CAKRASENJANA

CAKRASENJANA
Eps 13



"Lo ngapain sih Cak ngajakin gua ke mall?" sebal Aden, setelah begadang semalaman sampai rela tidur jam satu pagi, kurang lebih enam jam dia baru bisa mengistirahatkan tubuh nya. Sang Adik Cakra, datang-datang menggedor-gedor pintu kamarnya meminta untuk diantarkan ke mall.


Mau tidak mau Aden harus menuruti kemauan dari Cakra, kalau tidak jurus andalannya pasti akan dikeluarkan, yah apalagi kalau bukan mengadu kepada Bunda.


"Bang Aden kok gitu sih mukanya, gak suka yah diajak Cakra keluar?" tanya Cakra mengerucutkan bibirnya, anak itu benar-benar seperti bayi besar yang tengah merajuk.


"Huh," hela Aden mencoba sabar. "Gua suka kok Dek suka, cuman sedikit kesel aja," balas Aden masih dengan raut wajah jengkel nya.


"Yakin cuman sedikit?" ujar Cakra mendekatkan jari telunjuk dengan jari jempolnya. Hanya di hadapan Aden, Cakra bisa menjadi semanja ini.


"Iyah Dek!" ngegas Aden.


"Sekarang lo cepetan ngomong deh, ada perlu apa lo paksa gua datang ke sini?"


Tangan kanan Cakra terangkat, dan menunjuk ke arah sebuah toko yang menjual banyak sekali boneka, terpajang di bagian kaca depan. Ia semakin memperjelas acungan jari telunjuknya kepada sebuah boneka gemoy berwarna biru, apalagi kalau bukan ikan hiu.


"Aku mau boneka itu," cicit Cakra begitu imut, gestur tubuhnya yang berpose layaknya seorang anak kecil meminta mainan kepada Ayahnya. Mata puppy eyes, kedua jari telunjuk diketuk-ketuk an, kepala menunduk, serta posisi kaki yang rapat.


"DEMI TOPLES KHONGGUAN YANG BAPAKNYA BELOM PULANG, LO SURUH GUA CEPET-CEPET DATANG KE MALL CUMAN GARA-GARA BONEKA!" teriak Aden menggelegar, kesabarannya yang cuman sebatas tisu bekas sudah tidak kuat lagi menghadapi sikap childish Cakra.


Marah sih tidak, cuman lebih ke sebel aja. Kenapa sebagai Adik, Cakra tidak pernah mencoba untuk mengerti soal keadaan dirinya, dan malah mengedepankan keinginannya sendiri.


Ketabahan Aden telah diambang batas, akhirnya ia segera meraih tangan Cakra lalu mengajak anak itu masuk ke dalam toko boneka tersebut.


Di lain tempat, namun masih di lokasi yang sama. Lebih tepatnya di sebuah cafe, seorang laki-laki mengenakan kemeja flanel sebagai outer yang dibalut dengan kaos putih polos beserta celana jeans hitam dan sepatu sneakers, nampak sedang duduk-duduk santai di kursi cafe, sembari menikmati secangkir kopi hangatnya.


Sepasang bola matanya yang semula fokus pada sebuah majalah olahraga yang dia ambil dari atas meja, kini teralihkan selepas mendengar suara wanita memanggil namanya.


"Atlas!" panggil seorang wanita yang mengenakan cropped cardi yang dipadukan dengan rok plisket bermotif pola, serta sepatu sneakers berwarna putih.


"Iyah," balas Atlas, lalu meminta gadis tersebut untuk duduk di sebuah kursi dekat dirinya.


"Ada perlu apa lo ngajak gua ke sini?" tanyanya kepada Atlas.


"Gua butuh bantuan lo, Jihan," balas Atlas menaruh kembali majalah olahraga tersebut ke atas meja, ekspresi wajahnya yang semula santai, sekarang berubah menjadi lebih serius.


"Gua minta lo balikan lagi sama Cakra," ucap Atlas sontak membuat Jihan terkejut.


"Apa?! Lo gila?" cengang Jihan, dengan apa yang barusan Atlas katakan. "Yang bener aja lo kalau ngomong!" sambungnya emosi.


"Gua gak bercanda, gua mau lo balikan lagi sama Cakra," jawab Atlas lagi lebih jelas. "Lo masih suka kan sama dia?"


"Ck, bukan masalah gua masih suka atau gak sama dia, tapi lo tahu sendiri kan Las, selama gua pacaran sama Cakra, keberadaan gua gak pernah dianggap, dan hubungan kami berdua cuman bertahan satu Minggu aja!" terang Jihan diselingi penekanan.


Hubungan asmara antara Jihan dan Cakra memang cuman bertahan hanya dalam kurun waktu seminggu saja, dan itupun Cakra tidak pernah memperlakukan Jihan layaknya pasangan, lebih seperti angin lalu.


Sebelum hubungan mereka kandas, Cakra pernah mengatakan kepada Jihan, kalau ia tidak pernah mencintai perempuan itu. Dari awal pertama ia memulai 'kisah cinta ini', hanyalah untuk memenuhi janji taruhan main basketnya yang kalah melawan temannya.


"Dan sekarang lo mau gua balikan lagi sama Cakra? Setelah gua dikhianati seperti itu? Lo pikir hati gua apa Las? Mainan?" emosi Jihan. Jujur saja, dia merasa senang sekali saat waktu pertama Cakra mengutarakan rasa cintanya kepada dirinya, namun apa yang ia dapatkan? Hanya kepalsuan.


"Gua mohon sama lo Han, bantu gua. Cewek yang gua suka, sekarang lagi deket sama Cakra," pinta Atlas berusaha membujuk Jihan, agar mau membantu dirinya.


Tawa renyah keluar dari mulutnya. "Haha, terus? Kalau lo sudah berhasil mendapatkan hati dia, dan menjadi milik lo, apa lo juga bisa menjamin kebahagiaan gua untuk balikan lagi sama Cakra?" tanya Jihan.


"Gua gak mau melakukan sesuatu yang tidak ada untungnya sama sekali buat gua, gua gak sebodoh itu Las," pungkas Jihan dan membuat Atlas berpikir sejenak.


Atlas merubah posisi duduknya ke posisi yang lebih nyaman, "gua bisa menjamin itu semua," jawab Atlas, senyuman smirk tersemat di bibir Jihan.


"Menjamin?" ulang Jihan.


"Yah, gua bisa menjamin lo bakal bisa balikan lagi sama dia, gua akan bantuin lo, tenang aja itu gampang. Tapi asalkan, lo mau tolongin gua pisahkan Cakra dari Senja," ucap Atlas sembari menunjukkan sebuah foto persegi bergambar seorang gadis.


"Oke deal, gua harap lo bisa pegang omongan lo," setuju Jihan lalu mengulurkan jabatan tangan kepada Atlas, dan laki-laki itu pun menerimanya.


"Sebentar lagi lo akan jadi milik gua Senja, gua akan membuat lo menjauh sejauh-jauhnya dari Cakra," batin Atlas berambisi.


...°•••CAKRASENJANA•••°...