CAKRASENJANA

CAKRASENJANA
Eps 17



Suara adu pukulan, menghiasi tempat terpencil belakang sekolah SMAGADA, pertengkaran sengit antar dua orang pelajar sedang terjadi di sana.


Mereka saling memberikan perlawanan, mulai dari pukulan sampai tendangan. sama sekali tidak berpikir itu salah atau tidak, nafsu keegoisan telah mengambil alih pikirannya. hingga //brak// tubuh salah satu diantaranya terpental membentur pagar besi sekolah.


//Bugh// bogem mentah sekali lagi mendarat pada wajah berkulit putih, yang telah ternodai oleh luka lebam kebiruan. "Bagaimana rasanya? Dengan senang hati gua akan menjadi malaikat maut lo sekarang," ucap Cakra dengan napas memburu. kondisi laki-laki itu cukup berantakan, seragam tidak dimasukkan, kedua lengan baju tergulung sampai atas siku, juga dasi yang melorot.


"Haha," tawa sinis Atlas yang duduk di tanah, kondisinya juga tak kalah kacaunya sama seperti Cakra. "Seharusnya kemarin gua suruh para preman itu bunuh lo langsung," ucap Atlas tersenyum smirk.


Selepas mendengar perkataan tersebut, kemarahan Cakra kembali tersulut, wajahnya merah padam, rahangnya mengeras. dengan kasar, cakra menarik kerah baju Atlas.


Kontak mata tajam, menghunus bagaikan pisau. aura kebencian terasa begitu pekat, suasana mencekam sangat terasa di antara keduanya. "apa maksud lo hah?!" bentak Cakra.


"Gua minta jauhi senja!" jawab Atlas dengan nada tinggi. "JAUHI DIA!"


"Hah, apa hak lo ngelarang gua deket sama dia?" sinis Cakra menghempaskan cengkramannya.


"Lo itu munafik Cak! mulut lo busuk!" tuding Atlas tepat pada wajah Cakra. "Lo pernah tolak Jihan mentah-mentah di lapangan upacara waktu dia confess tentang perasaannya ke lo, tapi sebulan setelah itu kalian pacaran. jujur hati gua sakit, karena gua sudah terlanjur naruh rasa ke dia," ucap Atlas dengan tatapan sayu.


"Gua mencoba menerima tentang hubungan kalian berdua, dan seiring berjalannya waktu gua bertemu seseorang, Senja. Cewek sederhana, namun berhasil membuat gua jatuh cinta. sudah berulang kali gua berusaha mendekati dia, tapi gagal."


"Dan lo.... lo tiba-tiba datang di antara kami berdua, dan berusaha merebut Senja dari gua. apa lo sudah puas cak! Apa lo sudah puas merampas semua harapan gua!" belungsang Atlas kepada Cakra.


Cakra terdiam sejenak, kemudian bibirnya kembali terbuka. "Merebut? Gua sama sekali tidak merebut apapun dari lo. Cinta itu masalah hati, dan gua sedang memperjuangkan hal itu," ujar Cakra.


"Entah siapa nanti yang bakal cewek itu pilih, terserah dia. Lo gak bisa memaksakan kehendak hanya karena itu tidak sesuai dengan apa yang lo inginkan. Tapi gua yakin, gua yang akan memenangkan game ini," pungkas Cakra memasang ekspresi yang sangat menjengkelkan bagi Atlas.


"Good luck!" Cakra berlalu pergi, dengan Atlas yang masih menatap ke arah anak itu penuh rasa benci.


"Kali ini gua yang harus menang cak, lihat aja," batin Atlas.


...********...


-Kelas sebelas c.


"Senja, lo yakin gak pulang?" tanya Tiara kepada Senja yang sibuk mengerjakan tugas sekolah nya di buku catatan.


"Owh, yaudah gua tinggal ekstra dulu yah, kalau sudah selesai jangan lupa dikunci kelasnya," tutur Tiara lalu berpamitan pergi keluar kelas, menyisakan Senja seorang diri di dalam sana.


Ia masih fokus mengerjakan tugas sekolahnya, sembari diiringi musik santai sebagai pengisi suasana.


"Haduh-haduh, rajin banget nih," konsentrasi Senja seketika buyar, ketika seorang siswi berjalan masuk ke dalam kelasnya.


"Lagi belajar apa sayang?" tanyanya berdiri di sebelah meja Senja, gadis itu menatapnya heran.


"Jihan, buat apa dia ke sini?" batin Senja.


"Ceweknya Cakra emang beda yah, jadi iri gua," ujar Jihan, membuat Senja yang mendengarnya semakin dibuat kebingungan, apa maksudnya?


//Brak// "gak perlu sok di depan gua lo!" bentak Jihan menggebrak meja, lalu merobek buku catatan Senja menjadi dua bagian.


"Ah!" desahnya mendorong tubuh Senja, hingga jatuh ke lantai. tak sampai disitu saja, sepatu pantofel hitam tersebut menginjak dan menggesek telapak tangan Senja tanpa belas kasih.


"Asshhhh," ringisnya kesakitan.


"Ini semua gara-gara lo! Ini semua karena lo!" marah Jihan menjambak rambut Senja, sampai mendongak ke atas.


"Apa yang sudah lo lakukan ke Cakra hah! jawab! Kenapa dia bisa memperlakukan lo dengan istimewa, sedangkan ke gua enggak!" sambung Jihan penuh amarah, sedangkan di sisi lain, Senja hanya bisa menangis. tubuhnya merasakan sakit.


"Ji han, to long le pa sin!" pinta Senja terbata-bata, namun tidak diindahkan oleh Jihan, gadis itu malah semakin menariknya dengan kuat. "Cakra itu punya gua, lo paham?" bisik Jihan tajam, lalu melepaskan cengkeramannya.


"Gua minta sama lo, jauhi cakra! Jangan pernah ganggu lagi hubungan kami berdua!" kecamnya menatap mata Senja yang berkaca-kaca.


"Apa lo perlu bukti senja? Gua akan kasih tunjuk lo. Besok, datang ke belakang sekolah SMAGADA, di sana lo akan tahu semuanya," pungkas Jihan dan kembali berdiri.


Dari tirai poni rambutnya, Senja dapat melihat kaki Jihan yang melangkah keluar kelas. dan disaat itu juga, tangisannya pecah. "Baru sebentar aku merasakan dicintai seseorang, dan seperti ini yang ku dapat?" batin Senja sedih, dengan bulir air mata yang mengalir.


"Cakra pernah bilang kalau dia sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Jihan, aku percaya kamu Cak, semoga besok apa yang kamu katakan itu benar," batin Senja berharap.


...°•••CAKRASENJANA•••°...