
..."Jangan menjadi pelangi, sungguh aku tidak akan sanggup. Tapi berjanjilah menjadi senja, berpisah secara indah dengan kepastian besok kau akan kembali lagi."...
...-Arkana Cakra Shareef-...
...********...
"Tapi yah Al, kalau gitu mah namanya lo ketagihan bukan gagal move on! Mana ada gak bisa ngelupain satu cewek imbasnya punya mantan ratusan," ucap Cakra menepuk keras punggung Alvaro.
"Ck, kan sekalian Cak," balas Alvaro mendesis kesakitan, sambil menggosok-gosok bagian punggung nya yang terasa panas.
"Sekalian lo kata, itu hati apa kos-kosan gua tanya?"
"Sekarang gua jomblo kok," balas Alvaro.
"Jomblo, palingan semenit lagi dapet pacar, gua udah paham cara main lo Al, bilang nya gak ada, tapi list cewek lo banyak, ribuan kali," sindir Cakra, Alvaro yang mendengarnya pun hanya bisa cengengesan. Dasar buaya darat.
"Senja, ini gu-gua punya coklat buat lo, diterima yah!" ujar Atlas, laki-laki tampan dan berotak cerdas. Sering disebut sebagai kamus berjalannya SMAGADA, bagaimana tidak kalau ada anak yang kesulitan dalam pelajaran, sekali bertanya kepada Atlas anak itu langsung bisa menjawab dengan benar.
"Buat aku?" tanya Senja menggunakan bahasa isyarat, raut wajah Senja nampak kebingungan. "Kenapa?" sambungnya yang ia tulis di sebuah buku catatan kecil.
"Enggak ada apa-apa, cuman di rumah sudah kebanyakan, gua pikir lo suka coklat jadi gua bawakan beberapa buat lo," balas Atlas sedikit gugup, menyodorkan beberapa batang coklat itu kepada Senja.
"Sialan!" umpat Cakra yang menyaksikan mereka berdua dari atas, rooftop sekolah. Dengan langkah tergesa, Cakra langsung bergegas turun dari sana.
"Eh Cak lo mau kemana? Gawat," cemas Alvaro mengerti kemana tujuan Cakra pergi. Alvaro juga ikut menyusul kepergian temannya itu, khawatir kalau nanti akan terjadi sesuatu yang buruk.
Tangan senja terangkat, hendak menerima pemberian coklat itu dari Atlas. "Gak perlu!" tegas Cakra mengambil paksa benda tersebut, lalu membuangnya begitu saja ke tanah.
"Cakra," batin Senja terkejut, dengan kedatangan laki-laki itu.
Sedangkan di sisi lain, Atlas sangat marah, coklat yang semula ingin ia berikan kepada Senja, malah dibuang tanpa alasan oleh Cakra. "Maksud lo apa!" bentak Atlas.
"Gak usah terima coklat sampah dari dia," ucap Cakra dengan penekanan kepada Senja, Atlas langsung menarik kasar kerah baju Cakra, hingga wajah mereka berdua saling bertatapan.
"Tarik kata-kata lo barusan!" kecam Atlas terdengar mengerikan, sorot matanya semakin tajam, menghunus bak pisau manik mata milik Cakra.
"Heh, lo pikir gua takut sama lo?" sinisnya tersenyum remeh pada Atlas.
"Jangan banyak gaya dasar!" marah Atlas melayangkan pukulannya pada rahang wajah Cakra, rasa darah bercampur ludah menjadi sensasi rasa aneh di mulut Cakra.
"Lumayan," ujar Cakra tertawa renyah, sambil menyeka darah mengalir keluar dari dalam ujung bibirnya, ia sama sekali tidak merasakan kesakitan.
"Gua bakal tunjukkan ke lo, bagaimana cara memukul yang baik," pungkasnya membalas pukulan Atlas dua kali lebih keras. Gigi-gigi dalam mulut Atlas rasanya seperti rontok seketika, bogeman Cakra benar-benar tidak main-main.
"How does it feel? Delicious right?"
Senja berjalan mundur beberapa langkah, dirinya merasa takut menyaksikan pertengkaran ini. Atlas dan Cakra berkelahi layaknya binatang buas, sungguh liar. Senja ingin melerai mereka berdua, tapi bagaimana caranya?
"CAKRA!" teriak Alvaro berlari terburu-buru ke arah ketiga anak tersebut, dengan cepat Alvaro langsung menarik tubuh Cakra untuk memisahkannya dari Atlas.
"Gua bilang cukup!" bentak Alvaro pada keduanya. "Lo berdua ini kenapa? Lihat Senja! Lo gak kasihan sama dia?" sambung Alvaro membuat Cakra dan Atlas melihat ke arah Senja, wajah perempuan itu terlihat ketakutan.
"Senja gua minta maaf," pinta Atlas merasa bersalah, berdiri di hadapannya dengan mengulurkan tangan.
"Cak gua bilang cukup!" geram Alvaro berusaha menghalangi tubuh Cakra dari Atlas.
Senja tetap saja diam, jari-jemari nya meremas kuat rok abu-abu itu. Tubuhnya gemetar, tangis Senja pecah. Tanpa menerima permintaan maaf dari Atlas, Senja lebih memilih berlari menjauh.
Netra Atlas menatap nanar, ke arah punggung Senja yang mulai lenyap. Dia merasa menyesal, pasti sekarang di pikiran anak itu dia adalah orang yang jahat. Perlahan Atlas memutar kepalanya, menoleh kepada Cakra, sorot mata penuh kebencian terlukis begitu jelas dari sana.
"Masalah kita berdua belum selesai," lirih Cakra pelan namun tajam. Cakra tak mau kalah, ia juga membalas tatapan Atlas sama mengerikannya.
...********...
Senja tetap berlari tanpa arah, hingga langkahnya terhenti pada sebuah tempat loker siswa. Di sana lah Senja mencoba untuk mengontrol napasnya yang ngos-ngosan, ia masih dibuat syok dengan pertengkaran antara Atlas dan Cakra. Gadis itu sangat benci kepada hal-hal yang berbau kekerasan, karena itu kembali mengingatkan dirinya tentang trauma masa lalu.
"Hai manis!" tiga orang siswi berjalan ke arah Senja memasang raut wajah licik.
//BRAK//
Tanpa aba-aba, tubuh Senja di dorong begitu keras sampai membentur lemari loker besi di belakangnya. Senja meringis kesakitan, merasakan pusing di bagian kepalanya.
Siswi berbandana biru itu mengangkat dagu kecil Senja, "sudah gua katakan berkali-kali, jauhi Cakra! Cuman gua yang berhak deketin dia!" bentaknya menghempaskan cengkraman nya, membuat kepala Senja ikut menoleh ke sisi kanan.
"lihat LIHAT! NGACA LO JELEK! Cewek modelan macam lo sama sekali gak cocok ada di sisi dia," ucapnya dengan name tag Sakura, memaparkan sebuah cermin tepat di wajah Senja.
"Ta-tapi, aku gak punya hubungan apa-apa sama dia," ujar Senja ketakutan menggunakan bahasa isyarat. Tapi itu semua percuma saja, ketiga perempuan itu tidak akan mengerti apa yang Senja katakan.
"Guys, pegangin tangan dia!" titah Sakura kepada kedua temannya, dengan cepat mereka pun menuruti perintahnya. Sepasang tangan Senja dipegangi sangat kuat oleh mereka, Senja benar-benar tidak berdaya.
Sakura mengeluarkan sebuah pilox berwarna dari dalam tas ransel merah mudanya, dan menyemprotkan benda tersebut pada baju seragam putih milik Senja.
"Berhenti! Aku bilang berhenti!" batin Senja menjerit tangis.
"Terusin Sa, biar kapok dia!" kedua teman Sakura tertawa puas dengan apa yang temannya itu lakukan.
"Hiks hiks hiks," Senja hanya bisa menangis, ia tak bisa melakukan apa-apa saat ini.
Setelah puas mengotori pakaiannya, lagi-lagi Sakura mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya, sebotol air mineral. Kepala Senja menggeleng-geleng beberapa kali.
"Senja sayang, mandi dulu yuk biar cantik," ujar Sakura tersenyum puas, dan mengguyurkan semua isi air dalam botol mineral itu pada Senja.
"Yuk guys kita balik!" ajak Sakura setelah puas membully Senja, lalu ia pergi bersama kedua temannya dengan tertawa terbahak-bahak.
Sekarang, Senja hanya bisa duduk diam di atas lantai, bajunya kotor penuh dengan coretan, seluruh badannya basah kuyup begitupun juga dengan matanya, Senja telah menangis sejadi-jadinya.
"Gua salah apa, hiks gua salah apa!" tanya Senja kepada dirinya sendiri.
"AAAHHH!!!" teriak Senja sekeras-kerasnya, keadaan sekolah sedang sepi, semua anak sudah pulang saat ini, jadi tidak ada yang mendengar tangisan gadis itu.
"Gua gak pernah suka sama dia, gua gak pernah cinta sama dia, tapi kenapa- kenapa gua yang harus dibully?"
"Hiks, ARKANA CAKRA SHAREEF, GUA BENCI SAMA LO GUA BENCI!!!" batinnya menjerit tangis.
...°•••CAKRASENJANA•••°...