CAKRASENJANA

CAKRASENJANA
Eps 12



"Akhirnya kelar juga," batin Senja menghela napas lega, karena telah berhasil menuntaskan semua tugas-tugasnya yang sempat tertinggal, tidak sia-sia dia menghabiskan seluruh waktunya di perpustakaan sekolah.


Sekarang, Senja dalam perjalanan menuju kembali ke kelas untuk mengambil tas ranselnya di sana, sebab beberapa menit yang lalu bel pulang sekolah sudah berbunyi.


"Senja!" kepala yang semula menunduk ke bawah, kini kembali menengadah menatap ke arah seorang laki-laki di hadapannya.


"Atlas," batin Senja.


"Lo mau pulang?" tanya Atlas sembari membawa tas ransel di bahu kanannya. Gadis itu mengangguk kecil, menjawab pertanyaan dari Atlas.


"Pulang bareng gua aja yuk!" ajaknya. "Mumpung gua lagi bawa mobil hari ini," sambung Atlas bersemangat.


"Senja pulang bareng gua," sahut Cakra tiba-tiba sudah berada di belakang tubuh Senja, sembari memegang bahu kiri perempuan tersebut.


Rahang wajah Atlas mengeras, dia merasa kesal. Kenapa disaat Atlas sedang berusaha mendekati Senja, selalu saja anak itu datang untuk menghalanginya.


"Yah kan Senja, kemarin lo sudah janji sama gua kalau kita bakal pulang bareng," ucap Cakra kepada Senja, ia semakin dibuat bingung.


"Sejak kapan?" tanya Senja menggunakan bahasa isyarat.


"Bohong, lihat aja wajah dia, lo gak usah ngarang cerita!" marah Atlas lalu meraih tangan kanan Senja. "Ayo, pulang bareng gua aja!" ajak Atlas sekali lagi, namun sedikit memaksa.


"Eh gak perlu paksa gitu dong boy, santai. Mending tanya aja sama dia, Senja maunya pulang sama siapa," balas Cakra, dan kedua atensi anak itu kini tertuju kepada Senja, mereka sedang menanti sebuah jawaban dari dirinya.


Ketika Senja mulai menuliskan sesuatu di buku catatannya, hati Cakra dan Atlas sama-sama gugupnya.


"Maaf yah, aku mau pulang sendiri aja, makasih," tulis Senja di buku catatannya, setelah menuliskan sebaris kalimat tersebut, perasannya sangat tidak enak. Akhirnya, Senja memutuskan untuk pergi kembali ke tujuan awalnya yakni kelas, dan meninggalkan kedua anak itu di sana.


"Lo bisa gak sih, gak perlu ikut campur urusan gua sama dia!" kesal Atlas mendorong kasar bahu Cakra.


"Terserah gua lah, selama lo belum punya hubungan apa-apa sama dia, gua mah bebas mau deketin Senja," balas Cakra.


"Emang lo siapanya dia? Cuman temen kan," sambungnya, diakhiri dengan tawa sinis.


"Ck, oke kalau itu memang mau lo. Kita akan main secara adil, siapa yang berhasil mendapatkan hatinya terlebih dahulu, maka yang lain wajib untuk melupakan dia dan jangan pernah mengganggu hubungannya," ujar Atlas disertai penekanan.


"Setuju, dan dengan senang hati gua akan memenangkannya," balas Cakra penuh percaya diri. "Jangan nangis, kalau Senja bakal lebih memilih gua nanti," pungkas Cakra tersenyum smirk.


"Kita lihat aja," ucap Atlas tak mau kalah.


...********...


...°•••Flashback on•••°...


"Al, besok aku ulang tahun, kamu gak mau kasih aku hadiah?" tanya seorang wanita cantik duduk-duduk manis di sebuah kursi taman kota.


"Emang besok kamu beneran ulang tahun?" balas Alvaro yang duduk di samping wanita tersebut.


"Iyah, kamu lupa yah? Masa sama pacar sendiri lupa sih!" sebalnya, membuat Alvaro tersenyum gemas.


Alvaro menaruh tangan kanannya pada kepala wanita yang bernama Hanna itu, mengusapnya dengan lembut agar gadisnya tidak marah lagi. "Iyah-iyah, gua ingat kok. Tenang aja, udah gua siapin hadiahnya," balas Alvaro.


"Yang bener? wah makasih, jadi gak sabar nih pingin cepet-cepet besok," ucap Hanna bersemangat.


"Iyah."


...********...


Keesokan harinya, Alvaro mengajak Hanna untuk ketemuan di tempat biasanya, laki-laki itu sudah membawa sebuah kresek hitam yang cukup besar, juga berbaju rapi tentunya. Alvaro sudah menyiapkan segalanya, di tempat mereka akan bertemu nanti ia sudah menghiasinya dengan sangat indah. Semua ini, hanya untuk Hanna.


Karena Alvaro sudah merasa tidak kuat, dan juga cemas. Ia memutuskan untuk pergi ke tepi jalan dekat taman kota. Mungkin saja Hanna kebingungan untuk mencari keberadaannya, jadi lebih baik ia menunggu di sana saja.


"ALVARO!!!" sapa Hanna di seberang jalan, ternyata gadis itu sedang membeli minuman dan juga beberapa makanan kecil, untuk dimakan berdua bersama Alvaro nanti.


"AL BELI MAKANAN DULU YAH!" sambungnya berteriak karena memang keadaan jalan yang cukup ramai, banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang.


"IYAH," jawab Alvaro tersenyum bahagia, akhirnya gadis yang dia tunggu-tunggu sudah ada di depan mata. Sebentar lagi, Alvaro sudah merasa tidak sabar untuk memberikan gadis itu kejutan.


Beberapa menit kemudian, Hanna sudah selesai membeli makanan dan minuman, ia pun memutar badannya menghadap jalan, hendak menyeberang.


"Hanna, jangan nyebrang dulu! gua ke sana," ucap Alvaro agar Hanna tidak menyebrang terlebih dahulu.


Hanna tidak menjawab, ia hanya mengangkat satu alisnya karena tidak mendengar apa yang Alvaro katakan, keadaan jalan yang ramai membuat suara Alvaro tidak terdengar.


"Oke," balas Hanna mulai melangkahkan kakinya, mungkin maksud Alvaro ingin ia agar cepat-cepat menyebrang jalan, yah Hanna menebaknya seperti itu.


"Hanna," panggil Alvaro memperingatkan, tapi gadis itu terus saja berjalan. Tiba-tiba terdengar suara klakson yang cukup keras, berasal dari mobil pick up yang mengangkut muatan kayu.


Semuanya terjadi begitu cepat, mobil pick up tersebut menghantam tubuh Hanna, membuatnya terjatuh dengan darah dibagian kepala dan tubuhnya, kresek makanan yang ia bawa terlempar begitu saja, begitupun dengan minumannya tumpah kemana-mana. "HANNA!" Teriak Alvaro histeris, langsung menghampiri Hanna yang sudah terkapar tidak berdaya.


Alvaro menaruh kepala Hanna pada lengannya, wajah Hanna sudah lemas, setengah matanya terbuka melihat ke arah Alvaro.


"Han, gua akan bawa lo ke rumah sakit," ujar Alvaro merasa sedih melihat wanita yang ia cintai dalam kondisi seperti ini.


"Jangan Al, badan aku sudah gak kuat, rasanya remuk," balas Hanna pelan, untuk membuka mulut saja rasanya butuh tenaga lebih.


"Tapi, tubuh lo berdarah, lo harus cepet-cepet di bawa ke rumah sakit," panik Alvaro, beberapa orang sudah mengerumuni mereka berdua untuk melihat bagaimana kondisi korban.


"Nak saya telepon kan ambulans yah!" sahut ibu-ibu merasa kasihan dengan kondisi Hanna saat ini.


Gadis itu menggeleng pelan sambil tersenyum lemah. Tangan kirinya ia angkat lalu memegang erat telapak tangan Alvaro. "Hari ini aku ulang tahun, aku gak nyangka kalau hari ini bakal jadi waktu terakhir aku hidup," ujar Hanna mampu membuat pelupuk mata Alvaro memanas.


"Maaf yah, padahal aku pingin lihat hadiah yang mau kamu kasih. Sorry yah Al," Alvaro sudah merasa tidak kuat, butir air mata itu meluncur deras membasahi pipinya.


Hanna meminta agar Alvaro mendekatkan sedikit kepalanya kepada dirinya, ia ingin membisikkan sesuatu di telinga laki-laki itu.


"Makasih sudah mau jadi gantengnya Hanna, kamu laki-laki yang baik, dan pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik lagi dari aku," bisik Hanna di telinga Alvaro, kata-kata itu seperti ribuan jarum kecil menusuk hatinya.


"Jangan lupa Al, Hanna tunggu bunga mawar dari kamu di atas rumah aku nanti," pungkas Hanna dan tidak terdengar suara lagi dari gadis itu, selain senyuman kecil yang perlahan-lahan mulai memudar.


"Hanna, plis jangan tinggalin gua!" teriak Alvaro begitu sesak. Sebuah kejutan dan juga hadiah yang sudah dirinya persiapkan, ternyata hanya untuk mengantarkan kepulangan kekasihnya.


..."Musuh terbesar? trauma masa lalu."...


...-Alvaro Nugraha-...


...°•••Flashback off•••°...


-Di tempat pemakaman.


"Hanna, gua sudah pulang, gua bawa bunga mawar kesukaan lo," ujar Alvaro sendu, sembari menaruh sebuket bunga mawar tersebut di atas makam dengan batu nisan bertuliskan, Hanna Aisyah Viona.


Setiap hari Kamis, Alvaro selalu menyempatkan waktunya sepulang sekolah untuk mengunjungi makam Hanna. "Sudah satu tahun yang lalu setelah peristiwa kecelakaan itu, bagaimana kabar lo sekarang Han? Gua yakin lo sudah bahagia sekarang," ucapnya berusaha untuk tersenyum semampu yang ia bisa.


...°•••CAKRASENJANA•••°...