CAKRASENJANA

CAKRASENJANA
Eps 16




..."Mulut itu ringan, jadi jangan heran kalau soal merendahkan itu enteng bagi manusia."...


...-Senja Aileen Putri-...


...********...


"Cak, lo- lo...." cengang Nolan kepada Cakra yang telah berdiri di hadapan mereka bertiga.


"Gila, lo habis mukulin mereka semua? Brutal amat lo," sahut Zevan syok.


"Hm, biasa aja kok, cuman olahraga kecil," jawab Cakra cengengesan, "kalian kok bisa tahu kalau gua ada di sini?"


"Abang lo tanya ke gua lo kemana, kok gak pulang-pulang katanya. Lah lo sendiri, gimana ceritanya bisa diculik sama om-om preman?" balas Alvaro penasaran.


"Lo habis bikin gara-gara sama mereka yah Cak?" tambah Nolan.


"Buat apa asoy? Apa untungnya gua bikin gara-gara sama om-om botak? Gak guna banget," kesal Cakra. "Ketiga preman itu kayaknya sudah ngikutin gua dari awal pulang sekolah, mereka disuruh sama seseorang," sambungnya menjelaskan.


Raut wajah Alvaro, Nolan dan Zevan nampak kebingungan, pikiran mereka mencoba menerka-nerka kira-kira siapa orang yang merencanakan ini semua, kenapa ia begitu ingin mencelakakan Cakra?


"Siapa Cak?" tanya Alvaro tak sabar.


"Atlas, dia yang menyuruh para preman itu untuk culik gua," jawab Cakra membuat mereka bertiga kaget berjamaah.


"Whaattt??? Yang bener lo Cak, jangan ngaco, Atlas si bintang sekolah kita kan?" kejut Zevan.


"Sumpah!" tambah Nolan geleng-geleng kepala.


"Gua bicara sesuai fakta, preman itu sendiri yang ngomong sama gua kalau ini semua adalah perintah dari Atlas. Gua masih belum tahu apa motif dasar permasalahannya," ujar Cakra memasang muka serius.


Celana kantong Cakra bergetar, dengan lekas ia mengambil benda pipih tersebut dari dalam sana. Sepuluh notifikasi panggilan tak terjawab, serta pesan beruntun dari Aden, memenuhi layar handphonenya.


My Tirex Brother: CAK LO ADA DIMANA? PULANG CEPETAN! LO LUPA SEKARANG HARI APA!


"Gawat, gua kelupaan lagi," batin Cakra menepuk jidat, sampai rumah nanti dia harus siap-siap mendapatkan wejangan pedas dari Kakaknya.


"Eh guys gua pulang duluan yah! Buru-buru nih!" panik Cakra tidak sempat bersalaman dulu kepada teman-temannya, ia terburu-buru keluar dari dalam gudang tua.


"Kayaknya kita gak ada gunanya deh Al," ujar Nolan kepada Alvaro, kalau tahu akhirnya seperti ini, daripada repot-repot cariin Cakra mending lanjut rebahan di rumah.


"Bener, usaha kita cari si Cakra tujuh keliling sia-sia, lihat noh anaknya masih sehat, mungkin pikiran kita aja yang terlalu berlebihan," tambah Zevan setuju dengan pernyataan Nolan.


"Huh iyah," balas Alvaro menghela napas pasrah, untuk kali ini ia sependapat dengan dua sahabatnya. Mungkin pikiran mereka yang terlalu mengkhawatirkan soal kondisi Cakra. Buktinya saja, tiga preman bisa dia atasi sendiri, easy.


"Telat, darimana aja lo? Gua telpon berkali-kali gak ada satupun yang diangkat, pesan gua juga gak dibaca," sebal Aden.


"Iyah Bang maaf, gua lupa," balas Cakra tidak menceritakan peristiwa apa yang baru saja menimpa dirinya.


"Lupa? Hari sepenting ini lo bisa lupa?"


"Ish apaan sih Bang, alay banget jadi orang, yang penting gua sudah pulang, sewot mulu," ucap Cakra.


"Huh yaudah, ayo cepetan masuk! Bunda sama Ayah nungguin lo daritadi."


Hari ini, adalah hari yang sangat penting bagi Aden dan Cakra, Bunda dan Ayahnya telah pulang setelah sekian lama bekerja di luar negeri mengurus beberapa perusahaan keluarga.


"Bundaaa!!!" teriak Cakra berlari ke arah Nyonya Manda seperti anak kecil, lalu memeluk tubuh yang amat ia rindukan itu.


"Cakra, anak Bunda udah makin gede aja yah!" balas Nyonya Manda membalas pelukan hangat anaknya.


"Nah ini nih jagoannya Ayah, gimana kuliahnya nak?" Tuan Samuel, Ayah kandung dari Cakra dan Aden, baru saja kembali dari dapur sembari membawa secangkir kopi, memasuki area ruang tamu dan bergabung bersama keluarga kecilnya itu.


Tuan Samuel mengambil duduk di sebuah sofa dekat Aden, sedangkan Cakra bersama Nyonya Manda. "Hehe, aman kok Yah," balas Aden tersenyum seribu makna.


"Huft, jagoannya Ayah cuman Abang Aden aja? Cakra?" cemburu Cakra mengerucutkan bibirnya.


"Kalian berdua jagoannya Ayah kok, putra Ayah hebat-hebat," balas Tuan Samuel tersenyum, sifat anak bungsunya itu memang tidak pernah berubah.


Akhirnya setelah sekian lamanya, anggota keluarga mereka bisa berkumpul lagi. Matahari cerah menyinari seisi rumah, tiada kata sunyi. Hanyalah bahagia dan harmonis.


...°•••CAKRASENJANA•••°...


Di dalam kamar, yang bernuansa biru putih bertemakan laut. Beragam pernak-pernik cantik menghiasi dinding-dinding. Sebuah lukisan paus balaenoptera musculus terdapat di atas tempat tidur, itulah ikon paling memanjakan mata di ruangan tersebut.


Senja, si pecinta laut terutama hewan favoritnya yakni ikan paus, tengah duduk di sebuah kursi meja belajar sembari menggambar sesuatu di buku gambarnya.


Gabungan garis demi garis, sampai menghasilkan sebuah gambar seorang laki-laki tampan, ukiran senyum tersemat di bibir Senja. Jari-jemari nya kembali menari menuliskan seuntai nama 'Cakra'.


"Astagfirullah!" sebut Senja langsung mencoret-coret nama Cakra dengan garis abstrak. "Ngapain aku nulis nama dia ya Allah!" ucapnya malu.


"Gua gak akan minta lo jadi pacar gua. Itu terlalu basi, gua sudah punya rencana sendiri. Lulus sekolah, tunggu gua di rumah lo, gua bakal datang ke sana untuk melamar calon istri gua." Isi pikiran Senja kembali terputar perkataan Cakra. Untuk yang kedua kalinya, jantungnya kembali berdetak kencang.


"Perasaan ini, kenapa setiap dia bicara sesuatu, hati aku selalu merasakan hal yang aneh?" batin Senja bingung.


"Apa jangan-jangan.... aku sudah jatuh cinta dengannya?"


...°•••CAKRASENJANA•••°...