CAKRASENJANA

CAKRASENJANA
Eps 11




..."thank you for loving me my Al."...


...-Hanna-...


...********...


Di kelas sebelas A, tengah terjadi keributan besar di sana, bagaimana tidak kurang lima menit lagi Bapak guru pengajar akan masuk ke dalam kelas mereka, sedangkan satu kelas masih belum ada yang selesai mengerjakan tugas rumah.


"Kenapa lo gak ngasih tahu gua sih kalau ada tugas bikin puisi!" sebal Sasya kepada Nala, biasanya anak itu suka mengingatkan kepada teman-temannya di grub kelas, sampai mengirimkan jawaban.


"Yee aku kan juga lupa Sya, masa kalau setiap ada tugas selalu gantungin aku terus," balas Nala sibuk membuat puisi sama seperti anak-anak yang lainnya.


"Lo bikin puisi apa Cak?" tanya Nolan kepada Cakra.


"Gak tahu, bingung gua. Pusing gua kalau disuruh bikin beginian, orang gak jago ngarang suruh buat puisi," jawab Cakra tak bisa berpikir sama sekali, bahkan buku catatannya pun masih bersih, tidak tertoreh goresan pena sedikit pun.


"Sama, daritadi tangan gua gatel pingin buka google," sahut Nolan sama tertekannya.


"Lihat google lihat google, lo gak denger kemarin Pak Mamat ngomong apa? Gak boleh nyontek di internet, kalau ketahuan nilai lo dikasih nol. Itu orang diem-diem mirip cenayang, murid bohong bisa tahu," ujar Cakra.


"Hah, jangan-jangan Pak Mamat keturunan Indomie lagi?!" respon Nolan memasang raut muka terkejut.


"Indigo dasar! Pagi-pagi jangan bikin gua ngamuk!" kesal Cakra memukulkan buku paketnya setebal lima puluh halaman kepada kepala Nolan.


Laki-laki itu meringis kesakitan. Lalu tiba-tiba saja, seperti mendapatkan sebuah pencerahan, Nolan menulis sangat cepat di buku catatannya, seketika dalam hitungan detik puisinya sudah selesai.


"Yes akhirnya puisi gua selesai," gembira Nolan tersenyum lebar. "Sumpah Cak, setelah kena pukulan lo otak gua langsung lancar, lain kali kalau gua susah mikir lagi lo pukul aja yah, biarpun sakit gak masalah," pinta Nolan nampak sungguh.


"Kayaknya otak lo beneran geser deh Lan, gara-gara kena timpuk buku gua," heran Cakra, dimana-mana orang kalau dipukul pasti marah, tapi berbeda kalau dengan spesies manusia seperti Nolan, malah ketagihan!


"Eh Alvaro mana?" tanya Cakra.


"Tuh, lagi ngorok dia," jawab Nolan menunjuk kepada seorang laki-laki yang sedang tertidur pulas di tempat duduknya, menaruh kedua tangannya di atas meja sebagai sandaran kepala.


Cakra dan Nolan menghampiri Alvaro dan membangunkannya. "Al bangun woy!" teriak Nolan tepat pada telinga Alvaro, membuat anak itu terpelonjat kaget.


"Apa apa?" tanya Alvaro linglung, dengan bola matanya berwarna merah seperti orang baru bangun tidur. Alvaro terdiam selama beberapa detik, mencoba mengumpulkan terlebih dahulu seluruh kesadarannya.


"Puisi lo sudah apa belom? Tidur aja kerjaan lo, sekalian bawa bantal guling!" nyinyir Nolan.


"Ck lo berdua gak ada kerjaan banget sih, semalem gua tidur jam tiga paham! Sekarang gua masih ngantuk, pergi sana!" usir Alvaro kepada Cakra dan Nolan.


"Buset dah, emang ngapain aja lo semalem sampai tidur jam tiga pagi? Ngeronda?" tanya Cakra penasaran.


"Biasa main game, dikit lagi mau mythic, kesel gua asoy tiap kali main sama lo berdua selalu dihujat epic abadi," balas Alvaro sembari membenamkan kepalanya pada kedua tangannya.


"Hehe, terus berhasil gak?" tanya Nolan.


"GAK!" marah Alvaro menggebrak meja, "tim gua macam sampah, ngetroll semua, buta map! Kerjaannya cuman ngemote gak guna," sambung Alvaro depresi, terlihat begitu jelas dari raut wajahnya.


"Sabar yah Al, tenang aja entar kita berdua bantuin lo kok," ujar Cakra menepuk-nepuk punggung Alvaro kasihan, pasti seluruh fisik dan mentalnya sudah ia pertaruhkan semalam.


"Muka lo ngeselin sumpah," balas Alvaro ingin sekali menghadiahkan pukulan di wajah Zevan.


Tak lama kemudian, suara derap langkah sepatu dari luar kelas yang diduga itu adalah Pak Mamat guru bahasa Indonesia, dengan segera semua anak duduk di tempat mereka masing-masing.


Ketua kelas pun menyiapkan, dan disusul dengan doa bersama. Setelah semuanya selesai, Pak Mamat mulai membuka pembelajaran pagi ini.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh anak-anak, gimana nih kabarnya? Waduh kayaknya tugas saya sudah beres semua nih," ujar Pak Mamat kepada siswa-siswi.


"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh Pak," balas salam murid-murid.


"Eehhh Pak! Tugasnya boleh besok aja gak Pak dikumpulinnya," pinta salah satu siswa sembari mengangkat tangan kanannya.


"Kok besok, hari ini dong, kalau besok dikumpulkan nilainya saya kurangin," jawab Pak Mamat membuat mereka semua mendengkus kesal.


"Sudah yah, sekarang Bapak bakal panggil nama kalian satu-satu untuk mempresentasikan hasil puisi buatan kalian sendiri di depan," ujar Pak Mamat lalu mendengar suara keluhan berjamaah, hati siswa-siswi sebelas A dibuat berdegup tidak karuan, mereka merasakan gugup yang sama.


"Jangan nama gua jangan nama gua!" batin Cakra cemas.


"Alvaro Nugraha, ayo maju ke depan!" panggil Pak Mamat.


"Mampus lo Al," gumam Nolan menengok ke arah Alvaro yang bersiap maju ke depan sembari membawa buku catatan.


"Silahkan nak!"


"Baik Pak," balas Alvaro yang sudah berdiri di depan papan tulis, menghadap kepada teman-temannya. Dengan percaya diri Alvaro membuka buku catatannya, tapi anehnya dia dapat membaca puisi yang begitu indah tanpa ada tulisan apapun di sana. Rasanya seperti lancar keluar begitu saja dari mulut Alvaro.


Semua anak dibuat terkejut, mulut mereka semua menganga lebar saking kagetnya. Apakah benar itu Alvaro?


Suara tepuk tangan meriah satu kelas berikan saat Alvaro sudah selesai membacakan puisinya, Pak Mamat nampak berkaca-kaca, terharu dengan untaian kata-kata indah dari murid laki-lakinya itu.


"Hiks, bagus sekali puisi kamu Nak, Bapak terharu," ujar Pak Mamat dramatis.


"Hehe, terima kasih Pak," balas Alvaro senang.


"Cak, dia beneran Alvaro Cak?" bisik Nolan bertanya.


"Entah, kayaknya gua salah lihat deh," balas bisik Cakra juga tak percaya.


"Puisi romansa yang baru saja kamu baca, seperti menceritakan tentang kisah kamu bersama seseorang, boleh Bapak tahu itu siapa Al?"


"Adalah Pak," jawab Alvaro enggan untuk memberitahu.


"Hoho kayaknya spesial banget nih, yasudah kamu boleh duduk sekarang. Ayo berikan tepuk tangan sekali lagi untuk teman kalian!" ujar Pak Mamat mempersilahkan Alvaro untuk kembali duduk.


Di tempat duduk, senyuman simpul masih merekah sempurna di bibir Alvaro. "Tugas gua sudah selesai Han," batin Alvaro teringat kembali memori itu, puisi yang baru saja dia bacakan, adalah sebuah puisi yang pernah ia buat bersama Hanna, almarhumah kekasihnya.


Dia pernah berkata, kalau suatu hari nanti ingin menunjukkan puisi tersebut kepada semua orang, dan akhirnya hari ini momen itu terkabulkan, namun tanpa Hanna di sisinya.


...°•••CAKRASENJANA•••°...