CAKRASENJANA

CAKRASENJANA
Eps 14



Hari ini, keadaan kantin SMAGADA sangatlah ramai, puluhan lautan manusia rela berdesak-desakan hanya demi seporsi makanan untuk memuaskan nafsu makan mereka. Jam pelajaran sempat ditambah beberapa menit, itulah alasan mengapa para siswa-siswi menggila bagaikan zombie kelaparan.


Suara derap langkah berasal dari sepatu pantofel wanita, kegaduhan yang semula menyelimuti suasana kantin, seketika menjadi senyap dikala seorang siswi datang. Tampangnya tidak bingung lagi dengan keheningan namun mencekam tersebut, seraya menundukkan kepala ia berjalan gugup menuju tempat memesan makanan.


"Ih ke sana dikit dong! Gatel gua deket-deket sama lo!" sarkasme mereka kepadanya. Puluhan murid yang saling berhimpitan pun, mulai menjauh satu persatu, ibaratnya sebuah virus tidak ada yang mau mendekat padanya.


"Emang aku sekotor itu yah?" batin Senja menelan ludah.


Tak disangka-sangka, dari arah belakang tubuhnya, ada sebuah tangan kekar meraih lengan Senja, anak itu menarik tubuh gadis tersebut ke sisinya. "Gak perlu takut, ada gua di sini," ucap Cakra.


Kepala Senja semakin menunduk sedalam-dalamnya, tidak ada keberanian sedikit pun untuk mengangkatnya kembali. Alasan mengapa Senja dibenci oleh seluruh siswa SMAGADA, bukan hanya karena dia adalah gadis tuna rungu wicara, tetapi juga disebabkan oleh Cakra.


Apa? Cakra? Bagaimana bisa? Jawabannya singkat, mereka iri melihat Senja bisa sedekat itu dengannya, sedangkan kita semua juga tahu kalau Cakra adalah siswa populer di sekolah.


Sesuai memesan makanan, yakni dua buah mangkok bakso, serta dua gelas es teh. Cakra dan Senja menempati tempat duduk kosong dalam kantin, lalu menyantap makanan mereka masing-masing.


"Hallo my Prince!" sapa Jihan bersama kedua temannya di belakang.


Cakra memutar bola matanya jengah, tidak memperdulikan keberadaan Jihan, ia lebih memilih melihat ke arah Senja yang sedang makan.


"Senja! Lo gak punya nama panggilan kesayangan gitu buat gua?" tanya Cakra kepada Senja, namun dirinya bersikap acuh tak acuh terhadap Cakra.


"Owh, jadi ini cewek yang Atlas maksud. Ish, cewek modelan cupu kayak gini pakai direbutin segala, gak level banget," batin Jihan sinis.


"Oh yah my Prince, si Alvaro sama Nolan kemana? Kok gua gak lihat mereka?" tanya Jihan mencari topik.


"Mereka lagi ada di kelas," balas Cakra malas.


"Owh," angguk Jihan canggung. Jiwa gadis itu menjerit kesal, bisa-bisanya Cakra mengakhiri perbincangannya sekejam itu!


"Plis Cakra lihat gue!" batinnya geram.


"Mmm Cak, gua suapin lo yah!"


"Senja, suapin gua dong!" Cakra langsung memalingkan wajahnya dari Jihan, dan beralih menatap kepada Senja.


"Lo mau gua digebukin cewek satu sekolah hah?! Suapin suapin, enak bener monyong lo kalau ngomong," batin Senja menahan emosi.


Suapan demi suapan kembali masuk ke dalam mulut Senja, daripada nanti terkena masalah lagi, lalu membuatnya semakin dibenci, maka lebih baik jika dia diam.


Satu bakso terakhir, yang memang Senja sengaja sisakan untuk dimakan paling akhir, pentol urat favorit sangat menggugah selera. Ia tusukkan makanan bulat itu pada garpu.


Lalu, Senja hendak memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya, akan tetapi Cakra dengan cepat memakannya terlebih dahulu.


Senja terkejut bukan main, wajahnya tertekuk, ia marah. Sedangkan Cakra, laki-laki itu terlihat santai, merasa tidak berdosa sama sekali.


"Gua sudah disuapin," dingin Cakra kepada Jihan, sembari mengunyah pentol urat tersebut dalam mulutnya.


Senja menginjak kaki Cakra kesal, seluruh emosinya dia kumpulkan dalam satu pijakan. Cakra mendesis kesakitan, "auch."


Masih dengan amarah yang sama, Senja berjalan keluar dari dalam kantin.


"Senja!" teriak Cakra memanggil Senja, namun perempuan itu tidak menggubrisnya. Baru selangkah kaki Cakra menapak, namun uluran tangan Jihan langsung memegang lengannya.


"Cakra lo mau kemana?" tanya Jihan kecewa, sebab laki-laki itu tidak menghiraukan keberadaannya.


"Punya hak apa lo sentuh tangan gua?" risih Cakra tidak suka, seketika itu juga Jihan melepaskan genggamannya.


"Sorry!"


"Hah, sudah gua peringatkan berkali-kali jauhi gua! Berhenti berlagak manis atau sok perduli di hadapan gua lagi," kecam Cakra dengan penekanan. "Oh yah, dan satu hal lagi, stop panggil gua dengan sebutan my Prince lo itu, jijik gua dengernya," pungkas Cakra lalu pergi begitu saja meninggalkan Jihan.


Lagi, lagi, dan lagi, hanya kekecewaan yang mesti anak itu dapatkan. Hatinya semakin dibuat remuk, saat menatap punggung Cakra yang semakin menjauh.


"Lo baik-baik aja Han?" tanya kedua sahabatnya, yang sedari tadi mendengar perbincangan mereka berdua.


"Yah, gua oke kok," balasnya lemas. Tatapan matanya yang semula sayu menjadi lebih tajam, kedua tangan Jihan mengepal kuat. "Cakra lihat aja, gadis yang bernama Senja itu, gua akan bikin dia menderita!" batin Jihan penuh amarah.


...°•••CAKRASENJANA•••°...