
..."Andaikan dongeng itu nyata, maka akan ku lukis sebuah kisah dimana kita berdua lah peran utamanya."...
...-Arkana Cakra Shareef-...
...********...
"Senja!" teriak Cakra berlari tergopoh-gopoh mengejar perempuan itu, yang masih berjalan cepat di lorong sekolah.
Senja semakin menambah tempo langkahnya, sembari masih memasang raut muka kesal. Menyadari jalan Senja yang makin cepat saja, dengan terpaksa Cakra harus berlari kencang untuk menyusul ketertinggalannya.
"Senja! Hosh hosh hosh, berhenti!" pintanya yang telah sampai di belakang tubuh Senja. Mendengar nada bicara Cakra yang ngos-ngosan, perasaan kasihan timbul sedikit dalam benaknya. Seratus delapan puluh derajat badan anak itu berputar, menghadap Cakra.
"Ada apa?" tanya Senja menggunakan bahasa isyarat.
"Lo kenapa main tinggalin gua sendirian di kantin?" balas tanya Cakra sembari berusaha mengontrol napasnya.
Sebelah alis Senja terangkat, "memangnya kenapa? Bukannya kamu lagi ngobrol sama pacar kamu?" tanya Senja yang ia ketikkan pada handphone.
Cakra membaca sebaris kalimat itu muak, nampak begitu jelas dari ekspresi wajahnya. "Dia bukan pacar gua," balas Cakra ketus.
Bola mata Senja membulat, ia tercengang. Sepengetahuannya, Cakra dan gadis jelita bernama Jihan itu pernah menjalin sebuah hubungan, dan kabar tersebut sempat menggemparkan satu sekolah. Banyak orang yang berpendapat kalau mereka adalah pasangan yang serasi, dan tidak ada yang merasa keberatan dengan hal itu.
Dan baru sekarang, dari mulut Cakra sendiri yang mengatakan kalau Jihan bukanlah siapa-siapanya. Apakah hubungan mereka berdua telah pupus? Kenapa Senja bisa ketinggalan berita sepenting ini!
Setelah mendengar pernyataan yang cukup mengejutkan itu, Senja mengangguk beberapa kali.
"Kenapa? Lo cemburu?"
"ENGGAK!" ketik Senja dengan caps lock.
"Kalau gak cemburu kenapa harus pake tanya segala?"
"Enggak apa-apa, emang apa salahnya?" jawab Senja melalui ketikan handphone. Cakra tersenyum simpul, makin hari sifat gadis ini semakin menggemaskan saja.
"Tenang aja!" ucap Cakra sembari menaruh telapak tangannya kepada kepala Senja, lalu mengusapnya dengan lembut. "Gua gak akan minta lo jadi pacar gua. Itu terlalu basi, gua sudah punya rencana sendiri. Lulus sekolah, tunggu gua di rumah lo, gua bakal datang ke sana untuk melamar calon istri gua," pungkas Cakra lalu menurunkan kembali tangan kanannya.
"Gua balik ke kelas dulu yah, dah!" pamit Cakra melambaikan tangan, dan pergi dari sana menuju ke kelasnya.
Layaknya kepiting rebus, wajah Senja merona merah, laki-laki itu memang pandai memporak-porandakan isi hatinya. "Ca-calon istri?" batinnya dengan jantung berdetak kencang. "A-apa mungkin maksud dia?"
"Ck, dasar," dari arah belakang tembok tak jauh dari lorong sekolah, Atlas berada di sana tengah menguping pembicaraan antara Cakra dan Senja, rahang wajah anak itu mengeras.
"Gua harus melakukan sesuatu."
...********...
"Ini dia si ceker ayam, darimana aja lo?" tanya Alvaro menenteng dua tas ransel, yang salah satunya adalah kepunyaan Cakra.
"Di cariin sama Pak Gandik tadi lo Cak," sahut Nolan.
"Loh bukannya tadi gua dapet kabar dari kelas sebelah, kalau pelajaran terakhir kosong yah?" balas Cakra yang tadi sempat bertanya kepada kelas tetangga mereka, sebelas B.
"Yee tapi lo tahu sendiri kan Pak Gandik itu gimana? Walau jam kosong dia tetep terobos aja buat absensi kelas," ucap Zevan.
"Terus, gua gimana? Absensi gua kosong dong."
"Tenang, tadi gua sudah ngomong kok ke Pak Gandik," jawab Zevan santai.
"Lo kasih gua alasan apa ke dia? Jangan aneh-aneh yah!" tanya Cakra sudah mempunyai prasangka buruk kepada temannya, mengingat Zevan adalah tipikal anak yang suka bercanda.
"Ish apaan sih lo! Suuzan sama temen sendiri. Gua beri alasan ke Pak Gandik kalau Cakra lagi sakit dan dirawat di UKS," cebik Zevan, dasar Cakra sudah dibelain gak tahu terima kasih.
"Aduuuhhh Zevan si paling ganteng, manis, kaya, pinter, makasih yah sudah nolongin gua, gua janji besok gua kasih permen milkita satu sebagai ucapan terima kasih," ucap Cakra sembari menggoyang-goyangkan bahu Zevan sekuat tenaga, sampai-sampai anak itu merasa mual.
"Waduh, pelit banget lo sama temen, masa cuman satu."
"Kan gua masih belom selesai ngomongnya Van, maksud gua satu kardus," balas Cakra membuat Zevan tersenyum lebar.
"Cakep gitu baru bener."
"Thanks."
"Oh yah, tas lo isi apaan sih Cak? Perasaan enteng banget," tanya Alvaro penasaran.
"Cuman isi buku dua sama bolpoin satu, kalau sekolah itu gak perlu banyak-banyak bawa buku, cukup mentalnya aja yang disiapin," balas Cakra menaik-turunkan alisnya.
"Gua balik duluan yah, ada urusan," pamitnya kepada ketiga temannya.
"Oke, nanti malam jadi kumpul kan?" jawab Nolan.
"Jadi, kabarin semua anak, nanti malam kita kumpul di markas," balas Cakra lalu berpamitan pergi dari sana, laki-laki itu berjalan menuju parkiran sekolah.
Akhirnya, Cakra pulang dengan mengendarai sepeda motor ninja hitam miliknya. Di jalan raya, ia melaju menggunakan kecepatan sedang, Cakra sengaja tidak mengenakan helm full face, sebab dia ingin merasakan angin sepoi-sepoi membelai lembut wajah serta rambutnya.
Tetapi, tiba-tiba perasaan Cakra menjadi lebih was-was, ia merasa ada tiga sepeda motor asing yang tengah mengikuti dirinya dari arah belakang. Sesekali Cakra melirik ke arah spion motor. "Ada yang gak beres," batin Cakra curiga.
Dan benar saja, satu sepeda motor di antara mereka melaju dengan kecepatan tinggi dan berhenti tepat di depan motor milik Cakra, sontak ia langsung mengerem mendadak. Lalu dari arah belakang, hantaman balok kayu sangat keras dipukulkan pada punggung Cakra, hingga membuatnya pingsan tidak sadarkan diri.
Bang Aden: Al, Cakra lagi sama lo gak? Kok sampai sekarang masih belum pulang.
Kening Alvaro berkerut kala mendapatkan pesan masuk dari Aden kakak kandung Cakra.
^^^Alvaro:^^^
^^^Sudah kok Bang, tadi dia pamitan sama gua mau pulang katanya.^^^
Bang Aden: Beneran? Tapi kok belum sampai rumah yah, kalau lo tahu Adik gua kemana tolong suruh dia cepetan pulang yah.
^^^Alvaro:^^^
^^^Iyah Bang.^^^
Bang Aden: Oke, makasih yah.
"Cakra, dia belum pulang?" pikir Alvaro melihat ke arah jam dinding kamar yang telah menunjukkan pukul lima pagi.
Alvaro segera menghubungi Nolan dan Zevan, ia menanyakan kepada mereka tentang dimana keberadaan Cakra. Namun, tidak ada yang mengetahuinya. Hingga, mereka bertiga memutuskan untuk mencari Cakra bersama-sama.
Pencarian terus mereka lakukan, menyusuri seluruh jalanan yang sekiranya sering Cakra lalui. Orang-orang sekitar juga tak lupa mereka tanyai, sampai seorang wanita cukup tua memberitahu kalau ia sempat melihat Cakra.
Wanita tersebut memberikan sebuah keterangan, jikalau Cakra tengah dibawa oleh tiga orang preman berbadan besar, ia terlalu takut untuk mendekati mereka, dan pada akhirnya memilih memperhatikan dari kejauhan.
Alvaro, Nolan, dan Zevan dibuat sangat terkejut dengan informasi yang baru saja mereka terima. Tak sampai disitu saja, Ibu tersebut juga memberitahu ke arah mana motor mereka pergi.
"Yakin di sini tempatnya Al?" tanya Nolan menatap ke arah gudang tua di tepi jalan yang sepi.
"Kayaknya sih iyah, kata Ibu tadi terakhir dia lihat mereka lewat jalan ini, dan satu-satunya bangunan yang ada yah cuman gudang itu," balas Alvaro.
//BRAAK//
Terdengar sebuah hantaman yang cukup keras berasal dari dalam gudang, nampaknya ketiga anak itu juga mendengar hal yang sama. Dengan segera, mereka berlari menuju ke sumber suara.
Bunyi pukulan, bantingan, serta erangan manusia semakin terdengar jelas, disaat mereka bertiga telah sampai di depan pintu gudang. Dengan tangan yang bergemetar, Alvaro mencoba membuka pintu tersebut.
"Ca-Cakra!" mereka semua dibuat tertegun, ternyata suara keributan tersebut berasal dari Cakra yang tengah meluapkan seluruh amarahnya kepada tiga preman.
Tubuh-tubuh besar itu telah terkapar di atas tanah, disertai luka lebam serta darah menghiasi jisim mereka.
Merasa ada seseorang yang datang, Cakra memutar tubuhnya perlahan menghadap ke arah Alvaro, Nolan dan Zevan yang masih syok.
"The party's over dude," ucap Cakra mengerikan, sorotan mata anak itu sangatlah tajam. Cakra benar-benar telah menjadi buas dalam beberapa waktu.
Kaki kanannya menginjak telapak tangan salah satu preman, seraya menggeseknya. "Gua bakal buat boss kalian sama seperti ini juga. Atlas, waktu lo sebentar lagi akan tiba," ujar Cakra dengan penekanan.
Atlas? Yah benar, otak dasar semua rencana ini adalah Atlas, ia berani melakukan hal senekat itu hanya demi menjauhkan Senja dari Cakra. Cinta itu sangat gila bukan?
...°•••CAKRASENJANA•••°...