tangan Petra yang sudah lemas, jujur dia merasa begitu marah, melihat sahabatnya diperlakukan seperti ini.


"Thanks," pungkas Bima dan cabut begitu saja tidak memperdulikan bagaimana perasaan Petra.


"WOYY!!!" teriak Tera kepada Bima, membuat langkahnya berhenti dan berbalik badan menghadap perempuan tersebut.


"Nih! Makan tuh coklat!" Tera melemparkan patahan coklat yang ia ambil dari tanah kepada Bima, coklat itu mengenai seragam putih miliknya hingga meninggalkan noda di sana.


"Kenapa? Gak terima lo?" ucap Tera membusungkan dada dengan nada menantang. "Kalau emang gak suka sama coklat pemberian dia setidaknya tolak baik-baik! Lo pikir beli barang gak pakai uang! Gua akui lo ganteng tapi attitude murahan."


"Udah Ter udah!" pinta Petra kepada Tera.


"Kalau doyan nya cuman sama cewek cantik cari sono di surga Bang! Banyak! Kalau lo gak digoreng dulu di neraka!" pungkasnya dan mengajak Petra segera pergi meninggalkan taman belakang sekolah, menuju kembali ke kelas.


...*******...


Bel pulang sekolah telah berbunyi, seluruh siswa-siswi berteriak kegirangan. Mereka semua berhamburan keluar dari dalam kelas masing-masing, tak sabar untuk segera pulang.


"Senja, ada yang cariin lo di luar," ucap seorang murid perempuan kepada Senja yang tengah menyapu di dalam kelas.


"Siapa?" batin Senja bertanya-tanya, lalu meletakkan sebentar sapu ijuk tersebut dan berjalan keluar kelas.


"Hai!" sapanya membuat Senja terkejut, ternyata itu adalah Cakra yang mengenakan jaket hitam berlogokan naga hitam, dengan tulisan BLACK DRAGON.


"Ayo ikut gua!" ajak Cakra.


Kedua alis Senja bertaut, "kemana?" tanyanya melalui ekspresi.


"Udah ikut aja!" balas Cakra tanpa memberitahu kemana tujuan mereka.


Sebelum Cakra pergi ke kelas Senja, dia sempat pulang terlebih dahulu ke rumah untuk mengganti sepeda motor ninjanya dengan mobil. Karena ia paham, kalau nanti dia akan mengajak pergi wanita terkasihnya, jadi tidak mungkin Senja dibonceng di joke motornya yang tinggi.


Senja sempat merasa ragu untuk menerima ajakan dari Cakra, dia tidak mau mendapat rumor yang semakin membuat dirinya dibenci oleh anak-anak sekolah.


Dalam perjalanan, kedua remaja itu tidak terlalu banyak berbicara. Mungkin ini karena pertama kalinya mereka keluar bersama. Hingga sampailah, di sebuah mall terbesar di kota Rajawali.


Setelah selesai memarkirkan mobil, Cakra mengajak Senja untuk masuk ke dalam mall tersebut. Tak henti-hentinya, Senja masih berkelut dengan isi pikirannya sendiri, ia bingung untuk apa laki-laki itu mengajak dirinya kemari?


"Senja!" panggil Cakra berjalan berdampingan dengannya. Senja pun menoleh ke arah Cakra.


"Lo gak suka yah keluar jalan bareng sama gua?" tanya Cakra terdengar sedih.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Cakra, seperti biasa Senja harus mengetikkan nya terlebih dahulu di handphonenya. "Suka kok," ketik Senja dan ditunjukkan kepada Cakra.


"Bohong," balas Cakra memasang muka kesal.


"Bohong apa? Aku gak bohong," ketik Senja lagi.


"Lo bohong, dimana-mana kalau suka pasti seneng wajahnya, gak kayak lo, mulai awal kita berangkat sampai sekarang gua gak lihat lo senyum sama sekali," jawab Cakra.


"Boleh gak sih, kalau kita jalan bareng lo sering senyum, karena itu bikin gua lega, artinya lo bahagia ada di sisi gua," sambung Cakra membuat pipi Senja merona merah.


Kepala gadis itu mengangguk beberapa kali, lalu kembali mengetikkan sesuatu lagi. "Kayak gini gak senyumnya?" ketik Senja, dan dia tersenyum lebar sampai-sampai matanya pun ikut menyipit. Sungguh menggemaskan.



Seketika Cakra terpesona, wajah Cakra mengebulsh seperti tomat merah, dengan cepat ia langsung memalingkan mukanya dari Senja. "Khu-khusus yang itu, cuman buat gua," ucapnya malu.


...°•••CAKRASENJANA•••°...