
..."Melupakan masa lalu, tak semudah yang diucap."...
...-Alvaro Nugraha-...
...********...
-Kelas sebelas A
Ulangan hasil ujian baru saja selesai dibagikan, ekspresi wajah senang, depresi, sedih, bahkan sampai setengah gila, atau nangis dipojokkan, dapat kalian temukan secara jelas di tempat ini.
"HUUUWAAA," tangis siswi berkuncir kuda menangis sesegukan, dengan selembar kertas hasil ujian yang masih gadis itu pegang.
"Sialan! Kalau lo mau nangis di kamar mandi aja woy! Budek telinga gua lama-lama gara-gara suara cempreng lo," sebal Nolan merasakan telinganya berdengung karena sakit. Ia yang semula duduk di belakang tempat duduk Nala, seketika pindah untuk menyelamatkan indera pendengarannya.
"Kenapa lagi Nal?" tanya Sasya beraut wajah datar, ia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.
"Huwaaa hiks hiks," tangis Nala tidak menghiraukan pertanyaan dari Sasya, punggung tangannya terus-menerus menghapus bulir air mata yang tak kunjung mengering itu.
"Gua tanya lo Nal, jawab!" tanya Sasya lagi dibuat geram.
"U-ulangan gua dapet jelek Sasya," balas Nala sedih.
"Owh, nilai ujian lo dapet jelek yah? Kita sama kok Nal, jangan sedih lo gak sendirian, gua tebak lo pasti dapat nilai dibawah rata-rata kan? Tenang aja Nal, gua dapet lima puluh," sahut Sasya dramatis, mengelus-elus punggung Nala.
"Hiks, emang lo dapet berapa Nal?"
"Sembilan puluh tujuh Sasya, jelek banget kan!" rengek Nala kembali menangis, alih-alih Sasya mencoba menenangkan anak itu, justru malah mendorong kesal tubuhnya.
"ITU MAH BAGUS BAMBANG! LO JANGAN BIKIN GUA MARAH DEH NALAAAA!!!!!" teriak Sasya naik pitam.
"K-kok lo malah dorong gua sih Sya? Hiks, Sasya jahat! Nilai gua ini jelek Sasya," balas Nala, emosi Sasya semakin tersulut selepas mendengar jawaban gadis tersebut.
"Lo lihat pake mata apa dengkul hah!" geram Sasya menangkupkan kedua tangannya pada pipi Nala.
"Nilai lo itu bagus, BAGUS!"
"kalau nilai sembilan puluh tujuh lo bilang jelek, terus apa kabar nilai gua yang lima puluh, REMAHAN RENGGINANG!!!" pungkas Sasya masih dengan nada emosinya, seluruh anak satu kelas dibuat syok dengan apa yang Sasya lakukan, ngeri.
"Sasya kayak kemasukan setan weh," bisik siswa pada temannya.
"Bener, jadi takut gua deket-deket sama dia."
"Ta-tapi kata Mama gua itu kurang Sya, pokoknya setelah ini gua harus ngambis, titik!" ucap Nala timbul semangat berkobar empat lima, di dalam dirinya.
"Ngambis? Emang selama ini lo gak merasa ngambis Nal?" respon Sasya heran.
"Enggak," balas Nala polos, menggelengkan kepalanya.
"Kalau gak ngambis aja dia dapet sembilan puluh tujuh, seratus. Gimana nantinya kalau ngambis? Seribu nilai dia?" batin Sasya bergidik ngeri, ia tidak paham lagi bagaimana jalan pikiran anak-anak pintar.
"Lo ngomong lagi gua sobek lambemu Nal!" geram Sasya memotong cepat perkataan Nala.
"Cak mau kemana?" tanya Alvaro membuat langkah Cakra terhenti di ambang pintu.
"Ke rooftop," balas Cakra menolehkan kepala, juga setengah tubuhnya pada Alvaro.
"Tunggu, gua ikut!" ujar Alvaro lalu berdiri dari tempat duduknya, dan lekas berlari menghampiri Cakra. Mereka berdua pun bersama-sama menuju rooftop sekolah.
Sesampainya di sana, tempat paling terfavorit para cowok-cowok SMAGADA, terutama si Cakra juga temannya Alvaro. Hamparan langit biru muda, gumpalan-gumpalan awan putih cantik terlukis cantik di angkasa, semilir angin sejuk membelai lembut. Benar-benar suasana yang nyaman.
Netra mata mereka, masih saja sibuk menikmati keindahan pemandangan rooftop. Dari atas sana, seluruh area gedung-gedung sekolah dapat dilihat dengan jelas.
"Gua gak pernah bosen sama tempat ini," ucap Alvaro berdiri, sembari meletakkan kedua tangannya di atas pagar hitam pembatas rooftop.
"Hm," deham Cakra mengiyakan.
Kedua manusia itu kembali diam selama beberapa menit, mereka sibuk dengan isi pikirannya masing-masing. Hingga, lamunan di antara salah satunya bubar, ketika melihat seorang siswi cantik tengah berjalan sendirian di bawah sana. Jiwa fuckboy Alvaro seketika bangkit.
"Haduh Neng manis, terpana Abang," kagum Alvaro masih tidak bisa memutuskan pandangan matanya dari gadis tersebut.
"Dia anak baru yah? Kok gua baru lihat," sambungnya penasaran.
"Ck mana gua tahu, mata lo Al Al, lihat yang bening dikit langsung seger. Gua siram air panas lo biar melek terus," sindir Cakra. "Gak cukup mantan lo 387 itu?"
"Bukan 387 Cakra, tapi 386," jawab Alvaro membenarkan ucapan Cakra. "387 kebanyakan, gua anaknya alim," Cakra sontak menonyor dahi anak itu.
"Alim darimana nya dasar? Mantan lo ratusan, guru agama denger omongan lo barusan, gua pastiin dia ngakak campur nangis Al," kesal Cakra, katanya sih Alvaro mau tobat, tapi sekali diberi ujian langsung gagal.
"Ck emang lo barusan gak lihat dia cakep? Gua yakin, walau lo anaknya dingin, pasti lo juga setuju sama gua kalau cewek tadi itu cantik," ucap Alvaro.
Cakra menyunggingkan senyum. "Dia biasa aja," balas Cakra lalu melempar pandangannya pada pemandangan di depan sana.
"What? Biasa aja lo bilang? Mata lo merem apa gimana sih Cak?" heran Alvaro.
"Haha, lo itu lucu banget sih Al, walau ada cewek yang wajahnya cantik sampai seperti bidadari kahyangan pun. Kalau dia bukan tipe gua, gua tetep gak akan suka," pungkas Cakra membuat Alvaro mengangguk paham.
"Iyah deh si paling, Mas Alvaro sungkem dulu sama suhu."
"Haaahhh, lagipula alasan gua punya mantan banyak bukan niatan untuk mainan," ujar Alvaro, tatapan mata anak itu menjadi sayu.
"Lo masih belum bisa lupain dia?" tebak Cakra dan diangguki olehnya.
"Iyah," balas Alvaro kembali mengangkat kepalanya menghadap langit biru di atas sana. "Dia pasti sudah tenang sekarang," sambungnya tersenyum simpul.
"Hanna, gua kangen sama lo," batin Alvaro mengingat kembali perempuan berparas cantik yang masih menduduki tahta pertama di hati Alvaro hingga saat ini. Sebuah kecelakaan hebat, beberapa tahun silam berhasil merenggut nyawanya.
...°•••CAKRASENJANA•••°...