
..."Mau tahu siapa manusia paling manis di dunia? Dia yang sedang membaca tulisan ini sekarang."...
...-Senja Aileen Putri-...
...°•••CAKRASENJANA•••°...
Setelah puas mengelilingi mall melihat-lihat beberapa toko, akhirnya pandangan Cakra tertarik pada sebuah ruko baju yang menjual aneka macam sweater dan Hoodie.
Di dalam sana, Senja melihat Cakra sedang sibuk memilih-milih Hoodie, lalu mengambil salah satu dan berjalan kembali menghampiri Senja.
"Coba pakai!" suruh Cakra kepada gadis itu, sebuah Hoodie berwarna biru dengan model ikan hiu.
Kedua alis Senja tertekuk, dengan jari telunjuknya menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Yah coba lo pakai, pasti cocok," ujar Cakra meminta Senja untuk segera memakai baju Hoodie pilihannya, isi pikiran laki-laki itu sudah tergambar sebagaimana lucunya jika nanti Senja memakai pakaian tersebut.
Anggukan beberapa kali Senja berikan, dan menerima Hoodie biru motif ikan hiu itu dari tangan Cakra, lalu berpamitan pergi ke ruang ganti pakaian sebentar.
Sembari menunggu kembalinya Senja dari ruang ganti, Cakra memutuskan untuk duduk-duduk santai terlebih dahulu di kursi seraya bermain handphone. Sepuluh menit berlalu....
Disaat-saat tatapan mata Cakra masih terfokus pada sebuah video yang ia putar di handphonenya, tiba-tiba saja sepasang sepatu sneaker mungil muncul di hadapannya. Kepala Cakra pun terangkat, untuk melihat siapa pemiliknya.
Sekujur tubuh Cakra seketika membeku, mulutnya tak bisa tertutup, dia benar-benar dia buat terkejut. Senja, gadis itu telah selesai berganti pakaian, dan saat ini berdiri di hadapan Cakra untuk menunjukkannya.
"A-aku kelihatan aneh yah?" tanya Senja yang ia ketik di handphone miliknya, perasaan Senja menjadi cemas sebab mendapati reaksi Cakra yang tidak biasa.
"LO IMUT BANGET!!!" teriak Cakra sontak mengagetkan semua orang terutama Senja. Namun, Cakra tetap tidak perduli dengan puluhan pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Dengan sigap, Cakra langsung menggandeng tangan Senja mengajak gadis itu pergi.
Di depan sebuah cermin besar, Cakra meminta agar Senja berdiri di depannya. "Lihat, Tuan putri gua cantik banget sekarang," ucap Cakra senang, tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang membuat Senja malu karenanya.
"Tunggu sebentar!" sambungnya, lalu berlari pergi entah kemana, dan kembali lagi sambil membawa topi bermotif ikan hiu. Dengan hati-hati serta penuh kelembutan, Cakra memakaikan benda tersebut ke kepala Senja.
"Sekarang sudah perfect," pungkas Cakra tersenyum puas.
"Kamu suka banget yah sama ikan hiu?" ketik Senja yang diakhiri dengan emot tersenyum.
"I-iyah, emang kelihatan banget yah?" balas Cakra tersipu. Gawat! baru saja ia telah menunjukkan sisi childish nya kepada Senja, ini semua diakibatkan oleh kesukaan nya yang berlebih kepada ikan hiu.
Dari kecil, Cakra memang sangat menyukai jenis hewan predator lautan itu, bukan hanya karena bentuknya yang keren, tetapi juga sosoknya yang kuat dan disegani oleh seluruh penghuni samudera.
Cakra menyaksikan bibir Senja tersenyum, hal itu semakin membuatnya malu. "Bagus Arkana, aku juga punya hewan favorit, dia ikan paus," ketik Senja lalu ditunjukkan kepada Cakra.
Sebelah alisnya terangkat, "Arkana?" ujar Cakra membaca ketikan Senja.
Sontak, bola mata Senja membulat, dengan cepat-cepat ia langsung membenarkan penulisannya. "Maksud aku Cakra, maaf typo," ketiknya.
"Hm, kalau lo mau panggil gua Arkana enggak apa-apa kok," ujar Cakra membuat Senja sedikit memiringkan kepalanya karena bingung.
"Asal itu lo, gua gak masalah," sambungnya terlihat tulus. "Dua belas tahun yang lalu, juga ada anak perempuan kecil yang menggemaskan pernah memanggil gua dengan sebutan nama itu," pungkas Cakra, namun Senja masih merasa tidak paham dengan apa yang ia katakan.
"Anak kecil yang gua maksud itu lo Senja, apa lo masih ingat? Atau sudah lupa?" batinnya tersenyum.
"Ah udahlah lupain, kasihan gua lihat muka lo lama-lama, sekarang kita pergi ke kasir," akhirnya, mereka berdua pun berjalan bersama menuju ke kasir.
Sesampainya di kasir, Cakra dan Senja harus menunggu sebentar terlebih dahulu sebab ada sekitar tiga orang pembeli yang juga ikut mengantri di depan mereka. Pada saat Cakra mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut toko, "Aaarrrggghhh, lucu," batin Cakra menjerit layaknya anak kecil.
"Kalem Cakra kalem, tenang woy! Jangan biarin sifat bayi lo keluar!" batin Cakra berusaha menahan, "tapi itu gemes banget."
"Pokoknya sampai rumah nanti, gua harus bawa Kak Aden ke sini," gumam Cakra pelan, tanpa sadar kini mereka berdua sudah berada di depan kasir.
...********...
Matahari tenggelam ke ufuk barat, kilauan cahayanya yang semula menerangi angkasa, kini digantikan oleh pekatnya langit malam. Bulan purnama menggantung cantik di atas sana, dengan ditemani beberapa bintang bercahaya.
Di rumah Atlas, tengah diadakan makan malam bersama, jarang-jarang keluarga mereka bisa berkumpul dengan lengkap, sebab kedua orangtuanya yang sibuk bekerja.
"Kak Atlas, disuruh Bunda turun ke bawah!" teriak Neon adik kandung Atlas, dari luar kamar.
"Iyah Dek," balas Atlas menyahuti suara adik laki-lakinya, Atlas pun menyudahi aktivitas belajarnya untuk malam ini, dan lekas pergi ke luar kamar menuju ruang makan.
Dari bawah, Bunda, Papa serta Neon dapat melihat laki-laki bertubuh tinggi itu sedang berjalan menuruni anak tangga. Tak terlukis senyuman sedikit pun di bibir Atlas. Ia tetap melangkah dengan ekspresi datar.
Atlas memilih untuk duduk di sebelah Neon, dan makan malam bersama pun dimulai tanpa ada obrolan ringan sama sekali di antara mereka, selain suara dentingan sendok yang membentur piring.
"Atlas, Bunda mau membicarakan sesuatu sama kamu," ujar Bunda Atlas memecahkan keheningan.
"Mau bicara apa Bun?" tanya Atlas seraya mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Kamu belum punya pacar kan?" tanya Bunda Atlas tiba-tiba.
"Bunda sama Papa sud-"
"Langsung to the point aja Bun," potong Atlas malas, selera makannya seketika rusak.
"Huuhh, Bunda sama Papa sudah sepakat akan menjodohkan kamu sama anaknya Pak Jordan," ujar Bunda Atlas berhasil memantik emosi nya.
"Bun! Sudah berapa kali aku bilang, Atlas sudah punya cewek yang aku suka, dan aku sama sekali gak ada rasa sama anaknya Pak Jordan," tolak Atlas.
"Memang siapa cewek yang kamu suka? Si Senja perempuan tuna rungu wicara itu, iyah!" sahut Bunda Atlas disertai penekanan.
Atlas mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia sama sekali tidak terima dengan apa yang Bunda katakan.
"Lagipula Atlas, putrinya Pak Jordan itu jauh lebih cantik dan berprestasi daripada dia, Bunda sama sekali tidak menyetujui kalau sampai kamu bersama Senja, ingat!" kecam Bunda Atlas.
"Aku sudah kenyang," ujar Atlas bangkit dari kursinya, meninggalkan ruang makan begitu saja.
"Bunda," panggil Papa Atlas nampak khawatir.
"Sudah Pa biarkan! Biar dia paham," tegas Bunda.
Atlas menuju kembali ke kamarnya dengan perasaan marah, ia membanting pintu untuk meluapkan kekesalannya. Di dalam sana, anak itu duduk di kursi belajar. Asal kalian tahu saja, di dinding kamar dekat meja belajar, tertempel beberapa polaroid foto yang hampir semuanya berisi gambar Senja. Secinta itu Atlas kepada gadis itu.
"Bunda sama Papa aneh," ujar Atlas tersenyum smirk.
Ia menggerogoh kantong celana nya dan mengambil benda pipih dari dalam sana, Atlas mencari-cari sesuatu lebih tepatnya sebuah foto dalam galeri handphonenya.
Sebuah foto gadis berambut panjang, Atlas bandingkan dengan foto Senja yang tertempel di dinding kamarnya. "Masih lebih cantik ratu gua," puji Atlas.
Siapa ratu itu? Tentu saja Senja Aileen Putri, walaupun Atlas belum berhasil mendapatkan hatinya, tapi ia percaya, suatu saat nanti pasti gadis itu akan menjadi miliknya.
...°•••CAKRASENJANA•••°...