
Keesokan harinya, pukul empat sore. Senja berpamitan kepada Neneknya membeli cat air di toko terdekat. Namun sebenarnya, bukan itulah alasan mengapa perempuan itu keluar.
"Sepertinya mau hujan," batin Senja menengadah, menatap ke arah gumpalan awan hitam di langit yang mendung. Sebelum hujan turun, sebaiknya ia segera cepat-cepat menuju tempat tujuannya.
Di belakang SMA Gajah Mada, sama persis yang dikatakan oleh Jihan. Senja sengaja melangkah mengendap-endap, berusaha agar tidak menghasilkan suara apapun.
"Ca-Cakra, dia ada di sini juga?" batinnya terkejut, dengan mata terbelalak. Tubuh mungilnya bersembunyi dibalik sebuah dinding, mengintai dua orang remaja yang tengah berbincang.
"Ada perlu apa lo ngajak gua ke sini?" tanya Cakra dingin, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Gua mau ngomong sesuatu," balas Jihan.
"Hah, gua harap itu sesuatu yang penting," respon Cakra tertawa sinis.
Disaat-saat mereka berdua tengah bercakap-cakap, Senja masih tetap berada di sana, fokus mendengarkan apa yang sepasang manusia itu bicarakan.
"Cakra, gua pacar lo kan?" tanya Jihan dengan senyum manisnya.
"Semoga enggak! Semoga enggak! Plis, Cakra gua mohon!" batin Senja berharap.
"Iyah," balas Cakra, seketika itu juga bagaikan petir besar menyambar, hati Senja remuk, hancur! Pelupuk mata gadis itu memanas, Senja menangis sambil mencengkram kuat dadanya yang terasa sesak.
"Tapi itu dulu, sekarang sudah basi," sambung Cakra datar.
"Ta-tapi Cak-"
//DUUAAARRR// belum sempat Jihan menyelesaikan kalimatnya, petir besar menyambar sangat keras. "Aaahhhh," tubuh Jihan meringkuk ketakutan.
"Ji-Jihan, lo gak kenapa-kenapa?" tanya Cakra khawatir.
"Cakra, lo tahu sendiri kan kalau gua takut banget sama petir," balas Jihan menutup kedua telinganya rapat-rapat.
"Iyah, gua tahu," ujarnya, dan tiba-tiba saja ia langsung memeluk erat tubuh Cakra, Jihan benar-benar pandai memanfaatkan keadaan.
"Jihan! Lepasin maksud lo apa hah!"
"Cakra gua takut."
"Haha, gua tahu lo ada di sana Senja, bagaimana pemandangannya, menarik bukan?" batin Jihan.
Sekali lagi, Senja mencoba mengintip. "APA!" Senja terkejut bukan main, bibirnya tersenyum lemah, dengan perlahan ia memalingkan wajahnya, sungguh pemandangan yang menyakitkan.
"Oke Jihan, aku kalah," sebulir air mata menetes, "mulai sekarang aku janji, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian berdua lagi, dan untuk perasaan ini, aku akan menguburnya dalam-dalam," batin Senja sedih, lalu melangkahkan kakinya hendak pergi, namun tanpa sengaja menginjak sebuah ranting. /Tak/
"Siapa di sana!" teriak Cakra.
"Gawat!" batin Senja memutuskan berlari secepat mungkin.
Cakra yang curiga darimana asal suara tersebut, segera pergi untuk memeriksanya. Ia dapati seorang perempuan yang tengah berlari, seketika pikirannya tersadar kalau itu adalah Senja.
"Jadi ini rencana lo hah!" bentak Cakra kepada Jihan.
"Cih, dasar cewek sialan!" umpat Cakra, lalu tanpa pikir panjang langsung berlari menyusul Senja.
"Misi gua berhasil," gumam Jihan puas.
Nastabala menangis, mega telah menumpahkan semua hujaman panah airnya, deras mencumbui tanah. Cakra masih tetap berlari mengejar Senja, sembari sesekali meneriakkan namanya.
"SENJA! BERHENTI!" teriak Cakra berkali-kali, namun Senja tetap saja berlari. Dia tahu Senja pasti sangat kecewa, tapi mau bagaimana lagi, mereka berdua adalah korban atas kelicikan Jihan. "Dasar cewek sialan!" umpatnya dalam hati.
Lama kelamaan, langkah Senja mulai melambat.
"Sial, kaki aku lemas," batin Senja merasakan sakit pada kedua kakinya. Lalu dari arah belakang, Cakra langsung meraih tangan perempuan tersebut.
"Gua mohon jangan pergi, gua bisa jelasin semuanya," ucap Cakra, sedangkan Senja menatapnya dengan wajah kecewa.
"Lo belum tahu semuanya, Jihan cuman mantan gua, gua gak pernah suka sama dia."
"Mantan? Benarkah?" batin Senja meremas jari-jemari nya yang kedinginan.
"Gua mohon percaya sama gua Senja, asal lo tahu, selama ini gua gak pernah menaruh perasaan kepada siapapun. Karena cinta gua, sudah gua simpan untuk satu perempuan, dan dia sedang berdiri di hadapan gua sekarang," ucap Cakra membuat mata Senja membulat.
"Dan perempuan itu adalah...." baru saja Cakra hendak meneruskan kalimatnya, tubuh Senja lunglai, lalu jatuh tidak sadarkan diri. Cakra terkejut melihat hal itu, dengan segera menggendong tubuh Senja, dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Mobil putih itu melaju menerjang derasnya hujan, berusaha secepat mungkin untuk sampai di rumah Senja.
Sesampainya di sana, Cakra mengetuk pintu coklat tersebut dengan panik. Nyonya Madam datang membuka pintu, wanita tua itu terkejut melihat kondisi Cucunya saat ini, dan meminta Cakra agar segera membawanya ke dalam.
"Terima kasih yah Nak, sudah mau menolong Cucu saya," ucap Nyonya Madam kepada Cakra yang duduk bersama di sofa ruang tamu.
"Iyah Nek, sama-sama," balas Cakra sopan.
"Saya bersyukur, masih ada anak baik yang mau berteman dengan Senja. Senja adalah gadis yang malang Nak, Cucu saya mengalami tuna rungu wicara karena sebuah tragedi mengerikan. Waktu dia kecil, kebakaran besar terjadi di kediaman keluarga mereka, kedua orang tuanya meninggal, hanya Senja yang selamat, dan karena peristiwa itu juga Cucu saya kehilangan pendengarannya," ujar Nyonya Madam menceritakan semuanya, dengan perasaan sedih.
"Jadi itu sebabnya, kenapa gua tidak pernah melihat dia lagi sejak saat itu," batin Cakra tercengang selepas mendengar cerita tersebut.
...********...
Malam harinya, seorang gadis yang semula tertidur pulas kini terbangun, ia mengambil posisi duduk kala mendengar suara getaran berasal dari handphonenya, yang tergeletak di meja kecil samping tempat tidur.
Dia mendapatkan dua notifikasi pesan dari nomor yang berbeda.
Cakra: bagaimana keadaan lo sekarang? Sudah mendingan? Besok gua jenguk lo.
Ketika membaca pesan tersebut, pikiran Senja kembali teringat akan peristiwa tadi, ia tidak membalasnya, dan memilih untuk membaca pesan kedua.
Atlas: Senja, lo besok ada waktu? Gua mau ajak lo jalan, mau yah?
^^^Senja: Iyah.^^^
...°•••CAKRASENJANA•••°...